Utang Secara Syariah, Bagaimana Caranya?

aku_cinta_keuangan_syariah.jpg

by Admin on 29/03/2015

Bolehkah berutang menurut syariah?Ya, ada penjelasannya, kalaupun mau berhutang adalah dalam keadaaan darurat alias akhirnya harus berutang.

Karena, tidak ada jalan lain untuk menutupi kebutuhan yang kita perlukan selain dengan utang atau pinjaman. Lebih baik lagi, jika “harus”-nya berutang itu adalah untuk keperluan produktif seperti modal usaha, pendidikan, atau ibadah seperti haji ke Tanah Suci. Utang menurut Islam, jika untuk tujuan melunasi biaya pengobatan juga diperbolehkan.

Murniati Tamanni dan Luqyan Tamanni dalam buku “Sakinah Finance” (Tinta Media: 2014) mengatakan, “Utang menurut Islam ditempatkan sebagai suatu akad tolongmenolong, bukan hubungan komersial”. Oleh karena itu, berutang konteksnya di ranah sosial bukan ekonomis.

Dua penulis yang juga pakar keuangan syariah dari Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia ini lantas melampirkan firman Allah Swt: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya,” (QS al-Maidah [5]:2).

Plus satu hadis yang menurut dua penulis buku itu sangat relevan, Nabi Saw menegaskan, “Barang siapa membantu melonggarkan satu di antara beberapa kesulitan duniawi temannya maka Allah akan melonggarkan satu dari beberapa kesulitannya di hari kiamat, dan Allah senantiasa menolong seseorang selama seseorang itu mau menolong saudaranya,” (HT Muslim, No.4867).

Selain harus dalam keadaan kepepet, utang menurut islam juga tidak boleh menghasilkan tambahan (riba). Jika berutang Rp 100 ribu, haruslah dikembalikan sejumlah Rp 100 ribu itu pula. “Kelebihan dalam pengembalian termasuk dalam kategori riba, yang secara bahasa berarti tambahan”, kata penulis.

“Utang menurut Islam diperbolehkan hanya jika kepepet, komposisinya juga disarankan maksimal adalah 30-40% dari seluruh kewajiban rumah tangga dalam satu waktu”[su_pullquote align=”right”] “Kelebihan dalam pengembalian termasuk dalam kategori riba, yang secara bahasa berarti tambahan”[/su_pullquote]

Agak suit dipahami dalam konteks modern, kita hidup di bawah ketiak kapitalisme yang dibangun di atas pondasi ribawi. Namun, coba perhatikan firman Allah Swt dalam QS al-Baqarah [2]: 280 berikut ini semoga membantu memahaminya. “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan maka berilah tenggang waktu sampai dia memeroleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

Nah, karena utang dalam islam itu boleh tetapi dalam keadaan sangat mendesak alias kepepet, komposisinya juga menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Saran dua penulis ini, maksimal utang adalah 30-40% dari total kewajiban rumah tangga dalam satu waktu.

Sedang kepepet? Butuh utang? Nantikan artikel berikutnya tentang syarat mengambil utang menurut Islam.

Ditulis oleh ACKS, 29 Maret 2015

Bisnis Warteg: Bukan Dirazia tapi Dikelola

1600260012-fot01a025780x390

Oleh: Murniati Mukhlisin

Berita tentang bisnis warteg Bu Eni yang dirazia menuai simpati. Dalam dua hari terkumpul Rp 265 juta sumbangan dalam bentuk uang untuk membantu kelanjutan bisnisnya. Terlepas dari yang bersikap pro dan kontra, bagaimana kalau kita berlomba-lomba mengusulkan perbaikan?

War-Teg (baca: Warung Tegal)

Bisnis keluarga seperti ini luar biasa, dibuat semurah mungkin, mudah diakses terutama oleh kalangan mahasiswa, bisa memberi hutang bayar di akhir bulan, dan di kebanyakan tempat nampak bersih dan mengebul.

Penjualnya berpakaian sederhana tidak ada seragam khusus, kebanyakan orang daerah dengan logat khas kota Tegal.

