Sakinah Finance Workshop; Keuangan Sakinah Sampai Akhir Hayat

Sakinah Finance Workshop; Keuangan Sakinah Sampai Akhir Hayat

Universities Hasanuddin, Makassar, 18-19 Mei 2017/22-23 Syaban 1438H

Advertisements

Saatnya Berhitung tentang Zakat

140718_slider_zakat1REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc (Konsultan, Sakinah Finance, Colchester – UK)

Kata zakat bukanlah hal asing di telinga kita. Sayangnya, sebagian di antara kita masih merasa bingung ketika hendak menghitungnya. Saking bingungnya, ada peserta pelatihan Sakinah Finance bertanya: “Bolehkah saya membayar zakat setiap bulan 10 persen dari semua pendapatan yang saya terima untuk mewakili semua kewajiban zakat saya?”

Perintah zakat

Jelas sekali perintah zakat itu adalah wajib (QS al-Baqarah [2]: 43) bagi semua yang beragama Islam dan menjadi sebuah ciri khas orang yang bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 2-3). Ganjaran bagi yang menunaikannya adalah pahala, penentraman jiwa (sakinah), ridha Allah SWT, ampunan dan surga (QS al-Baqarah [2]: 277, QS at-Taubah [9]: 103, QS ar-Rum [30]: 39, QS Ali Imran [3]: 133-134).

Mengingat tuntutan yang wajib ini, maka sudah seharusnya kita mempelajarinya dengan baik. Beberapa ketentuan Alquran dan hadis Rasulullah SAW menandakan bahwa perintah zakat tidak menggunakan satu kadar 10 persen, tetapi bervariasi.

Di sinilah letak keadilan dalam bagaimana mengatur sirkulasi harta antara wajib zakat (muzaki) dan yang berhak menerima bagiannya, yaitu bagi delapan mustahik (QS at-Taubah [9]: 60) dan (QS al-Ma’arij [70]: 24-25).

Lalu yang perlu dipahami tentang zakat adalah perintah dalam Alquran dan penjelasannya dalam sejumlah hadis Rasulullah SAW, serta ijtihad para ulama/fukaha baik melalui pendekatan terurai (tafsili) maupun global (ijmali).

Sesuai dengan namanya yang artinya bersih dan berkembang, maka pada prinsipnya zakat dikeluarkan atas harta yang berkembang jika telah masuk nisab (batas harta/pendapatan/barang yang dimiliki) dan haul (masa kepemilikan satu tahun Hijriyah). Tidak ada zakat pada harta hingga masuk satu haul (HR Tirmidzi nomor 573), tetapi ada beberapa pengecualian dalam beberapa jenis zakat di bawah ini.

Zakat 2,5 kg

Zakat satu ini dikenal dengan zakat fitrah, berlaku untuk setiap jiwa sepanjang masuk kategori mampu dengan kadar zakat per kepala adalah satu sa’ (HR Bukhari nomor 1407, HR Abu Daud nomor 1373) atau setara dengan 2,5 kg beras. Waktu pembayarannya adalah mulai dari hari pertama bulan Ramadhan hingga sampai shalat Idul Fitri.

Adapun standar zakat fitrah tahun 2016 dalam bentuk uang di Inggris menurut IHSAN adalah sebesar lima poundsterling dan menurut Baznas Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, misalnya berkisar dari Rp 25.000-Rp 32.000, bergantung pada nilai beras yang dikonsumsi oleh keluarga yang bersangkutan.

Zakat 2,5 persen

Zakat dengan kadar ini berlaku untuk beberapa jenis zakat harta (mal), seperti emas dan perak, barang hadiah, tabungan, dan beasiswa (lihat QS at-Taubah [9]: 103 mengenai harta dan QS at-Taubah [9]: 34-35 mengenai emas dan perak).

Nisab emas adalah ketika mencapai 20 dinar atau 85 gram emas murni dengan kadar setengah dinar untuk 20 dinar, sedangkan nisab perak adalah 200 dirham atau 595 gram perak murni dengan kadar lima dirham untuk 200 dirham (HR Abu Daud no 1342).

Kadar ini juga digunakan untuk zakat tabungan jika sampai haul dan nisab pada nilai saldo akhir/saldo terendah/rata-rata setara 85 gram emas. Begitu juga untuk barang hadiah, terkena zakat jika cukup nisab yang sama dan setelah masa haul.

Adapun zakat atas beasiswa menurut beberapa pendapat ulama di Indonesia adalah ketika beasiswa yang diterima melebihi dari biaya hidup sehingga zakat dikenakan atas sisa yang terkumpul hingga satu haul dengan nisab setara 85 gram emas.

Zakat dengan kadar 2,5 persen ini dikenakan juga kepada barang dan hasil dagangan jika sudah mencapai nisab 85 gram emas dan haul setahun, dengan rumus perhitungan: (modal + keuntungan + piutang) – (hutang + kerugian) x 2,5 persen. Landasan zakat ini adalah QS al-Baqarah [2]: 267 mengenai usaha yang baik dan halal. Adapun zakat investasi di lembaga keuangan syariah juga mengikuti kaidah yang sama.

Kadar ini juga berlaku untuk tanah yang merupakan barang dagangan, dan dibayar zakatnya per tahun. Jika berbentuk sebagai tanah qunyah (bukan barang dagangan) maka tidak perlu dibayar zakatnya hingga ketika tanah itu kelak dijual.

