Pusing dengan biaya sekolah anak?

Pusing dengan Biaya Sekolah Anak?

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Bogor – Indonesia
Kompas.com – 15/03/2017, 08:00 WIB
Ilustrasi dana pendidikan(Thinkstockphotos.com)

KOMPAS.com – Banyak orangtua yang mengeluh ketika mulai tahun ajaran baru. Banyak orang tua yang ingin anak-anaknya masuk ke sekolah terbaik.

Selama ini, Pemerintah sudah menyiapkan fasilitas sekolah negeri yang tidak perlu membuat orangtua pusing. Namun sayangnya, tidak banyak sekolah–sekolah negeri yang mampu bersaing dari segi kualitas yang ditawarkan oleh sekolah swasta.

Saat ini kualitas pendidikan yang diinginkan orangtua adalah kurikulum bertaraf internasional, berafiliasi internasional, kemampuan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Arab, penyediaan ruang laboratorium, bermacam ragam fasilitas olah raga.

Bagi keluarga muslim, ingin pendidikan dengan karakter islami. Tentu saja sekolah yang mampu menyediakan pendidikan berkualitas seperti itu akan dengan terpaksa mengenakan biaya sekolah yang cukup tinggi.

Misalnya untuk Tahun Ajaran Baru 2017/2018, uang pangkal yang dikenakan bagi siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu bisa mencapai antara Rp 10 juta-Rp 30 juta dengan biaya SPP bulanan sekitar Rp 1,5 juta–Rp 2,5 juta per bulan. Itu baru biaya SD. Untuk level SMP dan SMA biayanya bisa lebih besar sekitar 30 persen.

Untuk pondok pesantren modern dengan fasilitas baik, biasanya menerima siswa saat tingkat SMP (Tsanawiyyah) dan SMA (Aliyah), mengenakan SPP bulanan sekitar Rp 1,5 juta–Rp 2,5 juta, termasuk biaya tempat tinggal dan makan di asrama.

Animo keluarga

Walau demikian, peminat sekolah Islam Terpadu memang luar biasa, bahkan terkadang harus antri dan banyak siswa yang terpaksa ditolak jika tidak lulus tes masuk.

Dari satu sisi, hal ini menunjukkan bahwa animo masyarakat kelas menengah ke atas untuk sekolah bermuatan agama makin tinggi. Mereka ingin anak–anaknya mengenyam pendidikan sekolah yang bermutu dan pada saat bersamaan mampu membekali mereka dengan nilai – nilai Islami.

Dalam era globalisasi dan finansialisasi sekarang, pilihan tersebut menjadi tepat, supaya dapat menyelaraskan pendidikan di rumah dan di sekolah melalui pemuatan ilmu aqidah, syariah dan akhlaq.

Hal ini sangat relevan dengan seruan Allah SWT di QS At-Tahrim (66): 6, supaya kita menjaga diri kita dan keluarga dari siksa api neraka kelak.

Namun bagi keluarga yang berada di dalam golongan ekonomi kelas bawah, masuk ke sekolah yang bermutu lengkap dengan pendidikan Islami menjadi suatu kendala. Padahal umumnya keluarga muda yang ingin menerapkan pendidikan Islami untuk anak – anaknya adalah biasanya belum mampu membayar uang pangkal dan uang SPP bulanan di sekolah sejenis itu.

Solusi syariah

Kali ini Sakinah Finance akan berbagi beberapa tips yang semoga bisa digunakan untuk mengatasi kesulitan dalam urusan biaya sekolah anak–anak.

Pertama, buat kesepakatan antara suami dan istri ketika sebelum/baru menikah tentang perencanaan pendidikan anak – anak. Salah satunya adalah menyisihkan pendapatan untuk investasi pendidikan masa depan sejak anak lahir.

Kedua, pelajari produk–produk keuangan syariah seperti di asuransi syariah, bank syariah, reksadana syariah dan pasar modal syariah.

Ketiga, buat simulasi produk–produk investasi tersebut, seperti ada beberapa perusahaan asuransi syariah di tanah air yang menyiapkan simulasi online atau bertanya kepada kaunter pelayanan dan staf pemasaran.

Tujuannya adalah untuk mengenal produk asuransi syariah yang sudah banyak tersedia di tanah air, kemudian pilih yang paling nyaman.

Keempat, jangan ikut–ikutan teman atau percaya dengan agen yang menawarkan tanpa tahu badan hukum lembaga, jenis akad, risiko dan seluk beluk produk.

Kelima, usahakan untuk membuat perencanan investasi jangka panjang ini di lebih dari satu tempat, misalnya satu di asuransi syariah, satu lagi di pasar modal

Keenam, ingat bahwa rencana ini adalah untuk kepentingan anak – anak sekolah kelak yaitu saat ketika dibutuhkan untuk masuk TK, SD, SMP, SMA dan universitas sehingga harus masuk dalam perencanaan. Misalnya melalui standing instruction untuk pembayaran rutinnya dan adanya klausa yang jelas untuk tidak mudah menarik dana yang ada.

Ketujuh, buat perencanaan awal seperti mempelajari jenis sekolah yang akan dituju dan perkiraan biaya dalam masa tiga atau lima tahun lagi.

