Tinggalkan Hukum Waris Islami, Ikuti Perkembangan Zaman

dr-murniati-mukhlisin-m-acc-_160524115918-129

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc (Konsultan, Sakinah Finance, Colchester – UK)

”Tinggalkan hukum waris Islami, ikuti perkembangan zaman!” Begitu kira-kira beberapa tanggapan keluarga Muslim ketika menghadapi persoalan pembagian warisan.

Alasannya bermacam-macam, mulai dari rasa tidak adil akan hak waris antara suami dan istri, hak anak laki-laki dan anak perempuan, isi wasiat, keadaan ahli waris yang mapan dari sisi keuangan, hingga pengurusan utang-piutang si mayat. Setuju untuk tinggalkan hukum waris Islami?

Perintah Mawarits
Perintah hukum waris Islami (mawarits) turun secara berangsur. Kali pertama ketika masa hijrah. Surah al-Anfal (8):72 menyatakan bahwa hak waris-mewarisi dari hubungan muakhaat (hubungan persaudaraan) antara kaum muhajirin dan ansar. Kemudian fase Fathu Makkah, yaitu dengan turunnya surah al-Ahzab (33): 6 dan al-Anfal (8): 75 yang menegaskan bahwa yang berhak mendapatkan harta waris adalah yang punya hubungan kerabat.

Kemudian lagi turun ayat-ayat mawarits yang membatalkan (memansukhkan) ayat-ayat di atas, yaitu dengan diturunkannya surat an-Nisa (4): 7 yang berisikan perintah mawarits secara global bahwa laki-laki dan perempuan punya hak waris dari kerabat yang meninggal dunia.

Lalu, Allah turunkan lagi surah an-Nisa (4): 11 menerangkan secara terperinci hak waris untuk anak laki-laki dan perempuan, ibu dan bapak. Seterusnya adalah QS an-Nisa (4): 12 yang berisikan aturan hak waris suami dan istri, baik punya atau tidak punya keturunan dan hak waris saudara dan saudari seibu. QS an-Nisa (4): 176 menegaskan status hak waris saudara dan saudari kandung maupun seayah.

Di ketiga ayat tadi Allah SWT menegaskan bahwa pembagian harta waris belum bisa dilaksanakan jika belum dikeluarkan dari harta peninggalannya berupa utang. Sisanya, jika masih ada, dikeluarkan wasiat sesuai syara.

Biaya kubur juga adalah salah satu hal utama yang harus dikeluarkan dari harta waris. Jika ternyata harta tidak cukup untuk membayar utang dan menunaikan wasiat, harus ada yang menanggung utangnya dan wasiat ditiadakan. Di sinilah letak pentingnya pengelolaan keuangan keluarga yang sistematis dan konsisten.

Ayat-ayat di atas sangat terperinci sehingga urusan waris dalam Islam menjadi ilmu tersendiri yang harus dipelajari oleh semua keluarga Muslim. Banyak keluarga yang tidak dapat menyelesaikan hukum waris yang sering berakhir dengan sengketa karena tidak memiliki kepahaman yang sama atas hukum waris tersebut.

Banyak inisiatif yang patut diacungkan jempol dari berbagai pusat dan lembaga waris di Tanah Air yang dapat menjadi rujukan para keluarga Muslim. Salah satunya adalah Majelis al-Mawarits asuhan Ustaz Mhd Jabal Alamsyah yang bertekad untuk mewujudkan sejuta keluarga muslim melek mawarits (KM3).

Majelis ini sudah banyak bersinergi dengan tim Sakinah Finance dalam visi-misi menggalakkan pengelolaan keuangan keluarga Islami.

Siapakah yang berhak atas harta waris?

Ada 23 ashhab al-itrsi (ahli waris tingkat pertama) yang berhak atas harta warisan setiap kematian Muslim/Muslimah. Ada lima yang pasti berhak mendapat waris jika mereka masih hidup, yaitu anak laki-laki, anak perempuan, ayah, ibu, dan suami/istri si mayat. Jika ada ayah atau anak laki-laki si mayat, maka semua golongan saudara dan saudari serta paman si mayat akan terhalang total.