Jika menghasilkan maka zakat dikenakan hanya atas hasil dari tanah tersebut. Namun, jika bukan berbentuk barang dagangan tetapi tidak difungsikan maka masuk dalam bab tabdzir (pemborosan) yang harus dihindari (QS al-Isra [17]: 26-27).

Zakat 10 atau 5 persen

Zakat dengan dua pilihan kadar ini adalah zakat pertanian dan tanaman yang tahluk kepada jumlah berat 5 wasq untuk gabah (653 kg) atau beras (582 kg) yang diperoleh saat panen/dipetik (QS al-An’am [6]: 141), dengan kadar 10 persen (sepersepuluh) jika mendapatkan curah hujan atau 5 persen (seperduapuluh) jika lahan pertanian diairi dengan bantuan manusia/irigasi (HR Abu Daud no 1342).

Kadar ini juga digunakan untuk qiyas atas zakat investasi (almustaghillat) seperti bangunan, rumah, atau kendaraan yang disewakan. Zakat dikeluarkan atas hasilnya, yaitu menurut ijtihad ulama. Kadarnya adalah 5 persen untuk penghasilan kotor dan 10 persen untuk penghasilan bersih jika mencapai nisab setara 582 kg beras. Ada pendekatan lain yang mengqiyaskan zakat jenis ini ke dalam zakat perdagangan.

Zakat penghasilan rutin (‘athayat) disepakati oleh ulama untuk menggunakan analogi dua zakat sekaligus (qiyas asy-syabh), yaitu nisab yang sama dengan zakat pertanian (582 kg beras, saat mendapat penghasilan). Untuk kadarnya, sama dengan zakat emas, yaitu 2,5 persen.

Zakat jenis ini telah disepakati dalam Muktamar International I tentang Zakat di Kuwait tahun 1984 dan Muktamar kedelapan Ulama Zakat di Beirut tahun 2010. Di Indonesia, Komisi Fatwa MUI juga telah menetapkan kewajiban zakat jenis ini pada tahun 2010. Mengenai perbedaannya terletak pada qiyasnya (apakah zakat emas-perak, zakat pertanian, atau gabungan zakat pertanian dan emas-perak).

Zakat jumlah ekor

Adapun zakat dengan kadar jumlah ekor hewan adalah untuk unta, sapi/kerbau, domba/kambing yang sehat, tidak cacat, dan bukan hewan pekerja. Nisab mulai dari 5 ekor unta, 30 ekor sapi, 40 ekor kambing (HR Abu Daud no 1342, HR Nasa’i no 2412, HR Ibnu Majah no 1789, HR Bukhari no 1355).

Zakat 20 persen

Zakat dengan kadar ini berlaku untuk barang temuan dengan nisab 85 gram emas, dikenakan seperlima (HR Ahmad No 21714).

Contoh hitungan zakat

Salah satu contoh perhitungan adalah zakat profesi. Berikut ilustrasi dengan rujukan Baznas. Gaji pokok Rp 4 juta, tunjangan-tunjangan Rp 2 juta, dan total pendapatan Rp 6 juta. Nisab zakat = 582 x Rp 7.300 (harga beras ketetapan Inpres Nomor 5 Tahun 2015) = Rp 4.248.600. Zakat dibayar per bulan, Rp 6 juta x 2,5 persen = Rp 150.000.

Semoga perhitungan zakat praktis di atas ini dapat menjadi panduan bagi keluarga kita dalam menghitung zakat ketika cukup nisab dan cukup haulnya, dan tentunya bukan menggunakan kadar 10 persen saja dan bukan hanya dikeluarkan pada saat bulan Ramadhan. Wallahu a’lam bisshawaab. Salam sakinah! Ramadhan mubarak!

Diterbitkan di:

Republika

MySharing

Islampos

Suara Islam

Hidayatullah

Mengelak dari Pajak dan zakat, Bolehkah?

Miror-Ok-319ak4jjb7c66xc0rkkpvk

Dok: http://www.mirror.com

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan Sakinah Finance, Colchester-Inggris

KASUS Panama Papers membuat para pemilik nama yang disebutkan dalam daftar bak kebakaran jenggot. Perdana Menteri Inggris David Cameron tak ketinggalan gusarnya ketika nama mendiang ayahnya Ian Cameron ikut disebutkan. Betapa tidak, karena Camerondisangka telah mengambil keuntungan dari investasi off-shoreuntuk menunjang karir politiknyadengan mengelak dari membayar pajak kepada pemerintah Inggris. Hingga saat ini Cameronmasih terus menjelaskan duduk persoalannya.

Kali ini Sakinah Finance ingin berbagi kepada penggiat manajemen keuangan keluarga syariah mengenai perpajakan dan per-zakatan supaya dapat mengatur keuangan lebih baik lagi.

Penghindaran Pajak (Tax Avoidance) dan Pengelakan Pajak(Tax Evasion)

Dalam perpajakan ada dua istilah yang mirip tapi berbeda. Keduanya adalah suatu usaha untuk mengurangi kewajiban membayar pajak kepada pemerintah. Penghindaran pajak adalah legal sedangkan pengelakan pajak adalah ilegal.

Penghindaran pajak dilakukan untuk mendapatkan manfaat dan insentif pajak yang ditawarkan dalam rangka menghemat pengeluaran pajak sedangkan pengelakan pajak dilakukan dengan cara melanggar Undang-undang Perpajakan sehingga penerimaan negara dirugikan.

