Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin….

anak-kaya-dan-anak-miskin-2

Dok: bisnisaceh

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Colchester – Inggris

Layyina, putri kami, 16 tahun, belakangan sangat gusar dengan pembangunan di sekitar kawasan perumahan kami di Bogor, Indonesia. Beberapa waktu yang lalu Layyina menyusun surat untuk dikirimkan ke pengembang tempat kami tinggal. Berikut draftnya (nama-nama dalam surat tidak ditampilkan di sini:

Colchester, 2 October 2016
Dear Sir,
Your housing complex is where my family have lived for 11 years and as far as I could remember we used to have only one shopping mall in the area. But when I came back this summer there was a new lovely hospital and a less lovely second mall built. The most shocking of all was a massive construction site in the area, where apparently a new mall – 78,000 m2 – is going to be built (sigh!). It is absolutely frustrating because it’s said to be the 4th biggest mall in the greater Jakarta area, just next to the existing malls.

To me, this mall is nothing but unfair market competition because it will threaten the future of traditional traders in our place, just a mile away from the location of the site, because it would avert the market from buying local produce.

The owner of this mall is probably going to get richer, the shareholders of your company would be happy to get more money in their pockets, but the traditional traders will suffer even though their tiny businesses may alleviate poverty in the villages behind the complex. Not to mention the new (almost unnecessary) developments could reduce 30% green space that is required by the regulation.

To make matters worse, roughly every Sunday there is already traffic jam because of another attractions such as massive theme park, which affects the lane passing the hospital and the construction site. Now imagine when the new mall is built (2018) – how chaotic would that little world be? Not only any of these are sustainable in any means, the theme park stood right next to a shabby village, where most of traditional traders and less fortunate people live.

I understand how your housing complex is convenient place for leisure as it is so close to Jakarta, but does anybody care about the local people’s welfare anymore? Or maybe the less fortunate people not your concern anymore? Are we actually in the hands of outrageously rich people, like yourself?

And to be honest, with infamous Jakarta traffic, it could at the worst take you 3 hours to reach our place; so marketing at its best there bla-bla-bla Mall! There are of course solutions if you want to develop, but sustainably. You could renovate existing unsold houses into bespoke sustainable ones, or maybe not to develop in front of a filthy river that its sole function now is a sewer and a water source for the poor, because what your company doing by neglecting the problems is driving away their loyal residents and just blindly expanding.

In a way, being an Indonesian in the UK is hard because you think of how much better this country is doing. Maybe the Indonesian government should take care of their people rather than the rich, or themselves.

Thank you for reading my letter.

Best regards,

Layyina Tamanni

The rich is getting richer
Secara implisit, Layyina menyebutkan bahwa kelompok yang kaya sekarang makin kaya dan yang miskin makin miskin (paragraf kedua dan ketiga). Ehmmm, apa buktinya? Dari daftar 50 Orang Terkaya Indonesia Versi Majalah Forbes 2016, nilai kekayaan dari 50 orang terkaya di Indonesia di tahun ini adalah USD 99 miliar atau Rp 1.336 triliun, naik dari tahun lalu USD 92 miliar atau Rp 1.242 triliun. Menurut daftar tersebut, posisi pertama dari 50 orang itu diduduki oleh Keluarga Hartono keturunan Tionghoa, pemilik perusahan rokok Djarum dan pemegang saham terbesar Bank Central Asia, dengan jumlah kekayaan sebesar USD 17,1 miliar atau sekitar Rp 230 triliun. Jika ditelusuri 50 orang kaya ini, hanya beberapa orang saja merupakan putra asli bangsa.

Keturunan Tionghoa yang sukses umumnya pekerja keras dan hidup hemat CLICK TO TWEET
Namun jangan prejudis dahulu, para keturunan Tionghoa yang sukses dari segi kekayaan umumnya bekerja keras, bersungguh-sungguh dan hemat. Menurut profil Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono yang bernama asli Oei Hwie Tjhong dan Oei Hwie Siang ini, bisnis rokok Djarum yang diwariskan sang ayah hampir punah karena kebakaran pabrik. Namun berkat inovasi dan jaringan, mereka bisa meluaskan pemasaran rokok tersebut ke Amerika. Walau dengan kekayaan yang berlimpah, Hartono tetap mengajarkan anak-anaknya dengan kesederhanaan. Armand Hartono sang putra mahkota contohnya, tidak boros memakai AC dan tidak segan makan di kantin murah.

Begitu juga Murdaya Poo yang bernama asli Poo Tjie Gwan atau Poo Djie Thiong yang dikenal dengan gemar bekerja lewat tengah malam bahkan sering pulang lewat matahari terbit. Istrinya Sri Hartati Murdaya yang juga seorang pengusaha, sama-sama suka bekerja keras dan memiliki motivasi yang tinggi. Saat ini Murdaya berada di dalam daftar orang terkaya nomor sembilan dengan memiliki harta sebesar USD 2,1 miliar atau sekitar Rp 28,3 triliun.

Putra asli bangsa yang pertama dalam daftar tersebut adalah Chairul Tanjung, pemilik Bank Syariah Mega Indonesia dan Trans TV yang berada dalam urutan ke-enam turun dari urutan ke-empat ketika pada tahun 2015. Chairul pernah menjadi Mahasiswa Teladan Nasional ketika belajar di Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas Indonesia.

Namun bukan hanya berhasil dalam bidang akademik tetapi juga Chairul muda sangat serius menjalankan bisnis kecil – kecilan di kampus untuk membiaya kuliahnya. Jatuh bangun tidak sekali namun berkat kegigihannya saat ini Chairul memiliki harta kekayaan berjumlah USD 4,9 miliar atau sekitar Rp 66,1 triliun.

The poor is getting poorer
Di balik semakin bertambahnya kekayaan para konglomerat, ada jutaan derita kemiskinan dan kesenjangan terjadi. Bagi Layyina, keberadaan supermarket raksasa yang akan dibangun di dalam kompleks perumahaan kami telah mengambil secara sepihak dan kejam peluang bisnis para pedagang kecil di pasar tradisional tak jauh dari lokasi mal tersebut.

Selain itu, yang tidak kalah tragis adalah kehidupan masyarakat yang tinggal di kampung sekitar perumahan tersebut. Dulunya mereka adalah pemilik tanah yang kemudian secara halus dibujuk untuk melepas ladang dan tanah warisan turun-temurun.

Setelah menjadi mantan pemilik, para penduduk kampung tersebut sempat kaya mendadak untuk sementara. Uang hasil pembebasan tanah dipakai untuk jangka pendek misalnya pergi haji, bangun rumah dan beli kendaraan. Jarang terdengar mereka gunakan untuk modal bisnis atau investasi di pendidikan.

