Ini Cara agar Keuangan Kita Berantakan

0714364Ilustrasi-rupiah-1780x390

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan, Sakinah Finance, Colchester – UK

KOMPAS.com – “Cash is King” begitulah jargon saat ini. Namun tetap saja tidak menjadi perhatian.

Bukan hanya orang dengan pendapatan kelas bawah tapi juga orang yang hidup di atas pendapatan rata–rata. Buktinya banyak yang menikmati gaya hidup dengan cashflow yang pas – pasan atau negatif.

Untuk itu, mari ikuti ulasan hari ini mengenai tujuh cara yang membuat keuangan kita berantakan. Mau coba bagaimana rasanya tidak punya uang sepeserpun di tangan? Ayo ikuti tujuh cara berikut:

1. Tinggalkan ide kuno membuat anggaran keuangan

Membuat anggaran keuangan sangat membosankan dan kadang membuang waktu dan sia–sia belaka. Apalagi jika setelah dibuat, anggaran meleset jauh dari yang direalisasikan.

Ternyata bukan hanya keluarga, para perusahaan dan pemerintah juga harus berfikir keras bagaimana supaya pendapatan dan pengeluaran yang direalisasikan sesuai dengan yang dianggarkan.

Sering kita dengar pemerintah mengeluarkan anggaran versi revisi, misalnya APBN-P, untuk memastikan supaya kegiatan pemerintah dapat menyedot anggaran yang masih tersisa atau mengepaskan yang kurang. Jadi tinggalkan saja ide kuno ini, setuju?!

Jangan putus asa dulu, ayo coba lagi. Jika keluarga punya masalah seperti ini, tentu saja normal. Ini karena hidup yang penuh dinamika dan ada yang tidak bisa diperkirakan.

Ada banyak model anggaran yang dapat dicoba, misalnya Zero Based Budgeting (ZBB), istilah bisnis moderen yang digunakan untuk mengindentifikasikan, merencanakan dan mengawasi program dan kegiatan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi.

Ketika membuat anggaran, jangan selalu melihat ke belakang karena banyak hal yang tidak relevan lagi. Fokus kepada kegiatan rumah tangga untuk setahun dan sebulan ke depan.

2. AcuhkanTagihan

Kita semua pusing kalau terlalu banyak tagihan yang datang ke rumah atau tiba–tiba meyelip di rekening online kita, membabat sisa uang di bank. Biarkan saja, toh tagihan pasti datang, kenapa pusing?

Ternyata ini bahaya, karena kalau menunggak biasanya ada denda yang harus dibayar dan bisa–bisa karena sering dapat “Collect 1, 2 atau terakhir Collect 5”. Kita dianggap sebagai nasabah kurang baik ketika proses BI Checking (pemeriksaan Bank Indonesia).

Untuk membersihkan nama dari blacklist BI bukan main susahnya dan tentu berdampak tidak baik ke depannya. Belum lagi dampak utang ketika meninggal dunia dan harta waris.

Nah kalau tidak mau dikejar–kejar penagih hutang dan demi menjaga nama baik serta amal soleh dunia akhirat pastikan tagihan hutang diberikan prioritas seperti listrik, air, handphone, pembiayaan KPR syariah, pembayaran cicilan motor atau mobil.

Membuat Standing Instruction (SI) kepada bank adalah salah satu cara praktis. Pastikan SI dibuat berdekatan dengan tanggal mendapatkan penghasilan atau gaji.

3. Marahi penagih hutang

Taktik orang yang berhutang untuk lebih galak dibandingkan dengan yang memberi hutang terkadang berhasil. Si penagih hutang akan kapok dan tidak mau datang lagi atau melupakan tagihannya. Yang berhutang akan tersenyum puas.

Tapi tunggu dulu, pikirkan siapa yang perlu ketika berhutang. Sebagian dari kita bahkan datang dengan memelas dan mengukir janji. Ternyata janji adalah sebuah tanggung jawab, seperti di dalam QS Al-Ma’idah (5): 1:

“Wahai orang–orang yang beriman! Penuhi janji–janji.”

Lihat juga di dalam QS Al-Isra’ (34):17: “Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” Jika terkenal sebagai orang pemegang janji ketika datang seratnya cashflow, kita akan mudah mendapatkan pinjaman.