Penghematan atau penghindaran pajak dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunyaadalah dengan menahan diri (seperti tidak merokok supaya terhindar dari cukai tembakau, tidak membeli barang impor supaya tidak membayar pajak impor). Cara lain adalah dengan pindah lokasi (membuka peluang bisnis di daerah Indonesia Timur untuk mendapatkan insentif pajak), atau ke negara suaka pajak (Tax Havens Country) seperti kasus Panama Papers, namun tetap takhluk dengan undang – undang lainnyasehingga bukan disebut aksi pengelakan pajak. Ada beberapa lagi cara – cara lainnya.

Adakah Penghindaran atau Pengelakan Zakat?

Ada isitilah penghindaran zakat, salah satunya adalah menggunakan harta untuk kegiatan bisnis sehingga tidak habis dimakan zakat (HR Al-TIrmidzi dan Al-Daraquthni tentang harta anak yatim dalam Kitab Bulugh Al-Maram No. 632).

Ada juga pengelakan zakat dengan niat sengaja walau tahu, merasa sudah cukup karena sudah membayar pajak atau tidak sengaja karena tidak tahu seluk beluk zakat.

Kesadaran membayar zakat dengan perhitungan yang benar masih minim di kalangan masyarakat Muslim. Salah satu penyebabnya adalah karena tidak ada perintah wajib pungut zakat. Adapun perhitungan serta penyerahan kepada penerima zakat (mustahik) diserahkan sepenuhnya kepada pembayar zakat (muzakki).

Faktor lain adalah kurangnya kesadaran untuk belajar menghitung zakat dengan pemahaman fikih yang benar. Sebenarnya sudah banyak usaha ustadz – ustadzah dan lembaga zakat untuk sosialisasi bahkan menyediakan kalkulatorzakat secara online untuk membantu keluarga mengecek perhitungan zakatnya, namun masih banyak yang belum semangat berzakat. Padahal punca keberkahan keuangan keluarga salah satunya adalah dari dikeluarkannya zakat.

Hal ini terungkap dalam beberapa pelatihan Sakinah Finance bagi komunitas Muslim Indonesia di sekitar Inggris, Amerika dan Jerman. Lebih kurang 50 persen peserta tidak tahu jenis – jenis zakat secara detailnya, begitu juga cara menentukan nisab, haul dan kadarnya, serta bagaimana menyalurkannya. Bahkan ada peserta yang pernah berkomentar bahwa dia dan suami sudah sepakat untuk membayar zakat setiap bulan sebesar 10 persen dari pendapatan yang diterima, tidak perlu ada pembayaran zakat lainnya karena dianggap sudah mewakili.

Padahal kita bias baca dalam sejarah, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a memerangi siapapun yang mengelak membayar zakat (Kitab Bidayah Wan Nihayah hal 84). Begitu seriusnya, beliau mengirim secarik tulisan dengan cap Rasulullah SHalallahu ‘Alaihi Wassallam mengenai cara menghitung zakat:

…Jika mencapai dua puluh lima ekor hingga tiga puluh lima ekor, zakatnya seekor unta betina…Jika lebih dari tiga ratus ekor kambing, maka setiap seratur ekor zakatnya seekor kambing…Setiap dua ratus dirham zakatnya seperempat puluhnya (dua setengah persen)…”(HR Abu Daud No. 1340; HR Nasa’i No. 2412).

Banyak lagi ayat Al-Qur’an dan hadits lainnya yang berkenaan dengan jenis benda zakat dan rincian perhitungan zakat. Buku – buku cara menghitung zakat pun sudah banyak beredar.

Harmonisasi Pajak dan Zakat

Harmonisasi pajak dan zakat sudah sering dilakukan, seperti di Malaysia misalnya, zakat dapat menjadi potongan sesuai dengan jumlah yang dibayar atas seluruh kewajiban pajak individunya (100 persen). Sedangkan untuk perusahaan, zakat yang dibayarkan dapat mengurangi kewajiban pajaknya maksimum 3 persen dari keuntungan/RM20,000 atau 2,5 persen dari jumlah pendapatan, tergantung jenis perusahaan (Sumber: Malaysian Institute of Accountants).

Di Indonesia, walau belum terintegrasi penuh seperti di Malaysia, sudah memberikan kelonggaran bagi wajib pajak baik individu maupun berbentuk badan usaha untuk dapat menjadikan pembayaran zakatnya sebagai pengurang penghasilan kena pajak maksimum 2,5 persen dari jumlah penghasilan bruto.Ketentuan ini juga berlaku kepada pemeluk agama selain Islam, lihat UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan dengan perubahan terakhir UU No. 36 Tahun 2008 dengan PP No. 60 Tahun 2010.

Kesimpulannya, keluarga harus lebih pandai mengelola kewajiban pajak dan zakatnya. Penghindaran pajak dan zakat boleh dilakukan dengan syarat – syarat yang ditentukan namun pengelakan pajak dan zakat sama sekali tidak diperkenankan. Jangan sampai banyak harta namun tidak menjadi warga negara patuh pajak, jangan sampai banyak harta namun kewalahan untuk membayar zakatnya karna harta diam tidak bermanfaat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Artikel ini diterbitkan di:

Republika

MySharing

Islampos

Hidayatullah

Suara Islam

 

Pajak dan Zakat Panama Papers

1334426panama1780x390

Dok: http://www.kompas.com

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan Sakinah Finance, Colchester-Inggris

Berita tentang daftar orang kaya yang mengelak dari kewajiban pajak (tax evasion), seperti dari laporan jutaan dokumen rahasia Panama Papers, bukanlah hal yang baru.

