Promosi Keuangan Syariah di Canterbury, Inggris

murniatiemas-790x526

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Colchester – Inggris

Akuntansi dan Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) telah mengeluarkan standar syariah tentang investasi emas.

“Komoditas emas dan perak ini harus sesuai dengan jumlah fisiknya dan settlement harus diselesaikan dalam hari yang sama,” demikian ujar Konsultan Sakinah Finance Murniati Mukhlisin, dalam kuliah umum di Canterbury Christ Church University, Jumat 19 Desember 2016.

Murniati Mukhlisin mengemukakan adanya aturan syariah baru untuk investasi emas yang dapat diperdagangkan di papan bursa dunia.

Kuliah umum berjudul“Contemporary Issues in Islamic Finance and Accounting” itu diadakan pertama kali di kampus yang terletak di kota Canterbury, Kent, Inggris.

Dosen STEI Tazkia yang sedang bertugas di University of Essex, Inggris ini dalam paparannya mengatakan AAOIFI telah mengeluarkan Standar Syariah No. 57 tentang investasi Emas dan Pengawasan Perdagangan pada tanggal 19 November 2016 yang lalu.

Standar yang juga berlaku untuk perak tersebut digodok bersama – sama dengan World Gold Council yang diperkirakan akan meningkatkan permintaan dalam bentuk investasi ratusan ton emas.

Di tempat ini Murniati menjelaskan perkembangan keuangan syariah di Inggris yang merupakan Negara barat paling agresif dalam mengembangkan industry ini yang dibuktikan dengan meningkatnya jumlah bank syariah dan penerbitan sukuk negara yang berjumlah 200 juta poundsterling tahun 2014 yang lalu.

Para mahassiwa yang hadir nampak antusias berpartisipasi terutama ketika Ia menunjukan perbedaan antara pendekatan akuntasi dan audit untuk bank konvensional dan syariah. Terlebih lagi dalam bahasan agenda politik ekonomi dalam ranah akuntansi.

Sebagaimana diketahui, kampus yang berusia 50 tahun itu dikenal sebagai kampus misionaris yang di awal pendiriannya bertujuan untuk melahirkan guru – guru gereja.

Bersamaan dengan perjalanan waktu, kampus Cantebury membuka bidang disiplin lainnya termasuk jurusan bisnis.

Kota Canterbury terkenal sebagai kota turis bersejarah dengan adanya tiga lokasi yang termasuk di dalam Situs Warisan Dunia UNESCO yaitu Katedral Canterbury, Biara St Augustine, dan Gereja St Martin. Bahkan Katedral Caterbury yang didirikan sekitar abad ke-10 itu merupakan katedral dari Uskup Agung Canterbury, pemimpin Gereja Inggris dan symbol pimpinan dunia untuk komunitas Kristen Anglikan.

Dimuat di:

Hidayatullah

MySharing

Republika

Memberi Pinjaman kepada Allah?

Keuangan mikro syariah beroperasi berdasarkan prinsip ini. Artikel ini adalah jawaban atas artikel “Membangun Desa dengan Ekonomi Syariah.

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan Sakinah Finance, Colchester-Inggris


Begitulah secara harfiah kata “Qardhan Hasanan” dalam Q.S Al- Baqarah (2): 245 diartikan, yang lengkapnya adalah sebagai berikut: ”Siapakah yang mau meminjamkan pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (Qardhan Hasanan) maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” Lihat juga QS Al-Hadid (57): 11.

Siapa memberi pinjaman kepada Allah, dilapangkan rezekinya!CLICK TO TWEET

Aplikasi Qardh Al-hasan/Pinjaman Kebajikan
Dalam bahasa fiqh muamalah, Qardh Al-Hasan diartikan juga sebagai Al-Qardh (pinjaman) sebagaimana diterangkan dalam Fatwa DSN MUI No. 19/DSN-MUI/IV/2001 tentang Al-Qardh yaitu pinjaman yang diberikan kepada nasabah lembaga keuangan syariah (muqtaridh) bagi yang memerlukan dengan tidak menetapkan imbalan. Adapun jika ada sumbangan sukarela dari peminjam, lembaga keuangan syariah dapat menerimanya.

