Apa Manfaat Pencatatan Cash Flow?

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, 

SAYA tanya bagaimana menghilangkan rasa malas membuat cash flow. Saya memiliki usaha warung kelontong, saking banyaknya item yang saya jual, saya jadi malas untuk membikin pembukuan. Jadi saya tdk tahu keuntungan yang saya dapat selama ini. Kelihatannya kok kalau dibikin cash flow hasilnya defisit terus. Mohon penjelasannya. Jazakallah khairan. Wassalamu’alaikum.

hermawan.vanilla@yahoo.com

Yth. Bapak Hermawan,

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Iya, memang hal catat mencatat ini sangat membosankan bagi sebagian orang. Saya dan suami yang sama-sama aktif mengembangkan forum Sakinah Finance ini sudah mulai mencatat pengeluaran dan penerimaan sejak 15 tahun yang lalu, meski ada kalanya kami malas mencatat dan membahasnya.

Namun biasanya setelah berapa lama, kami cepat-cepat merapikan kembali catatan yang kosong dari semua struk belanja/bukti yang ada. Begitu juga anak-anak, sudah kami biasakan mencatat pemasukan dan pengeluaran uangnya setiap hari, termasuk perhitungan bisnis kecil-kecilan mereka dari sejak usia awal masuk SD; semangatnya memang turun naik, namun dengan saling mengingatkan akan jadi kebiasaan yang baik dan bermanfaat.

Intinya, perlu saling mengingatkan manfaat catat mencatat itu seperti mengawal keinginan belanja, melatih disiplin, mengklarifikasi keuangan masa lalu yang mungkin terungkit dan terkait dengan permasalahan yang dihadapi sekarang. Dalam Surat Al-Baqarah (2): 282, ayat madaniah ini mengingatkan kita untuk senantiasa mencatat transaksi muamalah, terutama yang bersifat hutang piutang.

Menurut asbabun-nuzul, ayat ini turun ketika Rasulullah SAW pertama kali datang ke Madinah dan menyaksikan kebiasaan penduduk Madinah yang menyewakan lahan kebun mereka kepada sesama mereka, dengan jangka waktu satu hingga tiga bulan. Melihat hal itu, Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang menyewakan sesuatu kepada yang lain, hendaklah dengan harga tertentu dan jangka waktu yang disepakati untuk ditentukan pula.” Berkaitan dengan ini Allah menurunkan ayat ini sebagai ajaran bagi kaum Muslimin agar tidak terjebak ke dalam persengketaan (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas). Subhanallah!

Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar juz 3 menuliskan pentingnya ayat ini supaya kita terelakkan dari sengketa, karena dasar bertransaksi yang saling mempercayai tidak akan memadai jika tidak dilengkapi dengan bukti tertulis. Seperti kita pahami, banyak sengketa yang terjadi diantara di masyarakat dikarenakan banyaknya transaksi yang tidak dilengkapi dengan bukti yang jelas dan akurat, baik dalam hal perdagangan maupun urusan warisan. Dalam transaksi kontan sekalipun, walaupun tidak mengapa jika kita tidak mencatatnya, Buya Hamka menekankan bahwa jika dicatat adalah sesuatu yang terpuji.

Jadi, menurut kami, pencatatan cashflow untuk bisnis Bapak juga akan sangat bermanfaat. Diantara manfaatnnya adalah mengetahui keuntungan (atau kerugian) secara akurat, memudahkan dalam menghitung kewajiban zakat yang harus dikeluarkan, memastikan hutang piutang yang ada sehingga tidak ada permasalahan ketika harus ditagih atau menagih di masa yang akan datang, juga menjadikan semangat baru untuk menyusun strategi bagaimana supaya bisnis klontongan Bapak dapat diperbesar lagi. Majunya bisnis modern saat ini salah satunya adalah terletak dalam administrasi pencatatan yang rapi. Kelak jika Bapak memerlukan modal yang lebih besar, tentunya mitra Bapak atau bank syariah akan mudah memproses kelayakan bisnis dari arsip pencatatan bisnis Bapak yang sudah dilakukan.