Kedelapan, masukkan perencanaan pendidikan ini dalam daftar impian keluarga sehingga dapat dievaluasi dari tahun ke tahun.

Kesembilan, perkirakan jarak rumah dan sekolah agar tidak terlalu jauh sehingga tidak menambah beban biaya di kemudian hari, seperti biaya transportasi.

Kesepuluh, senantiasa mendoakan anak – anak kita supaya diberikan kemudahan dalam upayanya mencari ilmu. Orangtua hanya bisa merencanakan, hanya Allah SWT yang menentukan.

Penulis memiliki tiga anak, dan sejak bayi atau kurang lebih sekitar 16 tahun ini kami sudah mengikuti program dana pendidikan syariah. Kami tidak terlalu pusing ketika saatnya mereka masuk TK, SD, SMP, SMA dan bahkan universitas.

Dalam berbagai kesempatan, diharapkan orangtua aktif menyampaikan masalah biaya pendidikan sekolah bermutu kepada pemerintah supaya ada intervensi, misalnya pemberian subsidi ke sekolah unggulan, sehingga biaya sekolah jenis ini dapat mudah dijangkau. Pengawasan juga diperlukan supaya jangan sampai sekolah dijadikan ajang bisnis.

Saat ini sudah ada model sekolah yang bermutu tetapi tidak “mahal” bahkan gratis. Seperti Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia yang merupakan sekolah binaan Kementerian Agama RI.

Sekolah yang berorientasi kepada ilmu pengetahuan dan iman dan taqwa itu diprakasai oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1996. Diharapkan ke depannya, makin banyak sekolah berkualitas seperti ini yang dibantu dengan subsidi pemerintah sehingga biaya pendidikan tidak lagi menjadi hal yang memusingkan.

Kesimpulannya adalah orangtua diharapkan untuk membuat perencanaan sedini mungkin untuk investasi pendidikan anak berorientasi syariah dan pemerintah memastikan pendidikan yang lebih bermutu dari waktu ke waktu sehingga akan lahir generasi mumpuni yang akan membawa Indonesia makin bermartabat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/03/15/080000526/pusing.dengan.biaya.sekolah.anak.

Advertisements

Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin….

anak-kaya-dan-anak-miskin-2

Dok: bisnisaceh

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Colchester – Inggris

Layyina, putri kami, 16 tahun, belakangan sangat gusar dengan pembangunan di sekitar kawasan perumahan kami di Bogor, Indonesia. Beberapa waktu yang lalu Layyina menyusun surat untuk dikirimkan ke pengembang tempat kami tinggal. Berikut draftnya (nama-nama dalam surat tidak ditampilkan di sini:

Colchester, 2 October 2016
Dear Sir,
Your housing complex is where my family have lived for 11 years and as far as I could remember we used to have only one shopping mall in the area. But when I came back this summer there was a new lovely hospital and a less lovely second mall built. The most shocking of all was a massive construction site in the area, where apparently a new mall – 78,000 m2 – is going to be built (sigh!). It is absolutely frustrating because it’s said to be the 4th biggest mall in the greater Jakarta area, just next to the existing malls.

To me, this mall is nothing but unfair market competition because it will threaten the future of traditional traders in our place, just a mile away from the location of the site, because it would avert the market from buying local produce.

The owner of this mall is probably going to get richer, the shareholders of your company would be happy to get more money in their pockets, but the traditional traders will suffer even though their tiny businesses may alleviate poverty in the villages behind the complex. Not to mention the new (almost unnecessary) developments could reduce 30% green space that is required by the regulation.

To make matters worse, roughly every Sunday there is already traffic jam because of another attractions such as massive theme park, which affects the lane passing the hospital and the construction site. Now imagine when the new mall is built (2018) – how chaotic would that little world be? Not only any of these are sustainable in any means, the theme park stood right next to a shabby village, where most of traditional traders and less fortunate people live.

I understand how your housing complex is convenient place for leisure as it is so close to Jakarta, but does anybody care about the local people’s welfare anymore? Or maybe the less fortunate people not your concern anymore? Are we actually in the hands of outrageously rich people, like yourself?

And to be honest, with infamous Jakarta traffic, it could at the worst take you 3 hours to reach our place; so marketing at its best there bla-bla-bla Mall! There are of course solutions if you want to develop, but sustainably. You could renovate existing unsold houses into bespoke sustainable ones, or maybe not to develop in front of a filthy river that its sole function now is a sewer and a water source for the poor, because what your company doing by neglecting the problems is driving away their loyal residents and just blindly expanding.

In a way, being an Indonesian in the UK is hard because you think of how much better this country is doing. Maybe the Indonesian government should take care of their people rather than the rich, or themselves.

Thank you for reading my letter.