4. Lalaikan persedian rumah tangga

Sebagian keluarga memilih untuk belanja kebutuhan dapur setiap pekan, sebagian lagi mendisiplikan belanja setiap bulan. Sebagian lagi tidak punya waktu khusus untuk belanja, selagi mau dan perlu, maka pergilah belanja.

Apa yang dirasakan jika tengah malam anak kita kelaparan karena susunya habis di rumah? Santai saja, kan ada swalayan buka 24 jam dekat rumah!

Sebenarnya tidak ada waktu standar yang pas untuk semua keluarga, tergantung dari jenis pendapatan yang diterima.

Yang diatur bukan hanya jadwal belanjanya tetapi penggunaannya. Biasanya kalau kita melihat bahan makanan banyak di dapur, kita akan cenderung untuk masak lebih banyak jadi jika kita termasuk tipe ini, baiknya bahan makanan dipisahkan, ada yang siap dikonsumsi harian ada yang menjadi persediaan.

Jika kita termasuk “last minute shopper” siap–siap untuk mengeluarkan duit lebih banyak ketika belanja di swalayan 24 jam. Bayangkan kalau itu terjadi dan saat itu uang sedang tidak ada di tangan.

5. Jauhi orang lain

Jika dalam masa senang, jauhi keluarga, lupakan bahwa kita akan perlu mereka. Kita tidak juga perlu bersilaturrahim dengan lembaga keuangan, toh kita bisa hidup tanpa bank syariah, asuransi syariah dan apalah namanya.

Urusi saja hidup keluarga kita, jangan hiraukan tetangga, keluarga dan lain–lain. Jangan juga bayar zakat dan sedekah, habis sudah harta nanti.

Benarkah? kita tahu bahwa hidup kita bagaikan roda, cobaan bukan hanya dalam keadaan susah tapi juga dalam keadaan senang.

Maka dari itu kita perlu berinteraksi dengan yang lain, karena sudah menjadi ketetapan Allah SWT bahwa sebagian kita adalah pelindung atau penolong kepada sebagian yang lain (QS AT-Taubah (9):71). Jika datangnya hanya ketika perlu, apa reaksi keluarga? Ingat juga ganjaran pembayar zakat dan terlebih sedekah .

6. Nikmati hidup selagi bisa

Ketika datang masa senang, lupakan apa yang akan terjadi esok, kapan lagi bisa menikmati hasil kerja kita selama ini, kalau nanti terbaring sakit tidak bisa lagi kita bersenang – senang.

Jika sudah divonis dokter punya sakit darah tinggi, tidak bisa makan macam–macam lagi.

Setuju dengan gaya hidup seperti itu? Ternyata gaya hidup seperti ini bukan mengikut sunah Rasulullah SAW. Walaupun saat di usia dewasanya hingga di akhir usianya bisa hidup lebih dari mewah tapi beliau memilih hidup sederhana.

Makanan beliau pun terseleksi dengan baik, bukan hanya halal tapi thayib.

Ternyata pengaturan cashflow yang baik berdampak kepada hidup untuk lebih disiplin dan tentu saja hidup sehat.

7. Jangan berantisipasi

Buat apa berantisipasi untuk hari esok, kan Allah SWT sudah menentukan semuanya. Hidup ini singkat, jalani saja apa yang bisa kita jalankan, biarkan hidup itu mengalir, apa yang ada hari ini mari kita nikmati, untuk besok kita pikirkan lagi.

Jika standar hidup seperti itu yang kita pilih, kecemasan tentu akan datang silih berganti. Bukan hanya kita, tetapi semua anggota keluarga kita juga sibuk bertanya bagaimana nanti bayar SPP akhir bulan ini, apa solusi bayar kontrakan rumah bulan depan, jalan keluarnya apa jika nanti dokter suruh bayar obat dan banyak lagi lainnya.

Antisipasi untuk menjaga cashflow supaya dalam keadaan lancar sangat penting, dan berusaha menyiapkan keturunan dalam keadaan sehat dan berkecukupan termasuk yang diperintahkan Allah SWT dan RasulNya.