Seiring bertambahnya kekayaan para konglomerat, bertambah pula kemiskinan dan kesenjangan CLICK TO TWEET
Profesi yang digandrungi biasanya menjadi satpam, tukang ojeg, supir angkot, supir pribadi, pembantu rumah tangga dan pemulung. Mayoritas anak – anak mereka berhenti sekolah saat tamat SD atau SMP dan menikah saat berusia muda. Selama 11 tahun, pemandangan sebelum azan Shubuh tidak pernah berubah, para pemulung akan mampir ke rumah kami mengais kotak sampah, mencari kertas, kotak dan plastik yang bisa dijual sekitar Rp. 200 – Rp. 20,000 perkilo. Sedih?

Apa yang dapat kita pelajari?
Ada satu kata kunci di balik suksesnya nama-nama yang disebut tadi yaitu itqan (bersungguh – sungguh) yang menurut HR Imam Muslim No. 1955, HR At-Tabrani No. 897 dan HR Baihaqi No. 5312: innallaha azza wajalla yuhibbu idzaa ‘amila ahadukum ‘amalan an yutqinahu yang artinya: “Allah ʽazza wa jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan.” Namun tentunya sebagai pebisnis Islami, kerja bersungguh-sungguh itu harus didampingi dengan konsep pertanggung jawaban di Hari Perhitungan di mana semua umat manusia akan diadili walau amalannya sebesar biji sawi (QS Al-Anbiya (21): 47).

Maka dari itu rambu-rambu bisnis harus senantiasa diperhatikan misalnya menghindari bisnis di bank ribawi, pabrik senjata, pabrik rokok, hotel, pabrik alkohol, dan bisnis haram atau syubhat lainnya. Di samping itu, ada hak orang lain yang harus dikeluarkan dari keuntungan bisnis, seperti zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Semoga pendirian Koperasi Syariah Dua Satu Dua yang baru-baru ini diumumkan akan menjalankan konsep itqan yang berorientasi akhirat.

Layyina juga menyinggung peranan pemerintah untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Tentu saja hal ini sesuai dengan Undang-Undang 1945 Pasal 33. Jauh sebelum 1945, Rasulullah SAW senantiasa memastikan praktik ekonomi yang berkeadilan yang harus ditaati oleh Muslim maupun Non-Muslim.

Monopoli sudah dikecam sejak jaman Nabi CLICK TO TWEET
Penguasan ekonomi untuk kepentingan suatu kelompok sudah dikecam sejak jaman Rasulullah SAW begitu juga di masa para sahabat. Misalnya Umar bin Khattab r.a. yang menegur keras ketika seseorang melakukan monopoli dan menetapkan harga seenaknya (Kitab Al-Bidayah Wan Nihayah).

Sebagai pemimpin, Rasulullah SAW dan para sahabat rajin berjalan di pasar – pasar juga senantiasa berkeliling memantau keadaan rakyatnya untuk memastikan kesejahteraan mereka. Diceritakan di dalam kitab tersebut bahwa bukan main berangnya Umar r.a. ketika Sa’ad menutup pintu istana supaya tidak mendengar keributan di pasar. Dibakarnya pintu istana itu. tepat jika Layyina mengatakan bahwa Maybe the Indonesian government should take care of their people rather than the rich, or themselves. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Read more:

MySharing

Republika

Suara Islam

Islampos

Utang Secara Syariah, Bagaimana Caranya?

aku_cinta_keuangan_syariah.jpg

by Admin on 29/03/2015

Bolehkah berutang menurut syariah?Ya, ada penjelasannya, kalaupun mau berhutang adalah dalam keadaaan darurat alias akhirnya harus berutang.

Karena, tidak ada jalan lain untuk menutupi kebutuhan yang kita perlukan selain dengan utang atau pinjaman. Lebih baik lagi, jika “harus”-nya berutang itu adalah untuk keperluan produktif seperti modal usaha, pendidikan, atau ibadah seperti haji ke Tanah Suci. Utang menurut Islam, jika untuk tujuan melunasi biaya pengobatan juga diperbolehkan.

Murniati Tamanni dan Luqyan Tamanni dalam buku “Sakinah Finance” (Tinta Media: 2014) mengatakan, “Utang menurut Islam ditempatkan sebagai suatu akad tolongmenolong, bukan hubungan komersial”. Oleh karena itu, berutang konteksnya di ranah sosial bukan ekonomis.

Dua penulis yang juga pakar keuangan syariah dari Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia ini lantas melampirkan firman Allah Swt: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya,” (QS al-Maidah [5]:2).

Plus satu hadis yang menurut dua penulis buku itu sangat relevan, Nabi Saw menegaskan, “Barang siapa membantu melonggarkan satu di antara beberapa kesulitan duniawi temannya maka Allah akan melonggarkan satu dari beberapa kesulitannya di hari kiamat, dan Allah senantiasa menolong seseorang selama seseorang itu mau menolong saudaranya,” (HT Muslim, No.4867).

Selain harus dalam keadaan kepepet, utang menurut islam juga tidak boleh menghasilkan tambahan (riba). Jika berutang Rp 100 ribu, haruslah dikembalikan sejumlah Rp 100 ribu itu pula. “Kelebihan dalam pengembalian termasuk dalam kategori riba, yang secara bahasa berarti tambahan”, kata penulis.

“Utang menurut Islam diperbolehkan hanya jika kepepet, komposisinya juga disarankan maksimal adalah 30-40% dari seluruh kewajiban rumah tangga dalam satu waktu”[su_pullquote align=”right”] “Kelebihan dalam pengembalian termasuk dalam kategori riba, yang secara bahasa berarti tambahan”[/su_pullquote]

Agak suit dipahami dalam konteks modern, kita hidup di bawah ketiak kapitalisme yang dibangun di atas pondasi ribawi. Namun, coba perhatikan firman Allah Swt dalam QS al-Baqarah [2]: 280 berikut ini semoga membantu memahaminya. “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan maka berilah tenggang waktu sampai dia memeroleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

Nah, karena utang dalam islam itu boleh tetapi dalam keadaan sangat mendesak alias kepepet, komposisinya juga menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Saran dua penulis ini, maksimal utang adalah 30-40% dari total kewajiban rumah tangga dalam satu waktu.

Sedang kepepet? Butuh utang? Nantikan artikel berikutnya tentang syarat mengambil utang menurut Islam.

Ditulis oleh ACKS, 29 Maret 2015

Ini Cara agar Keuangan Kita Berantakan

0714364Ilustrasi-rupiah-1780x390

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan, Sakinah Finance, Colchester – UK

KOMPAS.com – “Cash is King” begitulah jargon saat ini. Namun tetap saja tidak menjadi perhatian.

Bukan hanya orang dengan pendapatan kelas bawah tapi juga orang yang hidup di atas pendapatan rata–rata. Buktinya banyak yang menikmati gaya hidup dengan cashflow yang pas – pasan atau negatif.

