We are now moved to www.sakinahfinance.com

Visit our new look website: www.sakinahfinance.com

Advertisements

Bank Syariah mau maju pesat? Harus kaafah jawabannya!

Bank syariah juga perlu meningkatkan kesyariahannya karena itulah keunikan yang dicari selama ini.

Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc

Motivator Sakinah Finance/Wakil Ketua STEI Tazkia

Banyak yang kecewa dengan bank syariah saat ini. Macam – macam argumentasinya, ada yang mengatakan bahwa produk dan jasa yang ditawarkan “mirip atau sama” dengan bank konvensional. Ada juga yang marah – marah karena ternyata margin yang ditawarkan lebih tinggi dari suku bunga. Juga ada yang sewot karena pelayanannya kurang canggih dan lamban dari bank konvensional.

Para bank syariah cukup kewalahan, sebagian berfikir keras ingin berkompetisi dengan cara mengekor bank konvensional. Alhasil, mereka jadi nampak “sama” dengan bank konvensional. Tetapi sebagian bank syariah memilih jurus ingin tetap tambil beda mengikuti slogan orang Jawa, “alon – alon waton kelakon” yang artinya biar lambat tapi selesai asal tetap mengikuti dasar hukum yang jelas. Jurus manakah yang jitu?

Bank syariah saat ini
Ketika membuka ekspo iB Vaganza di Medan baru – baru ini, Ketua Dewan Komisioner Otorias Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengatakan bahwa peranan industri keuangan syariah khususnya perbankan syariah sangat penting dalam sektor perekonomian masyarakat saat ini. Dalam siaran pers, OJK menyakinkan bahwa industri perbankan syariah saat ini sudah SAMA BAGUSNYA, SAMA LENGKAPNYA, SAMA MODERNNYA dengan bank konvensional, DAN PASTINYA SYARIAH LEBIH BERKAH.

Syariah, pastinya lebih berkah! CLICK TO TWEET

Tapi mengapa masih banyak keluarga Indonesia yang masih mengeluh ketika sudah berinteraksi dengan bank – bank syariah? Hampir di setiap sesi tanya jawab talkshow atau pelatihan Sakinah Finance, selalu ada keluhan dan pertanyaan “apakah benar bank syariah sudah syariah?” Ada beberapa kemungkinan mengapa ini terjadi antara lain:

  1. Banyak yang tahu bank syariah tapi sungkan untuk kenal lebih dekat;
  2. Ikutan media sosial, teman atau saudara yang memojokkan bank syariah;
  3. Berinteraksi dengan bank syariah tapi tidak mau bertanya dan menyampaikan kritik;
  4. Pegawai bank syariah tidak pandai menjelaskan keunggulan produk dan jasa syariah;
  5. Bank syariah tidak pandai mengemas keunggulan syariah dalam promosinya;
  6. Bank syariah mengikuti cara bank konvensional yang lebih praktis dibandingkan dengan cara syariah tapi kompleks;
  7. Oknum – oknum bank syariah yang tidak bersikap sesuai syariah; dan lain lain.

Para keluarga Indonesia tentu saja bingung, baik Muslim maupun Non-Muslim. Awalnya semua berharap bank syariah dapat memberikan solusi yang lebih baik untuk kebutuhan keuangannya namun sebagian mendapatkan pengalaman bersyariah yang mengecewakan.

Saat ini bank syariah boleh dikatakan jalan ditempat jika dilihat dari pangsa pasar berbanding dengan konvensional yang makin agresif. Menurut OJK per Januari 2017, industri perbankan syariah di Indonesia yang terdiri dari 13 Bank Umum Syariah, 21 Unit Usaha Syariah yang dimiliki oleh Bank Umum Konvensional dan 166 BPRS mempunya total aset Rp.356,50 triliun dengan pangsa pasar sebesar 5,13%.

Begitu juga dengan perkembangan bank syariah di Malaysia yang saat ini menduduki peringkat pertama di dunia dari sisi jumlah aset, pangsa pasarnya hanya naik dari 26.8 persen menjadi 28 persen pada tahun 2016 dengan nilai aset RM742 billion atau mendekati Rp.3.000 triliun. Namun demikian, pertumbuhan tersebut 10 kali lebih tinggi dari Indonesia walau hanya didukung dengan jumlah penduduk dan ukuran negara yang 10 kali jauh lebih kecil.