Untuk bisnis klontongan yang banyak sekali jenisnya tidak perlu dirinci satu-satu stok barang dan jumlah barang yang laku atau diretur, kecuali kalau skalanya sudah cukup besar dan ada teknologi yang Bapak pakai seperti mesin register (point of sales) yang dapat dijumpai di banyak mini market sekitar kita. Menurut hemat kami, cara pencatatannya adalah sebagai berikut:

1. Dicatat berapa uang dari hasil penjualan setiap hari dari tanggal 1 hingga tanggal akhir bulan tersebut misalnya tanggal 30.

2. Dicatat uang keluar baik untuk pembelian barang baru atau pengeluaran biaya-biaya.

3. Untuk menghitung keuntungan, jumlahkan hasil penjualan harian tersebut dalam satu bulan kemudian dikurangi dengan jumlah seluruh nota pembelian pada bulan tersebut.

4. Jumlahnya menjadi keuntungan kasar. Kalau defisit, keuntungan kemungkinan ada dalam stok yang masih ada. Untuk mengetahuinya dikira-kira saja berapa jumlahnya, itulah keuntungannya.

5. Kemudian dikurangi dengan biaya transportasi, biaya listrik, biaya keamanan dan kebersihan, sewa warung (walau dibuat di rumah, dibuat seolah-olah ada biaya sewa supaya keuntungan nampak realitis), dan biaya terkait dengan operasional warung lainnya.

6. Jumlah akhir adalah keuntungan bersih.

7. Jika bisa dikelompokkan jenis-jenis barangnya, lebih bagus supaya bisa diketahui berapa keuntungan setiap kelompok barang-barang tersebut. Bisa juga dengan sistem pukul rata, misalnya kira-kira 10% dari setiap uang yang masuk setiap harinya adalah margin keuntungan penjualan (keuntungan kasar).

8. Mohon diingat agar kebutuhan pribadi keluarga harus dicatat jika diambil dari hasil penjualan sehingga dapat diketahui apakah ini penyebab defisit bisnis Bapak. Menurut pemahaman kami dari pertanyaan yang dikirim, kalau selama ini Bapak merasa penjualan cukup laris namun defisit, kemungkinan ada hasil penjualan warung yang tidak dipisahkan dengan kebutuhan keluarga atau belanja pribadi sehingga Bapak kesulitan menghitung keuntungannya. Wallahu’alam.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Sakinah Finance

Sumber: https://www.islampos.com/apa-manfaat-pencatatan-cash-flow-149977/

Bagaimana Caranya Menabung bagi Karyawan Pabrik?

BISMILLAH… Assalamu’alaikum warohmatullah. Afwan ana mau minta saran, bagaimana cara menabung yang tepat untuk seorang ibu rumah tangga satu anak dan juga berprofesi sebagai karyawati pabrik, yang gajinya hanya UMR dan mempunyai pengasuh anak.

Saat ini saya merasakan tidak bisanya dalam urusan menabung. Setiap kali menabung selalu saja habis terpakai. Suami saya sama-sama karyawan pabrik. Mohon bimbingannya. Syukron wa jazakallahu khoiron…

Ummu Zidan, novika.resmi23@gmail.com

Yth. Ummu Zidan,

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Hampir semua dari kita bisa menabung, tetapi tidak hampir semua dari kita yang bisa disiplin dalam menabung. Artinya, jika kita ingin menabung yang tepat, perlu mematuhi tata cara menabung yang menurut pengalaman kami adalah sebagai berikut:

1. Membuat daftar impian atau keinginan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

2. Membuat perencanaan pendapatan pengeluaran sehingga mengetahui berapa jumlah uang yang sebenarnya bisa disisihkan dari pendapatan.

3. Mendahulukan pembayaran hutang, zakat, dan membantu orangtua dari menabung, sehingga tidak mengalami keadaan keuangan minus di pertengahan bulan dikarenakan harus melunasi hutang yang tidak bisa ditunda lagi pembayarannya.

4. Menyisihkan dengan segera jumlah yang disetujui untuk ditabung di saat pertama kali menerima uang pendapatan (gaji, sewa, bonus, hasil bisnis dll.). Ingat, menabung bukan dilakukan di akhir bulan atau setelah mengeluarkan biaya – biaya dan belanja ke mal, tetapi di awal bulan setelah gaji diterima.

5. Membagi katagori menabung seperti menabung untuk memenuhi kebutuhan/impian/keinginan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang sesuai anjuran nomor 1 di atas.