Best regards,

Layyina Tamanni

The rich is getting richer
Secara implisit, Layyina menyebutkan bahwa kelompok yang kaya sekarang makin kaya dan yang miskin makin miskin (paragraf kedua dan ketiga). Ehmmm, apa buktinya? Dari daftar 50 Orang Terkaya Indonesia Versi Majalah Forbes 2016, nilai kekayaan dari 50 orang terkaya di Indonesia di tahun ini adalah USD 99 miliar atau Rp 1.336 triliun, naik dari tahun lalu USD 92 miliar atau Rp 1.242 triliun. Menurut daftar tersebut, posisi pertama dari 50 orang itu diduduki oleh Keluarga Hartono keturunan Tionghoa, pemilik perusahan rokok Djarum dan pemegang saham terbesar Bank Central Asia, dengan jumlah kekayaan sebesar USD 17,1 miliar atau sekitar Rp 230 triliun. Jika ditelusuri 50 orang kaya ini, hanya beberapa orang saja merupakan putra asli bangsa.

Keturunan Tionghoa yang sukses umumnya pekerja keras dan hidup hemat CLICK TO TWEET
Namun jangan prejudis dahulu, para keturunan Tionghoa yang sukses dari segi kekayaan umumnya bekerja keras, bersungguh-sungguh dan hemat. Menurut profil Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono yang bernama asli Oei Hwie Tjhong dan Oei Hwie Siang ini, bisnis rokok Djarum yang diwariskan sang ayah hampir punah karena kebakaran pabrik. Namun berkat inovasi dan jaringan, mereka bisa meluaskan pemasaran rokok tersebut ke Amerika. Walau dengan kekayaan yang berlimpah, Hartono tetap mengajarkan anak-anaknya dengan kesederhanaan. Armand Hartono sang putra mahkota contohnya, tidak boros memakai AC dan tidak segan makan di kantin murah.

Begitu juga Murdaya Poo yang bernama asli Poo Tjie Gwan atau Poo Djie Thiong yang dikenal dengan gemar bekerja lewat tengah malam bahkan sering pulang lewat matahari terbit. Istrinya Sri Hartati Murdaya yang juga seorang pengusaha, sama-sama suka bekerja keras dan memiliki motivasi yang tinggi. Saat ini Murdaya berada di dalam daftar orang terkaya nomor sembilan dengan memiliki harta sebesar USD 2,1 miliar atau sekitar Rp 28,3 triliun.

Putra asli bangsa yang pertama dalam daftar tersebut adalah Chairul Tanjung, pemilik Bank Syariah Mega Indonesia dan Trans TV yang berada dalam urutan ke-enam turun dari urutan ke-empat ketika pada tahun 2015. Chairul pernah menjadi Mahasiswa Teladan Nasional ketika belajar di Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas Indonesia.

Namun bukan hanya berhasil dalam bidang akademik tetapi juga Chairul muda sangat serius menjalankan bisnis kecil – kecilan di kampus untuk membiaya kuliahnya. Jatuh bangun tidak sekali namun berkat kegigihannya saat ini Chairul memiliki harta kekayaan berjumlah USD 4,9 miliar atau sekitar Rp 66,1 triliun.

The poor is getting poorer
Di balik semakin bertambahnya kekayaan para konglomerat, ada jutaan derita kemiskinan dan kesenjangan terjadi. Bagi Layyina, keberadaan supermarket raksasa yang akan dibangun di dalam kompleks perumahaan kami telah mengambil secara sepihak dan kejam peluang bisnis para pedagang kecil di pasar tradisional tak jauh dari lokasi mal tersebut.

Selain itu, yang tidak kalah tragis adalah kehidupan masyarakat yang tinggal di kampung sekitar perumahan tersebut. Dulunya mereka adalah pemilik tanah yang kemudian secara halus dibujuk untuk melepas ladang dan tanah warisan turun-temurun.

Setelah menjadi mantan pemilik, para penduduk kampung tersebut sempat kaya mendadak untuk sementara. Uang hasil pembebasan tanah dipakai untuk jangka pendek misalnya pergi haji, bangun rumah dan beli kendaraan. Jarang terdengar mereka gunakan untuk modal bisnis atau investasi di pendidikan.

Seiring bertambahnya kekayaan para konglomerat, bertambah pula kemiskinan dan kesenjangan CLICK TO TWEET
Profesi yang digandrungi biasanya menjadi satpam, tukang ojeg, supir angkot, supir pribadi, pembantu rumah tangga dan pemulung. Mayoritas anak – anak mereka berhenti sekolah saat tamat SD atau SMP dan menikah saat berusia muda. Selama 11 tahun, pemandangan sebelum azan Shubuh tidak pernah berubah, para pemulung akan mampir ke rumah kami mengais kotak sampah, mencari kertas, kotak dan plastik yang bisa dijual sekitar Rp. 200 – Rp. 20,000 perkilo. Sedih?

Apa yang dapat kita pelajari?
Ada satu kata kunci di balik suksesnya nama-nama yang disebut tadi yaitu itqan (bersungguh – sungguh) yang menurut HR Imam Muslim No. 1955, HR At-Tabrani No. 897 dan HR Baihaqi No. 5312: innallaha azza wajalla yuhibbu idzaa ‘amila ahadukum ‘amalan an yutqinahu yang artinya: “Allah ʽazza wa jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan.” Namun tentunya sebagai pebisnis Islami, kerja bersungguh-sungguh itu harus didampingi dengan konsep pertanggung jawaban di Hari Perhitungan di mana semua umat manusia akan diadili walau amalannya sebesar biji sawi (QS Al-Anbiya (21): 47).