Untuk itu, mari ikuti ulasan hari ini mengenai tujuh cara yang membuat keuangan kita berantakan. Mau coba bagaimana rasanya tidak punya uang sepeserpun di tangan? Ayo ikuti tujuh cara berikut:

1. Tinggalkan ide kuno membuat anggaran keuangan

Membuat anggaran keuangan sangat membosankan dan kadang membuang waktu dan sia–sia belaka. Apalagi jika setelah dibuat, anggaran meleset jauh dari yang direalisasikan.

Ternyata bukan hanya keluarga, para perusahaan dan pemerintah juga harus berfikir keras bagaimana supaya pendapatan dan pengeluaran yang direalisasikan sesuai dengan yang dianggarkan.

Sering kita dengar pemerintah mengeluarkan anggaran versi revisi, misalnya APBN-P, untuk memastikan supaya kegiatan pemerintah dapat menyedot anggaran yang masih tersisa atau mengepaskan yang kurang. Jadi tinggalkan saja ide kuno ini, setuju?!

Jangan putus asa dulu, ayo coba lagi. Jika keluarga punya masalah seperti ini, tentu saja normal. Ini karena hidup yang penuh dinamika dan ada yang tidak bisa diperkirakan.

Ada banyak model anggaran yang dapat dicoba, misalnya Zero Based Budgeting (ZBB), istilah bisnis moderen yang digunakan untuk mengindentifikasikan, merencanakan dan mengawasi program dan kegiatan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi.

Ketika membuat anggaran, jangan selalu melihat ke belakang karena banyak hal yang tidak relevan lagi. Fokus kepada kegiatan rumah tangga untuk setahun dan sebulan ke depan.

2. AcuhkanTagihan

Kita semua pusing kalau terlalu banyak tagihan yang datang ke rumah atau tiba–tiba meyelip di rekening online kita, membabat sisa uang di bank. Biarkan saja, toh tagihan pasti datang, kenapa pusing?

Ternyata ini bahaya, karena kalau menunggak biasanya ada denda yang harus dibayar dan bisa–bisa karena sering dapat “Collect 1, 2 atau terakhir Collect 5”. Kita dianggap sebagai nasabah kurang baik ketika proses BI Checking (pemeriksaan Bank Indonesia).

Untuk membersihkan nama dari blacklist BI bukan main susahnya dan tentu berdampak tidak baik ke depannya. Belum lagi dampak utang ketika meninggal dunia dan harta waris.

Nah kalau tidak mau dikejar–kejar penagih hutang dan demi menjaga nama baik serta amal soleh dunia akhirat pastikan tagihan hutang diberikan prioritas seperti listrik, air, handphone, pembiayaan KPR syariah, pembayaran cicilan motor atau mobil.

Membuat Standing Instruction (SI) kepada bank adalah salah satu cara praktis. Pastikan SI dibuat berdekatan dengan tanggal mendapatkan penghasilan atau gaji.

3. Marahi penagih hutang

Taktik orang yang berhutang untuk lebih galak dibandingkan dengan yang memberi hutang terkadang berhasil. Si penagih hutang akan kapok dan tidak mau datang lagi atau melupakan tagihannya. Yang berhutang akan tersenyum puas.

Tapi tunggu dulu, pikirkan siapa yang perlu ketika berhutang. Sebagian dari kita bahkan datang dengan memelas dan mengukir janji. Ternyata janji adalah sebuah tanggung jawab, seperti di dalam QS Al-Ma’idah (5): 1:

“Wahai orang–orang yang beriman! Penuhi janji–janji.”

Lihat juga di dalam QS Al-Isra’ (34):17: “Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” Jika terkenal sebagai orang pemegang janji ketika datang seratnya cashflow, kita akan mudah mendapatkan pinjaman.

4. Lalaikan persedian rumah tangga

Sebagian keluarga memilih untuk belanja kebutuhan dapur setiap pekan, sebagian lagi mendisiplikan belanja setiap bulan. Sebagian lagi tidak punya waktu khusus untuk belanja, selagi mau dan perlu, maka pergilah belanja.

Apa yang dirasakan jika tengah malam anak kita kelaparan karena susunya habis di rumah? Santai saja, kan ada swalayan buka 24 jam dekat rumah!

Sebenarnya tidak ada waktu standar yang pas untuk semua keluarga, tergantung dari jenis pendapatan yang diterima.

Yang diatur bukan hanya jadwal belanjanya tetapi penggunaannya. Biasanya kalau kita melihat bahan makanan banyak di dapur, kita akan cenderung untuk masak lebih banyak jadi jika kita termasuk tipe ini, baiknya bahan makanan dipisahkan, ada yang siap dikonsumsi harian ada yang menjadi persediaan.

Jika kita termasuk “last minute shopper” siap–siap untuk mengeluarkan duit lebih banyak ketika belanja di swalayan 24 jam. Bayangkan kalau itu terjadi dan saat itu uang sedang tidak ada di tangan.

5. Jauhi orang lain

Jika dalam masa senang, jauhi keluarga, lupakan bahwa kita akan perlu mereka. Kita tidak juga perlu bersilaturrahim dengan lembaga keuangan, toh kita bisa hidup tanpa bank syariah, asuransi syariah dan apalah namanya.

Urusi saja hidup keluarga kita, jangan hiraukan tetangga, keluarga dan lain–lain. Jangan juga bayar zakat dan sedekah, habis sudah harta nanti.

Benarkah? kita tahu bahwa hidup kita bagaikan roda, cobaan bukan hanya dalam keadaan susah tapi juga dalam keadaan senang.

Maka dari itu kita perlu berinteraksi dengan yang lain, karena sudah menjadi ketetapan Allah SWT bahwa sebagian kita adalah pelindung atau penolong kepada sebagian yang lain (QS AT-Taubah (9):71). Jika datangnya hanya ketika perlu, apa reaksi keluarga? Ingat juga ganjaran pembayar zakat dan terlebih sedekah .

6. Nikmati hidup selagi bisa

Ketika datang masa senang, lupakan apa yang akan terjadi esok, kapan lagi bisa menikmati hasil kerja kita selama ini, kalau nanti terbaring sakit tidak bisa lagi kita bersenang – senang.

Jika sudah divonis dokter punya sakit darah tinggi, tidak bisa makan macam–macam lagi.

Setuju dengan gaya hidup seperti itu? Ternyata gaya hidup seperti ini bukan mengikut sunah Rasulullah SAW. Walaupun saat di usia dewasanya hingga di akhir usianya bisa hidup lebih dari mewah tapi beliau memilih hidup sederhana.

Makanan beliau pun terseleksi dengan baik, bukan hanya halal tapi thayib.

