Sakinah Finance Workshops; Muslim Indonesia di Paris Bahas Utang Piutang Keluarga

Sakinah Finance Workshops, Paris, France from 19-21 January 2017/21-23 Rabiul Akhir 1438H

Muslim Indonesia di Paris Bahas Utang Piutang Keluarga

Red: Agus Yulianto
AFP

Muslim Prancis sedang menjalankan shalat di Masjid Agung (Ilustrasi) Paris

Muslim Prancis sedang menjalankan shalat di Masjid Agung (Ilustrasi) Paris

REPUBLIKA.CO.ID,  LONDON — Perkumpulan Masyarakat Muslim Indonesia di Paris PERMIIP, mengkaji masalah utang-piutang keluarga dengan pembicara penggiat keuangan keluarga syariah, Dosen STEI Tazkia yang sekarang sedang bertugas di University of Essex, Inggris, Murniati Mukhlisin. Bab utang-piutang keluarga ini sangat penting untuk dibahas karena tidak semua keluarga mengenal jenis-jenis utang yang sesuai syariah dan bagaimana menyikapinya.

Dikatak Murniati, relatif banyak masalah utang yang mengakibatkan timbulnya permusuhan antar-saudara dan teman dikarenakan tidak adanya pencatatan, legalitas dan transparansi. Utang yang bermasalah dapat mempersulit perhitungan harta waris, katanya, dan menambahkan terkait hutang tercantum pada ayat-ayat di Surah An-Nisaa’ 12 yang merekomendasikan selesaikan utang terlebih dahulu sebelum menunaikan wasiat dengan catatan maksimum sepertiga dari sisa harta, setelah itu baru harta dibagikan.

Pertemuan di KBRI Paris itu juga dihadiri Duta Besar UNESCO yang berkantor di Paris, T.A. Fauzi Soelaiman beserta istri Bonita Sa’danoer.

Ketua PERMIIP periode 2015/2017 Novic mengatakan, kegiatan pengajian termasuk pembahasan isu-isu kontemporer seperti masalah hutang tersebut diminati masyarakat Indonesia di Paris. Kata dia, kegiatan diskusi pencerahan tersebut telah bertahun-tahun diselenggarakan di tempat yang sama usai shalat Jumat.

“Masyarakat Islam Indonesia di Paris ingin menunjukkan wajah Islam yang damai serta menjadi bagiadan dari solusi atas masalah-masalah sosial kemasyarakatan,” katanya. Masyarakat Islam di Paris juga merencanakan pembangunan semacam Pusat Kegiatan Islam Indonesia di Paris, yang segera kembali ke Tanah Air dan posisinya periode selanjutnya akan diisi Teuku Zulkaryadi.

Advertisements

Korupsi dari Kandungan Hingga ke Liang Lahat

korupsi-birokrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc (Konsultan Sakinah Finance, tinggal di Colchester, UK)

Menurut indeks hasil voting yang diadakan oleh Transparency International Tahun 2015, ranking Indonesia membaik sehingga menduduki peringkat 88 dibandingkan tahun lalu yaitu di peringkat ke 107. Voting yang berdasarkan pendapat pakar seluruh dunia ini menyimpulkan Denmark sebagai negara terbersih yang menduduki peringkat pertama dan Somalia di peringkat terakhir dari 168 negara yang dipelajari.

Angka indeks untuk Indonesia ini cukup menggembirakan namun tetap saja peringkat ke 88 adalah masih sangat tinggi. Menurut Transparency International, korupsi masih merajalela di kalangan pejabat dan politisi.

Walau Denmark menjadi negara paling bersih korupsinya namun menurut Transparency International masih tidak sempurna. Artinya ada juga kasus korupsi di negara tersebut. Kalau itu di tataran negara, bagaimana di tataran keluarga? Pernah dengar keluarga Indonesia bebas korupsi? Apakah kita termasuk keluarga bebas korupsi?

Korupsi di kelas kakap tentunya berasal dari kebiasaan mereka ketika masih di kelas teri, atau sebaliknya, korupsi di kelas kakap mempengaruhi kelas teri untuk mengikutinya. Bagaimanapun, pendidikan antikorupsi memang sudah selayaknya dibuat sejak bayi dalam kandungan untuk memastikan dia tidak menjadi anggota kelas teri maupun kelas kakap.