Perbankan syariah di Malaysia tumbuh 10 kali lipat dari Indonesia CLICK TO TWEET

Pengalaman bersyariah
Penulis sudah menjadi nasabah bank syariah sejak Bank Muamalat Indonesia (BMI) didirikan pada 1992. Ketika pindah dan menetap di Malaysia hampir sepuluh tahun lamanya, penulis tetap aktif berinteraksi dengan bank syariah ditambah dengan produk syariah lainnya. Setelah kembali ke Indonesia, penulis lebih kerap lagi bertransaksi dengan produk dan jasa bank syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya.

Kemudian penulis mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S3 dan menjadi dosen di Inggris sekitar lima tahun lamanya. Lagi – lagi, penulis menggunakan kesempatan untuk menjadi nasabah aktif di bank dan produk syariah di sana.

Pesan dan kesan
Dari pengalaman di atas, ada beberapa pesan dan kesan mengenai bank syariah.

  1. Rasulullah SAW tidak pernah mendirikan bank syariah sehingga tidak ada model yang tepat bagaimana sebuah bank dapat beroperasi. Yang diajarkan Rasul adalah model – model akad seperti Murabahah (jual beli), Salam (jual beli dengan pemesanan dibayar di awal), Istisna’ (jual beli dengan pemesanan dibayar bertahap), Mudharabah (kemitraan antara pemilik modal dan pekerja), Musyarakah (kemitraan antara para pemilik modal), Ijarah (sewa), dan lain – lain. Akad – akad inilah yang kemudian digunakan untuk menggantikan transaksi berbasis bunga;
  2. Ikhtiar para penggiat keuangan syariah adalah meng-Islamkan sistem perbankan konvensional yang sudah ratusan tahun berjalan dan menjadi salah satu detak jantung perekonomian dunia;
  3. Jelas saja beberapa produk dan jasa bank syariah menjadi mirip dengan bank konvensional. Dari jauh mereka serupa tapi sebenarnya mereka tidak sama;
  4. Baik bentuk dan substansi (form and substance) bank syariah sudah tampil beda. Dari sisi bentuk, produk dan jasa tidak boleh berhubungan langsung dan tidak langsung dengan hal yang berbau riba, maysir, gharar, haram, dzalim, dharar. Dari sisi substansi, perbedaan dapat dilihat mulai dari akad dan operasionalnya;
  5. Bank syariah masih sangat muda usianya dan prinsipnya sementara harus akur ketika bersanding dengan sistem perbankan konvensional. Jangan heran jika ada beberapa prinsip bank syariah yang masih belum bisa sempurna berjalan;
  6. Dalam perjalanannya, prinsip – prinsip bank syariah sudah banyak diakomodasi melalui edukasi kepada pembuat keputusan, respon atas desakan masyarakat yang ingin bank syariah tetap eksis, serta karena telah dirasakan manfaatnya untuk keluarga, masyarakat dan negara;

Bank syariah adalah satu bentuk “rahmatan lil ‘alamin”, rahmat kepada seluruh alam, bukan disediakan hanya untuk kepentingan keluarga Muslim tapi juga non-Muslim. Harapannya adalah lembaga ini dapat menyumbang pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi dan membawa keluarga Indonesia sejahtera.

Kesimpulannya, semua pihak harus berbenah, harus lebih banyak keluarga – keluarga Indonesia yang membesarkan lembaga ini melalui kritikan yang membangun. Pada saat yang bersamaan, bank syariah juga perlu meningkatkan kesyariahannya karena itulah keunikan yang dicari selama ini. Jika tidak unik atau “sama saja”, maka para keluarga akan putar haluan kembali ke bank konvensional.

Bank syariah harus membenahi sisi syariahnya! CLICK TO TWEET

Penulis pernah mendengar ada seorang “ustaz” yang memberikan nasihat kepada jamaahnya: “lebih baik ke bank konvensional yang tidak “munafik”, sudah jelas riba, dibandingkan dengan bank syariah yang “munafik”, katanya syariah tapi ternyata sistemnya masih ribawi”. Walau tidak setuju dengan pernyataan ini, sudah ada sinyal bahwa bank syariah dituntut untuk lebih syariah (harus kaafah) supaya dapat maju pesat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!
Read more: http://sakinah.mysharing.co/14786/bank-syariah-mau-maju-pesat-harus-kaafah-jawabannya/#ixzz4mJUGyYcu

Suara Hidayatullah: https://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/04/17/115050/115050.html

Suara Islam: http://www.suara-islam.com/read/al-islam/muamalah/22149/Bank-Syariah-Mau-Maju-Pesat-Harus-Kaaffah-Jawabannya

Republika: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/04/17/oojpmv396-bank-syariah-mau-maju-pesat-kaafah-jawabannya

 

 

Pusing dengan biaya sekolah anak?