Ternyata pengaturan cashflow yang baik berdampak kepada hidup untuk lebih disiplin dan tentu saja hidup sehat.

7. Jangan berantisipasi

Buat apa berantisipasi untuk hari esok, kan Allah SWT sudah menentukan semuanya. Hidup ini singkat, jalani saja apa yang bisa kita jalankan, biarkan hidup itu mengalir, apa yang ada hari ini mari kita nikmati, untuk besok kita pikirkan lagi.

Jika standar hidup seperti itu yang kita pilih, kecemasan tentu akan datang silih berganti. Bukan hanya kita, tetapi semua anggota keluarga kita juga sibuk bertanya bagaimana nanti bayar SPP akhir bulan ini, apa solusi bayar kontrakan rumah bulan depan, jalan keluarnya apa jika nanti dokter suruh bayar obat dan banyak lagi lainnya.

Antisipasi untuk menjaga cashflow supaya dalam keadaan lancar sangat penting, dan berusaha menyiapkan keturunan dalam keadaan sehat dan berkecukupan termasuk yang diperintahkan Allah SWT dan RasulNya.

Lihat QS An-Nisaa’ (4):9 “Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka.”Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Diterbitkan di Bisnis Keuangan, Kompas, Ahad, 29 Mei 2016

Berapa Gajimu, Wahai (Pekerja) Kartini Rumah Tangga?

ilustrasi kartini rumah tangga-2.png

Desain Grafis: Rijal Al Huda

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan Sakinah Finance, Colchester-Inggris

Tulisan Sakinah Finance kali ini untuk mengingatkan kita semua atas peran ibu, istri, atau wanita rumah tangga, yang tidak pernah “digaji” tapi tetap ikhlas menjalankan tugas kerumahtanggaan. Termasuk menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama (Penggalan isi surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Gaji Ibu Rumah Tangga
Berapa sebenarnya “gaji” ibu rumah tangga? Sebuah situs bernama salary.com membahas tentang gaji, masalah pekerjaan, termasuk membuat survei-survei dengan rujukan taraf hidup di Amerika dan Kanada. Situs ini dikenal dengan gajimu.com di Indonesia.
Pada tahun 2014, tim salary.com membuat survei tentang gaji seorang ibu/istri rumah tangga di Amerika dan Kanada. Menurut situs ini, seorang ibu/istri rumah tangga rata-rata bekerja selama 96,5 “jam kerja” per minggu dengan berbagai jenis posisi yang dimiliki, dari tukang masak, tukang bersih, psikolog, guru, sopir, manajer persediaan, hingga direktur.

Jika dihitung per tahun dengan standar gaji standar normal 40 jam per minggu dan standar gaji lembur 56,5 jam per minggu maka didapati angka USD 118,905 atau Rp 1,5 miliar dengan kurs saat ini. Bayangkan gaji itu naik dua persen dari tahun 2013, jadi bisa diperkirakan berapa gajinya di tahun 2015 dan 2016!

Hitungan di atas adalah untuk ibu rumah tangga “saja”. Bagaimana dengan ibu/istri rumah tangga yang juga bekerja? Gajinya diperkirakan sebesar USD 70,107 atau sekitar Rp 920 juta dengan bekerja selama 59,4 “jam kerja” per minggu. “Jam kerja” ini tentu saja di luar dari jam kerja 40 jam per minggu di tempat kerja dan “gaji” ini di luar gaji yang dibawa pulang ke rumah oleh seorang ibu.

Kali ini, sahabat Sakinah Finance, Ibu Dewi Febriani, MAk, seorang dosen STEI Tazkia, membantu membuat survei yang sama tentang berapa “gaji” ibu rumah tangga di Indonesia, khususnya di daerah Bogor dan sekitar Jawa Barat berpatokan dengan gaji standar 2016 dari berbagai sumber.

Skenario ini adalah untuk ibu yang tinggal bersama suami dan dua anak, hanya dengan dua anak atau hanya dengan keluarga.

Dengan jumlah waktu “kerja” 636 jam per bulan, seharusnya sang ibu “digaji” sebesar Rp 8,2 juta per bulan ditambah upah lembur sebesar Rp 5,6 juta per bulan, total Rp 13,8 per bulan atau Rp 174 juta per tahun!

Hitungan ini menurut UU 13/2003 Pasal 77 ayat (2) yang menetapkan batasan kerja 40 jam per minggu dalam lima atau enam hari kerja, dan selebihnya dianggap lembur, gaji per tahun, termasuk THR. Jadi kita sekarang bisa menebak berapa “gaji” seorang ibu rumah tangga seharusnya.

Belum lagi kita bicara soal skenario yang kedua, di mana ibu rumah tangga yang juga bekerja membantu mencari nafkah, ada dua “gaji” yang didapatnya. Ada “gaji” ibu rumah tangga dengan lama kerja 140 jam per bulan dengan standar gaji sebesar Rp 4,5 juta per bulan atau Rp 59 juta per tahun! Ditambah satu lagi gaji yang didapat dari perusahaan atau instansi tempat sang ibu bekerja.

ilustrasi kartini karir-3.png
Desain Grafis: Rijal Al Huda

Namun, sebenarnya bukan gaji yang diharapkan, tetapi ciuman dan pelukan hangat; bukan upah lembur yang diminta, tetapi doa agar senantiasa menjadi bagian sukses dan bahagia keluarga, dan kelak akan berkumpul di surga; bukan THR yang ditunggu – tunggu, tetapi penghargaan dari suami, anak – anak, sanak keluarga dan masyarakat tentang posisi ibu rumah tangga. Ketika ditanya, kerja apa istrimu? kerja apa ibumu? Seharusnya tidak ada lagi yang menjawab dengan merendah diri apalagi miris: HANYA ibu rumah tangga!!!

Itulah sebenarnya GAJI IBU RUMAH TANGGA. Layak memang, ketika ditanya siapakah orang paling berhak untuk berbakti, Rasulullah menjawab: ibumu…ibumu…ibumu…kemudian ayahmu (HR Bukhari No. 5514, Tirmidzi No. 1819, Muslim No. 4622).

Dengan segala tanggung jawab di atas, terpulang bagi para kartini untuk menentukan pilihan hidupnya, apakah menjadi kartini rumah tangga atau menjadi kartini karier yang juga tetap tidak bisa lepas dari posisi pertamanya.

Mengutip tausiah Ustaz Shaifurrokhman Mahfudz, Lc, MSH, seorang pakar kajian keluarga, bahwa pada dasarnya tugas mencari nafkah ada di pundak suami sebagai pemimpin (qawwam) keluarga. Namun, istri yang mau mengorbankan diri untuk bekerja dianggap memberi sedekah kepada keluarga sepanjang tetap mematuhi kepemimpinan (qawwamah) suami.