Bagaimana praktik korupsi dalam keluarga?
Menurut Fatwa MUI yang ditetapkan pada tanggal 29 Juli 2000, ada tiga istilah pemberian dan penerimaan sesuatu yang bertujuan melakukan hal yang tidak sesuai syariah (bathil), yaitu suap (risywah), korupsi (ghulul) dan hadiah yang dikategorikan HARAM.

Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi hajat seseorang dengan membujuk dalam bentuk hadiah, uang pelicin, pengambilan hak yang bukan miliknya. Mari kita cek bersama-sama apakah keluarga kita pernah dan biasa melakukan hal-hal di bawah ini?

1. Masa bayi dalam kandungan
– Pernah tidak kuat antri cek kandungan sehingga harus menyelipkan uang bawa meja untuk mendapatkan prioritas nomor awal?
– Pernah menyelipkan uang pelicin supaya Akte Kelahiran cepat keluar?

2. Melahirkan
– Pernah membayar biaya tidak resmi supaya dapat dinaikkan ke Ruang Bersalin Kelas 1?
– Pernah klaim biaya melahirkan yang kwitansinya sudah dinaikkan biayanya?

3. Masa kanak-kanak
– Pernah menyuap hakim atas sengketa hak asuh anak?
– Pernah memberi makan anak hasil uang korupsi?

4. Masuk sekolah
– Pernah kasih amplop ke Panitia Penerimaan Siswa Baru supaya dapat masuk ke sekolah unggulan dan favorit?
– Pernah bayar guru atau orang lain supaya nilai STTB dapat diubahsuaikan?

5. Masuk universitas
– Pernah membeli nilai dari dosen atau bagian akademik?
– Pernah membeli ijazah supaya dapat gelar sarjana?

6. Masa bekerja
– Pernah membayar tim seleksi kepegawaian supaya lolos seleksi PNS?
– Pernah menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi atau keluarga?

7. Berbisnis
– Pernah menyogok bagian pajak supaya nilai pajak berkurang atau nihil?
– Pernah menang tender penyediaan barang dengan uang suap?

8. Berumah tangga
– Pernah menyogok penghulu untuk urusan nikah atau cerai?
– Pernah mencuri uang suami atau istri untuk urusan yang tidak syariah?

9. Meninggal dunia
– Pernah meminta sertifikat kematian supaya cepat keluar dan sesuai dengan data yang diinginkan supaya dapat klaim asuransi?
– Pernah menyuap hakim supaya memenangkan sengketa waris?

Bagaimana? Jika kita pernah melakukan hal-hal tersebut di atas yang menjurus ke praktik korupsi dan suap baik secara langsung maupun tidak langsung, sebaiknya kita segera koreksi diri (muhasabah). Mari kita sesalkan, ucapkan istighfar dan bertaubat.

Jika masih dalam lingkaran korupsi, mari pasang niat bersih, segera tinggalkan, hijrah ke tempat yang lebih baik, inshaaAllah banyak jalan keluar yang lebih baik.

Pendapatan Halal dan Thayib
Dalam kajian Sakinah Finance, ada satu prinsip yang menjamin keadaan keluarga kita senantiasa sakinah dengan rezeki yang berkah yaitu memastikan pendapatan atau harta yang diterima dan dibelanjakan bukan berasal dari jalan dosa (bathil), lihat QS Al-Baqarah (2): 188.

Larangan memakan harta dari jalan yang bathil di dalam ayat tersebut tentunya mempunyai konsekuensi jika dilanggar. Tentu hidupnya tidak tenang dan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat, karena Rasulullah SAW sendiri melaknat bagi yang memberi suap dan menerima suap (HR Ahmad No. 6489; Abu Daud No. 3109; Tirmidzi No. 1256; Ibnu Majah No. 2304).