Lihat QS An-Nisaa’ (4):9 “Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka.”Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Diterbitkan di Bisnis Keuangan, Kompas, Ahad, 29 Mei 2016

Puasa dan Keuangan Keluarga Kita

Pakistani-Muslim-Prepares-Food-for-Iftar-Ramadan-2009-Islamic-Quotes-About-the-Month-of-Ramadan-001Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Dosen Senior STEI Tazkia, Indonesia/Konsultan Sakinah Finance, UK

Glasgow – Saat ini bulan Ramadan akan segera berakhir, semoga kita diberi kesempatan lagi untuk berjumpa di bulan Ramadan selanjutnya. Namun kita semua tidak tahu akan itu, maka marilah kita bermunajat kepada Allah SWT agar amal saleh kita selama ini lebih diberatkan lagi timbangannya.

Semoga kita diperbanyak lagi catatannya di kitab illiyyin, yaitu kitab yang mencatat segala amal kebaikan kita sehingga ketika ajal mendekat, ruh kita dicabut, Allah akan menjadikan akhir hidup kita akhir yang baik atau husnul khatimah yaitu meninggalkan dunia ini dalam berstatus Muslim yang sebenarnya, seperti yang diabadikan di alam Surat Ali Imran 102: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Maka dari itu mari kita menjadi Muslim yang kaafah, mari kita perbanyak lagi amal saleh kita selagi sehat, selagi masih lancar berpuasa, selagi masih bisa berzakat, selagi masih bisa berbuat banyak untuk umat, selagi masih bisa bertarawih, selagi masih bisa Duha dan Tahajud, dan terlebih lagi selagi masih punya waktu untuk I’tikaf di malam 10 hari terakhir ini, demi mengharap bertemunya dengan malam lailatul qadr, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ternyata Islam yang kaafah harus menyentuh berbagai dimensi, termasuk menjadi Muslim yang nomor wahid dalam urusan muamalahnya, urusan keuangan keluarganya.

Di bulan suci yang penuh keberkahan ini mari kita manfaatkan makna puasa untuk melatih keuangan keluarga kita supaya senantiasa semakin berkah. Hal yang ingin saya sampaikan di sini insya Allah adalah dampak puasa dalam mengelola keuangan keluarga.

Secara garis besar, puasa melatih nafsu, puasa melatih disiplin, puasa melatih prihatin, puasa melatih untuk lebih banyak lagi berbagi. Nafsu untuk mengejar kekayaan dunia sudah menjadi tugas utama iblis seperti yang termaktum di Surat Al-Isra 64 yang berbunyi: “… dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka…”.

Maka dari itu, dengan dilatihnya nafsu kita di bulan Ramadan dari apa-apa yang kita sukai akan menjadi kebiasan di 11 bulan lainnya untuk tidak mengejar kekayaan dunia semata.

Kita takut untuk mendapatkan sesuatu yang dilarang Allah dan juga kita takut untuk membelanjakan sesuatu yang tidak Allah ridhai. Mari kita gunakan rumus 94:6 untuk mengecek apakah yang kita terima dan kita belanjakan, kita utangi dan investasikan selama ini sudah sesuai dengan syariah.

Apa itu 94:6? 94 adalah yang Allah ridha, sedangkan 6 adalah yang Allah larang. Kita lihat apa yang sedikit Allah larang ini yaitu mari kita pastikan apa yang kita terima dan kita belanjakan tidak mengandung elemen – elemen berikut: 1. Riba, 2. Spekulasi (Maysir), 3. Tidak jelas (Gharar), 4. Haram, 5. Zalim kepada diri sendiri atau orang lain, 6. Dharar, membahayakan kepada diri sendiri atau orang lain.

Ketika mendengar istilah – istilah ini, jangan serta merta ingat kepada bank syariah, karena unsur – unsur tadi ada di sekeliling kita baik secara sadar maupun tidak sadar. Mari kita lihat contoh – contoh singkat berikut. Ketika kita meminjamkan uang kepada keluarga atau teman sebanyak Rp1.000.000 dan kita mensyaratkan uang kita dikembalikan sebanyak Rp1.100.000, maka sudah ada unsur riba atau tambahan di situ.

Jadi transaksi pribadi juga dapat mengandung hal – hal berbau riba. Begitu juga ketika kita membeli barang – barang yang mubazir, seperti tas Louis Vuitton seharga ribuan pound, ternyata kita telah membahayakan diri sendiri karena tidak dapat memberikan prioritas, yang sebenarnya dengan uang sebanyak itu bisa digunakan untuk hal yang lebih baik lagi seperti mengikuti kursus pendidikan misalnya atau menyekolahkan anak yatim.