Apa pun pilihannya, hendaknya para kartini tetap dengan niat tulus ikhlas untuk berbuat semampunya, termasuk mengurus keuangan keluarga. Sesungguhnya setiap niat baik dibalas dengan 1 kebaikan dan setiap perbuatan baik dibalas 10 hingga 700 kebaikan (HR Bukhari No. 7062, Muslim No. 129). Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah! **

Artikel diterbitkan di: Bisnis Keuangan, Kompas

Mana yang Halal dan Mana yang Thayib?

halal-thayib

Dok: indriummistore.wordpress.com

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan Sakinah Finance, Colchester-Inggris

Saat ini edukasi tentang makanan halal makin gencar diadakan. Media sosial pun tidak ketinggalan. Ada satu situs Must Be Halal yang saat ini mempunyai 20 ribuan anggota, aktif membahas kehalalan produk di tanah air.

Salah satu narasumber media ini adalah seorang Auditor Lembaga Pengajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM), Majlis Ulama Indonesia – Yogyakarta, Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P., PhD. Konten dari LPPOM memang sangat diperlukan mengingat tugas dari LPPOM itu sendiri adalah mengkaji dan mengawasi makanan, minuman dan obat–obatan termasuk kosmetika yang beredar di Indonesia, apakah telah memenuhi syarat halal atau tidak.

Seperti yang telah dibahas di kolom Sakinah Finance pekan lalu sebelumnya yaitu Makanan dan Keuangan Keluarga, ada pesan khusus di ujung artikel itu, ternyata halal saja tidak cukup, thayyib juga perlu diperhatikan. Kita lihat apa itu thayyib (baik) hari ini.

Definisi halal dan thayyib

Dalam Surah Al-Baqarah (2): 168 dan Al-Maaidah (5): 88 disebutkan dua kata ‘halal’ dan ‘thayyib’. Di surah Al-Baqarah, makna ayat adalah dianjurkan bagi manusia untuk memakan apa–apa saja di muka bumi ini sepanjang halal dan thayyib.

Sedangkan di surah Al-Maaidah, ayat tersebut melarang manusia yang beriman untuk tidak terlalu membatasi dirinya dengan kehidupan di dunia. Manusia tetap dianjurkan untuk menikmati kehidupan layak yang dicontohkan Rasulullah SAW (menjadi sunah) salah satunya adalah makan apa saja sepanjang halal dan thayyib.

Ayat-ayat yang berkenaan dengan halal yaitu thayib tersebut ditafsirkan sebagai sehat, bergizi, bermanfaat untuk fisik dan akal manusia (Tafsir Ibnu Katsir).

Contoh halal dan thayyib

Dari segi makanan, makanan halal adalah semuanya kecuali yang dilarang yang dinyatakan di Al-Qur’an dan hadits. Contohnya adalah bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah (QS Al-Baqarah (2):173; QS Al-Maaidah (5):3).

Minuman keras (alkhomru) secara tegas juga dilarang (QS Al-Maaidah (5):90), dan segala makanan yang buruk (QS Al-Araf (7):157) termasuk al-khabaaits atau sesuatu yang menjijikan, berbahaya dan haram. Begitu juga hewan yang berkuku tajam dan bertaring (HR Muslim No. 1933), serta pemakan kotoran (jalallah) (HR Abu Daud No. 3785; Tirmidzi No.1823; dan Ibnu Majah: 3189).

Selanjutnya hidup dari rezeki yang thayyib disebutkan di QS Al-Baqarah (2):172 menjadi anjuran bagi orang yang beriman. Sedangkan contoh-contoh makanan yang thayyib atau bernutrisi tinggi dan memberikan dampak kesehatan banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an seperti hewan ternak beserta susunya, ikan segar, jagung, zaitun, kurma, anggur, madu, dan tumbuh–tumbuhan lainnya, termasuk jintan hitam yang disebutkan dalam sebuah hadits.

Walaupun umat Islam diperintahkan untuk memakan dari rezeki yang halal dan thayyib, tetap saja harus seimbang (hadits tentang cara makan Rasulullah SAW) dan tidak boleh berlebihan seperti yang tertera di dalam QS Taha (20):81 yang artinya: “Makanlah dari rezeki yang baik – baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampau batas…”

Panduan makanan thayyib

Semakin canggihnya teknologi, banyak makanan instan yang diproduksi seperti ayam broiler dan telurnya, susu kaleng, beras non-organik, ikan yang diawetkan, dan sayur–sayuran yang berpestisida tinggi, beras non-organik, buah–buahan yang dililin, makanan ber-MSG dan makanan instan lainnya.

Hal ini jauh beda dengan ayam kampung, ikan segar, susu segar, beras organik dan sayur – sayuran organik.

Seorang penulis, Michael Pollan dalam bukunya Food Rules menyatakan bahwa ada 10 petunjuk memilih makanan sehat:

1. Jangan makan apapun yang nenek moyang kita tidak mengakuinya sebagai makanan.

2. Makan tumbuh–tumbuhan terutama daun–daunan.

3. Makan makanan yang kelak akan basi.

4. Keluar dari supermarket secepat mungkin untuk menghindari makanan instan.

5. Bukan makanan jika dia datangnya lewat jendela mobil.

6. Bukan makanan jika disebut dengan nama yang sama di semua bahasa.

7. Makanlah hewan yang memakan makanan yang baik.

8. Makan junk-food asal buatan sendiri.

9. Jangan sarapan pagi dengan sereal yang dapat merubah warna susu.

10. Jangan remehkan ikan kecil yang berprotein tinggi.

Petunjuk dari Michael Pollan di atas sudah cukup baik yang dapat menambah pemahaman kita terhadap makanan yang halal dan thayyib menurut Al-Qur’an dan Hadits.

Murah atau mahal

Dari panduan di atas tentu saja para keluarga sangat peka dengan harga karena menyangkut soal anggaran keuangan keluarga. Sebenarnya tidak semua yang baik dan sehat itu mahal, misalnya memakan buah–buahan lokal seperti papaya, nenas, rambutan, mangga lebih baik dan murah dari apel yang dililin atau mangga dalam kemasan kaleng.

Namun tidak dipungkiri, sebagian besar makanan organik dipasang dengan harga tinggi karena waktu produksinya lebih lama dan memakai energi manusia lebih banyak.

Sebagai panduan keluarga, usahakan sebisanya untuk mengkonsumsi makanan halal dan thayyib dengan menggunakan anggaran yang ada. Jika tidak mampu, jangan kemudian terpaksa berhutang hanya ingin memastikan makanan yang dikonsumsi harus organik misalnya.