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanamkan 9 nilai antikorupsi, antara lain kejujuran, kepedulian, kemandirian, keadilan, tanggung jawab, kerjasama, sederhana, keberanian dan kedisiplinan. Bagi umat Islam, tentunya 9 nilai ini tidak asing lagi karena banyak disebut dalam Al-Qur’an dan selalu dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Mari kita pastikan bahwa walaupun satu rupiah uang atau nilai barang yang ada di rumah adalah halal dan thayib supaya mendatangkan kebahagiaan dalam rumah tangga, mendapatkan doa-doa terkabul dan memudahkan pertanggung-jawaban di yaumulhisab kelak. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Diterbitkan di:

Republika

MySharing

Islampos

Hidayatullah

Ini Cara agar Keuangan Kita Berantakan

0714364Ilustrasi-rupiah-1780x390

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan, Sakinah Finance, Colchester – UK

KOMPAS.com – “Cash is King” begitulah jargon saat ini. Namun tetap saja tidak menjadi perhatian.

Bukan hanya orang dengan pendapatan kelas bawah tapi juga orang yang hidup di atas pendapatan rata–rata. Buktinya banyak yang menikmati gaya hidup dengan cashflow yang pas – pasan atau negatif.

Untuk itu, mari ikuti ulasan hari ini mengenai tujuh cara yang membuat keuangan kita berantakan. Mau coba bagaimana rasanya tidak punya uang sepeserpun di tangan? Ayo ikuti tujuh cara berikut:

1. Tinggalkan ide kuno membuat anggaran keuangan

Membuat anggaran keuangan sangat membosankan dan kadang membuang waktu dan sia–sia belaka. Apalagi jika setelah dibuat, anggaran meleset jauh dari yang direalisasikan.

Ternyata bukan hanya keluarga, para perusahaan dan pemerintah juga harus berfikir keras bagaimana supaya pendapatan dan pengeluaran yang direalisasikan sesuai dengan yang dianggarkan.

Sering kita dengar pemerintah mengeluarkan anggaran versi revisi, misalnya APBN-P, untuk memastikan supaya kegiatan pemerintah dapat menyedot anggaran yang masih tersisa atau mengepaskan yang kurang. Jadi tinggalkan saja ide kuno ini, setuju?!

Jangan putus asa dulu, ayo coba lagi. Jika keluarga punya masalah seperti ini, tentu saja normal. Ini karena hidup yang penuh dinamika dan ada yang tidak bisa diperkirakan.

Ada banyak model anggaran yang dapat dicoba, misalnya Zero Based Budgeting (ZBB), istilah bisnis moderen yang digunakan untuk mengindentifikasikan, merencanakan dan mengawasi program dan kegiatan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi.

Ketika membuat anggaran, jangan selalu melihat ke belakang karena banyak hal yang tidak relevan lagi. Fokus kepada kegiatan rumah tangga untuk setahun dan sebulan ke depan.

2. AcuhkanTagihan

Kita semua pusing kalau terlalu banyak tagihan yang datang ke rumah atau tiba–tiba meyelip di rekening online kita, membabat sisa uang di bank. Biarkan saja, toh tagihan pasti datang, kenapa pusing?

Ternyata ini bahaya, karena kalau menunggak biasanya ada denda yang harus dibayar dan bisa–bisa karena sering dapat “Collect 1, 2 atau terakhir Collect 5”. Kita dianggap sebagai nasabah kurang baik ketika proses BI Checking (pemeriksaan Bank Indonesia).

Untuk membersihkan nama dari blacklist BI bukan main susahnya dan tentu berdampak tidak baik ke depannya. Belum lagi dampak utang ketika meninggal dunia dan harta waris.

Nah kalau tidak mau dikejar–kejar penagih hutang dan demi menjaga nama baik serta amal soleh dunia akhirat pastikan tagihan hutang diberikan prioritas seperti listrik, air, handphone, pembiayaan KPR syariah, pembayaran cicilan motor atau mobil.

Membuat Standing Instruction (SI) kepada bank adalah salah satu cara praktis. Pastikan SI dibuat berdekatan dengan tanggal mendapatkan penghasilan atau gaji.

3. Marahi penagih hutang

Taktik orang yang berhutang untuk lebih galak dibandingkan dengan yang memberi hutang terkadang berhasil. Si penagih hutang akan kapok dan tidak mau datang lagi atau melupakan tagihannya. Yang berhutang akan tersenyum puas.