Maka dari itu rambu-rambu bisnis harus senantiasa diperhatikan misalnya menghindari bisnis di bank ribawi, pabrik senjata, pabrik rokok, hotel, pabrik alkohol, dan bisnis haram atau syubhat lainnya. Di samping itu, ada hak orang lain yang harus dikeluarkan dari keuntungan bisnis, seperti zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Semoga pendirian Koperasi Syariah Dua Satu Dua yang baru-baru ini diumumkan akan menjalankan konsep itqan yang berorientasi akhirat.

Layyina juga menyinggung peranan pemerintah untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Tentu saja hal ini sesuai dengan Undang-Undang 1945 Pasal 33. Jauh sebelum 1945, Rasulullah SAW senantiasa memastikan praktik ekonomi yang berkeadilan yang harus ditaati oleh Muslim maupun Non-Muslim.

Monopoli sudah dikecam sejak jaman Nabi CLICK TO TWEET
Penguasan ekonomi untuk kepentingan suatu kelompok sudah dikecam sejak jaman Rasulullah SAW begitu juga di masa para sahabat. Misalnya Umar bin Khattab r.a. yang menegur keras ketika seseorang melakukan monopoli dan menetapkan harga seenaknya (Kitab Al-Bidayah Wan Nihayah).

Sebagai pemimpin, Rasulullah SAW dan para sahabat rajin berjalan di pasar – pasar juga senantiasa berkeliling memantau keadaan rakyatnya untuk memastikan kesejahteraan mereka. Diceritakan di dalam kitab tersebut bahwa bukan main berangnya Umar r.a. ketika Sa’ad menutup pintu istana supaya tidak mendengar keributan di pasar. Dibakarnya pintu istana itu. tepat jika Layyina mengatakan bahwa Maybe the Indonesian government should take care of their people rather than the rich, or themselves. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Read more:

MySharing

Republika

Suara Islam

Islampos

Utang Secara Syariah, Bagaimana Caranya?

aku_cinta_keuangan_syariah.jpg

by Admin on 29/03/2015

Bolehkah berutang menurut syariah?Ya, ada penjelasannya, kalaupun mau berhutang adalah dalam keadaaan darurat alias akhirnya harus berutang.

Karena, tidak ada jalan lain untuk menutupi kebutuhan yang kita perlukan selain dengan utang atau pinjaman. Lebih baik lagi, jika “harus”-nya berutang itu adalah untuk keperluan produktif seperti modal usaha, pendidikan, atau ibadah seperti haji ke Tanah Suci. Utang menurut Islam, jika untuk tujuan melunasi biaya pengobatan juga diperbolehkan.

Murniati Tamanni dan Luqyan Tamanni dalam buku “Sakinah Finance” (Tinta Media: 2014) mengatakan, “Utang menurut Islam ditempatkan sebagai suatu akad tolongmenolong, bukan hubungan komersial”. Oleh karena itu, berutang konteksnya di ranah sosial bukan ekonomis.

Dua penulis yang juga pakar keuangan syariah dari Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia ini lantas melampirkan firman Allah Swt: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya,” (QS al-Maidah [5]:2).

Plus satu hadis yang menurut dua penulis buku itu sangat relevan, Nabi Saw menegaskan, “Barang siapa membantu melonggarkan satu di antara beberapa kesulitan duniawi temannya maka Allah akan melonggarkan satu dari beberapa kesulitannya di hari kiamat, dan Allah senantiasa menolong seseorang selama seseorang itu mau menolong saudaranya,” (HT Muslim, No.4867).

Selain harus dalam keadaan kepepet, utang menurut islam juga tidak boleh menghasilkan tambahan (riba). Jika berutang Rp 100 ribu, haruslah dikembalikan sejumlah Rp 100 ribu itu pula. “Kelebihan dalam pengembalian termasuk dalam kategori riba, yang secara bahasa berarti tambahan”, kata penulis.

“Utang menurut Islam diperbolehkan hanya jika kepepet, komposisinya juga disarankan maksimal adalah 30-40% dari seluruh kewajiban rumah tangga dalam satu waktu”[su_pullquote align=”right”] “Kelebihan dalam pengembalian termasuk dalam kategori riba, yang secara bahasa berarti tambahan”[/su_pullquote]

Agak suit dipahami dalam konteks modern, kita hidup di bawah ketiak kapitalisme yang dibangun di atas pondasi ribawi. Namun, coba perhatikan firman Allah Swt dalam QS al-Baqarah [2]: 280 berikut ini semoga membantu memahaminya. “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan maka berilah tenggang waktu sampai dia memeroleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

Nah, karena utang dalam islam itu boleh tetapi dalam keadaan sangat mendesak alias kepepet, komposisinya juga menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Saran dua penulis ini, maksimal utang adalah 30-40% dari total kewajiban rumah tangga dalam satu waktu.

Sedang kepepet? Butuh utang? Nantikan artikel berikutnya tentang syarat mengambil utang menurut Islam.

Ditulis oleh ACKS, 29 Maret 2015

Ini Cara agar Keuangan Kita Berantakan

0714364Ilustrasi-rupiah-1780x390

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan, Sakinah Finance, Colchester – UK

KOMPAS.com – “Cash is King” begitulah jargon saat ini. Namun tetap saja tidak menjadi perhatian.