Bagaimana dengan korupsi yang menjadi fenomena di Tanah Air di mana menurut website KPK kasus yang ditanggani pada tahun 2012 sebanyak 49 perkara meningkat menjadi 70 perkara di tahun 2013. Ini belum lagi korupsi kecil – kecilan di level kelurahan, sekolah, kampus maupun perkantoran. Dengan terlatihnya nafsu kita di bulan puasa ini kita harapkan kita tidak sedang atau tidak akan terlibat di dalamnya.

Jangan sampai barang haram ini menghiasi rumah kita, dimasukkan ke dalam saluran makanan anak – anak kita. Dan marilah kita merenungi Surat Al-Baqarah 188 mengenai larangan akan hal ini, yaitu: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil….”

Adapun larangan suap menyuap atau korupsi ini dijelaskan dalam sebuah hadis yaitu: “Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. berkata Rasulullah melaknat penyuap dan yang diberi suap”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Kemudian, ketika menyebutkan elemen haram, ternyata jika ada hak yang orang lain yang tidak kita keluarkan sebagai zakat, jangan – jangan yang kita makan saat ini tidak halal karena ternyata bukan milik kita. Semoga dengan latihan menahan nafsu di bulan Ramadan ini, nafsu yang ada di dalam diri kita untuk memilki apapun yang kita ingini di dunia ini dengan cara apapun akan hilang .

Semoga nafsu untuk mementingkan diri sendiri dan kehidupan kita berkeluarga akan pupus. Semoga nafsu hubbud dunya atau cinta dunia yang berlebih – lebihan ini akan berganti menjadi zuhud dunya atau hanya menganggap dunia adalah tempat sementara atau tempat bermain dan bersenda gurau seperti yang dijelaskan di dalam Surah Al An’am 32, yaitu: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?.”

Puasa melatih disiplin, disiplin untuk bangun sahur, buka puasa dan salat pada waktunya. Coba bayangkan kalau kita tidak salat Maghrib pada waktunya karena asyik makan, kita tentunya akan ketinggalan Salat Isya dan Tarawih di masjid.

Puasa melatih disiplin supaya tidak mubazir karena berapa banyak yang bisa dimasukkan ke dalam perut ketika berbuka puasa. Apalagi bagi saudara – saudara kita yang berpuasa panjang di Eropa, apakah mereka sanggup makan sekenyang – kenyangnya dalam waktu 6 jam dari waktu berbuka hingga sahur lagi? Dengan terlatihnya disiplin untuk tidak menyiapkan makanan terlalu banyak ketika bulan puasa, insya Allah akan meningkatkan kepribadian kita sebagai Muslim terpuji.

Disiplin merupakan salah satu faktor untuk dapat sukses dalam mengelola keuangan keluarga, yaitu untuk mencapai impian – impian keluarga misalnya impian untuk menyekolahkan anak di sekolah yang terakreditasi tinggi, pergi haji, pergi umrah sekeluarga, membeli rumah, membuka usaha sambilan, investasi untuk hari tua dan sebagainya yang melibatkan perhitungan – perhitungan keuangan.

Disiplin dalam bulan puasa ini insya Allah dapat diterapkan ketika kapan harus menyisihkan uang yang kita miliki untuk dibayarkan sebagai zakat ketika waktunya tiba, siap transfer ke orangtua dan keluarga yang memerlukan, siap sedia untuk membayar utang ketika sudah jatuh temponya, menyisihkan sebagian dari uang yang ada untuk diinvestasikan sehingga siap untuk digunakan di masa depan.

Puasa juga melatih kita untuk prihatin karena saat lapar dan dahaga saat inilah kita bisa merasakan anak – anak atau keluarga yang tidak mampu berjuang mencari sesuap nasi. Lihat saudara – saudara kita di Tanah Air yang hidup di bawah garis kemiskinan dan saudara – saudara kita di Gaza yang memperjuangkan tanah airnya.

Semoga rasa prihatin ini akan terus tumbuh sehingga kita makin terlatih untuk tidak mubazir, berebut – rebut membeli barang pecah belah, perabot rumah tangga baru, baju baru, toples kue yang lagi diskon di mal – mal, padahal yang dibeli tidak semuanya berguna, bahkan sedihnya, yang dibeli hanya untuk dipamer saat open house ketika Lebaran tiba. Naudzubillah min zaalik.