Para ahli waris tidak mendapatkan hak waris sama rata dan ternyata di sinilah letak keadilannya. Misalnya, hak waris suami adalah setengah jika istri meninggal dan tidak punya keturunan. Sedangkan istri mendapatkan seperempat jika suami meninggal dan sang suami tidak punya keturunan. Sedangkan, anak laki-laki akan mendapatkan hak waris dua bagian dibanding anak perempuan.

QS an-Nisa (4): 34 dengan tegas menyebutkan fungsi laki-laki sebagai pemimpin (qawwamah) atas perempuan dan suami sebagai penanggung jawab atas nafkah istrinya yang diambil dari sebagian hartanya.

Dengan adanya hukum waris yang sedemikian rupa maka tampak bahwa harta waris yang didapat oleh pihak laki-laki dalam posisi lebih besar, seperti anak laki-laki lebih besar dua kali daripada anak perempuan si mayit karena kewajiban nafkah yang dibebankan kepadanya.

Ia wajib menafkahi adiknya yang perempuan dan kewajiban menafkahi keluarganya, termasuk istrinya. Sedangkan, wanita, baik anak perempuan si mayit, juga ibu, istri, dan saudari si mayit akan menggunakan harta waris hanya untuk dirinya sendiri dan tidak ada kewajiban menafkahi. Sayangnya, sistem pewarisan yang tidak rata ini banyak dikecam tidak hanya oleh golongan non-Muslim, tapi juga dari kaum Muslim sendiri karena pengaruh zaman emansipasi dan feminisme saat ini.

Permasalahan wanita atau janda yang terabaikan tidak diselesaikan dengan mengabaikan perintah Allah SWT dalam ayat-ayat mawarits di atas yang bersifat menjadi kewajiban yang telah ditetapkan (fariidhatam-minallah). Islam sudah menyiapkan perangkat lain, misalnya baitul mal atau lembaga zakat untuk menyelesaikan masalah perempuan, janda, dan anak yatim piatu yang tergolong mustahik.

Sengketa

Jika urusan waris keluarga Muslim tidak dapat diselesaikan dengan sistem kekeluargaan, sengketa bisa dibawa ke pengadilan agama, naik banding ke pengadilan tinggi agama hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung.

Para badan peradilan tersebut menggunakan Kompilasi Hukum Islam Indonesia (KHII) yang merujuk kepada Alquran dan hadis sebagai bahan dasar pengambilan putusan pengadilan. Adapun sengketa waris di luar wewenang pengadilan agama seperti yang terkait dengan non-Muslim akan dibawa ke pengadilan umum dan badan peradilan yang lebih tinggi.

Menurut beberapa penelitian, kasus sengketa waris di Indonesia menduduki peringkat tertinggi kedua setelah masalah perkawinan.

Jawaban: tunaikan hukum waris Islami

Bagi kaum yang berakal (ulul albab) tentu banyak hikmah yang dapat dipetik setelah mengamati dan mengikuti isu tentang mawarits. Marilah menjadi Muslim yang sepenuhnya (full time Moslem), jangan jadi part-timer, termasuk menunaikan soal waris ini sebagai salah satu cara supaya dapat menebalkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT.

Lihat QS al-Baqarah (2): 208, ”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya ….” Perintah ini mengandung makna bahwa kita selaku orang yang beriman, baik lelaki atau perempuan yang hidup di mana saja dan di zaman kapan pun harus mengikuti ajaran Islam secara sepenuhnya.

