Bank Syariah dan Kondisi Keuangan Keluarga di Mesir

Bank Syariah dan Kondisi Keuangan Keluarga di Mesir

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Bogor – Indonesia
Kompas.com – 03/05/2017, 10:00 WIB
Ilustrasi Syariah(Thinkstockphotos.com)

Sebagai negara muslim, menarik untuk mencermati perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia dan Mesir.

Dua-duanya merupakan negara yang dihuni oleh penduduk yang mayoritas muslim. Namun, industri keuangan syariahnya kurang berkembang. Mengapa?

Berbicara mengenai industri keuangan syariah di Mesir, kondisinya tidak terlalu bergairah jika dibanding negara tetangganya seperti Sudan apalagi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE).

Menurut laporan GIFR tahun 2016, Mesir menduduki peringkat 12 untuk negara yang paling pesat pertumbuhan keuangan syariahnya, sementara Arab Saudi berada di peringkat ketiga dan UAE di peringkat keempat.

Padahal Mesir merupakan negara yang selalu disebut dalam sejarah perkembangan keuangan syariah di dunia lantaran di negara inilah bank Islam modern pertama kali didirikan, yaitu Mit Ghamr Savings Bank pada tahun 1963.

Namun dibanding negara terdekat seperti Turki dan Yordania, Mesirberada sedikit di atas dan jauh melampaui Palestina yang menduduki peringkat ke-37 pada tahun 2016.

Terbukti bahwa kancah keuangan syariah di setiap negara sangat erat berhubungan dengan keadaan politik di negara – negara tersebut.

Mukhlisin (2015) mencetuskan tinjauan Islamic Political Economy of Accounting untuk mengukur pertumbuhan keuangan syariah dan standardisasi akuntansi syariah, di mana keduanya sangat dipengaruhi oleh arah politik di setiap negara.

Oleh karena itu, peran pemerintah dalam perkembangan keuangan syariah sangat penting. Termasuk peran institusi supranasional yang mempengaruhi domain ekonomi politik suatu negara.

Penulis juga menghimbau agar jangan sampai hasil pertumbuhan keuangan syariah hanya dinikmati sebagian kelompok tertentu saja. Hal ini sesuai dengan amanat ketika pertama kali sistem keuangan syariah didirikan, yaitu untuk memberikan alternatif pelayanan produk dan jasa keuangan syariah kepada masyarakat.

Dengan demikian, keuangan syariah akan tumbuh dan berdampak positif kepada ekonomi, sosial dan kemasyaratan.

Keluarga di Mesir

Dari beberapa keluarga asli Mesir yang dijumpai, hampir semuanya masih bersikap apatis dan pesimis dengan keuangan syariah. Mereka menganggap produk dan jasa yang diberikan sebenarnya sama saja dengan konvensional.

Mereka cenderung tetap menjadi nasabah bank konvensional seperti National Bank of Egypt atau Banque Misr, yang merupakan bank–bank besar di Mesir.

Para mahasiswa dan mahasiswi Al-Azhar Kairo asal Indonesia berbagi pendapat. Seperti yang diungkapkan Alam, Fikriyatul, Ibrahim dan Syamsul, mengaku tidak menggunakan jasa keuangan syariah di Mesirlantaran masih terbatasnya pelayanan dan belum merasa memerlukan karena kebanyakan aktivitas keuangan mereka masih manual.

Untuk mendapatkan dana kiriman dari keluarga di Indonesia misalnya, mereka cukup menarik uang tunai di mesin ATM di Mesir dengan menggunakan ATM bank dari Indonesia.

Namun menurut Alam dan Azam jika ada mahasiswa yang mendapatkan beasiswa misalnya dari Bait Zakat Kuwait di Mesir, mereka diwajibkan membuka rekening di Bank Faisal Islamy sebagai syarat pengambilan ijazah.

Para mahasiswa tersebut yang umumnya belajar di fakultas syariah ini mengharapkan agar keuangan syariah dapat tumbuh cepat di Mesir.

Ekonomi Mesir saat ini

Saat ini boleh dikatakan ekonomi Mesir sedang tidak stabil. Sejak dua tahun terakhir, mata uang mereka mengalami depresiasi yang cukup signifikan, dari awalnya 1 dollar AS bernilai 9 pound Mesir di awal tahun 2015 sekarang bernilai 18 pound Mesir.

