Pangsa Pasar Syariah yang Mana Lagi?

Pangsa Pasar Syariah yang Mana Lagi?

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Bogor – Indonesia

12 Juni 06:40 | Dilihat : 653

Pangsa Pasar Syariah yang Mana Lagi?Ilustrasi

Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc
Sakinah Finance/STEI Tazkia/Ikatan Akuntan Indonesia
Setiap bicara soal perkembangan keuangan syariah terutama perbankan syariah, yang menjadi fokus utama adalah pangsa pasar. Pangsa pasar perbankan syariah yang besar berarti penerimaan masyarakat makin tinggi. Saat ini pangsa pasar perbankan syariah berada pada kisaran 5,13 persen. Angka yang cukup meresahkan baik bagi regulator perbankan syariah maupun bagi yang aktif di industri perbankan syariah. Betapa tidak, negara tetangga paling dekat yaitu Malaysia yang hanya punya angka penduduk 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia telah melejit mencapai pangsa pasar perbankan syariah di angka 28 persen pada akhir tahun 2016 yang lalu.

Maka dari itu, Kementerian BUMN bertekad mengembangkan perbankan syariah agar pangsa pasarnya bisa mencapai angka 10% pada tahun 2017 ini. Caranya adalah bank induk syariah BUMN akan mencari mitra dari pihak luar untuk menambah ekuitas bank syariah, seperti yang dikatakan oleh Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Konstruksi dan Jasa Lain, Gatot Trihargo di Swamedium.com belum lama ini.

Selain industri keuangan syariah, Otoritas Jasa Keuangan mentargetkan pangsa pasar industri keuangan non-bank (IKNB) syariah bisa mencapai kisaran 5 persen pada tahun 2017 ini. Direktur IKNB Syarih Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Moch. Muchlasin di Bisnis.com beberapa waktu yang lalu menyatakan optimis akan kenaikan pangsa pasar industri keuangan non-bank syariah yang saat ini umumnya paling besar disumbangkan oleh industri asuransi syariah.

Pangsa pasar yang terlupakan
Luqyan Tamanni, dosen STEI Tazkia membentangkan riset inklusi keuangan baru-baru ini. Luqyan mengatakan bahwa sekitar 40 persen masyarakat Indonesia belum mempunyai akses langsung ke sektor keuangan termasuk perbankan. Padahal, King & Levine (1993) menyebutkan peran penting perkembangan sektor keuangan dengan pertumbuhan ekonomi maka dari itu perlu jangkauan yang intensif kepada 40 persen kelompok ini.

Para penggerak industri perbankan syariah dan non bank syariah harusnya melirik tajam pangsa pasar yang belum terjamah ini bukan terus-terusan merebut pangsa pasar yang berjumlah hanya berjumlah 60 persen dari lingkaran perbankan konvensional.

Gerakan 212 contohnya memiliki semangat untuk “Rush Money” dari pemilik dana bank konvensional yang ribawi ke rekening syariah. Pada saat gerakan itu terjadi pada bulan Desember 2016 yang lalu, prediksi industri keuangan syariah “Rush Money” betul-betul akan terjadi secara besar–besaran.

Tetapi ketika dikonfirmasi oleh penulis, ternyata gerakan tersebut tidak berpengaruh besar. Bank Jabar Banten Syariah yang berlokasi di Jawa Barat contohnya mengatakan bahwa tidak ada dampak apapun di kwartal pertama tahun 2017 tentang isyu “Rush Money”. Hanya Bank Syariah Mandiri yang merupakan bank syariah terbesar di Indonesia yang mengatakan bahwa ada sedikit dampak setelah gerakan 212 namun tetap tidak signifikan.

Ternyata tantangan terbesar adalah pada literasi keuangan syariah yang masih 10 persen, sementara literasi keuangan secara umum masih 30 persen. Sehingga jangkaun nasabah baru harus diimbangi edukasi besar-besaran dan terukur terhadap masyarakat yang masih “belum melek” produk atau risiko keuangan.