6. Memilih produk tabungan dan lembaga keuangan syariah yang tepat.

7. Bagi kita yang tidak disiplin, tinggalkan cara menabung tradisional, artinya, menabung yang dapat dijangkau kapan saja atau ada akses untuk menggunakan ATM. Dikwatirkan setelah beberapa bulan hasil tabungannya akan segera segera habis terpakai seperti yang disampaikan oleh Ummu Zidan di atas.

8. Mencatat jumlah yang tabungan dari waktu ke waktu dan pastikan jika sudah mencapai haul dan nisabnya, keluarkan zakatnya.

Contohnya: Menabung untuk sekolah anak yang sekarang berusia 1 tahun, berarti diperlukan jenis tabungan jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak tersebut kalau bisa mulai dari TK hingga kuliah di universitas. Untuk hal ini, diperlukan lembaga keuangan yang dapat melayani kebutuhan ini, contoh asuransi syariah untuk pendidikan.

Ini hanya contoh, kami tidak mengetahui dengan jelas tabungan jenis apa yang cocok untuk Ummu Zidan dan untuk kebutuhan apa. Gaji setaraf UMR adalah rezeki yang diberikan Allah SWT, insyaAllah jika halal dan baik (halalan thayibban), gajinya akan berkah, tidak cepat habis dan banyak memberikan manfaat, termasuk dapat dengan mudah disisihkan untuk tabungan masa depan. Sesungguhnya kisah Nabi Yusuf yang mentakwilkan mimpi Raja Mesir (Surah Yusuf (12) ,ayat 43-49) dapat dijadikan itibar bagi kita supaya dapat menghemat apa yang kita dapat hari ini untuk kebutuhan di hari esok. Wallahu’alam.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Sakinah Finance

Sumber: https://www.islampos.com/bagaimana-caranya-menabung-bagi-karyawan-pabrik-148203/

Ingin Bebas dari Hutang-Piutang dan Buka Usaha, Apa yang Harus Dilakukan?

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Saya mau minta solusi untuk masalah keuangan yang saat ini sedang saya alami. Saat ini saya sedang terbelit masalah hutang-piutang. Saya ingin sekali keluar dari belenggu ini. Saya ingin membuka lembaran baru di hidup saya dalam sisi keuangan yang bebas dari hutang-piutang.

Saat ini saya bekerja sebagai karyawan di perusahaan nasional. Yang saya inginkan dan belum tercapai adalah saya ingin membuka usaha sendiri (wiraswasta). Tapi, kira-kira usaha apa yang cocok buat saya dan apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan modal meskipun itu tidak terlalu besar? Sedangkan saat ini masih banyak tanggungan yang harus saya bayar.

Mohon solusi jitu dari tim Sakinah FInance. Atas perhatiannya, saya sampaikan terima kasih. Wassalamu’alaikum.

Yabil Hidayatulloh (yabilhidayatulloh@gmail.com)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Terima kasih atas pertanyaannya.

Hutang adalah kewajiban yang harus kita lunasi, dan menjadi kewajiban baik ketika kita hidup maupun ketika sudah tiada. Tidak ada strategi instan dalam membayar dan melunasi hutang, apalagi kalau tingkat ketergantungan kepada hutang cukup tinggi. Yang bisa kita lakukan ada beberapa ikhtiar berikut.

Pertama, harus ada upaya dan niat yang sangat kuat untuk melunasi semua hutang tersebut. Niat yang kuat ini haruslah dimulai dengan istighfar dan doa, karena istighfar merupakan awal untuk memulai hidup baru yang bebas dari hutang. Oleh itu mari kita mulai dengan memohon ampunan atas segala khilaf yang kita perbuat, terutama ketika berbelanja tanpa perhitungan dan perencanaan yang cermat sehingga terlilit hutang. Kemudian berdoa tentu saja, sebagaimana ajaran Rasulullah SAW dalam doa dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari rasa gelisah dan sedih, Aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepadaMu dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepadaMu dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan orang.”