Satu pound Mesir di awal tahun 2015 senilai Rp. 1.471 rupiah, sementara hari ini bernilai Rp. 738.

Bagi keluarga Indonesia yang hidup di Mesir dan hidup dengan kiriman orang tua dari Indonesia kondisi ini cukup diuntungkan. Hidup di kota besar seperti Kairo, seorang mahasiswa hanya mengeluarkan sejuta rupiah untuk biaya hidupnya mulai dari sewa rumah, makan dan transportasi.

Sebaliknya, bagi yang mencari penghasilan di Mesir untuk dikirimkan ke Indonesia mengalami penurunan dari sisi nilai.

Walaupun tidak semeriah di Indonesia, sudah ada 14 bank syariah (penuh/windows) dengan 135 cabang yang beroperasi di Mesir. Tiga pemain besar adalah al-Baraka Bank Egypt dan Faisal Islamic Bank of Egypt yang merupakan anak grup perusahaan dari Arab Saudi serta National Bank for Development (bagian dari Abu Dhabi Islamic Bank).

Menurut laporan Zawya, total aset bank syariah di Mesir dibukukan sebesar 128 miliar pound Mesir (18,4 miliar dollar AS) pada tahun 2014, dengan pangsa pasar 4 persen. Pada tahun yang sama aset perbankan syariah di Indonesia mencapai 21 miliar dollar AS, dengan pangsa pasar hampir mendekati 5 persen.

Masih belum jelas arah industri keuangan syariah dikarenakan ketidakstabilan ekonomi dan politik saat ini; apakah industri akan menjadi semakin redup dengan kebijakan Presiden Abdel Fattah el-Sisi saat ini, atau sebaliknya.

Apa hubungannya dengan pengaturan keuangan keluarga?

Untuk menjadikan pengaturan keuangan keluarga sarat syariah diperlukan mitra-mitra keluarga yang juga syariah. Saat ini setiap keluarga nyaris tidak bisa lepas dari kebutuhan atas pelayanan keuangan syariah. Mulai dari transfer uang, menabung, membayar tagihan, investasi hingga pergi umrah dan haji dan pengurusan kuburan.

Bayangkan saja kalau lembaga keuangan syariah tidak ada, terdapat elemen yang tidak lengkap di dalam praktik syariah dalam keluarga.

Lingkungan praktik keuangan syariah di Mesir terasa sangat beda dengan di Indonesia yang cukup “membumi”, padahal Mesir lebih kental dakwah syariahnya.

Kurangnya perkembangan keuangan syariah di Mesir saat ini, tentu menjadi ironis. Ini lantaran para ulama setempat sangat fasih mengajarkan kitab–kitab mengenai syariah dan “tijarah” (perdagangan), bahkan ada fakultas khusus mengajarkan ekonomi, bisnis, akuntansi, manajemen  dari peringkat S1 hingga S3 di Universitas Al-Azhar yang disebut “Kulliyah at Tijarah”.

Ternyata hukum syariah bukan hanya penting untuk diajarkan tetapi perlu dipraktikkan. Jarak antara menara gading Al-Azhar nampaknya cukup tinggi dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya terutama dalam mempraktikkan keuangan syariah.

Bagaimana dengan Indonesia?

Menara gading atau lembaga–lembaga pendidikan di Indonesia berlomba–lomba menawarkan program pendidikan ekonomi syariah dengan beraneka ragam jurusan mulai dari jurusan perbankan syariah yang paling favorit, diikuti oleh akuntansi syariah, ekonomi pembangunan syariah, keuangan mikro syariah dan hukum syariah.

Program – program itu ditawarkan bukan hanya di perguruan tinggi tetapi juga di sekolah menengah dan bukan saja di perguruan tinggi swasta tetapi juga di negeri. Diharapkan para alumni kampus – kampus ini yang akan menjadi SDM penggerak industri keuangan syariah.

Namun demikian masih terdapat “gap” antara kemahiran yang dimiliki oleh para alumni ekonomi syariah ini.

Paling tidak hal ini dilontarkan oleh Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Buchori baru – baru ini.

“Kami berharap apa yang dikerjakan di perguruan tinggi tidak hanya terkait teori fikih tapi langsung implementasinya, sehingga saat lulus apa yang dipelajari di perguruan tinggi dan hasil risetnya bisa digunakan saat menjadi praktisi.”