Siapakah pangsa pasar 40 persen ini?
Umumnya mereka yang berada dalam kelompok ini adalah masyarakat kelas bawah, walaupun tidak mempunyai banyak dana segar untuk disalurkan namun berpotensi tinggi untuk menjadi mitra industri perbankan syariah atau keuangan syariah. Kalaupun mereka mempunyai kesiapan bermitra tetapi tidak mempunyai cukup akses ke perbankan syariah.

Maka dari itu pemerintah mencanangkan keuangan inklusif yang bertujuan untuk merangkul masyarakat dari kalangan bawah ini untuk berpartisipasi aktif dalam kancah keuangan nasional.

Peraturan Presiden No. 82 tahun 2016 telah mencantumkan strategi nasional untuk hal ini yang berbunyi: Strategi Nasional Keungan Inklusif atau SNKI adalah strategi yang dituangkan dalam dokumen yang memuat visi, misi, dan kebijakan keuangan inlusif dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, percepatan penanggulangan kemiskinan, pengurangan kesenjangan antar individu dan antardaerah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Disebutkan juga paling tidak ada Enam Pilar Strategi Nasional Keuangan Inklusif yaitu edukasi keuangan, fasilitas keuangan publik, pemetaan informasi keuangan, kebijakan yang mendukung, fasilitas intermediasi dan saluran distribusi, dan perlindungan konsumen.

Intinya keuangan inklusif ini seharusnya dijadikan strategi bersama bagaimana supaya pangsa pasar yang “buta huruf tentang keuangan” ini dapat dirangkul yang kelak dapat menambah pangsa pasar industri perbankan syariah dan keuangan syariah secara keseluruhan. Umumnya mereka adalah kaum lemah yang disebut di dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa (4): 98 “mustad’afiin” yang dari pemahaman Tafsir Ibnu Katsir, enam pilar di atas secara eksplisit telah merespon seruan ayat ini.

Siapakah mustad’afiin ini?
Alquran membentangkan ayat – ayat yang yang berpihak kepada kaum lemah yang seharusnya hijrah dari tempat yang tidak baik ke tempat yang dapat merubah nasibnya untuk menjadi lebih baik (QS An-Nisa (4): 97-100). Ayat 98 menegaskan kaum lemah yang tertindas (mustad’afiin) itu adalah laki – laki atau perempuan dan anak – anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan untuk berhijrah.

Pemberdayaan bagi kaum ini tentu saja sangat mulia, seperti memberikan edukasi tentang keuangan seperti salah satunya adalah bagaimana dapat meningkatkan produktifitas ekonomi keluarga termasuk mengatur keuangannya. Yang kelak hijrah ke tempat yang lebih baik inilah akan mendapatkan “wasa’ah” atau rezeki yang berlimpah (Ayat 100).

Salah satu peserta pemberdayaan ekonomi di daerah Bogor pernah menyampaikan rasa syukurnya saat penulis berkunjung. Dia mengatakan bahwa seumur hidup selalu terjerat utang dan tidak tahu bagaimana berdikari namun setelah mengikuti program pemberdayaan ekonomi dhuafa, sang ibu mengatakan bahwa dia sudah melunasi semua utangnya, bahkan sekarang sudah memiliki tabungan masa depan sebesar Rp.2,5 juta.

Inilah salah satu bentuk keuangan inklusif yang seharusnya dapat menjaring kelompok pangsa pasar 40 persen yang buta huruf keuangan ini. Sudah saatnya segenap penggerak perbankan syariah ikhlas untuk “bekerja keras” sehingga dapat menggaet kelompok mustad’afiin ini. Bukan hanya target kinerja (Key Performance Indicators) tapi target amal jariah juga inshaaAllah akan tercapai. Wallahu a’lam bis-shawaab. 

Salam Sakinah!

Sumber:
  • Suara Islam; http://www.suara-islam.com/read/al-islam/muamalah/22699/Pangsa-Pasar-Syariah-yang-Mana-Lagi
  • Hidayatullah; https://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/06/03/117869/pangsa-pasar-syariah-yang-manalagi.html
  • Gontornews; http://gontornews.com/2017/07/02/pangsa-pasar-syariah-yang-mana-lagi/
  • IslamPos; https://www.islampos.com/pangsa-pasar-syariah-yang-mana-lagi-29820/
Advertisements

Bank Syariah mau maju pesat? Harus kaafah jawabannya!