Kabarnya para pebisnis warteg ini punya rumah mewah di kampung asalnya seperti di Sidapurna dan Sidakaton. Apapun, ini bukan urusan kita, itulah hasil kerja keras mereka selama ini.

Menyerupai bisnis musiman, bisnis warteg juga ada waktunya harus libur. Namun di benak pebisnis biasanya tertanam prinsip -prinsip seperti ini: Ehm…bukannya bisnis itu tidak boleh berhenti?

Jadilah pebisnis yang mampu menangkap peluang kapan saja, pelanggan yang tidak wajib puasa atau tidak puasa tetap harus dilayani, dan banyak lagi prinsip lainnya.

Biasanya prinsip-prinsip ini dianggap “wajib dilakoni” oleh para pemula atau pebisnis yang sedang mencari tambahan penghasilan untuk mengatasi masalah keuangan keluarganya.

Ternyata bukan hanya di bulan Ramadhan bisnis makanan kurang pembeli di waktu siang hari. Bagaimana ketika hari Lebaran tiba? Kebanyakan orang cenderung ingin makan ketupat dan kue dibanding makanan warteg.

Nasib pedagang warteg dialami juga oleh pedagang makanan lainnya seperti kue lebaran yang hanya laku di bulan Ramadhan dan Syawal, pedagang baju sekolah yang hanya laku keras di bulan Juni dan Juli.

Selaku anggota keluarga yang aktif dalam bisnis dagang makanan yang terkenal dengan “Pempek Fo Tjoe”, “Kopi Cap Ayam Jago” dan toko klontongan “Belinyu” di kota Baturaja, Sumatera Selatan, penulis menghadapi langsung bagaimana arus naik turunnya bisnis-bisnis ini.

Di negara empat musim, masalah bisnis musiman juga sangat terasa, misalnya pedagang es krim yang hanya laku sekitar 4 bulan dalam setahun yaitu hanya di musim panas.

Belum lagi peputaran penjualan baju musim panas, gugur, dingin dan semi yang silih berganti model dan level kenyamanan.

Tentunya, untuk tetap eksis, bisnis musiman di atas memerlukan pengelolaan yang cermat dan bijak.

Nabi Muhammad SAW, utusan Allah yang menjadi uswatun hasanah kita selaku umat Islam ini ternyata terkenal sebagai pedagang yang ahli.

Dicantumkan di dalam buku “The Super Leader Super Manager”, lebih kurang 28 tahun sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW berprofesi sebagai pedagang yang pernah menjelajahi pasar-pasar di Yaman, Suriah, Busra, Irak, Yordania, Bahrain dan sekitar jazirah Arab lainnya.

Dengan kecerdikannya berdagang, Nabi Muhammad SAW berhasil memenuhi kebutuhan pembeli yang berlainan dari satu kota ke kota yang lain.

Misalnya beliau aktif berdagang di saat musim haji di pasar Ukaz dan Djuz Majaz, kemudian di musim lainnya aktif mengurus perdagangan grosir di kota Mekkah.

Dalam aktivitas perdagangan inilah, nabi berhasil mengenalkan hakikat bisnis Islami sebenarnya yang secara berangsur-angsur menghapuskan praktik riba di masa itu.

Ditemukan akad-akad Islami seperti perwakilan (wakalah), kemitraan (mudharabah dan musyarakah), jual-beli (murabahah), sewa-menyewa (ijarah) yang saat ini kita dapati dalam praktik bisnis syariah.

Di samping itu beliau senantiasa menunjukan sifat-sifat jujur (siddiq), amanah, menyampaikan kebaikan (baligh) namun tetap dengan kecerdasan yang luar biasa (fathonah).

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Rasulullah SAW sudah mengajarkan kita bagaimana mengurus bisnis musiman, menangani pelanggan dengan berbagai tabiat dengan tetap mengedepankan sifat-sifat terpuji.