Bukan hanya orang dengan pendapatan kelas bawah tapi juga orang yang hidup di atas pendapatan rata–rata. Buktinya banyak yang menikmati gaya hidup dengan cashflow yang pas – pasan atau negatif.

Untuk itu, mari ikuti ulasan hari ini mengenai tujuh cara yang membuat keuangan kita berantakan. Mau coba bagaimana rasanya tidak punya uang sepeserpun di tangan? Ayo ikuti tujuh cara berikut:

1. Tinggalkan ide kuno membuat anggaran keuangan

Membuat anggaran keuangan sangat membosankan dan kadang membuang waktu dan sia–sia belaka. Apalagi jika setelah dibuat, anggaran meleset jauh dari yang direalisasikan.

Ternyata bukan hanya keluarga, para perusahaan dan pemerintah juga harus berfikir keras bagaimana supaya pendapatan dan pengeluaran yang direalisasikan sesuai dengan yang dianggarkan.

Sering kita dengar pemerintah mengeluarkan anggaran versi revisi, misalnya APBN-P, untuk memastikan supaya kegiatan pemerintah dapat menyedot anggaran yang masih tersisa atau mengepaskan yang kurang. Jadi tinggalkan saja ide kuno ini, setuju?!

Jangan putus asa dulu, ayo coba lagi. Jika keluarga punya masalah seperti ini, tentu saja normal. Ini karena hidup yang penuh dinamika dan ada yang tidak bisa diperkirakan.

Ada banyak model anggaran yang dapat dicoba, misalnya Zero Based Budgeting (ZBB), istilah bisnis moderen yang digunakan untuk mengindentifikasikan, merencanakan dan mengawasi program dan kegiatan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi.

Ketika membuat anggaran, jangan selalu melihat ke belakang karena banyak hal yang tidak relevan lagi. Fokus kepada kegiatan rumah tangga untuk setahun dan sebulan ke depan.

2. AcuhkanTagihan

Kita semua pusing kalau terlalu banyak tagihan yang datang ke rumah atau tiba–tiba meyelip di rekening online kita, membabat sisa uang di bank. Biarkan saja, toh tagihan pasti datang, kenapa pusing?

Ternyata ini bahaya, karena kalau menunggak biasanya ada denda yang harus dibayar dan bisa–bisa karena sering dapat “Collect 1, 2 atau terakhir Collect 5”. Kita dianggap sebagai nasabah kurang baik ketika proses BI Checking (pemeriksaan Bank Indonesia).

Untuk membersihkan nama dari blacklist BI bukan main susahnya dan tentu berdampak tidak baik ke depannya. Belum lagi dampak utang ketika meninggal dunia dan harta waris.

Nah kalau tidak mau dikejar–kejar penagih hutang dan demi menjaga nama baik serta amal soleh dunia akhirat pastikan tagihan hutang diberikan prioritas seperti listrik, air, handphone, pembiayaan KPR syariah, pembayaran cicilan motor atau mobil.

Membuat Standing Instruction (SI) kepada bank adalah salah satu cara praktis. Pastikan SI dibuat berdekatan dengan tanggal mendapatkan penghasilan atau gaji.

3. Marahi penagih hutang

Taktik orang yang berhutang untuk lebih galak dibandingkan dengan yang memberi hutang terkadang berhasil. Si penagih hutang akan kapok dan tidak mau datang lagi atau melupakan tagihannya. Yang berhutang akan tersenyum puas.

Tapi tunggu dulu, pikirkan siapa yang perlu ketika berhutang. Sebagian dari kita bahkan datang dengan memelas dan mengukir janji. Ternyata janji adalah sebuah tanggung jawab, seperti di dalam QS Al-Ma’idah (5): 1:

“Wahai orang–orang yang beriman! Penuhi janji–janji.”

Lihat juga di dalam QS Al-Isra’ (34):17: “Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” Jika terkenal sebagai orang pemegang janji ketika datang seratnya cashflow, kita akan mudah mendapatkan pinjaman.

4. Lalaikan persedian rumah tangga

Sebagian keluarga memilih untuk belanja kebutuhan dapur setiap pekan, sebagian lagi mendisiplikan belanja setiap bulan. Sebagian lagi tidak punya waktu khusus untuk belanja, selagi mau dan perlu, maka pergilah belanja.

Apa yang dirasakan jika tengah malam anak kita kelaparan karena susunya habis di rumah? Santai saja, kan ada swalayan buka 24 jam dekat rumah!

Sebenarnya tidak ada waktu standar yang pas untuk semua keluarga, tergantung dari jenis pendapatan yang diterima.

Yang diatur bukan hanya jadwal belanjanya tetapi penggunaannya. Biasanya kalau kita melihat bahan makanan banyak di dapur, kita akan cenderung untuk masak lebih banyak jadi jika kita termasuk tipe ini, baiknya bahan makanan dipisahkan, ada yang siap dikonsumsi harian ada yang menjadi persediaan.

Jika kita termasuk “last minute shopper” siap–siap untuk mengeluarkan duit lebih banyak ketika belanja di swalayan 24 jam. Bayangkan kalau itu terjadi dan saat itu uang sedang tidak ada di tangan.