Pusing dengan Biaya Sekolah Anak?

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Bogor – Indonesia
Kompas.com – 15/03/2017, 08:00 WIB
Ilustrasi dana pendidikan(Thinkstockphotos.com)

KOMPAS.com – Banyak orangtua yang mengeluh ketika mulai tahun ajaran baru. Banyak orang tua yang ingin anak-anaknya masuk ke sekolah terbaik.

Selama ini, Pemerintah sudah menyiapkan fasilitas sekolah negeri yang tidak perlu membuat orangtua pusing. Namun sayangnya, tidak banyak sekolah–sekolah negeri yang mampu bersaing dari segi kualitas yang ditawarkan oleh sekolah swasta.

Saat ini kualitas pendidikan yang diinginkan orangtua adalah kurikulum bertaraf internasional, berafiliasi internasional, kemampuan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Arab, penyediaan ruang laboratorium, bermacam ragam fasilitas olah raga.

Bagi keluarga muslim, ingin pendidikan dengan karakter islami. Tentu saja sekolah yang mampu menyediakan pendidikan berkualitas seperti itu akan dengan terpaksa mengenakan biaya sekolah yang cukup tinggi.

Misalnya untuk Tahun Ajaran Baru 2017/2018, uang pangkal yang dikenakan bagi siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu bisa mencapai antara Rp 10 juta-Rp 30 juta dengan biaya SPP bulanan sekitar Rp 1,5 juta–Rp 2,5 juta per bulan. Itu baru biaya SD. Untuk level SMP dan SMA biayanya bisa lebih besar sekitar 30 persen.

Untuk pondok pesantren modern dengan fasilitas baik, biasanya menerima siswa saat tingkat SMP (Tsanawiyyah) dan SMA (Aliyah), mengenakan SPP bulanan sekitar Rp 1,5 juta–Rp 2,5 juta, termasuk biaya tempat tinggal dan makan di asrama.

Animo keluarga

Walau demikian, peminat sekolah Islam Terpadu memang luar biasa, bahkan terkadang harus antri dan banyak siswa yang terpaksa ditolak jika tidak lulus tes masuk.

Dari satu sisi, hal ini menunjukkan bahwa animo masyarakat kelas menengah ke atas untuk sekolah bermuatan agama makin tinggi. Mereka ingin anak–anaknya mengenyam pendidikan sekolah yang bermutu dan pada saat bersamaan mampu membekali mereka dengan nilai – nilai Islami.

Dalam era globalisasi dan finansialisasi sekarang, pilihan tersebut menjadi tepat, supaya dapat menyelaraskan pendidikan di rumah dan di sekolah melalui pemuatan ilmu aqidah, syariah dan akhlaq.

Hal ini sangat relevan dengan seruan Allah SWT di QS At-Tahrim (66): 6, supaya kita menjaga diri kita dan keluarga dari siksa api neraka kelak.

Namun bagi keluarga yang berada di dalam golongan ekonomi kelas bawah, masuk ke sekolah yang bermutu lengkap dengan pendidikan Islami menjadi suatu kendala. Padahal umumnya keluarga muda yang ingin menerapkan pendidikan Islami untuk anak – anaknya adalah biasanya belum mampu membayar uang pangkal dan uang SPP bulanan di sekolah sejenis itu.

Solusi syariah

Kali ini Sakinah Finance akan berbagi beberapa tips yang semoga bisa digunakan untuk mengatasi kesulitan dalam urusan biaya sekolah anak–anak.

Pertama, buat kesepakatan antara suami dan istri ketika sebelum/baru menikah tentang perencanaan pendidikan anak – anak. Salah satunya adalah menyisihkan pendapatan untuk investasi pendidikan masa depan sejak anak lahir.

Kedua, pelajari produk–produk keuangan syariah seperti di asuransi syariah, bank syariah, reksadana syariah dan pasar modal syariah.

Ketiga, buat simulasi produk–produk investasi tersebut, seperti ada beberapa perusahaan asuransi syariah di tanah air yang menyiapkan simulasi online atau bertanya kepada kaunter pelayanan dan staf pemasaran.