Kiat-kiat sukses

Tentu saja kita dapat mengambil uswah dari pengalaman dagang Rasulullah SAW dan membawanya dalam praktik dagang kita saat ini. Paling tidak ada 7 kiat sukses:

1. Memilih mitra bisnis yang dapat dipercaya dan mempunyai visi misi yang sama.

2. Memahami perputaran bisnis musiman dan geliat pesaing bisnis.

3. Mengatur cashflow saat musim laris dan musim sepi.

4. Mencari alternatif bisnis sampingan untuk menutupi bisnis utama yang sepi di kala tertentu. Dalam kasus ini saat bisnis warteg sepi di bulan Ramadhan, penjual dapat menyulap warung menjadi toko penjual barang persiapan lebaran seperti parcel lebaran, kue lebaran, pembuatan lontong dan ketupat, dan lain sebagainya.

5. Siapkan alat promosi yang disesuaikan dengan bisnis musiman.

6. Tetap mempertahankan hubungan baik dengan pelanggan yang bukan hanya loyal membeli makanan warteg tetapi juga membeli barang jualan lainnya.

7. Melatih pekerja supaya biasa menghadapi perubahan dalam bisnis, bukan hanya ahli memasak sayur warteg tetapi juga bisa masak kue dan berkreasi.

Yang paling penting adalah bisnis apapun yang dilakukan, hendaknya para pelaku bisnis tidak berorientasi kepada keuntungan semata.

Setelah berusaha, para pebisnis seharusnya senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan supaya Allah SWT menambahkan lagi nikmat tersebut (QS Ibrahim (14):7) juga ridha atas pembagian kepadanya sehingga Allah SWT akan memberkahi rezeki tersebut (HR Ahmad).

Pemerintah seharusnya lebih serius mengelola bisnis UKM yang merupakan salah satu pola bisnis paling cocok untuk menaikan taraf hidup masyarakat Indonesia.

Dengan adanya program pemberdayaan dan pelatihan berkala, bisnis warteg atau bisnis musiman apapun akan tetap berkelangsungan. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Diterbitkan di:

Ekonomi, Kompas

Sakinah Finance, Tips Mengatur Keuangan Keluarga Agar Lebih Berkah

Banyak keluarga muda yang hidup dari gaji ke gaji. Lebih mirisnya lagi, hidup dari pinjaman kartu kredit dan liljan utang.

image1-2

Pekan ini buku Sakinah Finance dikutak katik lagi. Kali ini yang memberikan resensi adalah seorang penulis “Jelajah Inggris” yaitu Rosi Meilani yang sudah cukup lama tinggal di Inggris. Beliau menulis buku jalan jalan di negara Harry Potter ini dengan harapan dapat memberikan ide tentang kota-kota dan situs-situs menarik di Inggris. Juga termasuk tips jalan – jalan hemat berkualitas dan penuh perhitungan gaya Sakinah Finance.

image1-3

Dalam bukunya, Rosi mengatakan bahwa sebelum melakukan perjalanan usahakan browsing penginapan terlebih dahulu. Lakukan jauh-jauh hari sebelum tanggal keberangkatan. Biasanya pihak hotel di Inggris memberikan tarif murah.

Tak kalah pentingnya, Rosi memberikan tips jika akan melancong ke Inggris bersama keluarga atau teman (sekitar 4-5 orang), sebaiknya menyewa mobil. Tapi hal ini tidak disarankan untuk perjalanan dalam kota London yang terkenal dengan peraturan ketat dan parkir yang mahal. Selengkapnya bisa dibaca di halaman 22 di Buku Jelajah Inggris.

Selanjutnya berikut penuturan Rosi tentang Sakinah Finance.

“Mengatur keuangan keluarga diperlukan kedisiplinan. Jika tak pintar mengatur, bisa terjadi defisit. Sebaliknya, jika pandai mengatur, pastilah keuangan keluarga akan mengalami surplus. Setidaknya seimbang.”
Kondisi seimbang ataupun surplus ini akan membuat hati tentram dan tenang. Sesuai artinya, sakinah adalah sebuah kondisi ketenangan dalam sebuah keluarga, tentunya hal itu menjadi dambaan kita semua. Tentunya juga bisa kita pelajari.