Tapi tunggu dulu, pikirkan siapa yang perlu ketika berhutang. Sebagian dari kita bahkan datang dengan memelas dan mengukir janji. Ternyata janji adalah sebuah tanggung jawab, seperti di dalam QS Al-Ma’idah (5): 1:

“Wahai orang–orang yang beriman! Penuhi janji–janji.”

Lihat juga di dalam QS Al-Isra’ (34):17: “Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” Jika terkenal sebagai orang pemegang janji ketika datang seratnya cashflow, kita akan mudah mendapatkan pinjaman.

4. Lalaikan persedian rumah tangga

Sebagian keluarga memilih untuk belanja kebutuhan dapur setiap pekan, sebagian lagi mendisiplikan belanja setiap bulan. Sebagian lagi tidak punya waktu khusus untuk belanja, selagi mau dan perlu, maka pergilah belanja.

Apa yang dirasakan jika tengah malam anak kita kelaparan karena susunya habis di rumah? Santai saja, kan ada swalayan buka 24 jam dekat rumah!

Sebenarnya tidak ada waktu standar yang pas untuk semua keluarga, tergantung dari jenis pendapatan yang diterima.

Yang diatur bukan hanya jadwal belanjanya tetapi penggunaannya. Biasanya kalau kita melihat bahan makanan banyak di dapur, kita akan cenderung untuk masak lebih banyak jadi jika kita termasuk tipe ini, baiknya bahan makanan dipisahkan, ada yang siap dikonsumsi harian ada yang menjadi persediaan.

Jika kita termasuk “last minute shopper” siap–siap untuk mengeluarkan duit lebih banyak ketika belanja di swalayan 24 jam. Bayangkan kalau itu terjadi dan saat itu uang sedang tidak ada di tangan.

5. Jauhi orang lain

Jika dalam masa senang, jauhi keluarga, lupakan bahwa kita akan perlu mereka. Kita tidak juga perlu bersilaturrahim dengan lembaga keuangan, toh kita bisa hidup tanpa bank syariah, asuransi syariah dan apalah namanya.

Urusi saja hidup keluarga kita, jangan hiraukan tetangga, keluarga dan lain–lain. Jangan juga bayar zakat dan sedekah, habis sudah harta nanti.

Benarkah? kita tahu bahwa hidup kita bagaikan roda, cobaan bukan hanya dalam keadaan susah tapi juga dalam keadaan senang.

Maka dari itu kita perlu berinteraksi dengan yang lain, karena sudah menjadi ketetapan Allah SWT bahwa sebagian kita adalah pelindung atau penolong kepada sebagian yang lain (QS AT-Taubah (9):71). Jika datangnya hanya ketika perlu, apa reaksi keluarga? Ingat juga ganjaran pembayar zakat dan terlebih sedekah .

6. Nikmati hidup selagi bisa

Ketika datang masa senang, lupakan apa yang akan terjadi esok, kapan lagi bisa menikmati hasil kerja kita selama ini, kalau nanti terbaring sakit tidak bisa lagi kita bersenang – senang.

Jika sudah divonis dokter punya sakit darah tinggi, tidak bisa makan macam–macam lagi.

Setuju dengan gaya hidup seperti itu? Ternyata gaya hidup seperti ini bukan mengikut sunah Rasulullah SAW. Walaupun saat di usia dewasanya hingga di akhir usianya bisa hidup lebih dari mewah tapi beliau memilih hidup sederhana.

Makanan beliau pun terseleksi dengan baik, bukan hanya halal tapi thayib.

Ternyata pengaturan cashflow yang baik berdampak kepada hidup untuk lebih disiplin dan tentu saja hidup sehat.

7. Jangan berantisipasi

Buat apa berantisipasi untuk hari esok, kan Allah SWT sudah menentukan semuanya. Hidup ini singkat, jalani saja apa yang bisa kita jalankan, biarkan hidup itu mengalir, apa yang ada hari ini mari kita nikmati, untuk besok kita pikirkan lagi.

Jika standar hidup seperti itu yang kita pilih, kecemasan tentu akan datang silih berganti. Bukan hanya kita, tetapi semua anggota keluarga kita juga sibuk bertanya bagaimana nanti bayar SPP akhir bulan ini, apa solusi bayar kontrakan rumah bulan depan, jalan keluarnya apa jika nanti dokter suruh bayar obat dan banyak lagi lainnya.