Jika setelah menunaikan hukum waris ada ahli waris yang ingin memberikan harta bagiannya kepada ayah, ibu, atau saudara, maka babnya adalah sedekah. Yang penting pasangkan niat dan tunaikan hukum waris Islami. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Diterbitkan juga di:

Suara Islam

Islampos

MySharing

Hidayatullah

Majalah GontorWarisan-timbangan-palu

 

Advertisements

Bukan Sekedar Sholat Jenazah

jena5Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Konsultan, Sakinah Finance, Colchester-UK

KETIKA menginjakan kaki di lapangan terbang King Abdul Aziz, Jeddah kemarin, saya teringat isi obrolan ringan di Colchester pekan lalu yang dibawakan oleh Dr. Muhammad Syafii Antonio, pakar ekonomi syariah dari tanah air yang juga Ketua STEI Tazkia, Bogor.

Menurut beliau ada kesalahpahaman di kalangan umat Islam tentang apa yang dimaksud dengan fardhu kifayah. Banyak yang berfikir bahwa fardhu kidayah adalah hanya memandikan dan menyelenggarakan sholat jenazah. Padahal definisi fardhu kifayah sendiri adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh umat secara bersama-sama, dan jika dilakukan oleh satu orang saja dari umat maka kewajiban itu gugur dari seluruh Muslim yang lain. Namun jika tidak ada satupun yang mengerjakannya, maka kewajiban tersebut menjadi tanggungan semuanya.

Ayo kita pahami lagi makna fardhu kifayah

Dari definisi yang ada ternyata makna fardhu kifayah sangat luas. Fardhu kifayah berlaku di berbagai aspek kehidupan manusia, seperti yang telah dicontohkan dalam peradaban yang dibangun Rasulullah SAW di Madinah.

Masjid yang dibangun oleh Rasul yang sekarang dikenal dengan Masjid Nabawi ini, bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga dijadikan pusat politik, pemerintahan, pertahanan, penyebaran ilmu pengetahuan, bantuan, perlindungan, dan kegiatan da’wah. Lengkap sudah bahwa bukan hanya hubungan dengan Allah (habluminnallah) tetapi juga hubungan antar manusia (habluminannas) menjadi sumber – sumber kekuatan Umat saat itu.

Semangat itu seharusnya kita bawa saat ini, Umat Islam pemberi solusi untuk berbagai permasalahan yang ada sekarang ini, bukan Umat Islam yang selalu bergantung kepada hasil kerja kaum lain. Dari sisi ekonomi misalnya, posisi kita yang mayoritasnya adalah konsumen sudah saatnya beralih menjadi produsen.

Bukankah Al-Qur’an juga sudah menyebutkan Ulil Albab, Ulil Abshor dan Ulil Nuha, jabatan paling prestisius bagi kaum yang berakal, yang mau berfikir dan berusaha mempelajari dan menemukan nikmat – nikmat Tuhan baik di bumi, langit dan di antara keduanya. Pada akhirnya orang-orang ini diberikan lagi jabatan yang lebih tinggi beberapa derajat karena ilmunya (QS Al-Mujadalah (58): 11).

Dimanakah umat Islam saat ini?

Silahkan dicek urutan orang terkaya di dunia dan di Indonesia tahun 2016 yang baru dirilis oleh Majalah Forbes. Dari situ dengan sekilas kita dapat menebak, siapa penyedia barang dan jasa yang terbesar yang akhirnya mengontrol kebutuhan Umat saat ini.

Syafii Antonio memberikan contoh urusan haji atau umrah dalam diskusi pekan lalu. Walaupun saat ini belum musim haji namun berbondong-bondong masyarakat Muslim berdatangan untuk menunaikan ibadah umrah ke tanah suci. Dalam pesawat British Airways yang saya tumpangi, saya perhatikan ada rombongan yang sudah siap dengan pakaian ihramnya ketika melewati batas miqat sejenak sebelum pesawat mendarat.