Buku ini tidak seperti buku perencanaan keuangan kovensional kebanyakan. Buku ini lebih menitikberatkan pada proses memperoleh pendapatan dan pengeluaran keuangan dengan baik dan benar secara Islami. Jalan menuju Sakinah Finance harus dilakukan dengan niat yang benar, fokus mencari yang halal, bekerja keras, bersilaturahmi, membersihkan harta, bermuhasabah dan bersyukur (hal. 12-20).

Banyak keluarga muda yang hidup dari gaji ke gaji. Lebih mirisnya lagi, hidup dari pinjaman kartu kredit dan lilitan utang. Untuk bisa menghindari dan memecahkan masalah tersebut kita bisa mempelajarinya dalam bab pengelolaan dan perencanaan keuangan (hal.21).

Secara singkat pengelolaan keuangan keluarga sakinah bisa disimpulkan sebagai berikut: Pendapatan (Managing Income) >> Pengeluaran Utama (Managing Needs) >> Impian & Keinginan (Managing Dreams) >> Managing Surplus (Deficit) >> Managing Contingency (hal.26).

Kehalalan pendapatan adalah sebuah hal yang paling pokok dalam mencapai sakinah dalam keuangan. Hal tersebut dibahas detail di bab Managing Income (hal 35). Selain pendapatan yang halal, networking (silaturahmi) dibahas pula di bab ini. Betapa silaturahmi bisa melapangkan rejeki dan kebaikan-kebaikan lainnya (hal.46).

Managing Needs adalah tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Mulai dengan mengalokasikan pengeluaran. Diantaranya: membayar kewajiban utang (credit card, cicilan rumah dan barang dll), membayar zakat, membeli kebutuhan pokok keluarga, biaya pendidikan, tabungan dana pendidikan, dana emergensi, tabungan dana pensiun.

Semua materi tersebut dijelaskan secara detail dengan mengunakan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti.

Seperti halnya neraca tahunan keuangan perusahaan, keuangan keluarga pun idealnya memiliki perhitungan akhir untuk mengetahui kondisi keuangan keluarga, apakah surplus atau defisit. Dari sana, kita bisa mengevaluasi tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Baik defisit maupun surplus, keduanya harus ditindaklanjuti dengan baik dan benar (hal. 101-118).

Ketidakpastian atau contingency adalah sebuah kondisi yang terjadi tanpa kita perkirakan sebelumnya. Misalnya tiba-tiba anggota keluarga kita ada yang sakit keras, kecelakaan, meninggal, tertimpa bencana alam dan sebagainya, di sinilah perlunya dana emergency, asuransi syariah salah satunya (hal.120). Di bab ini dijelaskan pula cara memilih produk asuransi syariah.

Buku ini tidak hanya membahas tahapan-tahapan apa saja yang harus kita lakukan dalam mencapai sakinah finance tapi juga pembimbing kita dalam menyusun perencanaan keuangan dengan tabel-tabel serta hitungan rinci tentang cara menghitung zakat, juga persentase-persentase biaya ideal yang harus kita alokasikan sesuai keperluannya. Dalam buku inipun kita bisa belajar menyusun laporan keuangan.

Bagi saya pribadi sebagai ibu rumah tangga, buku ini mudah dimengerti dan mudah diterapkan. Apalagi di bab terakhir disertakan tips dan konsultasi keuangan keluarga. Studi kasus konsultasi keuangan keluarga ini diambil dari pertanyaan-pertanyaan pembaca di sebuah media harian, dimana si penulis menjadi pengasuh.

Kata ‘sakinah’ atau ‘ketenangan’ salah satunya diambil dari pemahaman ayat Al-Fath (48): 4 yaitu:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَاناً مَّعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيماً حَكِيماً

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang orang mukmin untuk menambahkan keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” [QS: Al-Fath (48): 4].*

Read more:

MySharing

Hidayatullah 

 

 

Ibu dan Keuangan Keluarga

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Sakinah Finance, Colchester, UK

Tanggal 22 Desember yang lalu masyarakat Indonesia merayakan Hari Ibu, bermenit – menit telepon tersambungkan, bertebaran ucapan di kartu, surat dan media sosial serta bertubi ciuman, pelukan dan hadiah diberikan.