Langkah kedua adalah menyusun rencana yang rinci untuk pelunasan hutang kita. Kalau misalnya hutang Bapak adalah sebesar Rp.10 juta, maka harus dibuat rencana cicilan (kalau yang kita hutangi setuju dengan cara cicilan), baik per bulan atau lebih baik lagi kalau dibuat rencana cicilan sampai hitungan hari. Artinya kalau setiap hari kita bisa menyisihkan Rp.10 ribu, maka dalam waktu kurang dari tiga tahum hutang Bapak sudah lunas. Berapun besarnya hutang kita, kalau kita pecah dalam pecahan-pecahan kecil akan terasa ringan dan manageable. Ini sangat penting untuk memberi sugesti positif bahwa hutang tersebut mampu kita bayar, insya Allah.

Namun kalau memang pemberi hutang tersebut tidak mau dicicil dan minta dilunasi sekaligus, maka perlu diupayakan mencari bantuan talangan sementara berupa pinjaman lunak atau qardhul hasan, baik dari sahabat maupun saudara dekat. Untuk pinjaman lunak ini diharapkan bisa ditutup dengan rencana cicilan yang detil diatas tadi.

Secara konkret, berikut adalah langkah-langkah yang bisa segera diambil:

1. Membuat daftar hutang dan harta/aset yang ada. Untuk daftar aset, bisa diidentifikasi mana yang tidak diperlukan dan bisa dijual.

2. Membuat daftar pendapatan dan belanja bulanan serta secara rinci, terutama untuk mengetahui mana item-item belanja yang bisa dipangkas; mengetahui barangkali ada pendapatan yang tidak halal atau syubhat; mengetahui jenis belanja yang mungkin mubazir, mengetahui berapa zakat dan sedekah yang belum dikeluarkan; dan keperluan lainnya. Jika ditemukan ada pendapatan yang haram, baiknya segera dihentikan dan perbanyak taubat dan istighfar. Jika ada konsumsi yang mubazir, maka segera diubah “life style” kita sesuai kemampuan keuangan keluarga.

3. Jika bapak mempunyai kartu kredit, baiknya segera dikurangi atau dihentikan pemakaian kartu kredit tersebut sama sekali. Banyak sekali sumber hutang keuangan masyarakat sekarang bermula dari keputusan belanja yang dilakukan oleh pemiliknya via kartu kredit.

4. Pastikan zakat yang dikeluarkan selama ini sudah benar haul, nisab, nilai, dan penyalurannya (mari baca At-Taubah 60, At-Taubah 103).

5. Perbanyak sedekah untuk mendapatkan imbalan rezeki yang berlimpah untuk melunasi hutang yang ada (mari baca Al-Baqarah 261).

Mengenai keinginan Bapak untuk berwiraswasta adalah sangat mulia. Dari sejarah, kita membaca keberhasilan Rasulullah S.A.W. ketika menjadi pegawai, rekan, sekaligus pengusaha dalam urusan muamalah. Semoga kita dapat mencontoh uswatun hasanah dari beliau. Bapak bisa mulai dari apa yang ada dalam kepakaran atau hobi Bapak, tidak ikut-lkutan teman atau trend. Untuk modal, bisa mengajak partisipasi teman atau saudara, juga dengan mengajukan pembiayaan kepada lembaga pembiayaan syariah. Jika pilihan kedua yang dipilih, pastikan kerjasama ini mengikuti prinsip syariah seperti perkongsian (Musyarakah), pengusaha-pemilik modal (Mudharabah), jual beli (Murabahah), atau sewa menyewa (Ijarah).

Demikian Pak Yabil, kami tahu jawabannya mungkin tidak pas seperti yang diharapkan karena informasi yang kami terima dari Bapak sangat terbatas. Namun, kami sangat berlapang dada jika ada pertanyaan lanjutan dari Bapak dalam rubrik konsultasi Sakinah Finance ini. Wallahu’alam.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Sakinah Finance

Sumber: https://www.islampos.com/ingin-bebas-dari-hutang-piutang-dan-buka-usaha-apa-yang-harus-dilakukan-145271/

Kerja Sebagai Tele Marketer Kartu Kredit, Apakah Mengandung Riba?

telemarketer

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

SAYA  ingin berkonsultasi apa yang sedang menjadi kebingunan saya sekarang ini. Saya bekerja sebagai tele marketer untuk sebuah bank asing di Jakarta. Meskipun pekerjaan saya hanya menginformasikan promo-promo saja untuk pemegang kartu kredit, namun saya merasa menyeret orang untuk berbuat hutang. Apakah dengan saya bekerja sebagai tele marketer yang seperti saya terangkan, berarti penghasilan saya mengandung riba?