Dikatakan Al-Qardh karena pinjaman ini merupakan wujud peran sosial lembaga keuangan syariah untuk membantu masyarakat yang kekurangan secara finansial, maka pinjaman ini bersifat longgar. Artinya jika nasabah mengalami kesulitan untuk membayar dalam waktu yang telah ditentukan, maka pihak lembaga keuangan syariah dapat memperpanjang waktu pembayaran atau bahkan menghapusnya.

Pinjaman kebajikan, jika tidak sanggup bayar, boleh diperpanjang, bahkan hapus bukuCLICK TO TWEET

Namun dari sisi nasabah, pinjaman ini adalah hutang yang wajib untuk dikembalikan, jadi bukan karena bersifat pinjaman sosial maka nasabah kemudian tidak menganggapnya penting. Baca Artikel Sakinah Finance Januari 2016 tentang Kematian dan Keuangan Keluarga, mengenai konsekuensi hutang.

Bahkan sebagai bentuk pembelajaran, lembaga keuangan syariah dapat menjatuhkan sanksi kepada nasabah yang lalai, dan untuk tahap selanjutnya dapat menjual jaminan yang dititipkan.

Adapun sumber dana al-Qardh yang dikelola oleh lembaga keuangan syariah dapat berbentuk dana sosial seperti sumbangan, infaq, sedekah, pendapatan non-halal dan hasil pungutan denda, jadi memang penggunaannya untuk kegiatan sosial. Bagian dari modal dan hasil keuntungan yang disisihkan dapat juga menjadi sumber dana pinjaman kebajikan ini.

Sumbangan lembaga keuangan syariah
Dari sisi lembaga keuangan syariah seperti bank syariah yang memang fokusnya adalah komersial, dampak Qardh Al-hasan untuk masyarakat belum terukur baik. Sebuah penelitian di IAIN Walisongo Semarang pada tahun 2010 menyebutkan bahwa sebuah bank BUMN syariah cabang Semarang tidak memberikan pengaruh yang signifikan dari pembiayaan Qardh Al-hasan yang dikelolanya bagi perkembangan usaha kecil.

Dengan misi sosial yang diemban oleh setiap bank syariah atau lembaga keuangan syariah, hendaknya penggunaan “pinjaman kepada Allah’ ini dapat dikembangkan lebih baik lagi. Untuk membaca lebih detail mengenai aktifitas Qardh Al-hasan di lembaga keuangan syariah, pembaca dapat merujuk ke laporan keuangan lembaga tersebut yang diatur secara khusus di dalam PSAK Syariah No. 101 yaitu mengenai penyajian dan pengungkapan laporan keuangan bagi entitas syariah.

Bentuk nyata lainnya
Membaca artikel baru – baru ini di MySharing Bangun Desa dengan Ekonomi Syariah” cocok sekali jika program Qardh Al-hasan ini dipromosikan sebagai langkah awal membantu micro-entrepreneur di pedesaan.

Bangun desa dengan ekonomi syariah melalui pinjaman kebajikan!CLICK TO TWEET

Hal ini sudah dilakukan oleh Tazkia Microfinance Centre kepada hampir 5,000 anggota pemberdayaan ekonomi binaannya yang umumnya adalah keluarga di pedesaan. Keberhasilan para anggota untuk naik kelas dari garis kemiskinan adalah satu satu faktor pendekatan Qardh Al-hasan ini.

Selama enam bulan, para anggota diberikan pinjaman untuk menyelesaikan urusan mustahaknya seperti keterikatan dengan rentenir dan pemenuhan kebutuhan dasar. Selama enam bulan itu, para anggota dilatih kedisiplinannya dan kemudian baru dikenalkan dengan transaksi komersial berbasis syariah (tijari) seperti jual beli, bagi hasil, sewa dan sebagainya. Baca Artikel Sakinah Finance Desember 2015 tentang Berantas Kemiskinan di Indonesian dengan Disiplin.

Lembaga berbentuk koperasi syariah atau BMT lainnya yang juga menerapkan sistem Qardh Al-hasan kira – kira mempunyai tingkat sukses yang hampir sama.