Dari catatan sejarah, Hari Ibu dicanangkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1959 melalui Keputusan Presiden No. 316. Ternyata usulan itu keluar dalam Kongres Perempuan Indonesia yang diadakan pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres tersebut diadakan dalam rangka menyerukan nasib dan kedudukan perempuan dalam keluarga dan masyarakat serta hak perempuan mulai dari hal pendidikan dan kesehatan.

Begitu besarnya kesadaran masyarakat dan negara akan derajat perempuan saat itu. Walaupun ada Mother’s Day pada tanggal 13 Mei yang juga dirayakan setiap tahunnya di tingkat internasional untuk memperingati kontribusi ibu dalam masyarakat, namun pesannya tidaklah sama dengan konteks Indonesia.

Apapun pesannya, peranan ibu harusnya diperingati setiap hari, seperti pesan di bawah ini:

ibu

Foto cfull.blogspot.co.uk

Mengapa harus kita peringati setiap hari? Mari kita lihat bagaimana kedudukan ibu dalam Islam.

Ibu dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menyerukan peranan, hak dan kewajiban ibu dengan sangat luar biasa, seperti di dalam ayat berikut: “Dan Kami memerintahkan kepada manusia supaya ia berbuat baik ke- pada kedua ibu-bapanya, ibunya mengandungkan dia dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah…” (QS. Al Ahqaf (46): 15).

Tugas seorang ibu mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan serta mendidik anak-anaknya adalah sesuatu tugas yang mulia sehingga Rasulullah SAW menegaskan kedudukannya yang lebih utama seperti di dalam sebuah hadits yang menceritakan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW dan bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya berbuat baik kepa danya?” Rasulullah SAW menjawab: ‘Ibumu’ Orang itu bertanya lagi: ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Ibumu’ Orang itu bertanya lagi: ‘Kemudian siapa lagi ?’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Ibumu’ Lalu orang itu bertanya lagi: ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Kemudian ayahmu” (HR Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548).

image1Foto: Yuslenita, Rifa, Dzakir – Pribadi

Peranan ibu dalam keuangan keluarga

Dengan peranan ibu yang luar biasa tersebut, ikatan antara ibu dan anak terbentuk. Banyak kisah sukses anak – anak yang bermula dari pendidikan sang ibu, tentu saja tidak menyampingkan peranan ayah dalam keluarga sesuai dengan kodratnya. Allah Ya Khaliq mempunyai tujuan dengan telah menciptakan perempuan dan laki – laki yang berbeda dalam banyak hal, salah satunya adalah untuk saling melengkapi.

Maka dari itu, Allah SWT telah berfirman: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yagn lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan…” (QS. An Nisa’ (4): 32).

Dalam tulisan Sakinah Finance sebelumnya yaitu Berantas Kemiskinan di Indonesia dengan Disiplin (baca lebih lanjut di MySharing, Hidayatullah, Republika, Islampos, dan Suara Islam pertengahan Desember 2015), ada kisah sukses kaum ibu dalam ekonomi keluarga. Banyak program keuangan mikro syariah di Indonesia saat ini diperankan hampir 97% oleh kaum ibu.

Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, pimpinan Tazkia Group yang juga pakar ekonomi syariah mengutarakan bahwa keikutsertaan kaum ibu dikarenakan beberapa hal yaitu kebanyakan kaum ibu lebih disiplin, tidak merokok, dan sangat memperhatikan nasib keluarga terutama anak-anaknya.

Dengan kriteria ini, walaupun kegiatan ekonomi separuhnya dilakukan oleh kaum bapak, sang ibu dapat memastikan kelancaran usaha dan pengembalian modal dilakukan tepat waktu. Terlebih dari itu, dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan keuangan mikro syariah tersebut membuka wawasan kaum ibu sehingga makin sadar andilnya dalam keluarga, makin semangat memastikan ibadah dan pendidikan keluarga.