Sahabat Sakinah Finance, Agus Junaidi membantu saya berhitung, jika seorang membayar 900 poundsterling, paket ekonomi saat ini untuk keberangkatan dari London selama 10 hari, maka untuk apa saja peruntukannya perorang.
Biaya pesawat 250
Biaya hotel di Mekkah dan Madinah 250
Biaya makan 100
Biaya transportasi lokal 100
Biaya visa 50
Keuntungan travel umrah 150

Dari hitungan kasar di atas kita lihat bahwa ada sekitar 30 persen dari paket di atas dialokasikan untuk biaya pesawat yang tentunya keuntungannya akan dinikmati oleh perusahaan Boeing dan Airbus.

Dari alokasi di atas, ada 30 persen disisihkan untuk hotel yang umumnya dikuasai oleh pemilik modal asing. Sekitar 10 persen biaya dialokasikam ke bis dan taksi yang biasanya diproduksi oleh Toyota, GMC, Hyundai, dan Nissan.

Adapun 10 persen urusan makan dan minum dikuasai yang pemasok dari Thailand dan Cina. Belum lagi kita bicara mengenai alat peralatan umrah dari kain ihram, sejadah, derigen air, mukena dan tasbih yang lucunya banyak berlabel Made in Cina. Alat komunikasi pun sangat jelas, handphone Nokia, iPhone, Samsung, Sony yang bukan milik Umat.

Contoh di atas hanya sekadar urusan umrah belum lagi masalah pendidikan dan lain – lain, masih sangat sedikit Umat Islam yang memainkan peranan besar. Maka dari itu mari bulatkan semangat untuk membuat perubahan.

Mulailah dari keluarga dan lingkungan sekitar

Mari kita tanamkan niat untuk senantiasa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain (khoirunnas anfa’uhum linnas). Juga berazam untuk menumbuhkan sikap dan mental yang tangguh serta tidak biasa menyia-nyiakan waktu. Tak kalah pentingnya, marilah kita pastikan untuk selalu berusaha berbuat yang terbaik, jika ada yang kurang, diperbaiki secara berkala (konsep itqon).

Tidak dinafikan lagi bahwa Rasulullah SAW adalah panutan bagi kita di berbagai aspek, termasuk cara beliau berdagang yang telah beliau jalani selama hampir 25 tahun sebelum misi beliau menjadi Rasul. Seperti yang sudah pernah dibahas bahwa prinsip – prinsip perdagangan yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah sangat sederhana sehingga sangat mudah dipraktikkan.

Tentu saja, syarat – syarat halal dan baik, misi ibadah, dan akhak yang mulia sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW ketika melakukan transaksi bisnis. Beliau juga visioner, hebat dalam membuat perencanaan dan penyusunan strategi diiringi dengan permohonan doa kepada Allah SWT sehingga banyak impian beliau menjadi kenyataan.

Bukan hanya dari aspek perdagangan, namun apapun profesi dan bidang yang digeluti, mari kita pastikan menjadi yang terbaik. Pada akhirnya, umat Islam dapat memainkan peranan yang lebih signifikan lagi. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah dari Kota Mekkah.

Artikel ini diterbitkan di:
Islampos

Republika

MySharing

Hidayatullah

Suara Islam: http://www.suara-islam.com/read/index/17425/Bukan-Sekadar-Salat-Jenazah

 

Kematian dan Keuangan Keluarga

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Sakinah Finance, Colchester, UK

Jika kematian adalah pasti, tidak bisa ditunda, dan tidak tahu di mana kita akan meninggalkan dunia yang sementara ini, apa saja yang sudah kita siapkan?

kubur.png
Taman Pemakaman Karet Bivak, Jakarta (Dokumen Pribadi)

Kematian itu pasti (QS. Al Ankabut (29): 57), kematian itu tidak akan dapat ditunda atau dimajukan (QS. Al-‘A`raf (7): 34; QS. Yunus (10): 49); QS. Al-Hijr (15): 5; QS. An-Nahl (16): 61; QS. Al-Mu’minun (23): 43; QS. Al-Munafiqun (63): 11) dan tidak ada seorangpun tahu di bumi mana dia akan mati, hanya Allah Ya ‘Aliim Ya Khobiir yang Maha Mengetahui dan Maha Mengenal (QS. Luqman (31):34).