Kisah pengelakan pajak yang muncul dari terungkapnya Panama Papers ini membangunkan beberapa pemimpin dunia untuk mengetatkan regulasi tempat kebijakan bebas pajak (tax havens).

Jyrki Katainen, Wakil Presiden European Commission mengecam dengan mengatakan di CNBC bahwa tax evasion is a bad disease; it’s a cancer of market economies.

Seorang mahasiswi di St. Andrews University, Scotland bertanya kepada Sakinah Finance apakah klien Mossack Fonseca dalam kasus Panama Papers yang beragama Islam juga melakukan “zakat evasion” selain “tax evasion”. Ehm menarik…Sebelum dijawab mari kita lihat serba serbi pajak dan zakat terlebih dahulu.

Sejarah pajak dan zakat

Menurut berbagai sumber, pemerintahan Romawi kuno sudah mengenakan pajak penghasilan yang berlaku hingga tahun 165 sebelum masehi.

Pada masa ke-Islaman, selain zakat ada pajak yang diberlakukan seperti pajak bumi/tanaman (Kharaj), pajak perdagangan/bea cukai (Usyur), dan pajak jiwa terhadap non-muslim yang hidup di dalam naungan pemerintahan Islam (Jizyah) (Sumber: Baznas).

Adapun pajak penghasilan mulai diatur di Amerika pada tahun 1643 sedangkan di Inggris sejak tahun 1799. Pajak atas laba dikenalkan oleh kaum imperalis di Indonesia sejak tahun 1878 walaupun sebelumnya ada konsep Baitul Maal ketika Islam menguasai Nusantara.

Sedangkan anjuran membayar zakat fase pertama secara umum dinyatakan di dalam QS Al-Muzzammil (73): 20 yang diturunkan di Mekah, …waaa tuzzakaah…(…bayarlah zakat…). Kemudian di fase- fase selanjutnya beberapa ayat dan hadits menunjukan lebih detail perintah zakat beserta cara perhitungannya, nisab dan haulnya.

Adapun zakat diwajibkan untuk dipungut pada tahun ke-2 Hijriah di Madinah setelah turunnya QS At-Taubah (9):103, Khudz min amwaalihim…(Ambillah harta mereka…).

Menghindari pajak dan zakat?

Pastilah semua orang ingin menghindari dan mengelak dari pajak karena membayar pajak adalah mengurangi apa yang dimiliki. Namun seperti yang pernah dikatakan oleh Benjamin Franklin (1706-1790) bahwa pajak sama dengan kematian, keduanya adalah pasti.

Suka tidak suka, Pasal 23A UUD 1945 menyatakan kewajiban pajak bagi siapapun yang tinggal di Indonesia dengan ketentuan berlaku yang kemudian ditambah dengan undang–undang perpajakan yang terperinci.

Boleh dikatakan hampir sama dengan pajak, sebagian masyarakat muslim ingin menghindari atau mengelak dari kewajiban berzakat.

Mahmoud El-Gamal, seorang Guru Besar di Rice University, Houston, Amerika, pernah mengatakan kepada penulis bahwa banyak orang kaya muslim di berbagai negara yang hidup mewah tapi tidak mau membayar zakat. Padahal, rumah yang ditinggalinya dengan segala perabotnya bernilai milyaran dolar.

Kesadaran membayar zakat dengan perhitungan yang benar juga masih minim di Indonesia, buktinya potensi pengumpulan zakat masih sangat rendah dari apa yang diharapkan. Salah satu penyebabnya adalah karena tidak ada perintah wajib pungut zakat.

Adapun perhitungan serta penyerahan kepada penerima zakat (mustahik) diserahkan sepenuhnya kepada pembayar zakat (muzakki).

Lain halnya ketika masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a yang memerangi siapapun yang tidak membayarkan zakat kepadanya selaku pemimpin setelah Rasulullah SAW wafat (Kitab Bidayah Wan Nihayah hal 84).

Para aktivis zakat saat ini hanya mampu mengingatkan tentang kewajiban zakat yang pada dasarnya bukan mengurangi harta tetapi untuk menyucikan dan membersihkan yang akan berakhir dengan keberkahan.

Jadi bisa saja orang- orang kaya yang ada dalam daftar Panama Papers juga melakukan pengelakan zakat (zakat evasion) atau mungkin juga tidak, hanya yang bersangkutan dan Allah SWT yang tahu.

Yang pasti, ketika mereka terbukti mengelak dari kewajiban pajak, mereka mungkin akan mendapatkan sangsi atau hukuman dari pemerintah.

Sementara, kalau benar mereka tidak menunaikan kewajiban zakat, maka pasti keberkahan harta mereka akan lenyap secara perlahan, dan hukuman Allah pasti lebih pedih dari hukuman di dunia.

“Tidaklah seorang pemilik harta benda yang tidak membayar zakatnya, melainkan pada hari kiamat akan dibuatkan untuknya seterika api yang dipanaskan di neraka Jahannam, kemudian diseterikakan pada lambungnya, dahinya dan punggungnya” (HR. Muslim No. 1648, shahih). Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Artikel sudah diterbitkan di: Bisnis Keuangan, Kompas

Kemana Zakat Kita?

Apakah pengelolaannya oleh lembaga amil zakat sudah benar?