Pengelolaan keuangan keluarga

Ternyata dari beberapa pelatihan Sakinah Finance, 75% keluarga menyatakan bahwa keuangan diatur oleh sang ibu walaupun ayah yang mendapatkan penghasilan. Bahkan ibu juga diberikan tugas untuk menyalurkan zakat, kepada siapa saja dikehendaki, sehingga ibu yang paling sibuk mencari info tentang lembaga zakat atau kelompok yatim dhuafa yang pantas menerimanya. Sungguh luar biasa tugas ibu!

Namun pengelolaan keuangan keluarga seyogyanya adalah kurang pas (afdhal) jika dilakukan oleh seorang ibu saja, sebaiknya ayah dan segenap anak-anak juga turut terlibat di dalamnya. Salah satu pertanyaan ketika di alam kubur dan yaumul hisab kelak adalah tentang harta, darimana didapatkan serta kemana dibelanjakan. Apakah hanya ibu yang akan menjawab? Tentu saja tidak. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Ditulis dalam kenangan setahun sudah Mama Pou Chu meninggalkan dunia yang fana ini. Semoga Allah lapangkan kuburnya dan tempatkan almarhumah di jannatunna’im. Amin.

Dapat dibaca juga di:

MySharing

Islampos

Suara Islam

CSR ATAU PROMOSI?

By: Murniati Mukhlisin @ Mu Kim Ni

Secara definisi, Corporate Social Responsibility (CSR) adalah sebuah bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan yang wajib dipenuhi oleh perusahaan – perusahaan tertentu. Di dalam Undang Undang Pasal 74, perusahaan yang dimaksud adalah perusahaan yang kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam.

Selanjutnya Pasal 74 juga mengatur bahwa tanggung jawab sosial ini merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan khusus dan diakui sebagai biaya perseroan. Bagi yang melanggar akan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan – ketentuan perundang – undangan.

Tulisan ini akan mengungkapkan program CSR yang dilakukan oleh perusahaan yang sudah lama mengundang kontroversi publik atau yang tergolong harmful industries (Lingkar Studi CSR, 2008). Artinya dengan atau tidak melakukan CSR, sebagian publik berkeberatan terhadap bisnis yang dilakukan oleh perusahaan ini. Legitimasi untuk menghentikan bisnis terus menerus dalam perdebatan karena berdampak kepada hajat hidup orang banyak contohnya penciptaan lapangan pekerjaan. Namun jika bisnis ini tetap berjalan, pengaruh negatifnya juga besar terhadap hajat hidup orang banyak contohnya kesehatan. Timbangan manakah yang lebih berat antara manfaah aw mudharat (advantages or disadvantages) tidak pernah mencapai kesimpulan. Bagaimanapun bisnis ini terus berjalan hingga sekarang dan berada di dalam lingkungan masyarakat yang paling dekat yaitu rokok.

CSR memiliki pengertian bahwa perusahaan seharusnya melakukan tindakan yang mencerminkan tanggung jawab atas tindakan perusahaan yang berpengaruh terhadap lingkungannya (manusia, komunitas tertentu dan lingkungan alam). Alasan pentingnya CSR adalah bahwa sebagai bagian dari masyarakat seharusnya perusahaan tidak mengabaikan tanggung jawab sosialnya. Meskipun ada sebagian kelompok yang menyebutkan bahwa CSR memiliki pengaruh positif terhadap perusahaan, namun ada juga sebagian yang menganggap bahwa CSR memiliki pengaruh yang buruk terhadap perusahaan. Berikut adalah perbedaan alasan untuk kedua kelompok tersebut:

Perbedaan Alasan penting tidaknya CSR bagi perusahaan

No. Arguments for CSR/Arguments against CSR
1. Balance Corporate power with responsibility/Lower economic efficiency and profit
2. Discourages government regulation/Imposes unequal costs among competitors
3. Promote long-term profits for business/Imposes hidden costs passed on to stakeholder
4. Improves business value and reputation/Requires skills business may lack
5. Corrects social problems caused by business/Places responsibility on business rather than individuals
Sumber: Lawrence & Waber, 2009