Tweet Jika kematian itu sudah pasti, apa saja yang sudah kita siapkan? #JumatBerkah CLICK TO TWEET
Rasulullah SAW meninggal dunia tidak meninggalkan harta warisan, yang ditinggalkannya adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Amru bin Al Harits meriwayatkan, Rasulullah SAW tidaklah meninggalkan harta (harta warisan) kecuali pedang beliau, baghol (hewan hasil peranakan kuda dan kedelai) yang berwarna putih dan sebidang tanah yang semuanya dijadikan sebagai shadaqah (HR. Bukhari No. 2696) lihat juga HR An-Nasa’i No. 3540, HR Ahmad No. 17730), kesemuanya shahih.

Hutang
Ketika bicara hutang (baca Ingin Bebas dari Hutang-Piutang dan Buka Usaha, Apa yang Harus Dilakukan? artikel bulan November, 2014), kita diingatkan dengan anjuran Rasulullah SAW untuk tidak meninggal dunia dalam keadaan berhutang.

Hutang di sini bukan saja hutang dalam bentuk pinjaman bank atau dari orang lain yang harus dibayar tetapi juga hutang – hutang lainnya. Misalnya hutang zakat, hutang puasa, hutang nazar dan denda ibadah lainnya serta hutang janji.

Hutang bukan cuma soal uang, juga hutang puasa, zakat, nazar, dan denda ibadah lainnya CLICK TO TWEET
Kali ini mari kita lihat lagi apa saja selain hutang yang harus kita persiapkan.

Biaya Kubur
Harta si mayit boleh dikurangi untuk biaya penguburan asalkan pada batas sewajarnya atau tidak berlebihan seperti mengadakan malam tahlilan berhari – hari dengan biaya makan minum dan sebagainya.

Zakat
Zakat yang harus ditunaikan ada bermacam-macam, sebaiknya dipelajari semua bentuknya dan hitung semua harta kita yang belum dihadiahkan (kalau sudah pindah nama ke anak yang sudah aqil baligh dan punya kemampuan membayar zakat sendiri maka harta tersebut tidak perlu dimasukkan di dalam daftar zakat). Zakat yang perlu dipelajari antara lain adalah zakat fitrah, zakat emas, perak dan investasi, zakat gaji, zakat pertanian, zakat perdagangan, zakat hewan ternak, zakat barang galian, zakat barang temuan.

Warisan
Mungkin agak tabu membicarakan soal warisan ketika orangtua masih hidup namun untuk menghindari sengketa di kemudian hari ada baiknya dibuat klarifikasi dengan orangtua. Mungkin saja orangtua mempunyai banyak harta untuk diwariskan namun mereka juga punya banyak hutang yang harus diselesaikan.

Bicarakan soal warisan sebelum orang tua meninggal untuk menghindari sengketa di kemudian hari CLICK TO TWEET
Begitu juga mengenai hukum pembagian warisan yang dapat kita rujuk di beberapa ayat Al-Quran misalnya di QS. Al-Anfal (8):75 yang dimansukhkan oleh QS. An-Nisa (4): 11-12 dan 176; dan seterusnya di QS. Al-Ahzab (33): 6). Ada enam tipe persentase pembagian harta waris, ada pihak yang mendapatkan setengah (1/2), seperempat (1/4), seperdelapan (1/8), dua per tiga (2/3), sepertiga (1/3), dan seperenam (1/6).

Ada baiknya kita yang masih hidup mempelajarinya dengan baik paling tidak dengan mempunyai pemahaman sesuai ajaran Islam, tidak akan menimbulkan sengketa karena merasa tidak diberlakukan dengan adil dengan persentase perhitungan yang beragam seperti di atas.