Puasa melatih prihatin ini juga harapannya dapat diterapkan ketika season sales baik itu Winter atau Summer sale, Black Friday dan Boxing Day di UK yang cukup menggeliat di setiap masa.

Terakhir yang ingin saya garis bawahi, puasa ini ternyata melatih untuk lebih banyak lagi berbagi. Dalam sebuah hadis menyatakan salah satu amal soleh untuk orang yang berbagi saat di bulan Ramadan yaitu: “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At Tirmidzi).

Alhamdulillah kalau kita lihat sekeliling kita saat ini banyak sekali saudara – saudara kita berlomba – lomba untuk menyiapkan iftar bagi orang yang berpuasa. Di dalam banyak hadis lainnya, Rasulullah SAW digambarkan sebagai panutan kita yang sangat dermawan dalam hidupnya, terlebih lagi ketika pada bulan Ramadan. Dengan contoh – contoh amal saleh Ramadan di atas, ternyata rasa ingin berbagi ini akan memberikan rasa ketenangan atau sakinah pada diri orang yang berbagi.

Dengan rasa prihatin yang sudah tumbuh di hati kita dan juga disiplin untuk terus mengeluarkan zakat infaq sodaqoh kita, insya Allah kita akan semangat untuk mempraktekkannya dalam berbagi kepada sesama.

Selain dalil – dalil yang menyerukan peritah zakat untuk meninggikan iman dan taqwa kita, banyak juga seruan supaya kita berbagai lebih dari sekedar membayar zakat seperti termaktum di dalam Surah Al-Baqarah 261, yaitu Allah memberikan perumpamaan untuk membalas amal saleh orang – orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah sebanyak 700 kali lipat. Bayangkan jika sifat berbagi ini diperbanyak lagi di dalam bulan Ramadan dan apalagi jika ternyata jatuh di sela – sela waktu malam lailatul qadar, yang apapun kebaikan atau amal soleh kita lakukan di malam itu lebih baik dari amal kebaikan selama seribu bulan.

Jika sifat berbagi ini akan terus menerus menjadi suatu hal rutin bagi kita pribadi maupun keluarga, insya Allah akan membawakan ketenangan seperti yang diceritakan di dalam Surat At-Taubah 103 mengenai kisah Abu Labubah di dalam asbabunuzulnya. Kita juga akan selalu qona’ah atau kaya hati sehingga tidak tamak, tidak sombong, dengan pemberian harta yang Allah amanahkan selama ini.

Akhirul kalam, mari kita jadikan bulan Ramadan ini bulan muhasabah diri dan keluarga. Jika ada lembaran kusam dalam keuangan keluarga kita selama ini, maka mari kita perbanyak lagi istighfar, taubat dan berazam untuk tidak akan mengulangi lagi.

Tuliskan dalam diari keuangan keluarga kita tentang langkah – langkah apa yang harus diambil, buatkan perencanaan tersebut daftar terinci, dan ajak semua anggota keluarga supaya berjanji untuk menjalankan semampunya dengan ikhlas tentunya dan dengan mengharap ridho Allah SWT.

Semoga kita lulus dalam latihan sebulan penuh di bulan Ramadan ini sehingga kita akan keluar sebagai pemenang – pemenang untuk menjalankan kehidupan yang inshaaAllah akan lebih baik lagi di masa yang akan datang. Walalhu’alam bissawaf.

Diterbitkan di detik.com

Tinggalkan Hukum Waris Islami, Ikuti Perkembangan Zaman

dr-murniati-mukhlisin-m-acc-_160524115918-129

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc (Konsultan, Sakinah Finance, Colchester – UK)

”Tinggalkan hukum waris Islami, ikuti perkembangan zaman!” Begitu kira-kira beberapa tanggapan keluarga Muslim ketika menghadapi persoalan pembagian warisan.

Alasannya bermacam-macam, mulai dari rasa tidak adil akan hak waris antara suami dan istri, hak anak laki-laki dan anak perempuan, isi wasiat, keadaan ahli waris yang mapan dari sisi keuangan, hingga pengurusan utang-piutang si mayat. Setuju untuk tinggalkan hukum waris Islami?