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Konsultan, Sakinah Finance, Colchester-UK

CJkGwc7UwAATD0F

Dok: http://www.twitter.com

Para lembaga atau badan (pengumpul dan penyalur atau pengelola) zakat di Indonesia telah mengeluarkan beberapa jurus untuk meningkatkan pengumpulan zakat dari para pembayar zakat (muzakki) di Tanah Air. Siapakah amil zakat ini? Apa motivasinya? Apa saja bentuk akuntabilitasnya?

Siapakah amil zakat ini?
Lembaga Amil Zakat (LAZ) adalah lembaga yang dibentuk masyarakat yang memiliki tugas membantu pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat. Lembaga ini diatur dalam Undang Undang Pengelolaan Zakat yaitu UU No. 23 tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat dengan PP No. 14 Tahun 2014 mengenai Pelaksanaan UU tersebut.

Sedangkan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) adalah lembaga yang melakukan pengelolaan zakat secara nasional yang menaungi BAZNAS di daerah – daerah. Di bawahnya, ada Unit Pengumpul Zakat (UPZ). Dengan izin yang diberikan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), operasional para LAZ diawasi oleh Kemenag RI di bawah koordinasi BAZNAS pusat.

Tugas amil zakat adalah mengingatkan para masyarakat Muslim untuk menunaikan rukun Islam yang ketiga setelah shahadah dan shalat yaitu membayar zakat yang salah satunya berpijak kepada seruan QS At-Taubah (9): 103, yang artinya: Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka.

Dengan gencarnya gerakan zakat di Tanah Air, kesadaran membayar zakat menjadi lebih baik dari tahun ke tahun. Menurut Dr. Irfan Syauqi Beik, M.Ec, ahli bidang zakat di tanah air yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) IPB, dana zakat nasional naik pesat sejak 2007 dengan rata – rata pertumbuhan 20 persen pertahun.

Tahun 2014 dana zakat nasional yang berhasil dihimpun adalah sebesar 3.3 trilyun rupiah naik dari 2.7 trilyun rupiah pada tahun 2013.

Menurut Irfan peningkatan terkumpulnya dana zakat nasional ini dikarenakan beberapa hal seperti semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk membayar zakat melalui badan atau lembaga amil zakat.

Hal ini juga dipicu dengan kepedulian yang tinggi untuk menolong korban bencana alam yang sering terjadi di dalam negeri atau di negara-negara sahabat ditambah dengan adanya kerjasama antara amil zakat di tanah air serta dukungan pemerintah dan segenap instansi.

Namun angka-angka di atas masih jauh dari yang diharapkan. Mengutip tulisan di blog Sakinah Finance akhir 2014 lalu (baca Marketing Zakat dan Keluarga Sakinah) bahwa perkiraan kasar dana zakat yang terkumpul di Indonesia adalah sekitar 400 triliun rupiah. Angka ini tentunya lebih optimis dibandingkan dengan hasil penelitian FEM IPB yang memperkirakan sebesar 217 triliun rupiah per tahun.

Apapun prediksi yang kita pakai, jika potensi zakat ini berhasil dikumpulkan paling tidak meningkat dari apa yang sudah ada. Suatu pencapaian yang diharapkan dapat menanggulangi permasalahan rakyat miskin yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia ada sekitar 28,9 juta orang rakyat miskin pada tahun 2015, meningkat sebanyak 8,6 juta orang dari tahun sebelumnya.

Bicara soal akuntabilitas
Asrarul Rahman, seorang sahabat sekaligus adik saya sealmamater yang sedang menjalankan S3 di University of Glasgow lagi-lagi mengutarakan gundah gulananya mengenai laporan keuangan amil zakat.

Mengapa? Asra bingung mengapa lembaga amil zakat begitu menjamur di Indonesia, apa saja kinerjanya dan dari mana sumber dana yang dialihkan untuk memiliki atau menyewa gedung mewah di pusat kota Jakarta, serta bagaimana pengukuran akuntabilitasnya?

Mungkin sebagian kita berfikir mengapa tidak percayakan saja apa yang sudah kita bayarkan ke lembaga zakat toh malaikat sudah catat amal soleh kita. Tapi banyak ‘Asra Asra’ yang berfikir lain, karena jangan mentang-mentang membawa nama Islam lalu membuat asumsi bahwa laporan akuntabilitas amil zakat hanya perlu disiapkan apa adanya.

Standar laporan keuangan
Ikatan Akuntan Indonesia sudah mengeluarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 109 mengenai Akuntansi Zakat yang efektif dipakai sejak 1 Januari 2009. Di dalam standar dicantumkan tata cara bagaimana sebuah lembaga amil zakat membuat pengakuan, pengukuran dan penyajian aktifitas keuangannya.

Secara sekilas laporan keuangan yang telah dibuat oleh beberapa lembaga amil zakat contohnya Rumah Zakat, Dompet Dhuafa dan Baitulmaal Muamalat telah mengikuti standar yang ada walaupun tidak menyebutkan secara khusus penggunaan standar PSAK 109 sebagai rujukan utama pelaporan.

Menjamurnya lembaga amil zakat
Menjamurnya lembaga amil zakat di Indonesia adalah karena untuk menggali potensi zakat yang ada. Namun sudah ada inisiatif tentang peranan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) untuk memayungi ratusan lembaga amil zakat ini supaya dapat menunjukan kinerja yang lebih baik dan tidak tumpang tindih ketika melayani masyarakat.