Bank syariah juga perlu meningkatkan kesyariahannya karena itulah keunikan yang dicari selama ini.

Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc

Motivator Sakinah Finance/Wakil Ketua STEI Tazkia

Banyak yang kecewa dengan bank syariah saat ini. Macam – macam argumentasinya, ada yang mengatakan bahwa produk dan jasa yang ditawarkan “mirip atau sama” dengan bank konvensional. Ada juga yang marah – marah karena ternyata margin yang ditawarkan lebih tinggi dari suku bunga. Juga ada yang sewot karena pelayanannya kurang canggih dan lamban dari bank konvensional.

Para bank syariah cukup kewalahan, sebagian berfikir keras ingin berkompetisi dengan cara mengekor bank konvensional. Alhasil, mereka jadi nampak “sama” dengan bank konvensional. Tetapi sebagian bank syariah memilih jurus ingin tetap tambil beda mengikuti slogan orang Jawa, “alon – alon waton kelakon” yang artinya biar lambat tapi selesai asal tetap mengikuti dasar hukum yang jelas. Jurus manakah yang jitu?

Bank syariah saat ini
Ketika membuka ekspo iB Vaganza di Medan baru – baru ini, Ketua Dewan Komisioner Otorias Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengatakan bahwa peranan industri keuangan syariah khususnya perbankan syariah sangat penting dalam sektor perekonomian masyarakat saat ini. Dalam siaran pers, OJK menyakinkan bahwa industri perbankan syariah saat ini sudah SAMA BAGUSNYA, SAMA LENGKAPNYA, SAMA MODERNNYA dengan bank konvensional, DAN PASTINYA SYARIAH LEBIH BERKAH.

Syariah, pastinya lebih berkah! CLICK TO TWEET

Tapi mengapa masih banyak keluarga Indonesia yang masih mengeluh ketika sudah berinteraksi dengan bank – bank syariah? Hampir di setiap sesi tanya jawab talkshow atau pelatihan Sakinah Finance, selalu ada keluhan dan pertanyaan “apakah benar bank syariah sudah syariah?” Ada beberapa kemungkinan mengapa ini terjadi antara lain:

  1. Banyak yang tahu bank syariah tapi sungkan untuk kenal lebih dekat;
  2. Ikutan media sosial, teman atau saudara yang memojokkan bank syariah;
  3. Berinteraksi dengan bank syariah tapi tidak mau bertanya dan menyampaikan kritik;
  4. Pegawai bank syariah tidak pandai menjelaskan keunggulan produk dan jasa syariah;
  5. Bank syariah tidak pandai mengemas keunggulan syariah dalam promosinya;
  6. Bank syariah mengikuti cara bank konvensional yang lebih praktis dibandingkan dengan cara syariah tapi kompleks;
  7. Oknum – oknum bank syariah yang tidak bersikap sesuai syariah; dan lain lain.

Para keluarga Indonesia tentu saja bingung, baik Muslim maupun Non-Muslim. Awalnya semua berharap bank syariah dapat memberikan solusi yang lebih baik untuk kebutuhan keuangannya namun sebagian mendapatkan pengalaman bersyariah yang mengecewakan.

Saat ini bank syariah boleh dikatakan jalan ditempat jika dilihat dari pangsa pasar berbanding dengan konvensional yang makin agresif. Menurut OJK per Januari 2017, industri perbankan syariah di Indonesia yang terdiri dari 13 Bank Umum Syariah, 21 Unit Usaha Syariah yang dimiliki oleh Bank Umum Konvensional dan 166 BPRS mempunya total aset Rp.356,50 triliun dengan pangsa pasar sebesar 5,13%.