Jangan lupa niat dan doa, karena hanya Allah SWT jualah yang akan memastikan konsumsi keluarga kita senantiasa halal dan thayyib. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Artikel ini diterbitkan di: Bisnis Keuangan, Kompas

 

Mengeluh Tanda Tak Syukur

1823563sujud780x390Dok: http://www.kompas.com

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Konsultan, Sakinah Finance, Colchester-UK

Ada beda tipis antara mengeluh dan berharap lebih baik di masa depan. Mari kita baca pernyataan berikut:

“Alhamdulillah, kita sudah diberikan rezeki sebanyak ini, kalau mau makan selalu ada yang bisa dimasak, anak–anak tumbuh sehat, biaya sekolah selalu dapat diselesaikan dan angsuran hutang lancar. Ke depannya, kita harus punya pendapatan lebih supaya bisa banyak lagi bersedekah, mampu beli mobil untuk bantu usaha, merenovasi rumah untuk buat kamar anak-anak, dan mulai menabung buat pergi haji ya pak.”

bandingkan dengan:

“Alhamdulillah, kita sudah diberikan rezeki sebanyak ini, kalau mau makan selalu ada yang bisa dimasak, anak–anak tumbuh sehat, biaya sekolah selalu dapat diselesaikan dan angsuran hutang lancar. Maunya kita sekarang sudah mampu beli mobil karena susah kalau mau dagang kesana kemari. Juga merenovasi rumah karena sudah banyak banget yang bocor, dan mulai menabung buat pergi haji ya pak, supaya sama kayak tetanga-tetangga kita yang sudah pergi haji.”

Ada bedanya?

Sekilas dua ungkapan di atas adalah sama namun di ungkapan kedua mengandung keluhan yang terkadang tidak kita sadari. Padahal mengeluh banyak sekali dampak negatifnya seperti tingkat stres, sakit hati, dan akhirnya timbul berbagai penyakit. Dibandingkan bersyukur, yang menjadikan pikiran ringan, banyak senyum dan tentunya hidup sehat dan lebih produktif.

Latihan

Tim Ferriss, seorang penulis pernah melalukan eksperimen supaya tidak mengeluh selama 21 hari. Caranya, dia harus memakai gelang silikon warna ungu untuk mengingatkannya supaya jangan mengeluh, jika sekali dia mengeluh, maka gelangnya harus dipindahkan ke pergelangan tangan lainnya dan mulai menghitung dari hari pertama lagi.

Ternyata berhasil! Tim tidak pernah mengeluh lagi sejak saat itu karena latihan tersebut. dan tidak pernah pakai gelangnya lagi. Katanya: I Went 21 Days Without Complaining and It Changed My Life. Namun selang beberapa waktu, Tim harus memakai gelangnya lagi karena dia akan menjalankan sebuah proyek besar sehingga dia khawatir dia akan mengeluh.

Ternyata Islam mengajarkan lebih banyak latihan, bukan hanya 21 hari, mulai dari wudhu, sholat dan doa tiap hari, hingga puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Latihan supaya tidak mengeluh ketika berwudhu walau dingin di kala subuh, tidak mengeluh ketika air di masjid terkadang tidak lancar.

Dalam sholat pun, Muslim diajarkan untuk melakukan gerakan sholat secara khusyuk penuh zikir dan doa, tidak ada kesempatan untuk mengeluh walau kipas angin masjid tidak dingin, walau ada yang gatal di badan yang harus digaruk. Itulah sesungguhnya shalat yang terjaga.

Dasyatnya latihan tidak mengeluh ini juga dilatih selama sebulan penuh di bulan puasa yang tidak akan lama lagi hadir. Kita dilatih supaya tidak mengeluh ketika harus bangun sahur, tidak mengeluh lapar dan dahaga ketika belum sampai waktu Maghrib, tidak mengeluh dengan apa yang ada di atas meja ketika berbuka puasa, tidak mengeluh ketika harus berdesak – desakan di masjid untuk bertarawih. Semuanya dilakukan untuk memastikan sahnya puasa sebulan itu.

Mengeluh, bolehkah?

Teryata mengeluh memang fitrah manusia, seperti yang telah disebutkan dalam Surah Al-Ma’arij (70): 19-21: “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir.” Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat–ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT menceritakan perihal manusia dan watak – watak buruk pembawanya yaitu mengeluh dan kikir.

Namun di ayat selanjutnya (Ayat 22 dan 23) disebutkan sebuah pengecualian bahwa manusia dapat mengatasi sifat mengeluh dan kikir ini yaitu: “Kecuali orang–orang yang melaksanakan shalat. Mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya.”

Seperti yang sudah disebutkan bahwa shalat adalah salah satu latihan yang minimal dilakukan selama 5 kali dalam sehari, tentunya punya dampak luar biasa. Sholat yang penuh zikir dan doa tertuju kepada Allah SWT, diakhiri juga dengan doa berisi ampunan dan permohonan kepada Allah SWT yang kemudian memberikan perasaan sakinah (tenang) dan menjauhkan rasa mengeluh.

Dibandingkan dengan Tim Ferriss yang sudah menjalankan latihan dengan gelangnya saja sudah merubah hidupnya, maka orang Mukmin dan Muslim (full time bukan part time) tentunya akan lebih berhasil lagi merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi jika khusyuk dalam sholat rutinnya.

Keuangan keluarga

Tidak mengeluh dapat merubah hidup telah dijanjikan Allah SWT di QS Ibrahim (14): 7 yaitu: “…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, nisacaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Setiap keluarga tentunya mendambakan kehidupan yang lebih baik lagi di masa depan, hidup dengan nikmat Allah yang senantiasa bertambah. Salah satu indikatornya adalah seperti yang diungkapkan di dalam awal tulisan ini: “… Ke depannya, kita harus punya pendapatan lebih supaya bisa banyak lagi bersedekah, mampu beli mobil untuk bantu usaha, merenovasi rumah untuk buat kamar anak-anak, dan mulai menabung buat pergi haji ya pak.”

Mari kita jadikan sifat bersyukur atau tidak mengeluh ini salah satu prinsip dalam keluarga kita. Saling mengingatkan antara anggota keluarga untuk selalu bersyukur dengan apa yang ada namun senantiasa bersemangat menyambut hari esok dengan lebih produktif. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Artikel ini diterbitkan di: Bisnis Keuangan, Kompas

Bumikan Bahasa Fatwa Keuangan Syariah

0856520shutterstock-114721738780x390Dok: http://www.kompas.com

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Konsultan, Sakinah Finance, Colchester-UK

Sahabat kecil saya, seorang non-Muslim memberikan link tentang fatwa Dewan Syarian Nasional-Majlis Ulama Indonesia (DSN-MUI) mengenai transaksi lindung nilai syariah, deposito syariah, anuitas syariah, dan voucher multi manfaat syariah yang baru disosialisasikan kemarin. Kelihatannya banyak pertanyaan yang ingin diajukannya tentang fatwa tersebut.