Terus terang hati ini sudah meronta dan ragu-ragu mengerjakanya, akan tetapi lagi-lagi realita berbicara berlawanan. Sulitnya lapangan pekerjaan membuat saya memutuskan untuk bertahan dengan pekerjaan yang ada. Apalagi saya seorang tunanetra yang notabena perusahaan masih berpikir bahkan mencari alsan untuk menerima saya bekerja.

Ingin saya cepat berhenti dari pekerjaan tersebut, akan tetapi saya mempunyai tanggung jawab untuk membiayai sekolah adik saya, dan belanja kebutuhan sehari-hari rumah tangga kami. Ingin sekali saya berwiraswasta namun sulit sekali mengumpulkan modal. Mohon solusinya dari saudara/saudari keluarga sakinah finance. Terima kasih saya ucapkan atas solusinya nanti.

Irfan Priadi

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Alhamdulillah, kami sangat bersyukur bisa silaturrahim dengan Bapak Irfan melalui rubrik ini.

Kami sangat paham kondisi Bapak saat ini, di mana mencari pekerjaan baru tidak mudah sementara kebutuhan primer (darurat) harus tetap dicukupi. Izinkan kami mencuplik nasihat Bapak Dr. Muhammad Syafii Antonio, seorang pakar ekonomi syariah di negara kita yang merupakan senior kami tentang hal yang sama.

Saat itu beliau menjawab pertanyaan dari seseorang yang bekerja di bank konvensional yang setiap harinya mengurus transaksi ribawi.

Beliau mengatakan bahwa yang bersangkutan sebaiknya terus mencari pekerjaan baru yang LEBIH BAIK, dan menganggap tempat bekerja sekarang adalah tempat latihan bekerja.

Kami sepakat dengan nasihat beliau tersebut, untuk itu dengan segala kekurangan kami ingin memberikan saran – saran yang mungkin dapat Bapak tempuh, seperti berikut:

1. Teguhkan niat untuk mencari alternatif pekerjaan yang lebih baik. Apalagi kalau hati kecil sudah resah ketika Bapak mempromosikan kartu kredit yang mungkin menjadikan nasabah yang bersangkutan terlibat dengan hutang. Sebagai catatan, di rubrik sebelumnya kami tidak memvonis bahwa nasabah yang memegang kartu kredit semuanya terlibat hutang mubazir, ada juga yang menggunakannnya dengan akal sehat dan untuk emergensi. Kami hanya menekankan bahwa banyak kasus dimana manajemen keuangan keluarga tidak bisa berjalan baik karena penggunaan kartu kredit yang berlebihan.

2. Allah perintahkan kita untuk memakan semua yang ada di bumi ini yang halal dan baik, lihat Al-Baqarah (2):168, untuk perintah yang umum, dan Al-Anfal (8):69) untuk perintah yang khusus. Kedua ayat ini sama – sama menjelaskan yang kita konsumsi, tidak hanya halal, tapi juga harus baik.

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu (Al-Baqarah (2):168).

3. Niat Bapak untuk wirausaha sangat mulia, juga dalam rangka mengikuti Sunnah Rasulullah SAW. InsyaaAllah dengan niat yang teguh dan usaha yang maksimal, Bapak dapat menggunakan keahlian Bapak selama ini untuk berwirausaha, dengan menjalankannya sendiri atau bermitra. Bapak bisa mendatangi koperasi syariah atau bank syariah terdekat untuk mendapatkan advis tentang modal kerja. InshaaAllah, rezeki tidak akan kemana karna sudah ditetapkan, semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh), lihat Hud (11):6. Terkadang kala rezeki itu datang tidak disangka – sangka, seperti yang dilukiskan dalam At-Talaq (65):3:

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (At-Talaq (65):3).

4. Tentunya, terakhir, tawakal setelah berusaha, percaya bahwa Allah memberikan senantiasa yang terbaik untuk kita seperti yang disebutkan dalam sebuah hadith, Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, sungguh kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, di pagi hari ia keluar dalam keadaan perut kosong dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad, al-Nasa`i, al-Hakim, dan al-Baihaqi).

Demikian, semoga sumbang saran ini bermanfaat. Wallahu’alam.

Salam ta’zim,

Sakinah Finance.

