Sakinah Finance Workshop; Debt and Inheritance in Islam

Sakinah Finance Workshop; Debt and Inheritance in Islam

Oxford, United Kingdom, 5 February 2017/8 Jumadil Awwal 1438H

Advertisements

Promosi Keuangan Syariah di Canterbury, Inggris

murniatiemas-790x526

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Colchester – Inggris

Akuntansi dan Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) telah mengeluarkan standar syariah tentang investasi emas.

“Komoditas emas dan perak ini harus sesuai dengan jumlah fisiknya dan settlement harus diselesaikan dalam hari yang sama,” demikian ujar Konsultan Sakinah Finance Murniati Mukhlisin, dalam kuliah umum di Canterbury Christ Church University, Jumat 19 Desember 2016.

Murniati Mukhlisin mengemukakan adanya aturan syariah baru untuk investasi emas yang dapat diperdagangkan di papan bursa dunia.

Kuliah umum berjudul“Contemporary Issues in Islamic Finance and Accounting” itu diadakan pertama kali di kampus yang terletak di kota Canterbury, Kent, Inggris.

Dosen STEI Tazkia yang sedang bertugas di University of Essex, Inggris ini dalam paparannya mengatakan AAOIFI telah mengeluarkan Standar Syariah No. 57 tentang investasi Emas dan Pengawasan Perdagangan pada tanggal 19 November 2016 yang lalu.

Standar yang juga berlaku untuk perak tersebut digodok bersama – sama dengan World Gold Council yang diperkirakan akan meningkatkan permintaan dalam bentuk investasi ratusan ton emas.

Di tempat ini Murniati menjelaskan perkembangan keuangan syariah di Inggris yang merupakan Negara barat paling agresif dalam mengembangkan industry ini yang dibuktikan dengan meningkatnya jumlah bank syariah dan penerbitan sukuk negara yang berjumlah 200 juta poundsterling tahun 2014 yang lalu.

Para mahassiwa yang hadir nampak antusias berpartisipasi terutama ketika Ia menunjukan perbedaan antara pendekatan akuntasi dan audit untuk bank konvensional dan syariah. Terlebih lagi dalam bahasan agenda politik ekonomi dalam ranah akuntansi.

Sebagaimana diketahui, kampus yang berusia 50 tahun itu dikenal sebagai kampus misionaris yang di awal pendiriannya bertujuan untuk melahirkan guru – guru gereja.

Bersamaan dengan perjalanan waktu, kampus Cantebury membuka bidang disiplin lainnya termasuk jurusan bisnis.

Kota Canterbury terkenal sebagai kota turis bersejarah dengan adanya tiga lokasi yang termasuk di dalam Situs Warisan Dunia UNESCO yaitu Katedral Canterbury, Biara St Augustine, dan Gereja St Martin. Bahkan Katedral Caterbury yang didirikan sekitar abad ke-10 itu merupakan katedral dari Uskup Agung Canterbury, pemimpin Gereja Inggris dan symbol pimpinan dunia untuk komunitas Kristen Anglikan.

Dimuat di:

Hidayatullah

MySharing

Republika

Utang Secara Syariah, Bagaimana Caranya?

aku_cinta_keuangan_syariah.jpg

by Admin on 29/03/2015

Bolehkah berutang menurut syariah?Ya, ada penjelasannya, kalaupun mau berhutang adalah dalam keadaaan darurat alias akhirnya harus berutang.

Karena, tidak ada jalan lain untuk menutupi kebutuhan yang kita perlukan selain dengan utang atau pinjaman. Lebih baik lagi, jika “harus”-nya berutang itu adalah untuk keperluan produktif seperti modal usaha, pendidikan, atau ibadah seperti haji ke Tanah Suci. Utang menurut Islam, jika untuk tujuan melunasi biaya pengobatan juga diperbolehkan.

Murniati Tamanni dan Luqyan Tamanni dalam buku “Sakinah Finance” (Tinta Media: 2014) mengatakan, “Utang menurut Islam ditempatkan sebagai suatu akad tolongmenolong, bukan hubungan komersial”. Oleh karena itu, berutang konteksnya di ranah sosial bukan ekonomis.

Dua penulis yang juga pakar keuangan syariah dari Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia ini lantas melampirkan firman Allah Swt: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya,” (QS al-Maidah [5]:2).

Plus satu hadis yang menurut dua penulis buku itu sangat relevan, Nabi Saw menegaskan, “Barang siapa membantu melonggarkan satu di antara beberapa kesulitan duniawi temannya maka Allah akan melonggarkan satu dari beberapa kesulitannya di hari kiamat, dan Allah senantiasa menolong seseorang selama seseorang itu mau menolong saudaranya,” (HT Muslim, No.4867).