Hingga 22 Desember 2015 yang lalu, genap 100 fatwa yang telah dikeluarkan oleh DSN-MUI yang menjadi dasar operasional berbagai jenis entitas syariah seperti industri perbankan syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, juga yang dapat digunakan oleh berbagai instrumen keuangan syariah seperti dana ventura, reksadana, dan sukuk.

Fatwa–fatwa yang telah dikeluarkan ini juga sangat bermanfaat bagi pembuat regulasi dan standar seperti Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, Ikatan Akuntan Indonesia termasuk juga Komite Nasional Keuangan Syariah yang baru – baru ini diangkat oleh Presiden Joko Widodo.

Apa itu fatwa?

Sumber hukum Islam dalam pengaturan keuangan syariah adalah Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW ditambah pemahaman melalui contoh dan nasehat para sahabat dan ulama.

Dari sumber–sumber inilah kemudian lahirlah aturan fikih yang salah satunya mengatur soal muamalah seperti transaksi keuangan syariah dengan tujuan untuk mempermudah urusan manusia.

Para ulama kontemporer termasuk para pakar di DSN-MUI merujuk kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW serta pemahaman kaidah–kaidah fikih sebagai referensi untuk menetapkan fatwa.

Misalnya ketika menetapkan hukum – hukum tertentu misalnya disesuaikan dengan kaidah bahwa pada dasarnya semua praktek muamalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya (Al-Ashlu fil muamalah al-ibahah illa an yadulla ad-dalilu ′ala tahrimiha).

Juga kaidah memelihara warisan intelektual klasik yang masih relevan dan membiarkan terus praktik yang telah ada di zaman sekarang ini, selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah (Al-muhafazhah ‘alal qadim ash-sholih wal akhz bil jadid aslah).

Kajian keuangan syariah

Selama dua dekade ini, kajian keuangan syariah sudah banjir di tanah air dari pengajian RT hingga seminar di menara gading. Di luar negeripun demikian, disampaikan oleh penceramah bebas, perwakilan instansi atau utusan lembaga sosial kemasyarakatan.

Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Cabang UK yang diketuai oleh Ilham Reza Ferdian misalnya, termasuk aktif menyampaikan ayat – ayat riba dan ajakan supaya masyarakat mau berekonomi syariah.

OJK yang mengambil tugas pengawasan dari BI sejak akhir 2013 juga aktif dengan program melek keuangan syariah serentak di beberapa pulau di Indonesia. Diharapkan kebijakan yang termasuk dari lima kebijakan OJK ini dapat mempercepat gerak industri keuangan syariah.

Namun mengapa kesadaran masyarakat Indonesia untuk ikut aktif mengembangkan industri ini belum begitu menunjukkan gairahnya?

Salah satu indikatornya adalah pangsa pasar perbankan syariah yang termasuk industri syariah paling aktif saja masih berkisar 5 persen dibandingkan dengan negara tetangga kita, Malaysia yang sudah mencapai 21 persen bahkan menargetkan menjadi 40 persen pada tahun 2020.

Karakter nasabah

Mengenai karakter nasabah, survei Bank Indonesia menunjukan bahwa nasabah bank syariah terbagi tiga yaitu yang fanatik dan yang penting ada rekening bank syariah, ikut-ikutan, dan yang melihat peluang.

Nasabah jenis ketiga inilah yang tergemuk yaitu jenis nasabah yang punya atau mungkin tidak punya pengetahuan tentang syariah tetapi mau bertransaksi keuangan syariah sepanjang itu menguntungkan, dan tentunya menuntuk supaya pelayanan yang diberikan harus lebih baik dari konvensional.

Bumikan bahasa langit fatwa keuangan syariah

Dari masalah tentang kurang minat keluarga Indonesia untuk berperan aktif di industri keuangan syariah, ada baiknya kita koreksi diri (muhasabah).

Mungkin edukasi melek keuangan syariah hanya bertepuk sebelah tangan. Setelah pulang dari seminar melek keuangan syariah, tidak banyak para peserta yang berinisiatif untuk membumikannya di rumah (baca: sosialisasi) dikarenakan tidak berkenan atau sibuk.

Juga menunggu waktu yang tepat untuk praktik, atau tidak sama sekali, padahal paham seruan untuk mempraktikkan Islam secara keseluruhan (kaafah) termasuk dalam hal keuangan.

Quuu anfusakum waahliikum naaro, ayat At-Tahrim (66): 6 ini memerintahkan kita semua untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari siksaan api neraka. Menurut Tafsir Ibnu Katsir ayat ini bermakna perintah untuk mendidik diri sendiri dan ahli keluarga untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.

Semoga mendidik keuangan syariah dalam keluarga adalah termasuk amalan untuk meningkatkan iman dan taqwa kita, dengan visi misi jangka panjang yaitu menuju surga akhirat.

Ada baiknya dengan adanya referensi fatwa yang telah dikeluarkan oleh DSN-MUI di atas, para pimpinan keluarga dapat membawanya ke rumah sebagai bahan ajar bagi para anggota keluarga.

Banyak sumber–sumber lain yang dapat menjadi bahan ajar di rumah seperti bahan pelatihan melek keuangan syariah dan artikel atau buku–buku tentang transaksi–transaksi keuangan syariah.

Intinya, pendidikan keuangan syariah sebaiknya dimulai dari keluarga bukan dari bank syariah, koperasi syariah, asuransi syariah atau pasar modal syariah. Toh, Rasulullah SAW mengenalkan, mempraktikkan dan mengajarkan model keuangan syariah bukan dimulai dari lembaga, tapi dimulai dari keluarga dan lingkungan beliau.

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”

Pepatah di atas menuntut adanya keteladanan dari orang yang dihormati terutama orangtua di rumah. Maka dari itu adanya transfer ilmu dan praktik keuangan syariah di rumah akan menjadi panutan yang luar biasa bagi si Unyil, Usro, Cuplis termasuk Melani.

Rasulullah SAW diutus sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam, rahmatan lil’aalamiin (Al-Anbiya (21):107). Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Allah menjadikan dan mengutus Muhammad SAW untuk membawa rahmat buat semesta alam.

Barang siapa yang menerima rahmat ini akan mensyukurinya dan akan bahagia di dunia dan akhirat. Jadi ilmu keuangan syariah bisa menjadi rahmat bagi siapa saja, tidak mengenal ras dan agama.

Tujuan dari latihan ini adalah supaya si Unyil dan kawan – kawannya akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang punyai nilai-nilai siddiq, amanah, fathonah dan tabligh.

Kemudian dampak domino ini akan kita lihat di setiap lini dimana anak-anak kita kelak akan takut praktik riba, menjauhi korupsi, kreatif secara Islami, dan hanya berani berbuat serta menyampaikan kebenaran. Tentunya dengan sendirinya akan meramaikan pasar dan industri apapun dengan sistem keuangan syariah sejati.