5. Jauhi orang lain

Jika dalam masa senang, jauhi keluarga, lupakan bahwa kita akan perlu mereka. Kita tidak juga perlu bersilaturrahim dengan lembaga keuangan, toh kita bisa hidup tanpa bank syariah, asuransi syariah dan apalah namanya.

Urusi saja hidup keluarga kita, jangan hiraukan tetangga, keluarga dan lain–lain. Jangan juga bayar zakat dan sedekah, habis sudah harta nanti.

Benarkah? kita tahu bahwa hidup kita bagaikan roda, cobaan bukan hanya dalam keadaan susah tapi juga dalam keadaan senang.

Maka dari itu kita perlu berinteraksi dengan yang lain, karena sudah menjadi ketetapan Allah SWT bahwa sebagian kita adalah pelindung atau penolong kepada sebagian yang lain (QS AT-Taubah (9):71). Jika datangnya hanya ketika perlu, apa reaksi keluarga? Ingat juga ganjaran pembayar zakat dan terlebih sedekah .

6. Nikmati hidup selagi bisa

Ketika datang masa senang, lupakan apa yang akan terjadi esok, kapan lagi bisa menikmati hasil kerja kita selama ini, kalau nanti terbaring sakit tidak bisa lagi kita bersenang – senang.

Jika sudah divonis dokter punya sakit darah tinggi, tidak bisa makan macam–macam lagi.

Setuju dengan gaya hidup seperti itu? Ternyata gaya hidup seperti ini bukan mengikut sunah Rasulullah SAW. Walaupun saat di usia dewasanya hingga di akhir usianya bisa hidup lebih dari mewah tapi beliau memilih hidup sederhana.

Makanan beliau pun terseleksi dengan baik, bukan hanya halal tapi thayib.

Ternyata pengaturan cashflow yang baik berdampak kepada hidup untuk lebih disiplin dan tentu saja hidup sehat.

7. Jangan berantisipasi

Buat apa berantisipasi untuk hari esok, kan Allah SWT sudah menentukan semuanya. Hidup ini singkat, jalani saja apa yang bisa kita jalankan, biarkan hidup itu mengalir, apa yang ada hari ini mari kita nikmati, untuk besok kita pikirkan lagi.

Jika standar hidup seperti itu yang kita pilih, kecemasan tentu akan datang silih berganti. Bukan hanya kita, tetapi semua anggota keluarga kita juga sibuk bertanya bagaimana nanti bayar SPP akhir bulan ini, apa solusi bayar kontrakan rumah bulan depan, jalan keluarnya apa jika nanti dokter suruh bayar obat dan banyak lagi lainnya.

Antisipasi untuk menjaga cashflow supaya dalam keadaan lancar sangat penting, dan berusaha menyiapkan keturunan dalam keadaan sehat dan berkecukupan termasuk yang diperintahkan Allah SWT dan RasulNya.

Lihat QS An-Nisaa’ (4):9 “Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka.”Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Diterbitkan di Bisnis Keuangan, Kompas, Ahad, 29 Mei 2016

Berapa Gajimu, Wahai (Pekerja) Kartini Rumah Tangga?

ilustrasi kartini rumah tangga-2.png

Desain Grafis: Rijal Al Huda

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan Sakinah Finance, Colchester-Inggris

Tulisan Sakinah Finance kali ini untuk mengingatkan kita semua atas peran ibu, istri, atau wanita rumah tangga, yang tidak pernah “digaji” tapi tetap ikhlas menjalankan tugas kerumahtanggaan. Termasuk menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama (Penggalan isi surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Gaji Ibu Rumah Tangga
Berapa sebenarnya “gaji” ibu rumah tangga? Sebuah situs bernama salary.com membahas tentang gaji, masalah pekerjaan, termasuk membuat survei-survei dengan rujukan taraf hidup di Amerika dan Kanada. Situs ini dikenal dengan gajimu.com di Indonesia.
Pada tahun 2014, tim salary.com membuat survei tentang gaji seorang ibu/istri rumah tangga di Amerika dan Kanada. Menurut situs ini, seorang ibu/istri rumah tangga rata-rata bekerja selama 96,5 “jam kerja” per minggu dengan berbagai jenis posisi yang dimiliki, dari tukang masak, tukang bersih, psikolog, guru, sopir, manajer persediaan, hingga direktur.

Jika dihitung per tahun dengan standar gaji standar normal 40 jam per minggu dan standar gaji lembur 56,5 jam per minggu maka didapati angka USD 118,905 atau Rp 1,5 miliar dengan kurs saat ini. Bayangkan gaji itu naik dua persen dari tahun 2013, jadi bisa diperkirakan berapa gajinya di tahun 2015 dan 2016!

Hitungan di atas adalah untuk ibu rumah tangga “saja”. Bagaimana dengan ibu/istri rumah tangga yang juga bekerja? Gajinya diperkirakan sebesar USD 70,107 atau sekitar Rp 920 juta dengan bekerja selama 59,4 “jam kerja” per minggu. “Jam kerja” ini tentu saja di luar dari jam kerja 40 jam per minggu di tempat kerja dan “gaji” ini di luar gaji yang dibawa pulang ke rumah oleh seorang ibu.