Selain harus dalam keadaan kepepet, utang menurut islam juga tidak boleh menghasilkan tambahan (riba). Jika berutang Rp 100 ribu, haruslah dikembalikan sejumlah Rp 100 ribu itu pula. “Kelebihan dalam pengembalian termasuk dalam kategori riba, yang secara bahasa berarti tambahan”, kata penulis.

“Utang menurut Islam diperbolehkan hanya jika kepepet, komposisinya juga disarankan maksimal adalah 30-40% dari seluruh kewajiban rumah tangga dalam satu waktu”[su_pullquote align=”right”] “Kelebihan dalam pengembalian termasuk dalam kategori riba, yang secara bahasa berarti tambahan”[/su_pullquote]

Agak suit dipahami dalam konteks modern, kita hidup di bawah ketiak kapitalisme yang dibangun di atas pondasi ribawi. Namun, coba perhatikan firman Allah Swt dalam QS al-Baqarah [2]: 280 berikut ini semoga membantu memahaminya. “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan maka berilah tenggang waktu sampai dia memeroleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

Nah, karena utang dalam islam itu boleh tetapi dalam keadaan sangat mendesak alias kepepet, komposisinya juga menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Saran dua penulis ini, maksimal utang adalah 30-40% dari total kewajiban rumah tangga dalam satu waktu.

Sedang kepepet? Butuh utang? Nantikan artikel berikutnya tentang syarat mengambil utang menurut Islam.

Ditulis oleh ACKS, 29 Maret 2015

Puasa dan Keuangan Keluarga Kita

Pakistani-Muslim-Prepares-Food-for-Iftar-Ramadan-2009-Islamic-Quotes-About-the-Month-of-Ramadan-001Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Dosen Senior STEI Tazkia, Indonesia/Konsultan Sakinah Finance, UK

Glasgow – Saat ini bulan Ramadan akan segera berakhir, semoga kita diberi kesempatan lagi untuk berjumpa di bulan Ramadan selanjutnya. Namun kita semua tidak tahu akan itu, maka marilah kita bermunajat kepada Allah SWT agar amal saleh kita selama ini lebih diberatkan lagi timbangannya.

Semoga kita diperbanyak lagi catatannya di kitab illiyyin, yaitu kitab yang mencatat segala amal kebaikan kita sehingga ketika ajal mendekat, ruh kita dicabut, Allah akan menjadikan akhir hidup kita akhir yang baik atau husnul khatimah yaitu meninggalkan dunia ini dalam berstatus Muslim yang sebenarnya, seperti yang diabadikan di alam Surat Ali Imran 102: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Maka dari itu mari kita menjadi Muslim yang kaafah, mari kita perbanyak lagi amal saleh kita selagi sehat, selagi masih lancar berpuasa, selagi masih bisa berzakat, selagi masih bisa berbuat banyak untuk umat, selagi masih bisa bertarawih, selagi masih bisa Duha dan Tahajud, dan terlebih lagi selagi masih punya waktu untuk I’tikaf di malam 10 hari terakhir ini, demi mengharap bertemunya dengan malam lailatul qadr, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ternyata Islam yang kaafah harus menyentuh berbagai dimensi, termasuk menjadi Muslim yang nomor wahid dalam urusan muamalahnya, urusan keuangan keluarganya.

Di bulan suci yang penuh keberkahan ini mari kita manfaatkan makna puasa untuk melatih keuangan keluarga kita supaya senantiasa semakin berkah. Hal yang ingin saya sampaikan di sini insya Allah adalah dampak puasa dalam mengelola keuangan keluarga.

Secara garis besar, puasa melatih nafsu, puasa melatih disiplin, puasa melatih prihatin, puasa melatih untuk lebih banyak lagi berbagi. Nafsu untuk mengejar kekayaan dunia sudah menjadi tugas utama iblis seperti yang termaktum di Surat Al-Isra 64 yang berbunyi: “… dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka…”.

Maka dari itu, dengan dilatihnya nafsu kita di bulan Ramadan dari apa-apa yang kita sukai akan menjadi kebiasan di 11 bulan lainnya untuk tidak mengejar kekayaan dunia semata.

Kita takut untuk mendapatkan sesuatu yang dilarang Allah dan juga kita takut untuk membelanjakan sesuatu yang tidak Allah ridhai. Mari kita gunakan rumus 94:6 untuk mengecek apakah yang kita terima dan kita belanjakan, kita utangi dan investasikan selama ini sudah sesuai dengan syariah.