Jika kita tengok tetangga kita di Malaysia, peranan lembaga zakat sudah diakui karena koordinasi yang baik dengan segenap lembaga pemerintahan. Jumlahnya tidak menjamur, hanya ada satu di setiap negeri dengan pelayanan online dan gerai zakat yang strategis. Memang sebaiknya di Indonesia juga seperti itu sehingga menjadi sebuah orkestra yang teratur.

Mengenai kinerja dari kasat mata kita bisa melihat sepak terjang para petugas dan relawan lembaga amil zakat ketika menangani kemiskinan, bencana alam dan keikutsertaannya dalam peningkatan pendidikan di Tanah Air.

Kita juga tahu bahwa ada beberapa lembaga zakat yang sudah melebarkan sayapnya ke Tanah Air seperti Dompet Dhuafa dan Aksi Cepat Tanggap. Saat ini DD sudah berkiprah di USA, UK, dan Australia dan ACT sudah mulai aktif di UK.

Bukan hanya lembaga zakat di Indonesia yang menjamur tetapi ada beberapa kelompok amil zakat yang sudah bermunculan di luar negeri atas inisiatif para putra – putra bangsa untuk Indonesia baik yang terdaftar resmi atau tidak resmi.

Sebut saja yang sudah lama berperan aktif seperti Chariots for Children yang diketuai Nizma Agustjik dan IHSAN yang dimotori oleh Asyari Usman yang berpusat di kota London. Juga Hope 4 our Children yang beroperasi di Washington DC di bawah kendali Ina Nasution. Semoga Allah membalas keikhlasan dan kerja keras mereka selama ini.

Kemana sajakah dana zakat digunakan?
Seorang mahasiswa S1 Tazkia pernah berdebat bahwa salah satu kinerja badan amil zakat yang baik adalah jika sumber dana operasionalnya tidak mengambil hak amil dari dana zakat melainkan dari sumber dana lainnya. Begitukah?

Dalam QS At-Taubah (9): 60, amil zakat disebutkan dalam urutan ketiga yang berhak menerima zakat (setelah fuqoroo dan masaakiin/orang – orang fakir dan miskin). Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan kesepakatan para ulama ada delapan asnaf yang disebutkan di dalam ayat tersebut sehingga masing – masing bisa mendapatkan seperdelapan. Namun tentunya pembagian ini tidak mutlak, tergantung kondisi.

Lantas bagaimana dengan badan amil zakat? Apakah tepat jika disebut lebih baik kinerjanya jika tidak menggunakan haknya? Mungkin saja lebih baik karena ternyata lembaga ini dapat memobilisasi dana lainnya sebagai dana operasional seperti dana infaq pemerintah dan donatur.

Tentu ada maksud ayat yang begitu luar biasa menempatkan posisi amil zakat di situ. Jika kesejahteraan para petugas amil zakat terjamin insyaAllah mereka dapat memegang amanah dengan lebih baik lagi.

Jadi para amil zakat boleh menggunakan haknya, kecuali bagi amil yang memang diharamkan untuk menerimanya (seperti keluarga Rasulullah SAW – HR Sahih Muslim 1072).

Mengenai kebutuhan operasional, menurut Fatwa MUI No. 8 Tahun 2011 seharusnya ada dana bantuan dari pemerintah, namun jika tidak ada atau tidak memadai, maka dana zakat dari porsi amil atau fissabilillah dapat digunakan dalam batas sewajarnya. Begitu juga dana infaq, yang juga dapat digunakan untuk menunjang kebutuhan operasional termasuk sewa gedung selain untuk memberikan gaji yang layak kepada segenap petugas zakat. Ada beberapa lembaga amil zakat yang memiliki gedungnya dari dana wakaf.

Di balik semakin baiknya kinerja keuangan lembaga zakat seperti disebutkan di atas, ada kisah sedih juga yang sering kita baca dan dengar. Ketidakjujuran petugas amil zakat yang terungkap misalnya dalam kasus korupsi dana zakat sebesar 461 juta rupiah tahun lalu di Pagaralam, Sumatera Selatan atau penyalahgunaan dana zakat sebesar 7 milyar rupiah di Aceh tahun 2012.

Langkah perbaikan ke depan
Aktifitas zakat sudah banyak dinikmati manfaatnya dikarenakan adanya peranan amil zakat salah satunya. Seperti yang selalu disampaikan dalam pelatihan Sakinah Finance, menyalurkan zakat melalui lembaga amil zakat dapat menghindari sifat riak dan penyaluran yang tidak tepat sasaran. Maka dari itu kita tingkatkan sinergi keluarga kita dengan badan amil zakat yang sudah ada.

Kekurangan yang kita lihat di sana sini dalam operasional badan amil zakat ini harus kita perbaiki bersama. PR yang ada antara lain adalah sistem pelaporan yang harus ditingkatkan agar tepat waktu dan mudah diakses. Praktik audit juga seharusnya mencakup berapa kecepatan waktu penyaluran jangan sampai dana zakat bersaldo melebihi batas wajar sehingga terpaksa dibawa ke tahun selanjutnya.

Pengawasan juga dilakukan agar penyaluran dana zakat tepat sasaran dan tidak tumpang tindih serta penggunaan dana zakat dan dana lainnya untuk menunjang biaya operasional selalu dalam batas kewajaran. Dengan sistem akuntabilitas yang baik tentu saja makin berbondong – bondong masyarakat sadar zakat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Artikel ini diterbitkan di:

MySharing: Read more: http://sakinah.mysharing.co/14745/kemana-zakat-kita/#ixzz44DDLLVeD

Republika

Islampos 1

Islampos 2

Hidayatullah

Suara Islam

 

Ibu dan Keuangan Keluarga

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Sakinah Finance, Colchester, UK

Tanggal 22 Desember yang lalu masyarakat Indonesia merayakan Hari Ibu, bermenit – menit telepon tersambungkan, bertebaran ucapan di kartu, surat dan media sosial serta bertubi ciuman, pelukan dan hadiah diberikan.