Kali ini, sahabat Sakinah Finance, Ibu Dewi Febriani, MAk, seorang dosen STEI Tazkia, membantu membuat survei yang sama tentang berapa “gaji” ibu rumah tangga di Indonesia, khususnya di daerah Bogor dan sekitar Jawa Barat berpatokan dengan gaji standar 2016 dari berbagai sumber.

Skenario ini adalah untuk ibu yang tinggal bersama suami dan dua anak, hanya dengan dua anak atau hanya dengan keluarga.

Dengan jumlah waktu “kerja” 636 jam per bulan, seharusnya sang ibu “digaji” sebesar Rp 8,2 juta per bulan ditambah upah lembur sebesar Rp 5,6 juta per bulan, total Rp 13,8 per bulan atau Rp 174 juta per tahun!

Hitungan ini menurut UU 13/2003 Pasal 77 ayat (2) yang menetapkan batasan kerja 40 jam per minggu dalam lima atau enam hari kerja, dan selebihnya dianggap lembur, gaji per tahun, termasuk THR. Jadi kita sekarang bisa menebak berapa “gaji” seorang ibu rumah tangga seharusnya.

Belum lagi kita bicara soal skenario yang kedua, di mana ibu rumah tangga yang juga bekerja membantu mencari nafkah, ada dua “gaji” yang didapatnya. Ada “gaji” ibu rumah tangga dengan lama kerja 140 jam per bulan dengan standar gaji sebesar Rp 4,5 juta per bulan atau Rp 59 juta per tahun! Ditambah satu lagi gaji yang didapat dari perusahaan atau instansi tempat sang ibu bekerja.

ilustrasi kartini karir-3.png
Desain Grafis: Rijal Al Huda

Namun, sebenarnya bukan gaji yang diharapkan, tetapi ciuman dan pelukan hangat; bukan upah lembur yang diminta, tetapi doa agar senantiasa menjadi bagian sukses dan bahagia keluarga, dan kelak akan berkumpul di surga; bukan THR yang ditunggu – tunggu, tetapi penghargaan dari suami, anak – anak, sanak keluarga dan masyarakat tentang posisi ibu rumah tangga. Ketika ditanya, kerja apa istrimu? kerja apa ibumu? Seharusnya tidak ada lagi yang menjawab dengan merendah diri apalagi miris: HANYA ibu rumah tangga!!!

Itulah sebenarnya GAJI IBU RUMAH TANGGA. Layak memang, ketika ditanya siapakah orang paling berhak untuk berbakti, Rasulullah menjawab: ibumu…ibumu…ibumu…kemudian ayahmu (HR Bukhari No. 5514, Tirmidzi No. 1819, Muslim No. 4622).

Dengan segala tanggung jawab di atas, terpulang bagi para kartini untuk menentukan pilihan hidupnya, apakah menjadi kartini rumah tangga atau menjadi kartini karier yang juga tetap tidak bisa lepas dari posisi pertamanya.

Mengutip tausiah Ustaz Shaifurrokhman Mahfudz, Lc, MSH, seorang pakar kajian keluarga, bahwa pada dasarnya tugas mencari nafkah ada di pundak suami sebagai pemimpin (qawwam) keluarga. Namun, istri yang mau mengorbankan diri untuk bekerja dianggap memberi sedekah kepada keluarga sepanjang tetap mematuhi kepemimpinan (qawwamah) suami.

Apa pun pilihannya, hendaknya para kartini tetap dengan niat tulus ikhlas untuk berbuat semampunya, termasuk mengurus keuangan keluarga. Sesungguhnya setiap niat baik dibalas dengan 1 kebaikan dan setiap perbuatan baik dibalas 10 hingga 700 kebaikan (HR Bukhari No. 7062, Muslim No. 129). Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah! **

Artikel diterbitkan di: Bisnis Keuangan, Kompas

Mana yang Halal dan Mana yang Thayib?

halal-thayib

Dok: indriummistore.wordpress.com

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan Sakinah Finance, Colchester-Inggris

Saat ini edukasi tentang makanan halal makin gencar diadakan. Media sosial pun tidak ketinggalan. Ada satu situs Must Be Halal yang saat ini mempunyai 20 ribuan anggota, aktif membahas kehalalan produk di tanah air.

Salah satu narasumber media ini adalah seorang Auditor Lembaga Pengajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM), Majlis Ulama Indonesia – Yogyakarta, Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P., PhD. Konten dari LPPOM memang sangat diperlukan mengingat tugas dari LPPOM itu sendiri adalah mengkaji dan mengawasi makanan, minuman dan obat–obatan termasuk kosmetika yang beredar di Indonesia, apakah telah memenuhi syarat halal atau tidak.

Seperti yang telah dibahas di kolom Sakinah Finance pekan lalu sebelumnya yaitu Makanan dan Keuangan Keluarga, ada pesan khusus di ujung artikel itu, ternyata halal saja tidak cukup, thayyib juga perlu diperhatikan. Kita lihat apa itu thayyib (baik) hari ini.