Aplikasi untuk keluarga dan dampaknya
Praktik Qardh Al-hasan ini juga dapat diaplikasikan kepada keluarga dan lingkungan sekitar yang dapat digunakan sebagai solusi kebutuhan mendesak. Namun walaupun demikian, surat perjanjian pinjaman sederhana harus tetap ada untuk menghindari sengketa di masa depan.

Qardh al-Hassan mengajarkan kita untuk tidak tamak dengan harta!CLICK TO TWEET

Transaksi jenis ini dapat dijadikan contoh sederhana bagi anak – anak bahwa berekenomi tidak harus tamak dengan imbalan, imbalan dari Allah SWT tentunya lebih banyak dari sekedar bunga 10 persen. Dalam hadith berikut dijelaskan bahwa Qardh secara umum yang artinya pinjaman adalah lebih utama dari sedekah, “Sedekah dibalas sepuluh kali lipat dan Qardh delapan belas kali lipat. Karena saat seorang peminta meminta, (terkadang) ia masih memiliki (harta), sementara orang yang meminta pinjaman, ia tidak meminta pinjaman kecuali karena ada butuh” (HR Ibnu Majah No. 2422).

Tabungan atau hasil duit lebaran anak – anak dapat dijadikan sumber dana praktik Qardh Al-hasan ini. Berlatih membantu orang lain dapat menumbuhkan rasa prihatin bagi anak – anak kita dan akan menjadi kebiasaan baik ketika mereka besar kelak. Pada saat bersamaan, anak – anak berpeluang mendapatkan ilmu ekonomi syariah sejak kecil. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Read more:

MySharing

Hidayatullah

Suara Islam

Islampos

Republika

 

Saham Syariah, cocok untuk keuangan keluarga kita?

sahamsyariahuntukpemula

Foto: mysharing.co

Tahun 2015 ini dicanangkan menjadi Tahun Pasar Modal Syariah di Indonesia. Sosialisasi makin intensif dilakukan di berbagai tempat untuk mengajak para investor khususnya investor Muslim supaya berinvestasi di pasar modal dengan memilih saham-saham dan instrumen lain yang sudah disaring sesuai dengan prinsip investasi syariah.

Paling tidak sudah ada 16 fatwa DSN-MUI yang dikeluarkan sejak tahun 2001 hingga 2014 yang dapat dijadikan panduan bagi para pelaku pasar modal untuk bertranksaksi di pasar modal secara syariah.

Dr. Yulizar D. Sanrego, M.Ec seorang pakar ekonomi syariah yang juga dosen STEI Tazkia ini menjelaskan tentang Fatwa No. 80/DSN-MUI/III/2011 mengenai penerapan prinsip syariah dalam mekanisme perdagangan efek bersifat ekuitas di pasar reguler bursa efek. Fatwa menegaskan, 1. Transaksi saham dianggap sesuai Syariah apabila hanya melakukan jual-beli saham Syariah dan tidak melakukan transaksi yang dilarang secara syariah; 2. Saham yang sudah dibeli boleh ditransaksikan kembali meskipun settlement baru dilaksanakan pada T+3 sesuai prinsip Qabdh Hukmi (penguasaan komoditi oleh pembeli dalam bentuk dokumen), dan 3. Transaksi efek di Bursa Efek menggunakan akad Bai’ Al-musawamah (jual beli dengan mekanisme tawar menawar).

Sejak tahun 2011, Bursa Efek Indonesia sudah meluncurkan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang semua konstituennya terdaftar dalam Daftar Efek Syariah (DES). Menurut laporan Otoritas Jasa Keungan (OJK), per 6 Oktober 2015, telah disenaraikan sejumlah 334 saham syariah berkembang dari hanya 174 saham syariah pada tahun 2007. Adapun jumlah kapitalisasi per September 2015 adalah sebesar Rp. 1.609,93 triliun di Jakarta Islamic Index dan Rp. 2.449,10 triliun di ISSI. Walaupun mengalami penurunan dibandingkan bulan Maret 2015 yang lalu, jumlah saham syariah tetap bertahan. Jumlah saham syariah bisa turun naik setiap enam bulan sekali tergantung penilaian otoritas jasa keuangan (OJK), laporan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) serta dibantu dengan laporan dari Dewan Syariah Nasional (DSN).