Dari catatan sejarah, Hari Ibu dicanangkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1959 melalui Keputusan Presiden No. 316. Ternyata usulan itu keluar dalam Kongres Perempuan Indonesia yang diadakan pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres tersebut diadakan dalam rangka menyerukan nasib dan kedudukan perempuan dalam keluarga dan masyarakat serta hak perempuan mulai dari hal pendidikan dan kesehatan.

Begitu besarnya kesadaran masyarakat dan negara akan derajat perempuan saat itu. Walaupun ada Mother’s Day pada tanggal 13 Mei yang juga dirayakan setiap tahunnya di tingkat internasional untuk memperingati kontribusi ibu dalam masyarakat, namun pesannya tidaklah sama dengan konteks Indonesia.

Apapun pesannya, peranan ibu harusnya diperingati setiap hari, seperti pesan di bawah ini:

ibu

Foto cfull.blogspot.co.uk

Mengapa harus kita peringati setiap hari? Mari kita lihat bagaimana kedudukan ibu dalam Islam.

Ibu dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menyerukan peranan, hak dan kewajiban ibu dengan sangat luar biasa, seperti di dalam ayat berikut: “Dan Kami memerintahkan kepada manusia supaya ia berbuat baik ke- pada kedua ibu-bapanya, ibunya mengandungkan dia dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah…” (QS. Al Ahqaf (46): 15).

Tugas seorang ibu mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan serta mendidik anak-anaknya adalah sesuatu tugas yang mulia sehingga Rasulullah SAW menegaskan kedudukannya yang lebih utama seperti di dalam sebuah hadits yang menceritakan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW dan bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya berbuat baik kepa danya?” Rasulullah SAW menjawab: ‘Ibumu’ Orang itu bertanya lagi: ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Ibumu’ Orang itu bertanya lagi: ‘Kemudian siapa lagi ?’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Ibumu’ Lalu orang itu bertanya lagi: ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Kemudian ayahmu” (HR Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548).

image1Foto: Yuslenita, Rifa, Dzakir – Pribadi

Peranan ibu dalam keuangan keluarga

Dengan peranan ibu yang luar biasa tersebut, ikatan antara ibu dan anak terbentuk. Banyak kisah sukses anak – anak yang bermula dari pendidikan sang ibu, tentu saja tidak menyampingkan peranan ayah dalam keluarga sesuai dengan kodratnya. Allah Ya Khaliq mempunyai tujuan dengan telah menciptakan perempuan dan laki – laki yang berbeda dalam banyak hal, salah satunya adalah untuk saling melengkapi.

Maka dari itu, Allah SWT telah berfirman: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yagn lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan…” (QS. An Nisa’ (4): 32).

Dalam tulisan Sakinah Finance sebelumnya yaitu Berantas Kemiskinan di Indonesia dengan Disiplin (baca lebih lanjut di MySharing, Hidayatullah, Republika, Islampos, dan Suara Islam pertengahan Desember 2015), ada kisah sukses kaum ibu dalam ekonomi keluarga. Banyak program keuangan mikro syariah di Indonesia saat ini diperankan hampir 97% oleh kaum ibu.

Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, pimpinan Tazkia Group yang juga pakar ekonomi syariah mengutarakan bahwa keikutsertaan kaum ibu dikarenakan beberapa hal yaitu kebanyakan kaum ibu lebih disiplin, tidak merokok, dan sangat memperhatikan nasib keluarga terutama anak-anaknya.

Dengan kriteria ini, walaupun kegiatan ekonomi separuhnya dilakukan oleh kaum bapak, sang ibu dapat memastikan kelancaran usaha dan pengembalian modal dilakukan tepat waktu. Terlebih dari itu, dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan keuangan mikro syariah tersebut membuka wawasan kaum ibu sehingga makin sadar andilnya dalam keluarga, makin semangat memastikan ibadah dan pendidikan keluarga.

Pengelolaan keuangan keluarga

Ternyata dari beberapa pelatihan Sakinah Finance, 75% keluarga menyatakan bahwa keuangan diatur oleh sang ibu walaupun ayah yang mendapatkan penghasilan. Bahkan ibu juga diberikan tugas untuk menyalurkan zakat, kepada siapa saja dikehendaki, sehingga ibu yang paling sibuk mencari info tentang lembaga zakat atau kelompok yatim dhuafa yang pantas menerimanya. Sungguh luar biasa tugas ibu!

Namun pengelolaan keuangan keluarga seyogyanya adalah kurang pas (afdhal) jika dilakukan oleh seorang ibu saja, sebaiknya ayah dan segenap anak-anak juga turut terlibat di dalamnya. Salah satu pertanyaan ketika di alam kubur dan yaumul hisab kelak adalah tentang harta, darimana didapatkan serta kemana dibelanjakan. Apakah hanya ibu yang akan menjawab? Tentu saja tidak. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Ditulis dalam kenangan setahun sudah Mama Pou Chu meninggalkan dunia yang fana ini. Semoga Allah lapangkan kuburnya dan tempatkan almarhumah di jannatunna’im. Amin.