Bicara soal sengketa, dilaporkan dalam sebuah berita bahwa pada tahun 2014, Komisi Yudisial (KY) mensinyalir maraknya kasus suap terjadi terhadap hakim dalam sengketa hak warisan bernilai miliaran rupiah di Pengadilan Agama.

Perkara seperti ini terjadi dikarenakan kurangnya ilmu faraidh (warisan) yang dimiliki ahli waris sehingga tidak menerima keputusan perhitungan warisan, selain tentunya adanya keserakahan akan harta dunia.

Transaksi dengan pihak luar
Terkadang ada transaksi yang memakan waktu lama baik itu jual beli, memberikan pinjaman kepada orang lain, atau menerima barang gadaian. Sebaiknya dibuat catatan yang jelas disamping tanggal transaksi dan jatuh tempo sehingga ahli waris dapat mudah menyelesaikannya dengan pihak lain, sehingga jelas apakah piutang tersebut itu dapat ditagih sehingga menambah jumlah harta waris atau sepakat untuk diikhlaskan.

Hibah dan Wasiat
Hibah atau hadiah berbeda dengan warisan karena hibah dapat diberikan kepada siapa saja selama masa hidup seseorang, termasuk kepada anak-anaknya yang merupakan ahli waris kelak tentu saja dengan niat yang benar dan bersikap adil.

Wasiat dapat diberikan kepada siapa saja kecuali ahli waris. Warisan hanya boleh ke ahli waris. CLICK TO TWEET
Wasiat juga berbeda dengan warisan karena wasiat dapat diucapkan atau dituliskan sebelum kematian dan wasiat boleh diberikan kepada siapa saja yang pantas dengan tujuan yang baik (kecuali ahli waris, lihat HR. Abu Daud No. 2870; Timizi No. 2120; An-Nasa’i, No. 4641; Ibnu Majah No. 2713), sedangkan warisan hanya dapat diberikan kepada ahli waris. Namun keduanya hanya dapat dihitung dan ditunaikan setelah kematian.

Sebagaimana ketentuan dalam fiqh mawaris, wasiat harta tidak boleh dilaksanakan lebih dari sepertiga dari jumlah harta. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW kepada Saad Ibn Abu Waqqas ketika bertanya tentang berapa jumlah wasiat yang dapat dibuatnya (HR. Bukhari No. 2742, shahih). Wasiat boleh untuk siapa saja (kecuali ahli waris) contohnya sebidang tanah untuk diwakafkan kepada pengelola sekolah. Sedangkan warisan hanya berlaku untuk ahli waris yang diambil dari sisa harta.

Kesimpulan
Persiapan untuk kematian bukan hanya urusan sehelai kain kafan tetapi banyak yang harus diselesaikan yang salah satunya untuk menuju kematian yang husnul khatimah.

Untuk gambaran umum, rumus pembagian Harta Warisan adalah sebagai berikut = Harta keseluruhan – Biaya Kubur – Hutang – Maksimum Sepertiga Wasiat.

Contoh, Harta keseluruhan = Rp. 75 juta, Biaya Kubur = 5 juta Hutang = Rp. 10 juta, harta setelah biaya kubur dan hutang adalah Rp. 60 juta yang siap dikurangi wasiat Rp. 30 juta.

Secara umum, rumus pembagian #Warisan = total harta–biaya kubur-hutang–1/3 wasiat CLICK TO TWEET
Karena wasiat melebihi sepertiga harta maka wasiat yang boleh mengurangi harta hanya Rp. 20 juta sehingga harta yang akan dibagikan kepada ahli waris adalah Rp. 40juta bukan Rp. 30 juta. Rumus – rumus ini dapat dipakai jika diiringi dengan ilmu yang memadai termasuk mencatatkannya dengan baik dan jelas.

Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah! Salam duka untuk berbagai tragedi yang menimpa negeri tercinta. Ya Allah Ya Waliy Ya Qowwy, lindungi Indonesia.

Read more:

MySharing

Republika

Islampos

Hidayatullah

Suara Islam