Tak kalah pentingnya, selaku keluarga terdidik, kelak dapat menyampaikan kritik membangun kepada pembuat dasar hukum dan regulasi keuangan syariah supaya tidak mengikuti godaan keuntungan bisnis.

Memastikan bahwa fatwa dan regulasi yang dikeluarkan mematuhi tujuan–tujuan syariah (Maqasid Syariah), baca tulisan Sakinah Finance, April 2014 tentang Maqasid Syariah).

Ternyata bukan hanya keluarga, Menurut Ali Sakti, Direktur Islamic Economic Forum for Indonesian Development (ISEFID) dan juga peneliti senior Bank Indonesia, para regulator juga memerlukan ‘pembumian’ bahasa fatwa keuangan syariah untuk memiliki penafsiran fatwa yang sama agar tercapainya harmonisasi di tataran regulasi yang berbeda–beda.

Kita dapat meniru praktik keuangan Nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul atau di awal pertemuannya dengan Khadijah binti Khuwailid dimana Khadijah berperan sebagai pemilik modal (rabbul maal) dan Nabi Muhammad menjadi pengusahanya (mudarib).

Dengan kesepakatan bagi hasil yang diuangkapkan di awal, transaksi sejenis ini dikenal sekarang dengan akad kerjasama (mudharabah). Sumber: Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager.

Kemudian setelah menjadi suami Khadijah, posisi Nabi Muhammad naik menjadi pemilik bisnis dan mitra bisnis dengan orang lain. Kemudian hubungan antar bisnis ini dikenal dengan kemitraan (musyarakah) dimana dua orang atau lebih adalah pemilik modal dan sama-sama menjalankan usahanya.

Dalam kehidupan kita sekarang, kisah perkongsian Rasulullah SAW dengan istri terkasihnya dan para pebisnis lainnya bisa digambarkan dengan kemitraan usaha antara pihak pemodal individu dengan pengusaha mikro misalnya.

Kegiatan modal ventura atau bahkan crowd funding yang sedang marak, bisa menjadi contoh bagaimana kemitraan dalam berbisnis sangat mudah dipraktikan dan dalam skala apapun yang kita sanggup.

Ada juga transaksi yang dilakukan melibatkan tenggang waktu tertentu untuk pembayaran, misalnya secara cicilan dengan skim jual beli tangguh berupa barang (murabahah) atau jual beli dengan sistem pesanan barang (salam dan istisna), dimana pembeli membayar dimuka dan menerima barang di kemudian hari.

Transaksi jenis ini sudah lazim kita jumpai, dan oleh karenanya harus bisa dipahami oleh masyarakat semua peraturan dan konsekuensinya.

Ketika digambarkan realita ekonomi modern dan kesesuaian dengan transaksi bisnis syariah, maka ilmu untuk melek syariah ini penting. Hal ini seolah mengamini apa yang disampaikan oleh Umar bin Khattab r.a. bahwa tidak boleh seseorang itu berjualan atau masuk pasar melainkan paham atau melek hukum bisnis karena dikwatirkan akan memakan riba dengan sengaja atau tidak.

Ali bin Abi Thalib r.a. juga berpendapat yang sama bahwa siapa yang berbisnis sebelum melek ilmu bisnis secara syariah (tafaqqah) maka dia mungkin akan terjatuh dalam riba dan bentuk kedhaliman yang lain. Sumber: Mawsuah Fiqhiyyah Kuwaytiyyah Bab Riba.

Ada juga kisah dimana salah satu pelaku bisnis menjadi wakil untuk mendapatkan barang dan jasa yang kemudian mendapatkan upah dimana sekarang dikenal dalam industri keuangan dengan fee-based product dari agency, perwakilan atau wakalah. Lagi – lagi, praktik bisnis ini dapat dilakukan di dalam keluarga dan lingkungan sekitar.

Ahlak dan misi ibadah dalam berbisnis

Ahlak termasuk hal penting ditanamkan oleh Rasullullah SAW dalam berbinis. Misalnya ketika beliau menegur penjual yang curang (mencampurkan gandum buruk di bawah gandum baik). Kecurangan yang juga ditegaskan oleh Umar bin Khattab r.a. yang menegur praktik monopoli dan campuran air dengan susu (Sumber: Kitab Bidayah Wan Nihayah), merupakan kisah yang mudah kita jumpai dalam kondisi ekonomi pasar sekarang ini.

Peran pemerintah atau regulator sangat penting dalam menjaga stabilitas harga dan standar kualitas dan kuantitas barang dan jasa yang diperjual-belikan sesuai dengan yang diharapkan.

Kita juga bisa lihat Abubakar Siddik r.a. yang tidak mau berteduh di bayang-bayang rumahnya sendiri dikarenakan rumah tersebut sudah disewakan kepada orang lain.

Sikap berhati-hati untuk tidak memakan barang haram atau tidak jelas halal-haramnya (syubhat) seperti ini dapat menjadi tauladan bagi kita ketika bertransaksi sewa menyewa (ijarah).

Pesan Rasulullah SAW mengenai ahlak dalam berbisnis berikut dapat menjadi renungan kita pada hari ini: “Allah memberikan rahmat-Nya kepada setiap orang yang bersikap baik ketika menjual, membeli, dan membuat pernyataan” (HR Shahih Bukhari No. 2076).

Kita juga harus ingat bahwa kehidupan berbisnis harus senantiasa diiringi dengan misi sosial dengan tujuan mengharap ridho Allah SWT.

Ustman bin Affan r.a. khalifah yang terkenal sebagai saudagar ini pernah dengan tegas menolak orang yang akan membeli barang dagangannya walaupun dengan harga tinggi hanya karena beliau ingin menyumbangkan semua barang dagangannya untuk penduduk fakir miskin Madinah yang waktu itu sedang dilanda musim paceklik (Sumber: Kitab Bidayah Wan Nihayah).

Terakhir, semua transaksi yang disebutkan di atas harus tunduk dengan enam kriteria yang sering dibahas di artikel Sakinah Finance sebelumnya, yaitu kita jauhi sifat yang enam (riba, gharar, maysir, haram, zalim, dharar).

Kesimpulannya, menjalankan keuangan syariah itu mudah dan contoh–contoh “bahasa fatwa” di atas dapat dipraktikkan di lingkungan keluarga sendiri, tidak perlu baru belajar ketika berhadapan dengan bank syariah.

Syaratnya, harus ada proses penambahan dan transfer ilmu yang disesuaikan dengan keadaan dan usia para anggota keluarga serta dimulai dari niat baik dan suri tauladan. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah dari Kota Mekkah.

Artikel ini diterbitkan di:

Bisnis Keuangan, Kompas Bagian 1

Bisnis Keuangan, Kompas Bagian 2