Sumber: https://www.islampos.com/kerja-sebagai-tele-marketer-kartu-kredit-apakah-mengandung-riba-155984/

Mengatur Keuangan (lanjutan)

Wassalamualaykum.

Ibu Hasnah yang baik, dan pembaca lainnya. Supaya bisa memberikan pemahaman kepada semua, jawaban terhadap Image sakina 1pertanyaan ibu Hasnah kami post sebagai postingan baru.

Shobahulkhoir! Selamat pagi! Alhamdulillah sungguh sangat baik sekali ketika pada saat awal kehidupan rumah tangga, ibu sudah memikirkan kehidupan pada masa pensiun kelak. Mengenai investasi, saat ini sangat beragam, tergantung apakah ibu mau meleburkan dana/skill ibu dan suami dalam bentuk investasi yang ibu minat (konsep Musyarakah) atau ibu dan suami hanya ingin meleburkan dana dan meminta orang lain yang mengelolanya (konsep Mudharabah).

Konsep di atas disebut juga syirkah atau kongsi (bekerjasama dalam perniagaan baik pengadaan barang atau jasa yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan). Menurut berbagai sumber yang saya kutip (Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) website, Buku Bank Syariah dari Teori ke Praktik karangan Dr. Muhammad Syafii Antonio (Tazkia), dan Wikipedia Indonesia), ada berbagai jenis bentuk investasi di kedua konsep ini yaitu:

1) Syirkah Inan
Syirkah inan adalah syirkah di mana ada 2 pihak atau lebih, yang setiap pihak menyumbangkan modal dan terlibat dalam pekerjaan. Contohnya Bu Hasnah dan Bu Wati menjalankan usaha Salon Muslilmah bersama-sama dan masing-masing mengeluarkan modal Rp.30.000.000 (Bu Hasnah) dan Rp.70.000.000 (Bu Wati). Jika ada keuntungan, maka pembagiannya adalah berdasarkan kesepakatan para pihak (mungkin bisa 30:70, atau 50:50) sedangkan pembagian kerugiaan berdasarkan persentase modal (yaitu dalam hal ini 30:70).

2) Syirkah Abdan
Kerjasama ini berdasarkan tenaga saja tanpa ada modal. Keuntungan yang didapat dibagi berdasarkan kesepakatan dengan melihat siapa yang berkontribusi lebih banyak dll.

3) Syirkah Mudharabah
Kerjasama ini adalah satu pihak mengeluarkan modal (misalnya Bu Hasnah) dan pihak lain menjalankan pekerjaan (misalnya Bu Wati). Mengenai keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan namun untuk kerugiaan harus ditanggung pemilik modal saja sepanjang kerugiaan tidak keluar dari apa yang sudah disepakati atau kerugiaan yang terjadi adalah diluar kekuasaan pengelola.

4) Syirkah Wujuh
Disebut syirkah wujuh karena berdasarkan kepada posisi, ketokohan atau keahlian (wujuh) seseorang di depan masyarakat. Jadi pihak – pihak (Bu Hasnah dan Bu Wati dan pihak lain kalau ada) ini menggunakan nama baiknya untuk mendapatkan barang dari suplier dengan cara berhutang yang akan dibayar setelah barang dapat laku dijual. Adapun keuntungan dan kerugiaan ditanggung oleh Bu Hasnah dan Bu Wati.

5) Syirkah Mufawadhah
Syirkah mufawadhah adalah syirkah antara 2 pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis syirkah di atas (syirkah inan, ‘abdan, mudharabah dan wujuh).

6) Syirkah al Milk
1. Syirkah Al Milk mengandung arti kepemilikan bersama (co-ownership) ketika dua orang atau lebih memperoleh kepemilikan bersama (joint ownership) atau suatu kekayaan (aset). Misalnya, Bu Hasnah dan Bu Wati menerima warisan/hibah/wasiat sebidang tanah atau harta kekayaan. Aset tersebut dikelola bersama untuk mendapatkan keuntungan, misalnya disewakan atau dijadikan tempat cucian mobil. Keuntungan yang didapat dibagi berdasarkan kesepakatan para pihak, begitu juga kerugiaan hingga saatnya harta tersebut/aset tersebut dipisah berdasarkan hak milik masing – masing.