Begitu juga dengan perkembangan bank syariah di Malaysia yang saat ini menduduki peringkat pertama di dunia dari sisi jumlah aset, pangsa pasarnya hanya naik dari 26.8 persen menjadi 28 persen pada tahun 2016 dengan nilai aset RM742 billion atau mendekati Rp.3.000 triliun. Namun demikian, pertumbuhan tersebut 10 kali lebih tinggi dari Indonesia walau hanya didukung dengan jumlah penduduk dan ukuran negara yang 10 kali jauh lebih kecil.

Perbankan syariah di Malaysia tumbuh 10 kali lipat dari Indonesia CLICK TO TWEET

Pengalaman bersyariah
Penulis sudah menjadi nasabah bank syariah sejak Bank Muamalat Indonesia (BMI) didirikan pada 1992. Ketika pindah dan menetap di Malaysia hampir sepuluh tahun lamanya, penulis tetap aktif berinteraksi dengan bank syariah ditambah dengan produk syariah lainnya. Setelah kembali ke Indonesia, penulis lebih kerap lagi bertransaksi dengan produk dan jasa bank syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya.

Kemudian penulis mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S3 dan menjadi dosen di Inggris sekitar lima tahun lamanya. Lagi – lagi, penulis menggunakan kesempatan untuk menjadi nasabah aktif di bank dan produk syariah di sana.

Pesan dan kesan
Dari pengalaman di atas, ada beberapa pesan dan kesan mengenai bank syariah.

  1. Rasulullah SAW tidak pernah mendirikan bank syariah sehingga tidak ada model yang tepat bagaimana sebuah bank dapat beroperasi. Yang diajarkan Rasul adalah model – model akad seperti Murabahah (jual beli), Salam (jual beli dengan pemesanan dibayar di awal), Istisna’ (jual beli dengan pemesanan dibayar bertahap), Mudharabah (kemitraan antara pemilik modal dan pekerja), Musyarakah (kemitraan antara para pemilik modal), Ijarah (sewa), dan lain – lain. Akad – akad inilah yang kemudian digunakan untuk menggantikan transaksi berbasis bunga;
  2. Ikhtiar para penggiat keuangan syariah adalah meng-Islamkan sistem perbankan konvensional yang sudah ratusan tahun berjalan dan menjadi salah satu detak jantung perekonomian dunia;
  3. Jelas saja beberapa produk dan jasa bank syariah menjadi mirip dengan bank konvensional. Dari jauh mereka serupa tapi sebenarnya mereka tidak sama;
  4. Baik bentuk dan substansi (form and substance) bank syariah sudah tampil beda. Dari sisi bentuk, produk dan jasa tidak boleh berhubungan langsung dan tidak langsung dengan hal yang berbau riba, maysir, gharar, haram, dzalim, dharar. Dari sisi substansi, perbedaan dapat dilihat mulai dari akad dan operasionalnya;
  5. Bank syariah masih sangat muda usianya dan prinsipnya sementara harus akur ketika bersanding dengan sistem perbankan konvensional. Jangan heran jika ada beberapa prinsip bank syariah yang masih belum bisa sempurna berjalan;
  6. Dalam perjalanannya, prinsip – prinsip bank syariah sudah banyak diakomodasi melalui edukasi kepada pembuat keputusan, respon atas desakan masyarakat yang ingin bank syariah tetap eksis, serta karena telah dirasakan manfaatnya untuk keluarga, masyarakat dan negara;

Bank syariah adalah satu bentuk “rahmatan lil ‘alamin”, rahmat kepada seluruh alam, bukan disediakan hanya untuk kepentingan keluarga Muslim tapi juga non-Muslim. Harapannya adalah lembaga ini dapat menyumbang pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi dan membawa keluarga Indonesia sejahtera.

Kesimpulannya, semua pihak harus berbenah, harus lebih banyak keluarga – keluarga Indonesia yang membesarkan lembaga ini melalui kritikan yang membangun. Pada saat yang bersamaan, bank syariah juga perlu meningkatkan kesyariahannya karena itulah keunikan yang dicari selama ini. Jika tidak unik atau “sama saja”, maka para keluarga akan putar haluan kembali ke bank konvensional.