Tujuannya adalah untuk mengenal produk asuransi syariah yang sudah banyak tersedia di tanah air, kemudian pilih yang paling nyaman.

Keempat, jangan ikut–ikutan teman atau percaya dengan agen yang menawarkan tanpa tahu badan hukum lembaga, jenis akad, risiko dan seluk beluk produk.

Kelima, usahakan untuk membuat perencanan investasi jangka panjang ini di lebih dari satu tempat, misalnya satu di asuransi syariah, satu lagi di pasar modal

Keenam, ingat bahwa rencana ini adalah untuk kepentingan anak – anak sekolah kelak yaitu saat ketika dibutuhkan untuk masuk TK, SD, SMP, SMA dan universitas sehingga harus masuk dalam perencanaan. Misalnya melalui standing instruction untuk pembayaran rutinnya dan adanya klausa yang jelas untuk tidak mudah menarik dana yang ada.

Ketujuh, buat perencanaan awal seperti mempelajari jenis sekolah yang akan dituju dan perkiraan biaya dalam masa tiga atau lima tahun lagi.

Kedelapan, masukkan perencanaan pendidikan ini dalam daftar impian keluarga sehingga dapat dievaluasi dari tahun ke tahun.

Kesembilan, perkirakan jarak rumah dan sekolah agar tidak terlalu jauh sehingga tidak menambah beban biaya di kemudian hari, seperti biaya transportasi.

Kesepuluh, senantiasa mendoakan anak – anak kita supaya diberikan kemudahan dalam upayanya mencari ilmu. Orangtua hanya bisa merencanakan, hanya Allah SWT yang menentukan.

Penulis memiliki tiga anak, dan sejak bayi atau kurang lebih sekitar 16 tahun ini kami sudah mengikuti program dana pendidikan syariah. Kami tidak terlalu pusing ketika saatnya mereka masuk TK, SD, SMP, SMA dan bahkan universitas.

Dalam berbagai kesempatan, diharapkan orangtua aktif menyampaikan masalah biaya pendidikan sekolah bermutu kepada pemerintah supaya ada intervensi, misalnya pemberian subsidi ke sekolah unggulan, sehingga biaya sekolah jenis ini dapat mudah dijangkau. Pengawasan juga diperlukan supaya jangan sampai sekolah dijadikan ajang bisnis.

Saat ini sudah ada model sekolah yang bermutu tetapi tidak “mahal” bahkan gratis. Seperti Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia yang merupakan sekolah binaan Kementerian Agama RI.

Sekolah yang berorientasi kepada ilmu pengetahuan dan iman dan taqwa itu diprakasai oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1996. Diharapkan ke depannya, makin banyak sekolah berkualitas seperti ini yang dibantu dengan subsidi pemerintah sehingga biaya pendidikan tidak lagi menjadi hal yang memusingkan.

Kesimpulannya adalah orangtua diharapkan untuk membuat perencanaan sedini mungkin untuk investasi pendidikan anak berorientasi syariah dan pemerintah memastikan pendidikan yang lebih bermutu dari waktu ke waktu sehingga akan lahir generasi mumpuni yang akan membawa Indonesia makin bermartabat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/03/15/080000526/pusing.dengan.biaya.sekolah.anak.

Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin….

anak-kaya-dan-anak-miskin-2

Dok: bisnisaceh

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Colchester – Inggris

Layyina, putri kami, 16 tahun, belakangan sangat gusar dengan pembangunan di sekitar kawasan perumahan kami di Bogor, Indonesia. Beberapa waktu yang lalu Layyina menyusun surat untuk dikirimkan ke pengembang tempat kami tinggal. Berikut draftnya (nama-nama dalam surat tidak ditampilkan di sini:

Colchester, 2 October 2016
Dear Sir,
Your housing complex is where my family have lived for 11 years and as far as I could remember we used to have only one shopping mall in the area. But when I came back this summer there was a new lovely hospital and a less lovely second mall built. The most shocking of all was a massive construction site in the area, where apparently a new mall – 78,000 m2 – is going to be built (sigh!). It is absolutely frustrating because it’s said to be the 4th biggest mall in the greater Jakarta area, just next to the existing malls.

To me, this mall is nothing but unfair market competition because it will threaten the future of traditional traders in our place, just a mile away from the location of the site, because it would avert the market from buying local produce.

The owner of this mall is probably going to get richer, the shareholders of your company would be happy to get more money in their pockets, but the traditional traders will suffer even though their tiny businesses may alleviate poverty in the villages behind the complex. Not to mention the new (almost unnecessary) developments could reduce 30% green space that is required by the regulation.