OJK memandang perlu untuk menjembatani gap tersebut dengan menuangkannya di dalam Roadmap Perbankan Syariah 2015-2019 yang berupaya untuk “link and match” melalui sinergi antara otoritas, industri perbankan, perguruan tinggi, dan instansi pemerintah terkait.

Situasi politik di Indonesia saat ini cukup kondusif yang tentu saja menjadi satu faktor penting untuk memacu lebih cepat perkembangan industri syariah di tanah air.

Dari laporan GIFR 2016, Indonesia naik rangking dari peringkat 7 menjadi peringkat 6 negara terpesat perkembangan keuangan syariahnya. Berdasarkan data OJK  per Februari 2017, total aset keuangan syariah (tidak termasuk saham syariah) mencapai Rp 897,1 triliun atau 67,21 miliar dollar AS.

Kendati demikian, aset gabungan bank syariah saja masih berada di bawah aset individu bank konvensional yaitu BRI, Mandiri dan BCA, artinya masih ramai keluaga Indonesia yang masih setia di perbankan konvensional.

Ternyata baik di Mesir maupun di Indonesia, ada masih banyak PR yang harus dikerjakan. Diperlukan “azam” yang lebih kencang untuk memastikan industri keuangan syariah makin menunjukan kiprahnya supaya dapat lebih dinikmati oleh para keluarga di dua negara ini.Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

EditorBambang Priyo Jatmiko
Advertisements

Bank Syariah mau maju pesat? Harus kaafah jawabannya!

Bank syariah juga perlu meningkatkan kesyariahannya karena itulah keunikan yang dicari selama ini.

Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc

Motivator Sakinah Finance/Wakil Ketua STEI Tazkia

Banyak yang kecewa dengan bank syariah saat ini. Macam – macam argumentasinya, ada yang mengatakan bahwa produk dan jasa yang ditawarkan “mirip atau sama” dengan bank konvensional. Ada juga yang marah – marah karena ternyata margin yang ditawarkan lebih tinggi dari suku bunga. Juga ada yang sewot karena pelayanannya kurang canggih dan lamban dari bank konvensional.

Para bank syariah cukup kewalahan, sebagian berfikir keras ingin berkompetisi dengan cara mengekor bank konvensional. Alhasil, mereka jadi nampak “sama” dengan bank konvensional. Tetapi sebagian bank syariah memilih jurus ingin tetap tambil beda mengikuti slogan orang Jawa, “alon – alon waton kelakon” yang artinya biar lambat tapi selesai asal tetap mengikuti dasar hukum yang jelas. Jurus manakah yang jitu?

Bank syariah saat ini
Ketika membuka ekspo iB Vaganza di Medan baru – baru ini, Ketua Dewan Komisioner Otorias Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengatakan bahwa peranan industri keuangan syariah khususnya perbankan syariah sangat penting dalam sektor perekonomian masyarakat saat ini. Dalam siaran pers, OJK menyakinkan bahwa industri perbankan syariah saat ini sudah SAMA BAGUSNYA, SAMA LENGKAPNYA, SAMA MODERNNYA dengan bank konvensional, DAN PASTINYA SYARIAH LEBIH BERKAH.

Syariah, pastinya lebih berkah! CLICK TO TWEET

Tapi mengapa masih banyak keluarga Indonesia yang masih mengeluh ketika sudah berinteraksi dengan bank – bank syariah? Hampir di setiap sesi tanya jawab talkshow atau pelatihan Sakinah Finance, selalu ada keluhan dan pertanyaan “apakah benar bank syariah sudah syariah?” Ada beberapa kemungkinan mengapa ini terjadi antara lain:

  1. Banyak yang tahu bank syariah tapi sungkan untuk kenal lebih dekat;
  2. Ikutan media sosial, teman atau saudara yang memojokkan bank syariah;
  3. Berinteraksi dengan bank syariah tapi tidak mau bertanya dan menyampaikan kritik;
  4. Pegawai bank syariah tidak pandai menjelaskan keunggulan produk dan jasa syariah;
  5. Bank syariah tidak pandai mengemas keunggulan syariah dalam promosinya;
  6. Bank syariah mengikuti cara bank konvensional yang lebih praktis dibandingkan dengan cara syariah tapi kompleks;
  7. Oknum – oknum bank syariah yang tidak bersikap sesuai syariah; dan lain lain.

Para keluarga Indonesia tentu saja bingung, baik Muslim maupun Non-Muslim. Awalnya semua berharap bank syariah dapat memberikan solusi yang lebih baik untuk kebutuhan keuangannya namun sebagian mendapatkan pengalaman bersyariah yang mengecewakan.