Bank syariah harus membenahi sisi syariahnya! CLICK TO TWEET

Penulis pernah mendengar ada seorang “ustaz” yang memberikan nasihat kepada jamaahnya: “lebih baik ke bank konvensional yang tidak “munafik”, sudah jelas riba, dibandingkan dengan bank syariah yang “munafik”, katanya syariah tapi ternyata sistemnya masih ribawi”. Walau tidak setuju dengan pernyataan ini, sudah ada sinyal bahwa bank syariah dituntut untuk lebih syariah (harus kaafah) supaya dapat maju pesat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!
Read more: http://sakinah.mysharing.co/14786/bank-syariah-mau-maju-pesat-harus-kaafah-jawabannya/#ixzz4mJUGyYcu

Suara Hidayatullah: https://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/04/17/115050/115050.html

Suara Islam: http://www.suara-islam.com/read/al-islam/muamalah/22149/Bank-Syariah-Mau-Maju-Pesat-Harus-Kaaffah-Jawabannya

Republika: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/04/17/oojpmv396-bank-syariah-mau-maju-pesat-kaafah-jawabannya

 

 

Bisnis Warteg: Bukan Dirazia tapi Dikelola

1600260012-fot01a025780x390

Oleh: Murniati Mukhlisin

Berita tentang bisnis warteg Bu Eni yang dirazia menuai simpati. Dalam dua hari terkumpul Rp 265 juta sumbangan dalam bentuk uang untuk membantu kelanjutan bisnisnya. Terlepas dari yang bersikap pro dan kontra, bagaimana kalau kita berlomba-lomba mengusulkan perbaikan?

War-Teg (baca: Warung Tegal)

Bisnis keluarga seperti ini luar biasa, dibuat semurah mungkin, mudah diakses terutama oleh kalangan mahasiswa, bisa memberi hutang bayar di akhir bulan, dan di kebanyakan tempat nampak bersih dan mengebul.

Penjualnya berpakaian sederhana tidak ada seragam khusus, kebanyakan orang daerah dengan logat khas kota Tegal.

Kabarnya para pebisnis warteg ini punya rumah mewah di kampung asalnya seperti di Sidapurna dan Sidakaton. Apapun, ini bukan urusan kita, itulah hasil kerja keras mereka selama ini.

Menyerupai bisnis musiman, bisnis warteg juga ada waktunya harus libur. Namun di benak pebisnis biasanya tertanam prinsip -prinsip seperti ini: Ehm…bukannya bisnis itu tidak boleh berhenti?

Jadilah pebisnis yang mampu menangkap peluang kapan saja, pelanggan yang tidak wajib puasa atau tidak puasa tetap harus dilayani, dan banyak lagi prinsip lainnya.

Biasanya prinsip-prinsip ini dianggap “wajib dilakoni” oleh para pemula atau pebisnis yang sedang mencari tambahan penghasilan untuk mengatasi masalah keuangan keluarganya.

Ternyata bukan hanya di bulan Ramadhan bisnis makanan kurang pembeli di waktu siang hari. Bagaimana ketika hari Lebaran tiba? Kebanyakan orang cenderung ingin makan ketupat dan kue dibanding makanan warteg.

Nasib pedagang warteg dialami juga oleh pedagang makanan lainnya seperti kue lebaran yang hanya laku di bulan Ramadhan dan Syawal, pedagang baju sekolah yang hanya laku keras di bulan Juni dan Juli.

Selaku anggota keluarga yang aktif dalam bisnis dagang makanan yang terkenal dengan “Pempek Fo Tjoe”, “Kopi Cap Ayam Jago” dan toko klontongan “Belinyu” di kota Baturaja, Sumatera Selatan, penulis menghadapi langsung bagaimana arus naik turunnya bisnis-bisnis ini.

Di negara empat musim, masalah bisnis musiman juga sangat terasa, misalnya pedagang es krim yang hanya laku sekitar 4 bulan dalam setahun yaitu hanya di musim panas.