Menurut Fatwa DSN No.20/DSN-MUI/IV/2001 dan Fatwa DSN-MUI No. 40/DSN-MUI/X/2003 serta diperkuat oleh Peraturan OJK No IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah, sebuah saham atau efek dikatakan syariah jika jenis kegiatan usaha dan struktur rasio keuangannya mengikuti ketentuan di fatwa tersebut. Adapun rambu-rambu yang sudah ditetapkan terkait kegiatan usaha perusahaan harus patuh pada prinsip 94:6 (lihat tulisan kami di Republika, Majalah Sharing, Islampos, Suara Islam, Radar Bogor tanggal 23 Juli 2015,) yaitu tidak boleh tergolong perjudian dan tidak jelas, berkaitan dengan riba, penjual makanan dan minuman haram, serta produsen barang yang banyak memberikan dampak negatif (mudharat). Contohnya, perusahaan yang memproduksi barang seperti alkohol, senjata, rokok, menjalankan bisnis perhotelan biasa, punya usaha perbankan konvensional adalah termasuk yang tidak dikategorikan sebagai perusahaan syariah dan sudah tentu tidak bisa digolongkan menjadi emiten yang dapat menawarkan sahamnya sebagai saham syariah ke publik.

Sementara terkait struktur rasio keuangan, emiten disebut tidak layak apabila rasio total hutang berbasis bunga dibandingkan total ekuitas tidak lebih dari 45%, dan rasio total pendapatan bunga dan total pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan total pendapatan usaha dan total pendapatan lainnya tidak lebih dari 10%.

Jika dilihat dari fatwa dan pengawasan regulasi yang ada, berinvestasi di pasar modal dapat dijadikan sebagai alternatif investasi bagi keluarga. Namun tergantung untuk apa investasi ini dipilih, yaitu harus sejalan dengan impian dan tujuan pengelolaan keuangan yang sudah disusun oleh keluarga. Bagi investor pemula, jangan sampai tergiur untuk “bermain” di pasar modal yang mungkin dapat menjerumuskan ke hal-hal yang bersifat spekulatif, manipulasi bursa, atau kegiatan lain yang melanggar aturan syariah dan pelaksana/regulator pasar modal. Syarat untuk berinvestasi di pasar modal secara syariah bukan semata – mata harus bermodal besar terlebih dahulu, tetapi yang paling penting adalah niat yang bersih, punya pendidikan fundamental tentang fatwa dan regulasi pasar modal syariah, menguasai ilmu tehnis mengenai resiko serta tahu bagaimana mengelola berbagai jenis transaksi yang ada.

Setelah itu, tentunya selaku investor harus menyiapkan sejumlah dana yang akan digunakan untuk membuka rekening efek antara Rp.5.000.000 – Rp. 10.000.000, dan selanjutnya dana untuk membeli saham syariah yang diinginkan. Dapat diperkirakan jika saham perlembar ditawarkan dimulai dari Rp. 1.000 hingga Rp. 50.000, berarti pembelian minimal 1 lot saham (100 lembar) memerlukan dana sejumlah Rp.100.000 – Rp. 5.000.000. Dengan ini, para investor pemula sudah bisa mulai memulai langkah untuk menjadi pemegang saham pada emiten tersebut. Selanjutnya, yang paling penting bagi investor pemula adalah menyadari bahwa investasi di bursa mengandung risiko yang bisa dikatakan lebih tinggi dibandingkan dengan investasi lainnya. Untuk mengurangi dampak risiko yang berlebihan, langkah terbaik adalah melakukan persiapan berikut:

  1. Meluruskan niat untuk investasi untuk jangka tertentu, dan bukan untuk spekulasi atau ‘main saham’ dengan naik turunnya harga di bursa setiap saat.
  2. Mempelajari dengan baik setiap emiten yang ingin diinvestasikan bukan hanya sekedar memilih dari daftar saham syariah, lihat kinerjanya secara keuangan dari kacamata syariah dan perilaku perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitarnya.
  3. Menyadari dan mengidentifikasi semua potensi risiko yang akan dihadapi, baik dari sisi perusahaan maupun makroekonomi.
  4. Mempunyai perencanaan yang baik, kapan harus menambah investasi, alokasi portofolio, serta yang tidak kalah penting perhitungan yang rapi dari setiap pendapatan dividen dan kalkulasi zakat.