Terlepas dari argumentasi di atas, namun CSR sudah berada di tengah – tengah masyarakat seluruh dunia. Bahkan bukan hanya Indonesia tetapi Denmark pun sudah mengeluarkan undang – undang mengenai kewajiban CSR. Ada sebuah artikel menarik di sebuah majalah Business Week, tanggal 24 April 2009 yang mempertanyakan apakah CSR yang dilakukan perusahaan rokok merupakan tanggung jawab sosial yang tulus atau sekadar membangun citra sebagai perusahaan yang peduli? Program CSR yang diangkat di dalam artikel ini adalah tentang pembinaan program CSR sebuah perusahaan rokok yang banyak mengundang kontroversi publik karena dampak negatifnya terhadap kesehatan.

Bahaya rokok sudah disosialisasikan di mana – mana, bahkan di bungkus rokok atau profil perusahaan itu sendiri. Berikut adalah pesan bahaya rokok yang dikutip dari sebuah website perusahaan rokok di Indonesia:

A clear and consistent message; Cigarette smoking is addictive. And this applies to all kinds of cigarettes, whether they are kreteks or not, filtered or non-filtered. It can be very difficult to quit but, if you are a smoker, this should not stop you from trying to do so. Cigarette smoking causes lung cancer, heart disease, emphysema and other serious diseases in smokers. Smokers are far more likely than non-smokers to develop diseases such as lung cancer. There is no such thing as a “safe” cigarette. “Smoking is dangerous and addictive” Smokers should continue to know about the dangers of smoking. We support a clear and consistent public health message about smoking, disease and addiction wherever we sell our products. We support the government’s requirement to place health warnings on cigarette packaging and advertisements. We want the facts to continue to be widely known.

Sumber: dirahasiakan

Baik perokok atau pun bukan perokok, semua sudah tahu bahwa rokok adalah barang yang merusak kesehatan. Menurut statistik yang dikutip dari artikel Business Week tersebut, dikatakan bahwa di Indonesia, ada 200.000 orang yang meninggal akibat merokok setiap tahunnya. Biaya kesehatan untuk mengobati penyakit yang terkait merokok mencapai Rp2,9 triliun hingga Rp6 triliun per tahun atau setara 0,12%-0,29% dari produk domestik bruto. Maka dari itu, gerakan membangun kesadaran tentang bahaya merokok pun semakin besar dalam lima tahun terakhir ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI), pada awal tahun 2009 telah mengeluarkan fatwa yang me-labeli rokok sebagai barang haram bagi wanita hamil, anak-anak, ulama MUI, dan perokok di tempat-tempat umum. Begitu juga kampanye untuk menghapuskan iklan dan sponsor rokok semakin gencar. Ditambah lagi fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah tentang Hukum Merokok– tanggal 9 Maret 2010 yang lalu, yang menyatakan bahwa rokok adalah haram untuk dikonsumsi. Koalisi LSM Anti-Rokok dikabarkan pernah mendemo konser penyanyi seorang artis terkenal karena disponsori perusahaan rokok. Koalisi ini juga terus menempuh jalur peradilan untuk melakukan judicial review terhadap Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 agar iklan rokok dilarang di seluruh media penyiaran. Salah satu tujuannya agar menghapuskan citra merokok sebagai bagian dari budaya atau sesuatu yang “wajar” untuk dilakukan.