Definisi halal dan thayyib

Dalam Surah Al-Baqarah (2): 168 dan Al-Maaidah (5): 88 disebutkan dua kata ‘halal’ dan ‘thayyib’. Di surah Al-Baqarah, makna ayat adalah dianjurkan bagi manusia untuk memakan apa–apa saja di muka bumi ini sepanjang halal dan thayyib.

Sedangkan di surah Al-Maaidah, ayat tersebut melarang manusia yang beriman untuk tidak terlalu membatasi dirinya dengan kehidupan di dunia. Manusia tetap dianjurkan untuk menikmati kehidupan layak yang dicontohkan Rasulullah SAW (menjadi sunah) salah satunya adalah makan apa saja sepanjang halal dan thayyib.

Ayat-ayat yang berkenaan dengan halal yaitu thayib tersebut ditafsirkan sebagai sehat, bergizi, bermanfaat untuk fisik dan akal manusia (Tafsir Ibnu Katsir).

Contoh halal dan thayyib

Dari segi makanan, makanan halal adalah semuanya kecuali yang dilarang yang dinyatakan di Al-Qur’an dan hadits. Contohnya adalah bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah (QS Al-Baqarah (2):173; QS Al-Maaidah (5):3).

Minuman keras (alkhomru) secara tegas juga dilarang (QS Al-Maaidah (5):90), dan segala makanan yang buruk (QS Al-Araf (7):157) termasuk al-khabaaits atau sesuatu yang menjijikan, berbahaya dan haram. Begitu juga hewan yang berkuku tajam dan bertaring (HR Muslim No. 1933), serta pemakan kotoran (jalallah) (HR Abu Daud No. 3785; Tirmidzi No.1823; dan Ibnu Majah: 3189).

Selanjutnya hidup dari rezeki yang thayyib disebutkan di QS Al-Baqarah (2):172 menjadi anjuran bagi orang yang beriman. Sedangkan contoh-contoh makanan yang thayyib atau bernutrisi tinggi dan memberikan dampak kesehatan banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an seperti hewan ternak beserta susunya, ikan segar, jagung, zaitun, kurma, anggur, madu, dan tumbuh–tumbuhan lainnya, termasuk jintan hitam yang disebutkan dalam sebuah hadits.

Walaupun umat Islam diperintahkan untuk memakan dari rezeki yang halal dan thayyib, tetap saja harus seimbang (hadits tentang cara makan Rasulullah SAW) dan tidak boleh berlebihan seperti yang tertera di dalam QS Taha (20):81 yang artinya: “Makanlah dari rezeki yang baik – baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampau batas…”

Panduan makanan thayyib

Semakin canggihnya teknologi, banyak makanan instan yang diproduksi seperti ayam broiler dan telurnya, susu kaleng, beras non-organik, ikan yang diawetkan, dan sayur–sayuran yang berpestisida tinggi, beras non-organik, buah–buahan yang dililin, makanan ber-MSG dan makanan instan lainnya.

Hal ini jauh beda dengan ayam kampung, ikan segar, susu segar, beras organik dan sayur – sayuran organik.

Seorang penulis, Michael Pollan dalam bukunya Food Rules menyatakan bahwa ada 10 petunjuk memilih makanan sehat:

1. Jangan makan apapun yang nenek moyang kita tidak mengakuinya sebagai makanan.

2. Makan tumbuh–tumbuhan terutama daun–daunan.

3. Makan makanan yang kelak akan basi.

4. Keluar dari supermarket secepat mungkin untuk menghindari makanan instan.

5. Bukan makanan jika dia datangnya lewat jendela mobil.

6. Bukan makanan jika disebut dengan nama yang sama di semua bahasa.

7. Makanlah hewan yang memakan makanan yang baik.

8. Makan junk-food asal buatan sendiri.

9. Jangan sarapan pagi dengan sereal yang dapat merubah warna susu.

10. Jangan remehkan ikan kecil yang berprotein tinggi.

Petunjuk dari Michael Pollan di atas sudah cukup baik yang dapat menambah pemahaman kita terhadap makanan yang halal dan thayyib menurut Al-Qur’an dan Hadits.

Murah atau mahal

Dari panduan di atas tentu saja para keluarga sangat peka dengan harga karena menyangkut soal anggaran keuangan keluarga. Sebenarnya tidak semua yang baik dan sehat itu mahal, misalnya memakan buah–buahan lokal seperti papaya, nenas, rambutan, mangga lebih baik dan murah dari apel yang dililin atau mangga dalam kemasan kaleng.

Namun tidak dipungkiri, sebagian besar makanan organik dipasang dengan harga tinggi karena waktu produksinya lebih lama dan memakai energi manusia lebih banyak.

Sebagai panduan keluarga, usahakan sebisanya untuk mengkonsumsi makanan halal dan thayyib dengan menggunakan anggaran yang ada. Jika tidak mampu, jangan kemudian terpaksa berhutang hanya ingin memastikan makanan yang dikonsumsi harus organik misalnya.

Jangan lupa niat dan doa, karena hanya Allah SWT jualah yang akan memastikan konsumsi keluarga kita senantiasa halal dan thayyib. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Artikel ini diterbitkan di: Bisnis Keuangan, Kompas