Belum lagi peputaran penjualan baju musim panas, gugur, dingin dan semi yang silih berganti model dan level kenyamanan.

Tentunya, untuk tetap eksis, bisnis musiman di atas memerlukan pengelolaan yang cermat dan bijak.

Nabi Muhammad SAW, utusan Allah yang menjadi uswatun hasanah kita selaku umat Islam ini ternyata terkenal sebagai pedagang yang ahli.

Dicantumkan di dalam buku “The Super Leader Super Manager”, lebih kurang 28 tahun sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW berprofesi sebagai pedagang yang pernah menjelajahi pasar-pasar di Yaman, Suriah, Busra, Irak, Yordania, Bahrain dan sekitar jazirah Arab lainnya.

Dengan kecerdikannya berdagang, Nabi Muhammad SAW berhasil memenuhi kebutuhan pembeli yang berlainan dari satu kota ke kota yang lain.

Misalnya beliau aktif berdagang di saat musim haji di pasar Ukaz dan Djuz Majaz, kemudian di musim lainnya aktif mengurus perdagangan grosir di kota Mekkah.

Dalam aktivitas perdagangan inilah, nabi berhasil mengenalkan hakikat bisnis Islami sebenarnya yang secara berangsur-angsur menghapuskan praktik riba di masa itu.

Ditemukan akad-akad Islami seperti perwakilan (wakalah), kemitraan (mudharabah dan musyarakah), jual-beli (murabahah), sewa-menyewa (ijarah) yang saat ini kita dapati dalam praktik bisnis syariah.

Di samping itu beliau senantiasa menunjukan sifat-sifat jujur (siddiq), amanah, menyampaikan kebaikan (baligh) namun tetap dengan kecerdasan yang luar biasa (fathonah).

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Rasulullah SAW sudah mengajarkan kita bagaimana mengurus bisnis musiman, menangani pelanggan dengan berbagai tabiat dengan tetap mengedepankan sifat-sifat terpuji.

Kiat-kiat sukses

Tentu saja kita dapat mengambil uswah dari pengalaman dagang Rasulullah SAW dan membawanya dalam praktik dagang kita saat ini. Paling tidak ada 7 kiat sukses:

1. Memilih mitra bisnis yang dapat dipercaya dan mempunyai visi misi yang sama.

2. Memahami perputaran bisnis musiman dan geliat pesaing bisnis.

3. Mengatur cashflow saat musim laris dan musim sepi.

4. Mencari alternatif bisnis sampingan untuk menutupi bisnis utama yang sepi di kala tertentu. Dalam kasus ini saat bisnis warteg sepi di bulan Ramadhan, penjual dapat menyulap warung menjadi toko penjual barang persiapan lebaran seperti parcel lebaran, kue lebaran, pembuatan lontong dan ketupat, dan lain sebagainya.

5. Siapkan alat promosi yang disesuaikan dengan bisnis musiman.

6. Tetap mempertahankan hubungan baik dengan pelanggan yang bukan hanya loyal membeli makanan warteg tetapi juga membeli barang jualan lainnya.

7. Melatih pekerja supaya biasa menghadapi perubahan dalam bisnis, bukan hanya ahli memasak sayur warteg tetapi juga bisa masak kue dan berkreasi.

Yang paling penting adalah bisnis apapun yang dilakukan, hendaknya para pelaku bisnis tidak berorientasi kepada keuntungan semata.

Setelah berusaha, para pebisnis seharusnya senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan supaya Allah SWT menambahkan lagi nikmat tersebut (QS Ibrahim (14):7) juga ridha atas pembagian kepadanya sehingga Allah SWT akan memberkahi rezeki tersebut (HR Ahmad).

Pemerintah seharusnya lebih serius mengelola bisnis UKM yang merupakan salah satu pola bisnis paling cocok untuk menaikan taraf hidup masyarakat Indonesia.

Dengan adanya program pemberdayaan dan pelatihan berkala, bisnis warteg atau bisnis musiman apapun akan tetap berkelangsungan. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Diterbitkan di:

Ekonomi, Kompas