To make matters worse, roughly every Sunday there is already traffic jam because of another attractions such as massive theme park, which affects the lane passing the hospital and the construction site. Now imagine when the new mall is built (2018) – how chaotic would that little world be? Not only any of these are sustainable in any means, the theme park stood right next to a shabby village, where most of traditional traders and less fortunate people live.

I understand how your housing complex is convenient place for leisure as it is so close to Jakarta, but does anybody care about the local people’s welfare anymore? Or maybe the less fortunate people not your concern anymore? Are we actually in the hands of outrageously rich people, like yourself?

And to be honest, with infamous Jakarta traffic, it could at the worst take you 3 hours to reach our place; so marketing at its best there bla-bla-bla Mall! There are of course solutions if you want to develop, but sustainably. You could renovate existing unsold houses into bespoke sustainable ones, or maybe not to develop in front of a filthy river that its sole function now is a sewer and a water source for the poor, because what your company doing by neglecting the problems is driving away their loyal residents and just blindly expanding.

In a way, being an Indonesian in the UK is hard because you think of how much better this country is doing. Maybe the Indonesian government should take care of their people rather than the rich, or themselves.

Thank you for reading my letter.

Best regards,

Layyina Tamanni

The rich is getting richer
Secara implisit, Layyina menyebutkan bahwa kelompok yang kaya sekarang makin kaya dan yang miskin makin miskin (paragraf kedua dan ketiga). Ehmmm, apa buktinya? Dari daftar 50 Orang Terkaya Indonesia Versi Majalah Forbes 2016, nilai kekayaan dari 50 orang terkaya di Indonesia di tahun ini adalah USD 99 miliar atau Rp 1.336 triliun, naik dari tahun lalu USD 92 miliar atau Rp 1.242 triliun. Menurut daftar tersebut, posisi pertama dari 50 orang itu diduduki oleh Keluarga Hartono keturunan Tionghoa, pemilik perusahan rokok Djarum dan pemegang saham terbesar Bank Central Asia, dengan jumlah kekayaan sebesar USD 17,1 miliar atau sekitar Rp 230 triliun. Jika ditelusuri 50 orang kaya ini, hanya beberapa orang saja merupakan putra asli bangsa.

Keturunan Tionghoa yang sukses umumnya pekerja keras dan hidup hemat CLICK TO TWEET
Namun jangan prejudis dahulu, para keturunan Tionghoa yang sukses dari segi kekayaan umumnya bekerja keras, bersungguh-sungguh dan hemat. Menurut profil Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono yang bernama asli Oei Hwie Tjhong dan Oei Hwie Siang ini, bisnis rokok Djarum yang diwariskan sang ayah hampir punah karena kebakaran pabrik. Namun berkat inovasi dan jaringan, mereka bisa meluaskan pemasaran rokok tersebut ke Amerika. Walau dengan kekayaan yang berlimpah, Hartono tetap mengajarkan anak-anaknya dengan kesederhanaan. Armand Hartono sang putra mahkota contohnya, tidak boros memakai AC dan tidak segan makan di kantin murah.

Begitu juga Murdaya Poo yang bernama asli Poo Tjie Gwan atau Poo Djie Thiong yang dikenal dengan gemar bekerja lewat tengah malam bahkan sering pulang lewat matahari terbit. Istrinya Sri Hartati Murdaya yang juga seorang pengusaha, sama-sama suka bekerja keras dan memiliki motivasi yang tinggi. Saat ini Murdaya berada di dalam daftar orang terkaya nomor sembilan dengan memiliki harta sebesar USD 2,1 miliar atau sekitar Rp 28,3 triliun.

Putra asli bangsa yang pertama dalam daftar tersebut adalah Chairul Tanjung, pemilik Bank Syariah Mega Indonesia dan Trans TV yang berada dalam urutan ke-enam turun dari urutan ke-empat ketika pada tahun 2015. Chairul pernah menjadi Mahasiswa Teladan Nasional ketika belajar di Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas Indonesia.

Namun bukan hanya berhasil dalam bidang akademik tetapi juga Chairul muda sangat serius menjalankan bisnis kecil – kecilan di kampus untuk membiaya kuliahnya. Jatuh bangun tidak sekali namun berkat kegigihannya saat ini Chairul memiliki harta kekayaan berjumlah USD 4,9 miliar atau sekitar Rp 66,1 triliun.