Antisipasi untuk menjaga cashflow supaya dalam keadaan lancar sangat penting, dan berusaha menyiapkan keturunan dalam keadaan sehat dan berkecukupan termasuk yang diperintahkan Allah SWT dan RasulNya.

Lihat QS An-Nisaa’ (4):9 “Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka.”Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Diterbitkan di Bisnis Keuangan, Kompas, Ahad, 29 Mei 2016

Pengelolaan Keuangan, Sebelum atau Sesudah Menikah?

keuangankeluarga

Dok: Majalah Kartini

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan, Sakinah Finance, Colchester – UK

Banyak para bujang gadis atau pasangan yang baru menikah menanggapi bahwa perlunya mengelola keuangan pasnya adalah setelah menikah. Lihat komentar di bawah:

Yangie dan Agung: ada amanah yang harus dikelola bersama, makanya penting sekali perencanaan keuangan setelah menikah.

Siska dan Heru: pengeluaran lebih banyak dari pendapatan sehingga perlu perencanaan serius.

Okky: ada penghasilan ganda jadi baru bisa ada yang dikelola.

Sheyka: ada transaksi pinjam meminjam atau saling memberi antara suami dan istri jadi perlu adanya perencanaan keuangan.

Tapi menurut Tiffany, setelah menikah dia pikir tidak perlu pengelolaan keuangan kan sudah ada suami, lain halnya ketika sebelum menikah, uang milik pribadi harus benar – benar diatur. Namun akhirnya dia akui bahwa pendekatannya kurang pas.

Ayu lain lagi, bagi dia, nikah atau ga nikah, perencanaan keuangan harus tetap dijalani kan sesuai fungsi uang yang 3S ujarnya, spending, saving, dan sharing.

Ehmmm….jadi  “baper” nih, jadi yang mana dong sebaiknya kita adopsi?

Mulailah seawal mungkin dengan niat ibadah

Mengelola keuangan (istilah ini lebih tepat dari merencanakan keuangan), tentu saja tidak lepas dari niat. Sesuai dengan niat kita dalam menjalankan kehidupan adalah tentunya untuk selalu beribadah kepada Allah SWT (lihat QS Adz-Dzariyat (51): 56), tentu termasuk juga ketika menjalankan aktifitas pengelolaan keuangan.

Sebagian anak – anak berusia tujuh tahun sudah bisa menerima latihan awal pengelolaan keuangan sehingga dia akan tumbuh lebih prihatin dalam pengelolaan keuangannya kelak. Di awal latihan, minimal anak – anak memahami makna uang yang ternyata adalah amanah Allah SWT yang harus dijaga bukan hanya dengan menyimpannya tetapi juga membelanjakannya. Hasilnya anak – anak akan lebih menghormati orangtuanya di kala senang dan susah karena menyadari bahwa uang tidak selamanya milik kita.

Untuk memastikan keuangan keluarga dapat dikelola dengan baik, anak – anak diberikan latihan bekerja dan berwirausaha ala Rasulullah SAW. Di situlah orangtua mempunyai kesempatan untuk mengajarkan transaksi – transaksi muamalah sesuai dengan syariah termasuk memahami zakat, infaq dan shodaqoh.

Namun jangan terlalu juga membebaskan anak – anak dengan uang dan harta. Maka dari itu perlu diperhatikan dan dikawal penggunaannya (tasarruf) oleh orangtua/wali sang anak karena mereka belum sempurna akalnya atau tidak mampu mengelola uang dan hartanya (lihat QS An-Nisa’ (4): 5 dan Tafsir Ibnu Katsir).

Tentukan hak dan kewajiban

Dalam QS An-Nisa (4): 34 jelas bahwa lelaki dalam rumah tangga adalah pemimpin (qawwam) keluarga sehingga dia yang wajib memberikan nafkah kepada istrinya dari sebagian hartanya.

Namun walau ada peran kepemimpinan (qawammah) laki – laki, semua mukmin baik lelaki maupun perempuan termasuk pasangan suami – istri wajib menjadi penolong (al-walayah) antara sesamanya (QS At-Taubah (9):71) dalam hal mengerjakan yang makruf, mencegah yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Pada akhirnya akan turun rahmat dari Allah SWT untuk mereka.