Perintah Mawarits
Perintah hukum waris Islami (mawarits) turun secara berangsur. Kali pertama ketika masa hijrah. Surah al-Anfal (8):72 menyatakan bahwa hak waris-mewarisi dari hubungan muakhaat (hubungan persaudaraan) antara kaum muhajirin dan ansar. Kemudian fase Fathu Makkah, yaitu dengan turunnya surah al-Ahzab (33): 6 dan al-Anfal (8): 75 yang menegaskan bahwa yang berhak mendapatkan harta waris adalah yang punya hubungan kerabat.

Kemudian lagi turun ayat-ayat mawarits yang membatalkan (memansukhkan) ayat-ayat di atas, yaitu dengan diturunkannya surat an-Nisa (4): 7 yang berisikan perintah mawarits secara global bahwa laki-laki dan perempuan punya hak waris dari kerabat yang meninggal dunia.

Lalu, Allah turunkan lagi surah an-Nisa (4): 11 menerangkan secara terperinci hak waris untuk anak laki-laki dan perempuan, ibu dan bapak. Seterusnya adalah QS an-Nisa (4): 12 yang berisikan aturan hak waris suami dan istri, baik punya atau tidak punya keturunan dan hak waris saudara dan saudari seibu. QS an-Nisa (4): 176 menegaskan status hak waris saudara dan saudari kandung maupun seayah.

Di ketiga ayat tadi Allah SWT menegaskan bahwa pembagian harta waris belum bisa dilaksanakan jika belum dikeluarkan dari harta peninggalannya berupa utang. Sisanya, jika masih ada, dikeluarkan wasiat sesuai syara.

Biaya kubur juga adalah salah satu hal utama yang harus dikeluarkan dari harta waris. Jika ternyata harta tidak cukup untuk membayar utang dan menunaikan wasiat, harus ada yang menanggung utangnya dan wasiat ditiadakan. Di sinilah letak pentingnya pengelolaan keuangan keluarga yang sistematis dan konsisten.

Ayat-ayat di atas sangat terperinci sehingga urusan waris dalam Islam menjadi ilmu tersendiri yang harus dipelajari oleh semua keluarga Muslim. Banyak keluarga yang tidak dapat menyelesaikan hukum waris yang sering berakhir dengan sengketa karena tidak memiliki kepahaman yang sama atas hukum waris tersebut.

Banyak inisiatif yang patut diacungkan jempol dari berbagai pusat dan lembaga waris di Tanah Air yang dapat menjadi rujukan para keluarga Muslim. Salah satunya adalah Majelis al-Mawarits asuhan Ustaz Mhd Jabal Alamsyah yang bertekad untuk mewujudkan sejuta keluarga muslim melek mawarits (KM3).

Majelis ini sudah banyak bersinergi dengan tim Sakinah Finance dalam visi-misi menggalakkan pengelolaan keuangan keluarga Islami.

Siapakah yang berhak atas harta waris?

Ada 23 ashhab al-itrsi (ahli waris tingkat pertama) yang berhak atas harta warisan setiap kematian Muslim/Muslimah. Ada lima yang pasti berhak mendapat waris jika mereka masih hidup, yaitu anak laki-laki, anak perempuan, ayah, ibu, dan suami/istri si mayat. Jika ada ayah atau anak laki-laki si mayat, maka semua golongan saudara dan saudari serta paman si mayat akan terhalang total.

Para ahli waris tidak mendapatkan hak waris sama rata dan ternyata di sinilah letak keadilannya. Misalnya, hak waris suami adalah setengah jika istri meninggal dan tidak punya keturunan. Sedangkan istri mendapatkan seperempat jika suami meninggal dan sang suami tidak punya keturunan. Sedangkan, anak laki-laki akan mendapatkan hak waris dua bagian dibanding anak perempuan.

QS an-Nisa (4): 34 dengan tegas menyebutkan fungsi laki-laki sebagai pemimpin (qawwamah) atas perempuan dan suami sebagai penanggung jawab atas nafkah istrinya yang diambil dari sebagian hartanya.

Dengan adanya hukum waris yang sedemikian rupa maka tampak bahwa harta waris yang didapat oleh pihak laki-laki dalam posisi lebih besar, seperti anak laki-laki lebih besar dua kali daripada anak perempuan si mayit karena kewajiban nafkah yang dibebankan kepadanya.