Saat ini bank syariah boleh dikatakan jalan ditempat jika dilihat dari pangsa pasar berbanding dengan konvensional yang makin agresif. Menurut OJK per Januari 2017, industri perbankan syariah di Indonesia yang terdiri dari 13 Bank Umum Syariah, 21 Unit Usaha Syariah yang dimiliki oleh Bank Umum Konvensional dan 166 BPRS mempunya total aset Rp.356,50 triliun dengan pangsa pasar sebesar 5,13%.

Begitu juga dengan perkembangan bank syariah di Malaysia yang saat ini menduduki peringkat pertama di dunia dari sisi jumlah aset, pangsa pasarnya hanya naik dari 26.8 persen menjadi 28 persen pada tahun 2016 dengan nilai aset RM742 billion atau mendekati Rp.3.000 triliun. Namun demikian, pertumbuhan tersebut 10 kali lebih tinggi dari Indonesia walau hanya didukung dengan jumlah penduduk dan ukuran negara yang 10 kali jauh lebih kecil.

Perbankan syariah di Malaysia tumbuh 10 kali lipat dari Indonesia CLICK TO TWEET

Pengalaman bersyariah
Penulis sudah menjadi nasabah bank syariah sejak Bank Muamalat Indonesia (BMI) didirikan pada 1992. Ketika pindah dan menetap di Malaysia hampir sepuluh tahun lamanya, penulis tetap aktif berinteraksi dengan bank syariah ditambah dengan produk syariah lainnya. Setelah kembali ke Indonesia, penulis lebih kerap lagi bertransaksi dengan produk dan jasa bank syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya.

Kemudian penulis mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S3 dan menjadi dosen di Inggris sekitar lima tahun lamanya. Lagi – lagi, penulis menggunakan kesempatan untuk menjadi nasabah aktif di bank dan produk syariah di sana.

Pesan dan kesan
Dari pengalaman di atas, ada beberapa pesan dan kesan mengenai bank syariah.

  1. Rasulullah SAW tidak pernah mendirikan bank syariah sehingga tidak ada model yang tepat bagaimana sebuah bank dapat beroperasi. Yang diajarkan Rasul adalah model – model akad seperti Murabahah (jual beli), Salam (jual beli dengan pemesanan dibayar di awal), Istisna’ (jual beli dengan pemesanan dibayar bertahap), Mudharabah (kemitraan antara pemilik modal dan pekerja), Musyarakah (kemitraan antara para pemilik modal), Ijarah (sewa), dan lain – lain. Akad – akad inilah yang kemudian digunakan untuk menggantikan transaksi berbasis bunga;
  2. Ikhtiar para penggiat keuangan syariah adalah meng-Islamkan sistem perbankan konvensional yang sudah ratusan tahun berjalan dan menjadi salah satu detak jantung perekonomian dunia;
  3. Jelas saja beberapa produk dan jasa bank syariah menjadi mirip dengan bank konvensional. Dari jauh mereka serupa tapi sebenarnya mereka tidak sama;
  4. Baik bentuk dan substansi (form and substance) bank syariah sudah tampil beda. Dari sisi bentuk, produk dan jasa tidak boleh berhubungan langsung dan tidak langsung dengan hal yang berbau riba, maysir, gharar, haram, dzalim, dharar. Dari sisi substansi, perbedaan dapat dilihat mulai dari akad dan operasionalnya;
  5. Bank syariah masih sangat muda usianya dan prinsipnya sementara harus akur ketika bersanding dengan sistem perbankan konvensional. Jangan heran jika ada beberapa prinsip bank syariah yang masih belum bisa sempurna berjalan;
  6. Dalam perjalanannya, prinsip – prinsip bank syariah sudah banyak diakomodasi melalui edukasi kepada pembuat keputusan, respon atas desakan masyarakat yang ingin bank syariah tetap eksis, serta karena telah dirasakan manfaatnya untuk keluarga, masyarakat dan negara;

Bank syariah adalah satu bentuk “rahmatan lil ‘alamin”, rahmat kepada seluruh alam, bukan disediakan hanya untuk kepentingan keluarga Muslim tapi juga non-Muslim. Harapannya adalah lembaga ini dapat menyumbang pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi dan membawa keluarga Indonesia sejahtera.