Dari makna qawwamah, maka kewajiban seorang anak laki – laki dewasa (baligh/mumayyiz) adalah mengatur keuangan untuk nafkah dirinya dan juga siapapun yang menjadi tanggung jawabnya, misalnya orangtua atau adik – adik yang belum bisa mandiri. Begitu juga kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada istrinya dari sebagian hartanya.

Namun, untuk keadaan tertentu dimana anak perempuan atau istri yang harus memberi nafkah, maka hal tersebut masuk dalam kategori menolong (al-walayah), dengan syarat qawwamah suami tetap terjaga. Baca artikel Sakinah Finance: Berapa Gajimu, Wahai (Pekerja) Kartini Rumah Tangga?, di Bisnis dan Keuangan, Kompas, 22 April yang lalu.

Tentunya penentuan hak dan kewajiban ini harus dikomunikasikan dan dimusyawarahkan dengan baik sehingga tidak menimbulkan rasa sombong, tidak ikhlas dan tidak amanah.

Jangan kaku, adaptasi dengan perubahan

Hal lain yang menjadi faktor naik turunnya semangat ketika menjalankan perencanaan keuangan adalah dalam menghadapi perubahan. Misalnya, perubahan dalam menjalankan kehidupan yang tadinya di Indonesia, kemudian harus tinggal sementara di Inggris karena tugas belajar. Perubahan yang tadinya mempunyai penghasilan yang lebih dari mencukupi kehidupan sehari – hari namun saat ini sedang menanggung hutang.

Tidak ada sebuah model pengelolaan keuangan keluarga yang standar yang dapat diterapkan oleh setiap keluarga. Dengan kata lain, selalu adaptasi dengan perubahan misalnya gaya hidup, cara baru pengaturan dan pemisahan tanggung jawab keuangan di rumah, pembuatan catatan pemasukan dan pengeluaran dan lain sebagainya. Apapun perubahan itu, selalu tekuni cara yang dianggap terbaik.

Pastikan konsisten

Konsistensi adalah salah faktor terberat dalam hal pengelolaan keuangan keluarga. Mengapa? Godaannya luar biasa yang lalu lalang dalam telinga kita, misalnya untuk apa mengelola yang sedikit ini, tambah pusing aja! Mengapa serius sekali mikirnya, toh Allah sudah atur semuanya, terima saja apa adanya!

Mengelola keuangan adalah sejalan dengan salah satu ayat Al-Qur’an tentang kisah Nabi Yusuf ketika menakwilkan mimpi Raja Mesir untuk mempersiapkan hidup di masa sulit ketika di masa senang (QS Yusuf (12): 43-49). Kita juga diajarkan manut dan konsisten dengan ajaran Rasulullah SAW, misalnya cara –cara menahan keinginan duniawi (baca nasihat Rasulullah SAW kepada Fatimah Az-Zahra ra putrinya dan Ali bin Abi Thalib ra menantunya untuk selalu berzikir kepada Allah SAW), juga dalam mengelola hutang (baca doa ajaran Rasulullah SAW untuk jauh dari lilitan hutang).

Pencapaian Target

Terakhir, kita hanya pandai merencanakan dan menginginkan agar target – target keuangan keluarga tercapai namun hanya Allah SWT yang menentukan. Jadi apapun hasilnya, mari bertawakal kepada Allah SWT dengan terus memohon agar senantiasa diberikan yang terbaik untuk kehidupan kita.

Mengutip taujih Ustaz Cecep Haji Solehudin yang berdomisili di Sydney, Australia, sesungguhnya target yang harus kita capai adalah seperti yang disabdakan Rasulullah SAW: Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya. (HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh Al-Albani). Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Artikel ini dipublikasikan di:

Republika: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/05/12/o71j3d336-mengelola-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah

MySharing: http://sakinah.mysharing.co/14759/pengelolaan-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah/

Islampos: https://www.islampos.com/pengelolaan-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah-275510/

Suara Islam: http://www.suara-islam.com/read/index/18160/Pengelolaan-Keuangan;-Sebelum-atau-Sesudah-Menikah-

Hidayatullah: http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2016/05/10/94536/pengelolaan-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah.html

Majalah Gontor