Ia wajib menafkahi adiknya yang perempuan dan kewajiban menafkahi keluarganya, termasuk istrinya. Sedangkan, wanita, baik anak perempuan si mayit, juga ibu, istri, dan saudari si mayit akan menggunakan harta waris hanya untuk dirinya sendiri dan tidak ada kewajiban menafkahi. Sayangnya, sistem pewarisan yang tidak rata ini banyak dikecam tidak hanya oleh golongan non-Muslim, tapi juga dari kaum Muslim sendiri karena pengaruh zaman emansipasi dan feminisme saat ini.

Permasalahan wanita atau janda yang terabaikan tidak diselesaikan dengan mengabaikan perintah Allah SWT dalam ayat-ayat mawarits di atas yang bersifat menjadi kewajiban yang telah ditetapkan (fariidhatam-minallah). Islam sudah menyiapkan perangkat lain, misalnya baitul mal atau lembaga zakat untuk menyelesaikan masalah perempuan, janda, dan anak yatim piatu yang tergolong mustahik.

Sengketa

Jika urusan waris keluarga Muslim tidak dapat diselesaikan dengan sistem kekeluargaan, sengketa bisa dibawa ke pengadilan agama, naik banding ke pengadilan tinggi agama hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung.

Para badan peradilan tersebut menggunakan Kompilasi Hukum Islam Indonesia (KHII) yang merujuk kepada Alquran dan hadis sebagai bahan dasar pengambilan putusan pengadilan. Adapun sengketa waris di luar wewenang pengadilan agama seperti yang terkait dengan non-Muslim akan dibawa ke pengadilan umum dan badan peradilan yang lebih tinggi.

Menurut beberapa penelitian, kasus sengketa waris di Indonesia menduduki peringkat tertinggi kedua setelah masalah perkawinan.

Jawaban: tunaikan hukum waris Islami

Bagi kaum yang berakal (ulul albab) tentu banyak hikmah yang dapat dipetik setelah mengamati dan mengikuti isu tentang mawarits. Marilah menjadi Muslim yang sepenuhnya (full time Moslem), jangan jadi part-timer, termasuk menunaikan soal waris ini sebagai salah satu cara supaya dapat menebalkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT.

Lihat QS al-Baqarah (2): 208, ”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya ….” Perintah ini mengandung makna bahwa kita selaku orang yang beriman, baik lelaki atau perempuan yang hidup di mana saja dan di zaman kapan pun harus mengikuti ajaran Islam secara sepenuhnya.

Jika setelah menunaikan hukum waris ada ahli waris yang ingin memberikan harta bagiannya kepada ayah, ibu, atau saudara, maka babnya adalah sedekah. Yang penting pasangkan niat dan tunaikan hukum waris Islami. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Diterbitkan juga di:

Suara Islam

Islampos

MySharing

Hidayatullah

Majalah GontorWarisan-timbangan-palu

 

Berapa Gajimu, Wahai (Pekerja) Kartini Rumah Tangga?

ilustrasi kartini rumah tangga-2.png

Desain Grafis: Rijal Al Huda

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan Sakinah Finance, Colchester-Inggris

Tulisan Sakinah Finance kali ini untuk mengingatkan kita semua atas peran ibu, istri, atau wanita rumah tangga, yang tidak pernah “digaji” tapi tetap ikhlas menjalankan tugas kerumahtanggaan. Termasuk menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama (Penggalan isi surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Gaji Ibu Rumah Tangga
Berapa sebenarnya “gaji” ibu rumah tangga? Sebuah situs bernama salary.com membahas tentang gaji, masalah pekerjaan, termasuk membuat survei-survei dengan rujukan taraf hidup di Amerika dan Kanada. Situs ini dikenal dengan gajimu.com di Indonesia.
Pada tahun 2014, tim salary.com membuat survei tentang gaji seorang ibu/istri rumah tangga di Amerika dan Kanada. Menurut situs ini, seorang ibu/istri rumah tangga rata-rata bekerja selama 96,5 “jam kerja” per minggu dengan berbagai jenis posisi yang dimiliki, dari tukang masak, tukang bersih, psikolog, guru, sopir, manajer persediaan, hingga direktur.

Jika dihitung per tahun dengan standar gaji standar normal 40 jam per minggu dan standar gaji lembur 56,5 jam per minggu maka didapati angka USD 118,905 atau Rp 1,5 miliar dengan kurs saat ini. Bayangkan gaji itu naik dua persen dari tahun 2013, jadi bisa diperkirakan berapa gajinya di tahun 2015 dan 2016!