Apa itu 94:6? 94 adalah yang Allah ridha, sedangkan 6 adalah yang Allah larang. Kita lihat apa yang sedikit Allah larang ini yaitu mari kita pastikan apa yang kita terima dan kita belanjakan tidak mengandung elemen – elemen berikut: 1. Riba, 2. Spekulasi (Maysir), 3. Tidak jelas (Gharar), 4. Haram, 5. Zalim kepada diri sendiri atau orang lain, 6. Dharar, membahayakan kepada diri sendiri atau orang lain.

Ketika mendengar istilah – istilah ini, jangan serta merta ingat kepada bank syariah, karena unsur – unsur tadi ada di sekeliling kita baik secara sadar maupun tidak sadar. Mari kita lihat contoh – contoh singkat berikut. Ketika kita meminjamkan uang kepada keluarga atau teman sebanyak Rp1.000.000 dan kita mensyaratkan uang kita dikembalikan sebanyak Rp1.100.000, maka sudah ada unsur riba atau tambahan di situ.

Jadi transaksi pribadi juga dapat mengandung hal – hal berbau riba. Begitu juga ketika kita membeli barang – barang yang mubazir, seperti tas Louis Vuitton seharga ribuan pound, ternyata kita telah membahayakan diri sendiri karena tidak dapat memberikan prioritas, yang sebenarnya dengan uang sebanyak itu bisa digunakan untuk hal yang lebih baik lagi seperti mengikuti kursus pendidikan misalnya atau menyekolahkan anak yatim.

Bagaimana dengan korupsi yang menjadi fenomena di Tanah Air di mana menurut website KPK kasus yang ditanggani pada tahun 2012 sebanyak 49 perkara meningkat menjadi 70 perkara di tahun 2013. Ini belum lagi korupsi kecil – kecilan di level kelurahan, sekolah, kampus maupun perkantoran. Dengan terlatihnya nafsu kita di bulan puasa ini kita harapkan kita tidak sedang atau tidak akan terlibat di dalamnya.

Jangan sampai barang haram ini menghiasi rumah kita, dimasukkan ke dalam saluran makanan anak – anak kita. Dan marilah kita merenungi Surat Al-Baqarah 188 mengenai larangan akan hal ini, yaitu: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil….”

Adapun larangan suap menyuap atau korupsi ini dijelaskan dalam sebuah hadis yaitu: “Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. berkata Rasulullah melaknat penyuap dan yang diberi suap”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Kemudian, ketika menyebutkan elemen haram, ternyata jika ada hak yang orang lain yang tidak kita keluarkan sebagai zakat, jangan – jangan yang kita makan saat ini tidak halal karena ternyata bukan milik kita. Semoga dengan latihan menahan nafsu di bulan Ramadan ini, nafsu yang ada di dalam diri kita untuk memilki apapun yang kita ingini di dunia ini dengan cara apapun akan hilang .

Semoga nafsu untuk mementingkan diri sendiri dan kehidupan kita berkeluarga akan pupus. Semoga nafsu hubbud dunya atau cinta dunia yang berlebih – lebihan ini akan berganti menjadi zuhud dunya atau hanya menganggap dunia adalah tempat sementara atau tempat bermain dan bersenda gurau seperti yang dijelaskan di dalam Surah Al An’am 32, yaitu: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?.”

Puasa melatih disiplin, disiplin untuk bangun sahur, buka puasa dan salat pada waktunya. Coba bayangkan kalau kita tidak salat Maghrib pada waktunya karena asyik makan, kita tentunya akan ketinggalan Salat Isya dan Tarawih di masjid.

Puasa melatih disiplin supaya tidak mubazir karena berapa banyak yang bisa dimasukkan ke dalam perut ketika berbuka puasa. Apalagi bagi saudara – saudara kita yang berpuasa panjang di Eropa, apakah mereka sanggup makan sekenyang – kenyangnya dalam waktu 6 jam dari waktu berbuka hingga sahur lagi? Dengan terlatihnya disiplin untuk tidak menyiapkan makanan terlalu banyak ketika bulan puasa, insya Allah akan meningkatkan kepribadian kita sebagai Muslim terpuji.

Disiplin merupakan salah satu faktor untuk dapat sukses dalam mengelola keuangan keluarga, yaitu untuk mencapai impian – impian keluarga misalnya impian untuk menyekolahkan anak di sekolah yang terakreditasi tinggi, pergi haji, pergi umrah sekeluarga, membeli rumah, membuka usaha sambilan, investasi untuk hari tua dan sebagainya yang melibatkan perhitungan – perhitungan keuangan.