Pada prinsipnya, untuk menjadi investor di pasar modal syariah cukup mudah sepanjang dana investasi sudah disiapkan dan terus menambah pemahaman akan potensi risiko dan keuntungan dari investasi di pasar modal, baik bursa saham maupun pasar lainnya. Dimanakah posisi kita saat ini? Apakah termasuk pemain aktif di bursa, ahli dalam jual beli saham syariah, cukup puas sebagai pengamat karena masih ragu-ragu, ataukah sudah ingin memulai tapi tidak tahu dari mana?

Bagi regulator pasar modal syariah, pengamatan harus senantiasa diperketat supaya dapat memberikan kenyamanan kepada para investor yaitu mengenai pengawasan emiten dan tindak tanduknya. Sebagaimana dalam sejarah, ketika pada masa Rasulullah SAW banyak kejadian pasar yang tidak jujur maka turunlah ayat khusus untuk orang – orang yang curang: “Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupi dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain) mereka mengurangi” (Al-Muthaffifin (83): 1-3). Juga keluar hadith-hadith yang berkenaan fikih muamalah mengenai hal tersebut.

Kemudian di masa Umar bin Khattab r.a., beliau menunjuk Syifa binti Abdullah untuk menjadi pengawas pasar (qadhi) karena ada masalah monopoli harga, penjualan susu dicampur air dan lain sebagainya. Kesalahan dalam kasus Hotel Mandirin yang pernah masuk daftar di ISSI dapat menjadi renungan kita semua.

Regulator juga harus meninjau kembali perlakuan pendapatan berbasis bunga yang diperbolehkan jika tidak lebih dari 10%. Dalam standar akuntansi syariah (PSAK 101), berapapun pendapatan berbasis bunga yang diterima oleh entitas syariah harus dilaporkan sebagai pendapatan non-halal yang artinya tidak boleh dinikmati oleh perusahaan tersebut. Pengawasan selayaknya hingga ke ranah ini karena tidak semua emiten menggunakan standar akuntansi syariah dalam pelaporannya. Intinya, yang perlu kita semua harus pastikan adalah kita mulai dengan niat baik bahwa investasi ini adalah sepenuhnya halal (baik substance mapun form) yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang halal bagi para investor, menambah laju pertumbuhan ekonomi sektor ril dan pada akhirnya membawa bangsa Indonesia makin sejahtera dan penuh keberkahan. Wallahu’alam.

Sumber:

MySharing

Republika

Islampos

Investasi Sesuai Syariah di Negara non-Muslim

Cash in basket

Bagi banyak masyarakat Indonesia yang tinggal di negara seperti UK, US atau negara lain dimana instrumen keuangan berbasis syariah sangat terbatas, atau tidak ada, sering muncul pertanyaan mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan ketika ingin berinvestasi.

Situasi ini cukup dilematis, terutama karena tidak adanya panduan yang jelas mengenai kehalalan suatu instrumen, sebagaimana yang tersedia di negara-negara dimana investasi syariah di pasar modal telah diatur. Di Indonesia misalnya, Bapepam-LK secara berkala mengeluarkan Daftar Efek Syariah yang bisa dijadikan acuan oleh investor di Bursa Efek Indonesia.

Namun kelengkapan institusi ini tidak tersedia dinegara-negara seperti di Eropa. Apakah dimungkinkan bagi masyarakat Indonesia di UK untuk tetap bisa berinvestasi sesuai prinsip syariah? Jawaban sederhana tentu saja ada, dan ini akan dibahas secara singkat dalam kesempatan kali ini.