Hitungan di atas adalah untuk ibu rumah tangga “saja”. Bagaimana dengan ibu/istri rumah tangga yang juga bekerja? Gajinya diperkirakan sebesar USD 70,107 atau sekitar Rp 920 juta dengan bekerja selama 59,4 “jam kerja” per minggu. “Jam kerja” ini tentu saja di luar dari jam kerja 40 jam per minggu di tempat kerja dan “gaji” ini di luar gaji yang dibawa pulang ke rumah oleh seorang ibu.

Kali ini, sahabat Sakinah Finance, Ibu Dewi Febriani, MAk, seorang dosen STEI Tazkia, membantu membuat survei yang sama tentang berapa “gaji” ibu rumah tangga di Indonesia, khususnya di daerah Bogor dan sekitar Jawa Barat berpatokan dengan gaji standar 2016 dari berbagai sumber.

Skenario ini adalah untuk ibu yang tinggal bersama suami dan dua anak, hanya dengan dua anak atau hanya dengan keluarga.

Dengan jumlah waktu “kerja” 636 jam per bulan, seharusnya sang ibu “digaji” sebesar Rp 8,2 juta per bulan ditambah upah lembur sebesar Rp 5,6 juta per bulan, total Rp 13,8 per bulan atau Rp 174 juta per tahun!

Hitungan ini menurut UU 13/2003 Pasal 77 ayat (2) yang menetapkan batasan kerja 40 jam per minggu dalam lima atau enam hari kerja, dan selebihnya dianggap lembur, gaji per tahun, termasuk THR. Jadi kita sekarang bisa menebak berapa “gaji” seorang ibu rumah tangga seharusnya.

Belum lagi kita bicara soal skenario yang kedua, di mana ibu rumah tangga yang juga bekerja membantu mencari nafkah, ada dua “gaji” yang didapatnya. Ada “gaji” ibu rumah tangga dengan lama kerja 140 jam per bulan dengan standar gaji sebesar Rp 4,5 juta per bulan atau Rp 59 juta per tahun! Ditambah satu lagi gaji yang didapat dari perusahaan atau instansi tempat sang ibu bekerja.

ilustrasi kartini karir-3.png
Desain Grafis: Rijal Al Huda

Namun, sebenarnya bukan gaji yang diharapkan, tetapi ciuman dan pelukan hangat; bukan upah lembur yang diminta, tetapi doa agar senantiasa menjadi bagian sukses dan bahagia keluarga, dan kelak akan berkumpul di surga; bukan THR yang ditunggu – tunggu, tetapi penghargaan dari suami, anak – anak, sanak keluarga dan masyarakat tentang posisi ibu rumah tangga. Ketika ditanya, kerja apa istrimu? kerja apa ibumu? Seharusnya tidak ada lagi yang menjawab dengan merendah diri apalagi miris: HANYA ibu rumah tangga!!!

Itulah sebenarnya GAJI IBU RUMAH TANGGA. Layak memang, ketika ditanya siapakah orang paling berhak untuk berbakti, Rasulullah menjawab: ibumu…ibumu…ibumu…kemudian ayahmu (HR Bukhari No. 5514, Tirmidzi No. 1819, Muslim No. 4622).

Dengan segala tanggung jawab di atas, terpulang bagi para kartini untuk menentukan pilihan hidupnya, apakah menjadi kartini rumah tangga atau menjadi kartini karier yang juga tetap tidak bisa lepas dari posisi pertamanya.

Mengutip tausiah Ustaz Shaifurrokhman Mahfudz, Lc, MSH, seorang pakar kajian keluarga, bahwa pada dasarnya tugas mencari nafkah ada di pundak suami sebagai pemimpin (qawwam) keluarga. Namun, istri yang mau mengorbankan diri untuk bekerja dianggap memberi sedekah kepada keluarga sepanjang tetap mematuhi kepemimpinan (qawwamah) suami.

Apa pun pilihannya, hendaknya para kartini tetap dengan niat tulus ikhlas untuk berbuat semampunya, termasuk mengurus keuangan keluarga. Sesungguhnya setiap niat baik dibalas dengan 1 kebaikan dan setiap perbuatan baik dibalas 10 hingga 700 kebaikan (HR Bukhari No. 7062, Muslim No. 129). Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah! **

Artikel diterbitkan di: Bisnis Keuangan, Kompas