Dari gambaran jenis – jenis investasi di atas sekarang tergantung Bu Hasnah, apakah akan menjalankannya secara langsung (seperti ilustrasi di atas) atau melalui institusi keuangan syariah, seperti bank syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, pasar modal syariah, dan manajemen keuangan syariah. Jika memilih untuk berinvestasi melalui instansi keuangan syariah, keuntungan yang ditawarkan beragam, dari yang resikonya rendah dan bagi hasil rendah seperti deposito di bank syariah dengan konsep Mudharabah (lihat penjelasan nomor 3 di atas) atau dengan investasi modal Musyarakah Al-Inan (lihat nomor 1) atau dengan resiko tinggi dan bagi hasil (dividen) yang mungkin bisa tinggi seperti peleburan dana di pasar modal syariah dengan konsep Mudharabah.

Silahkan baca posting kami sebelumnya mengenai pengelolaan dana pensiun sebelumnya.

Semoga manfaat, silahkan dicoba, biidznillah. Salam ta’zim,

Murniati
Glasgow, Scotland, United Kingdom
Pukul 9:26 pagi, Sabtu penuh keberkahan, 26 Januari 2013

Bagaimana mendapatkan modal (lanjutan Konsultasi #14)

Assalaamu’alaikum,

image sakina 2Postingan ini melanjutkan pertanyaan yang diajukan oleh Mba Etik melalui post sebelumnya tentang modal usaha.

Terima kasih sudah berkenan bersilaturrahim di forum ini. Sertifikat tanah memang salah satu aset yang diterima oleh pihak bank syariah atau gadai syariah untuk dijadikan aset jaminan tentunya jika memenuhi syarat2 yang sudah ditentukan misalnya: sertikat atas nama sendiri jika tidak, nama yang tertera harus memberikan surat kuasa penggunaan aset; sertifikat belum pernah digadaikan ke tempat lain (atau jika sudah digadaikan harus dilihat apakah masih bisa berkongsi gadai/jaminan, tergantung dari nilai aset yang dimiliki dan berapa dana yang diperlukan); dll.

Tentunya sertifikat yang merupakan surat berharga ini sah di mata hukum, dan dapat dibawa ke saudara/kenalan yang memiliki modal untuk dapat memberikan pinjaman modal dengan cara gadai syariah, atau melalui institusi resmi seperti bank syariah atau kantor pegadaian syariah yang menerima sertifikat. Catatan: Hingga saat ini bank syariah yang menawarkan gadai syariah hanya menerima emas murni saja. Jadi jika membawa sertifikat ke bank syariah, nasabah akan ditawarkan bentuk kerjasama investasi Musyarakah atau Mudharabah, bukan melalui proses gadai.

Mengenai konsep gadai syariah (atau dalam bahasa Arabnya dikenal dengan Rahn) yang diterapkan bank syariah atau kantor pegadaian syariah adalah akad yang akan dijalankan adalah Qardh (yaitu pemilik modal memberikan dananya dengan tidak mengharap pengembalian) dan akad Ijarah (yaitu pemilik modal meminta biaya sewa atas jaminan yang diberikan kepadanya yang telah meminta pemilik modal menyimpannya).

Gadai sudah dipraktikkan oleh Rasulullah sejak dulu lagi, ketika Rasulullah menggadaikan baju besinya untuk sekarung gandum. Sehingga contoh ini dapat kita ikuti. Berikut adalah fatwa terkait dengan gadai syariah di Indonesia;

Fatwa DSN MUI No 25/DSN-MUI/III/2002 tentang rahn, Fatwa DSN MUI No 26/DSN-MUI/III/2002 tentang rahn emas, dan Fatwa DSN MUI No 68/DSN-MUI/III/2008 tentang rahn tasjily.

Semoga manfaat dan semoga rencana bisnis yang didahului dengan niat baik ini akan Allah lancarkan dan berikan keberkahan. Innamal a’malu binniyat.

Murniati
Glasgow, Scotland, United Kingdom

Konsultasi #3; Mulai Bisnis Syariah

Ini pertanyaan yang disampaikan pembaca SakinaFinance dalam post kami terdahulu.