Secara umum ada beberapa pilihan investasi yang bisa dipertimbangkan oleh masyarakat Muslim yang menetap di negara-negara Barat, atau bahkan di negara Asia seperti Jepang, Korea atau Hongkong.

a. Logam mulia. Ini merupakan pilihan investasi yang universal, karena mudah diperoleh dihampir semua negara dan sepanjang dibeli secara tunai atau pembiayaan secara syariah, insya Allah halal. Tentu saja bentuk logam mulia yang bisa diinvestasikan cukup beragam, mulai dari perak, emas, sampai permata.

Yang harus diperhatikan ketika ingin investasi logam mulia adalah mekanisme jual kembali, termasuk ketika harus pindah tempat tinggal lagi atau kembali ke Indonesia. Semua surat atau sertifikat harus dipastikan diakui ditempat tinggal yang baru dan ketika dijual/dibeli tidak menyalahi aturan transaksi secara Islami. Lebih mudah barangkali jika diuangkan sebelum pindah. Dan tentu saja yang paling penting adalah kewajiban zakat harus segera ditunaikan ketika sudah cukup nisab (emas: 85 gram) dan mencapai haul (genap satu tahun).

b. Investasi pasar modal. Untuk kategori ini ada beberapa rambu yang harus dipatuhi, misalnya rambu-rambu yang diterapkan oleh Bapepam dan DSN-MUI di Indonesia yang bisa dilihat dari situs Bapepam/OJK, diantaranya:

  • Portofolio tidak boleh mengandung emiten yang bisnis utama atau sebagian besar sumber pendapatannya dari jual beli, produksi atau distribusi barang-barang yang haram, mis. khinzir, khamr, judi atau bunga (bank, asuransi konvensional), total utang emiten yang berbasis bunga dibandingkan dengan total asset tidak boleh lebih dari 45%, serta total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10%.
  • Proses investasi tentu saja harus sesuai syariah juga, artinya broker yang kita pakai jasanya harus kita cari yang paling reliable dan kalau bisa sumber bisnis utamanya lebih sedikit haramnya. Untuk di UK, setidaknya ada satu perusahaan asset management retail yang dikelola secara syariah, yaitu Simply Sharia Wealth Management.

Selain itu, kita juga bisa berinvestasi di saham dengan mengacu kepada indeks syariah di bursa-bursa besar dunia. Diantara indeks yang bisa dijadikan acuan adalah Dow Jones Islamic Market Index atau FTSE Islamic Index, yang mempunyai berbagai jenis indeks syariah dengan cakupan global. Selain itu, di UK, US dan beberapa negara di Eropa sudah bermunculan perusahaan aset management atau wealth management yang mengeluarkan produk investasi syariah, dan umumnya untuk investor high net-worth atau investor institusi.

c. Investasi langsung untuk usaha mikro. Crowd funding termasuk skema investasi dan pembiayaan yang sedang populer, baik skala kecil maupun skala besar. Skema ini menarik karena semua proses investasi dan transaksi pembiayaan dilakukan secara langsung via website antara investor dengan peminjam. Bagi kita investor individu, pilihan investasi secara syariah baru tersedia untuk segmen usaha mikro.

Setidaknya ada dua platform yang menyediakan investasi secara syariah, yaitu Kiva dan Wafaa. Mekanisme crowd funding cukup sederhana. Kita cukup mendaftar di situs pengelola tersebut, kemudian memilih penerima dana dari profil yang disediakan, memilih nilai nominal investasi serta cara pembayarannya (paypal, debit atau credit card). Investasi minimal untuk Wafaa adalah $20, sementara Kiva $25. Secara berkala kita akan diberikan informasi mengenai perkembangan usaha dan kinerja investasi kita, termasuk tentunya ketika pinjaman sudah dilunasi.

Selain ketiga mekanisme diatas, pilihan lain masih cukup banyak, terutama untuk investasi di Indonesia. Untuk pilihan-pilihan tersebut, silahkan dilihat dari tulisan-tulisan Sakinah Finance sebelumnya. Atau kalau Anda punya pengalaman lain, mohon bisa juga di share di kolom comment. Terima kasih.***