Dapat dibaca juga di:

MySharing

Islampos

Suara Islam

Zakah Calculation

By: Murniati Mukhlisin @ Mu Kim Ni

This talk was delivered at As-Syifa Usrah @ Birmingham

Chaplancy Hall, University of Birmingham, 22 July 2012/2 Ramadhan 1433H

 

Obligation to Pay Zakah Zakah is the fourth pillar of Islam. It’s important is such that the Quran refers to Zakah in 82 separate verses and has associated Zakah immediately after Salah on 32 occasions. – …And Allah said, “I am with you. If you establish prayer and give zakah… (Al-Maidah 12)

– And give the relative his right, and [also] the poor and the traveler, and do not spend wastefully. (Al-Isra’ 26)

– ‘If someone is given wealth by Allah but does not pay its Zakah, that wealth will appear to him on the Day of Judgement in the form of a bald serpent with 2 horns, encircling him and squeezing him all day, then holding him by the lips and telling him, “I am your wealth, the treasure which you hoarded”’. (Bukhari & Muslim)

– And establish prayer and give zakah and bow with those who bow [in worship and obedience]. (Al-Baqarah 43)

– And He it is who causes gardens to grow, [both] trellised and untrellised, and palm trees and crops of different [kinds of] food and olives and pomegranates, similar and dissimilar. Eat of [each of] its fruit when it yields and give its due [zakah] on the day of its harvest. And be not excessive. Indeed, He does not like those who commit excess (Al-An-am 141)

Any reward for paying Zakah?
The example of those who spend their wealth in the way of Allah is like a seed [of grain] which grows seven spikes; in each spike is a hundred grains. And Allah multiplies [His reward] for whom He wills. And Allah is all-Encompassing and Knowing. (Al-Baqarah 261)
Types of Zakah
•Zakah Al Fitr; compulsory, no nisab/haul, payable from the first day of Ramadhan until before the Eid ul Fitr prayer
•Zakah on wealth; traditional type of zakat (agricultural produce, reared animals, business, gold and silver) and new types of wealth subject to zakah
Who are recipients of Zakah/Mustahik?
•At Tawbah 60; The people who have the right to receive zakah and legal uses of zakah are described by Allah SWT :
•The poor – those who have no income.
•The needy – those who may have an income but its below a minimum requirement.
•Employees of Zakah – those who identify the destitute and handle zakat.
•Sympathisers – those who might enter or who have already entered Islam.
•Zakah may be used to free slaves.
•Zakah may be used to relieve those in hardship under debt.
•Zakah may be used for the cause of Allah.
What is Zakat on wealth payable on?
•Zakah on Business Income
•Zakah on Employment Income
•Zakah on Saving
•Zakah on Shares
•Zakah on Gold
•Zakah on Pension
•Zakah on Crops
•Zakah on Livestock
How to Calculate?
•Zakat ul Fitr; The quantity the Prophet (SAWS) described as one saa’ of food. One saa’ is equivalent to four madd. A madd is the amount that can be scooped up when one puts their hands together. If we translate this into a monetary value based on the price of a staple food such as flour or rice, it is approximately £3.50.
Nisab
•Nisab is the minimum amount of wealth one must possess before the payment of zakat becomes an obligation on you. The value of Nisab can be calculated either using gold or silver. The Gold nisab is equal to 85 grams of pure gold, and the silver nisab is equal to 672 grams of pure silver.
•Current Monetary Nisab Value (09/07/2012):
£346 – Silver valuation
£2870 – Gold valuation
How to calculate?
Zakat on Business Income
•Growth method = Capital + Long Term Liabilities – Fixed assets – Investment and the result x 2.5%
•Working capital method = Current assets – current liabilities and the result x 2.5%
Livestock
–30 cows (nisab) – a calf (kadar)
–40 cows – a cow
–60 cows – two calves
–40-79 goats – a goat
–80- 119 goats – two goats
•For every 30 buffaloes, the zakat rate is 1 male buffalo, aged 1 year or more
•For every 40 buffaloes, the zakat rate is 1 female buffalo, aged 2 years or more
•If there are mixed female and male, the owner can choose any buffalo or cow to be paid a zakat
Notes:

Home and Cars.

•Anything you own and use on day to day basis is exempt from zakat except the cash and items made from gold and silver. This means you do not pay zakat on your home and personal car.
•If you have a second home or property and intend to keep it. It is not subject to zakat but any profit from rental income is fully subject to zakat.
•If you have property and intend to sell it for a profit, you must pay zakat on the value of the property as It is considered business stock

Businesses, Shares and Pensions

•Paying zakat on stock and business merchandise is obligatory. If you have shares in company, you must pay zakat based on the current value of the shares.
•Its strongly recommend you obtain specialist advise on calculating the amount of zakat due to businesses you own or run.
•Before retirement, an individual’s pension is not subject to zakat if the payment made to pension policy is deducted from the salary at source, without passing into the hands of individual.
•The pension an individual receives after retirement is liable for zakat provided they are sahib-un-nisab.

Livestock

•The livestocks are zakatable when the owners have fulfilled the conditions for nisab and haul
•Zakatable livestocks are sheeps, cows, buffaloes, and camels
•These livestocks must be healthy, not criple and must not be used to work in the field or carry the goods.
References:
•Islamic Relief, Zakat, http://www.islamic relief.org.uk/Zakat_ul_Fitr.aspx
•Fiqh Zakat, Dr. Yusuf Qardhowi
•http://www.quran.com