Assalamu’alaikum.Saya seorang pekerja salah satu BUMN yang telah bekerja selama 20 tahun dan sampai saat ini hanya hidup dari gaji bulanan. Saat ini saya ingin sekali memulai bisnis tetapi belum tahu harus mulai dari mana. Saya coba memberanikan diri mengambil Kios ukuran 2.5 x 6 meter di Gateway Apartement beserta satu apartement type studio (23 m2) Bandung, yang saat ini masih tahap pembangunan dan akan selesai pada bulan Oktober 2012.Sampai saat ini yang terpikirkan oleh saya baru bisnis laundry dan mini market pada kios dan apartement rencana akan saya sewakan. Kira2 bisnis apa yang sebaiknya saya jalankan sesuai dengan syariah islam. Kalau ada bukunya tolong diinfokan, saya ingin sekali bisnis ini dapat menambah penghasilan terutama saat saya pensiun nanti sesuai dengan syariah Islam.

Bapak I

Yth. Bapak I

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Terima kasih atas pertanyaannya, maaf atas keterlambatan jawaban ini.

Alhamdulillah Bapak sudah jauh memikirkan masa depan dengan perencanaan tentang penggunaan investasi yang sedang Bapak jalankan. Semoga sebelum di penghujung tahun ini, bisnis Bapak sudah dapat beroperasi.

Cara berbisnis secara syariah Islam insyaAllah akan menjadikan bisnis Bapak menjadi berkah. Untuk itu, perlu dibuat perencanaan bagaimana supaya bisnis Bapak tetap berada di dalam koridor syariah. Rasulullah SAW telah menghabiskan sebagian usianya yaitu kurang lebih 25 tahun dalam berbisnis. Beliau mencontohkan bagaimana membangun jiwa entrepreneurship, bagaiamana strategi memulai bisnis dengan minim modal dan bagaimana membangun kepercayaan para investor dan mitra usaha. Beliau pandai memilih komoditi yang laku di pasaran dan sudah menjelajahi semua pasar pasar regional jazirah arab untuk mengetahuinya.

Ketika beliau diangkat menjadi Nabi, beliau menetapkan kebijakan ekonomi politik yang mampu menopang lahir dan berkembangnya suatu peradaban baru. Beliau membangun baitul mal (atau bahasa kerennya sekarang adalah Federal Reserve). Beiau mengadopsi mata uang anti inflasi (Islamic Gold DInar). Di tengah – tengah itu, beliau mengajarkan ummatnya untuk hidup kaya dan taqwa, zuhud dalam keberlimpahan, mandiri serta memberdayakan sesama.

Tiada hentinya juga, beliau mengingatkan ummatnya untuk selalu berorientasi pada rezeki yang halal dan menjauhi yang haram. Dalam haditnya, beliau bersabda: “Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban setelah kewajiban melaksanakan fardhu fardhu lainnya” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul iman No. 1191, Hadis ini shahih dalam As Silsilah As Shahihah No. 2607). 
Rasulullah SAW menegaskan bahwa kesuksesan hanya akan diperoleh jika kita ikhlas, sungguh sungguh bekerja keras serta berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan hasil terbaik dalam semua bidang yang kita geluti. Atau apa yang ia namakan dengan konsep Al Itqan. “Sesungguhnya Allah sangat senang dengan seorang hamba yang melakukan suatu tugas secara itqan” (HR. AL Baihaqi dalam Syu’abul iman No. 5080. Konsep itqan berarti melakukan sesuatu hal dengan kualitas yang sebaik mungkin.

Secara ringkas, sekedar mengingatkan ketika memulai bisnis Bapak nanti, pastikan transaksi bisnis menggunakan bank syariah, asuransi yang digunakan adalah asuransi syariah, karyawan yang bekerja memakai pakaian yang menutup aurat, semua manajemen dan karyawan menjaga hubungan antara muhrim dan non-muhrim, diadakan pengajian rutin di tempat bekerja dan barang serta jasa yang dijual tidak mengandung riba, gharar dan maysir atau dapat dipastikan halal, baik dan tidak mubadzir.

Adapun buku yang dapat disarankan adalah Ensiklopedia Rasulullah SAW “The Super Leader Super Manager” yang dapat dipesan melalui Tim Tazkia Book Network, Jakarta. Volume 2 bertajuk “Bisnis dan Kewirausahaan” adalah sangat cocok untuk pegangan dalam berbisnis secara syariah Islam.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih.

Murniati Mukhlisin