Dari penjabaran di atas perusahaan yang mengundang banyak kontroversi dan harmful industries seperti rokok tersebut seharusnya diatur khusus oleh undang – undang untuk melakukan program CSR. Kesadaran publik untuk meningkatkan kesehatan melalui kampanye anti rokok serta peringatan pemerintah tentang bahaya rokok yang telah menghabiskan anggaran yang besar akan menjadi sia – sia jika program CSR perusahaan jenis ini tidak diatur secara khusus. Seperti yang dijelaskan di atas tentang akan terciptanya dampak Promote long-term profits for business and Improves business value and reputation (Lawrence et.al, 2008) di dalam perusahaan yang menjalankan program CSR akan menjadi senjata iklan paling ampuh. Larangan iklan rokok yang telah diberlakukan di berbagai tempat, media dan daerah hanya akan jadi pajangan jika program CSR perusahaan rokok tetap diperbolehkan. Karena iklan CSR perusahaan rokok itu yang menurut Jalal, 2008 akan menjadi greenwash (pengelabuan citra) dan mendominasi serta memberikan multiflier effect keuntungan bisnis untuk perusahaan itu sendiri. Arief Rahman Hakim seorang pakar pendidikan mengatakan bahwa program beasiswa perusahaan rokok seharusnya tidak diambil. Dilematis memang, pada saat yang bersamaan banyak masyarakat yang memerlukan. Begitu juga program CSR perusahaan rokok yang membantu membangun desa, membangun gedung sekolah dan perkuliahan. Menurut hemat penulis, jika memang sementara ini belum dapat menutup perusahaan rokok, paling tidak aturan CSR perusahaan rokok dapat dalam format – format sebagai berikut:
1. Kegiatan CSR perusahaan ini tidak boleh dipublikasikan
2. Kegiatan CSR perusahaan ini tidak mengarah kepada promosi kepentingan bisnis perusahaan
3. Kegiatan CSR perusahaan dihapus dan digantikan dengan porsi pembayaran pajak yang lebih tinggi

Mengelola keuangan keluarga ~ review

Apa kata kawan-kawan sesama blogger tentang keuangan keluarga? Berikut beberapa cuplikan dari berbagai blog atau website:

Bapak Palgunadi T. Setiyawan

Pengusahan kawakan ini mengutip artikel yang dimuat oleh Harian Republika di websitenya:

Palgunadi yang juga Presiden Komisaris Hijrah Institute mengatakan, bagi keluarga muslim, sudah saatnya keuangan keluarga dikelola secara Islami. Sebab, dengan kebutuhan yang makin kompleks, dibutuhkan sebuah sistem yang mampu membentengi seorang muslim dari sifat-sifat yang kurang bermanfaat seperti pemborosan. “Dengan kebutuhan yang kompleks sementara pendapatan terbatas, maka pengaturan keuangan sangat penting guna menghindari hal-hal terburuk,” ujar Palgunadi.

Izzuddin Abdul Manaf

Ahli Ekonomi Islam muda dari SEBI ini memanage sebuah blog yang sangat lugas dan lengkap mengupas berbagai aspek dari Ekonomi Islam dan Muamalah. Diantara tulisan yang sangat beragam, tulisan tentang Zakat sangat informatif dan memberi pencerahan bagi pembaca yang ingin lebih mendalami tentang kewajiban Zakat.

“…Pendapat jalur tengah yang menurut penulis lebih maslahat yaitu mengeluarkan zakat dari bruto dengan mengacu pada pendapat tentang nishab yaitu pertanian siap saji atau nishab minimum Rp. 2.612.000 dengan asumsi harga beras Rp. 4.000,-. Atau pendapat dengan nishab emas dengan ditambahkan factor kebutuhan hidup standar PBS sehingga nilai nishabnya adalah Rp. 2.632.485 atau dibulatkan menjadi Rp. 2.633.000,-“

Ali Hozi

Praktisi perbankan syariah yang sangat aktif dalam diskursus Ekonomi Islam, baik melalui Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) maupun tulisan-tulisan. Salah satunya membahas pentingnya pengaturan keuangan keluarga.

“…Sebuah perencanaan keuangan baik pemasukan maupun pengeluaran yang bebas dari bunga yakni perencanaan keuangan yang lalulintas transaksi keuangannya memakai system perbankan syariah. Dengan memakai system perbankan syariah sebuah keluarga bisa membuat perencanaan keuangan yang lebih pasti dibandingkan dengan memakai system bunga.”

Kalau Anda punya link lain yang layak ditampilkan, silahkan mengisi kolom Komentar di bawah ini.