Kesimpulannya, semua pihak harus berbenah, harus lebih banyak keluarga – keluarga Indonesia yang membesarkan lembaga ini melalui kritikan yang membangun. Pada saat yang bersamaan, bank syariah juga perlu meningkatkan kesyariahannya karena itulah keunikan yang dicari selama ini. Jika tidak unik atau “sama saja”, maka para keluarga akan putar haluan kembali ke bank konvensional.

Bank syariah harus membenahi sisi syariahnya! CLICK TO TWEET

Penulis pernah mendengar ada seorang “ustaz” yang memberikan nasihat kepada jamaahnya: “lebih baik ke bank konvensional yang tidak “munafik”, sudah jelas riba, dibandingkan dengan bank syariah yang “munafik”, katanya syariah tapi ternyata sistemnya masih ribawi”. Walau tidak setuju dengan pernyataan ini, sudah ada sinyal bahwa bank syariah dituntut untuk lebih syariah (harus kaafah) supaya dapat maju pesat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!
Read more: http://sakinah.mysharing.co/14786/bank-syariah-mau-maju-pesat-harus-kaafah-jawabannya/#ixzz4mJUGyYcu

Suara Hidayatullah: https://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/04/17/115050/115050.html

Suara Islam: http://www.suara-islam.com/read/al-islam/muamalah/22149/Bank-Syariah-Mau-Maju-Pesat-Harus-Kaaffah-Jawabannya

Republika: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/04/17/oojpmv396-bank-syariah-mau-maju-pesat-kaafah-jawabannya

 

 

Konsultasi #14 – Bagaimana Mendapatkan Modal Usaha Secara Syariah?

Kepada Yth.
Ibu Murniati,
Assalamualaikum wr.wb.

Saya mau usaha dan membutuhkan dana Rp.10 juta. Saya sulit mengajukan ke bank syariah karena saya hanya ada BPKB motor dan Sertifikat Tanah. Bagaimana kalau saya pinjam uang dengan alasan untuk bangun rumah padahal sebenarnya saya mau pakai untuk modal usaha. Apa solusinya?

Dari Pengirim SMS: 08151014XXXX

Wassalamu’alaiakum wr.wb.
Yth. Bapak/Ibu Penanya

Perlu diketahui bahwa ada beberapa lembaga keuangan yang melayani pembiayaan syariah seperti yang diinginkan antara lain yaitu: bank umum syariah, unit usaha syariah bank konvensional, Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), Koperasi Syariah (BMT). Untuk limit Rp.10 juta, nasabah bisa mengajukan ke BPRS/BMT mengingat plafond pembiayaannya relatif tidak besar dan biasanya lebih cepat diproses di sana.

Untuk pembiayaan renovasi rumah tapi dipakai untuk bisnis jelas salah. Firman Allah dalam QS Al Maidah:1 adalah “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad – akad itu…” Atas peringatan itu, baiknya akad ditunaikan sesuai dengan yang diajukan, biasanya juga akan ada penilaian dari pihak BPRS/BMT sehingga jika akan disalahgunakan akan diketahui sejak awal dan permohonan dapat ditolak. Untuk modal usaha biasanya diperlukan pengalaman usaha sebelumnya. mungkin ini yang agak merepotkan bagi pemula yang baru mau buka usaha.

Namun, jika uang senilai Rp. 10 juta itu akan digunakan untuk membeli barang – barang sebagai modal usaha, akad yang dminta dapat berbentuk jual beli (murabahah) yang dalam hal ini, BPRS/BMT akan membelikan barang yang dibutuhkan dan akan menjualkannya kepada mitra. STNK dan Sertifikat Tanah atau salah satunya dapat menjadi jaminan.

Ada alternatif lainnya jika ingin memerlukan uang tunai dapat melalui Gadai Syariah. Namun pada saat ini bank syariah yang memiliki produk Gadai Syariah hanya menerima jaminan untuk gadai syariah dalam bentuk emas perhiasan atau batangan. Karena jaminan yang disebutkan di atas bukan dalam bentuk emas maka gadai syariah yang dimaksud hanya dapat dilakukan di kantor pegadaian syariah terdekat, waktunya relatif singkat namun dapat diperpanjang tergantung keperluan.

Sesungguhnya bekerjasama dalam menjalankan suatu usaha atau bisnis adalah sangat dianjurkan, sesuai dengan firman Allah dalam QS Al-Nisa: 29 yaitu: “Hai orang – orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela diantaramu…”. Wallahu’alam.