Disiplin dalam bulan puasa ini insya Allah dapat diterapkan ketika kapan harus menyisihkan uang yang kita miliki untuk dibayarkan sebagai zakat ketika waktunya tiba, siap transfer ke orangtua dan keluarga yang memerlukan, siap sedia untuk membayar utang ketika sudah jatuh temponya, menyisihkan sebagian dari uang yang ada untuk diinvestasikan sehingga siap untuk digunakan di masa depan.

Puasa juga melatih kita untuk prihatin karena saat lapar dan dahaga saat inilah kita bisa merasakan anak – anak atau keluarga yang tidak mampu berjuang mencari sesuap nasi. Lihat saudara – saudara kita di Tanah Air yang hidup di bawah garis kemiskinan dan saudara – saudara kita di Gaza yang memperjuangkan tanah airnya.

Semoga rasa prihatin ini akan terus tumbuh sehingga kita makin terlatih untuk tidak mubazir, berebut – rebut membeli barang pecah belah, perabot rumah tangga baru, baju baru, toples kue yang lagi diskon di mal – mal, padahal yang dibeli tidak semuanya berguna, bahkan sedihnya, yang dibeli hanya untuk dipamer saat open house ketika Lebaran tiba. Naudzubillah min zaalik.

Puasa melatih prihatin ini juga harapannya dapat diterapkan ketika season sales baik itu Winter atau Summer sale, Black Friday dan Boxing Day di UK yang cukup menggeliat di setiap masa.

Terakhir yang ingin saya garis bawahi, puasa ini ternyata melatih untuk lebih banyak lagi berbagi. Dalam sebuah hadis menyatakan salah satu amal soleh untuk orang yang berbagi saat di bulan Ramadan yaitu: “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At Tirmidzi).

Alhamdulillah kalau kita lihat sekeliling kita saat ini banyak sekali saudara – saudara kita berlomba – lomba untuk menyiapkan iftar bagi orang yang berpuasa. Di dalam banyak hadis lainnya, Rasulullah SAW digambarkan sebagai panutan kita yang sangat dermawan dalam hidupnya, terlebih lagi ketika pada bulan Ramadan. Dengan contoh – contoh amal saleh Ramadan di atas, ternyata rasa ingin berbagi ini akan memberikan rasa ketenangan atau sakinah pada diri orang yang berbagi.

Dengan rasa prihatin yang sudah tumbuh di hati kita dan juga disiplin untuk terus mengeluarkan zakat infaq sodaqoh kita, insya Allah kita akan semangat untuk mempraktekkannya dalam berbagi kepada sesama.

Selain dalil – dalil yang menyerukan peritah zakat untuk meninggikan iman dan taqwa kita, banyak juga seruan supaya kita berbagai lebih dari sekedar membayar zakat seperti termaktum di dalam Surah Al-Baqarah 261, yaitu Allah memberikan perumpamaan untuk membalas amal saleh orang – orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah sebanyak 700 kali lipat. Bayangkan jika sifat berbagi ini diperbanyak lagi di dalam bulan Ramadan dan apalagi jika ternyata jatuh di sela – sela waktu malam lailatul qadar, yang apapun kebaikan atau amal soleh kita lakukan di malam itu lebih baik dari amal kebaikan selama seribu bulan.

Jika sifat berbagi ini akan terus menerus menjadi suatu hal rutin bagi kita pribadi maupun keluarga, insya Allah akan membawakan ketenangan seperti yang diceritakan di dalam Surat At-Taubah 103 mengenai kisah Abu Labubah di dalam asbabunuzulnya. Kita juga akan selalu qona’ah atau kaya hati sehingga tidak tamak, tidak sombong, dengan pemberian harta yang Allah amanahkan selama ini.

Akhirul kalam, mari kita jadikan bulan Ramadan ini bulan muhasabah diri dan keluarga. Jika ada lembaran kusam dalam keuangan keluarga kita selama ini, maka mari kita perbanyak lagi istighfar, taubat dan berazam untuk tidak akan mengulangi lagi.

Tuliskan dalam diari keuangan keluarga kita tentang langkah – langkah apa yang harus diambil, buatkan perencanaan tersebut daftar terinci, dan ajak semua anggota keluarga supaya berjanji untuk menjalankan semampunya dengan ikhlas tentunya dan dengan mengharap ridho Allah SWT.

Semoga kita lulus dalam latihan sebulan penuh di bulan Ramadan ini sehingga kita akan keluar sebagai pemenang – pemenang untuk menjalankan kehidupan yang inshaaAllah akan lebih baik lagi di masa yang akan datang. Walalhu’alam bissawaf.

Diterbitkan di detik.com