The poor is getting poorer
Di balik semakin bertambahnya kekayaan para konglomerat, ada jutaan derita kemiskinan dan kesenjangan terjadi. Bagi Layyina, keberadaan supermarket raksasa yang akan dibangun di dalam kompleks perumahaan kami telah mengambil secara sepihak dan kejam peluang bisnis para pedagang kecil di pasar tradisional tak jauh dari lokasi mal tersebut.

Selain itu, yang tidak kalah tragis adalah kehidupan masyarakat yang tinggal di kampung sekitar perumahan tersebut. Dulunya mereka adalah pemilik tanah yang kemudian secara halus dibujuk untuk melepas ladang dan tanah warisan turun-temurun.

Setelah menjadi mantan pemilik, para penduduk kampung tersebut sempat kaya mendadak untuk sementara. Uang hasil pembebasan tanah dipakai untuk jangka pendek misalnya pergi haji, bangun rumah dan beli kendaraan. Jarang terdengar mereka gunakan untuk modal bisnis atau investasi di pendidikan.

Seiring bertambahnya kekayaan para konglomerat, bertambah pula kemiskinan dan kesenjangan CLICK TO TWEET
Profesi yang digandrungi biasanya menjadi satpam, tukang ojeg, supir angkot, supir pribadi, pembantu rumah tangga dan pemulung. Mayoritas anak – anak mereka berhenti sekolah saat tamat SD atau SMP dan menikah saat berusia muda. Selama 11 tahun, pemandangan sebelum azan Shubuh tidak pernah berubah, para pemulung akan mampir ke rumah kami mengais kotak sampah, mencari kertas, kotak dan plastik yang bisa dijual sekitar Rp. 200 – Rp. 20,000 perkilo. Sedih?

Apa yang dapat kita pelajari?
Ada satu kata kunci di balik suksesnya nama-nama yang disebut tadi yaitu itqan (bersungguh – sungguh) yang menurut HR Imam Muslim No. 1955, HR At-Tabrani No. 897 dan HR Baihaqi No. 5312: innallaha azza wajalla yuhibbu idzaa ‘amila ahadukum ‘amalan an yutqinahu yang artinya: “Allah ʽazza wa jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan.” Namun tentunya sebagai pebisnis Islami, kerja bersungguh-sungguh itu harus didampingi dengan konsep pertanggung jawaban di Hari Perhitungan di mana semua umat manusia akan diadili walau amalannya sebesar biji sawi (QS Al-Anbiya (21): 47).

Maka dari itu rambu-rambu bisnis harus senantiasa diperhatikan misalnya menghindari bisnis di bank ribawi, pabrik senjata, pabrik rokok, hotel, pabrik alkohol, dan bisnis haram atau syubhat lainnya. Di samping itu, ada hak orang lain yang harus dikeluarkan dari keuntungan bisnis, seperti zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Semoga pendirian Koperasi Syariah Dua Satu Dua yang baru-baru ini diumumkan akan menjalankan konsep itqan yang berorientasi akhirat.

Layyina juga menyinggung peranan pemerintah untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Tentu saja hal ini sesuai dengan Undang-Undang 1945 Pasal 33. Jauh sebelum 1945, Rasulullah SAW senantiasa memastikan praktik ekonomi yang berkeadilan yang harus ditaati oleh Muslim maupun Non-Muslim.

Monopoli sudah dikecam sejak jaman Nabi CLICK TO TWEET
Penguasan ekonomi untuk kepentingan suatu kelompok sudah dikecam sejak jaman Rasulullah SAW begitu juga di masa para sahabat. Misalnya Umar bin Khattab r.a. yang menegur keras ketika seseorang melakukan monopoli dan menetapkan harga seenaknya (Kitab Al-Bidayah Wan Nihayah).

Sebagai pemimpin, Rasulullah SAW dan para sahabat rajin berjalan di pasar – pasar juga senantiasa berkeliling memantau keadaan rakyatnya untuk memastikan kesejahteraan mereka. Diceritakan di dalam kitab tersebut bahwa bukan main berangnya Umar r.a. ketika Sa’ad menutup pintu istana supaya tidak mendengar keributan di pasar. Dibakarnya pintu istana itu. tepat jika Layyina mengatakan bahwa Maybe the Indonesian government should take care of their people rather than the rich, or themselves. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Read more:

MySharing

Republika

Suara Islam

Islampos