Audit dan laporan keuangan keluarga ~ 1

Apanya yang diaudit ya?! Jawabannya ya lebih kurang sama dengan audit perusahaan oleh audit firm atau kantor akuntan publik. Tentu saja item yang diaudit tidak sebanyak audit perusahaan, dan mungkin juga prosesnya tidak sampai berminggu-minggu, sehari dua mungkin cukup.

Kalau perusahaan diperiksa semua laporan keuangan dan akuntasinya, yang bisa berupa arus kas, laba rugi serta neraca, keuangan rumah tangga lebih sederhana. Tujuan utamanya adalah untuk menentukan apakah perusahaan atau rumah tangga mempunyai kemampuan untuk terus melanjutkan operasionalnya (going concern). Artinya, apakah rumah tangga kita mempunyai kondisi keuangan yang fit dan memadai untuk terus bertahan dan berkembang secara finansial.

Untuk bisa menentukan status sehat tidaknya kondisi keuangan keluarga ini, kita harus memulainya dengan memeriksa laporan keuangan tentunya. Berbeda dengan perusahaan, laporan keuangan rumah tangga cukup berisi laporan neraca (net worth) dan income statement berupa laporan pendapatan dan pengeluaran.

Nah, berhubung kedua hal ini (audit dan membuat laporan) sangat berkaitan dan juga relatif bisa dikerjakan hampir berbarengan – asalkan datanya lengkap, maka kita akan membahas dua hal ini sebagai satu seri tulisan.

Laporan keuangan keluarga

Laporan keuangan terdiri dari balance sheet dan income statement, dan untuk kesempatan kali ini kita akan melihat format neraca keuangan keluarga.

Neraca adalah potret kondisi kekayaan dan kewajiban rumah tangga pada akhir suatu periode tertentu, misalnya akhir tahun kalender. Sebagaimana neraca perusahaan, neraca rumah tangga juga harus berimbang (balance) antara asset dan liabilities-nya. Namun komponennya sedikit berbeda;

Kekayaan
Jumlah
Cash – Giro
2.000.000
Cash – Simpanan
2.000.000
Deposito
30.000.000
Saham, Reksadana, ORI, dll.
Asuransi Jiwa (cash balance)
23.000.000
Harta bergerak (kenderaan, perhiasan, dll)
100.000.000
Dana Pensiun
5.000.000
Properti – rumah (harga pasar)
200.000.000
Lain-lain – barang antik
500.000.000
Total Asset
862.000.000
   
Liabilities
Jumlah
Hutang lancar (Credit cards)
20.000.000
Hutang jangka pendek (<1 thn)
Pajang terhutang
5.000.000
Hutang jangka panjang (>5 thn; KPR, mobil)
300.000.000
Lain-lain
 
Total Liabilities
325.000.000
   
Net Worth
537.000.000,-

Dari laporan diatas, jelas bahwa pemilik Neraca bersangkutan memiliki kekayaan (net worth) yang cukup besar, karena a) aset yang dia miliki cukup besar dan b) hutangnya sangat kecil dibandingkan total kekayaannya.

Ini tentu idaman semua keluarga. Namun tidak sedikit juga rumah tangga yang neraca nya masih balance dengan hutang yang membengkak – alias net worth nya minus. Mungkin ada juga yang benar-benar imbang, yaitu sama antara jumlah kekayaan dengan kewajiban.

Salah satu manfaat dari mempunyai neraca keuangan sendiri ini adalah kemudahan dalam mengisi SPT setiap tahunnya. Dan ketika kita punya neraca satu tahun, ini bisa dijadikan template untuk tahun-tahun berikutnya, sehingga ketika datang bulan Maret, kita dengan cepat bisa menentukan kewajiban pajak kita kepada negara. Yang sulit adalah memulainya.

Disamping itu, yang lebih penting lagi, neraca bisa menjadi basis bagi Anda dalam menghitung jumlah zakat maal yang harus dibayar. Dari tabel diatas, jelas orang tersebut – fiktif tentunya, sudah wajib zakat; dan berdasarkan net worth-nya, kewajiban zakatnya lebih kurang Rp. 13,425,000 per tahun. Angka ini diperoleh dari perhitungan 2,5% dari nilai net worth.

Namun harus diperhatikan, untuk perhiasan atau harta yang sifatnya idle, seperti emas atau barang antik, sebagian ulama mengharuskan pembayaran zakat yang lebih besar (5-10%).

Kegunaan lain dari neraca adalah sebagai alat kontrol bagi kita dalam menentukan kemampuan going concern kita untuk tahun-tahun berikutnya. Neraca yang defisit (net worth nya minus) menyiratkan perlunya pemangkasan kewajiban, mengurangi hutang dan langkah-langkah penghematan lainnya.

Disisi lain, defisit juga bisa ditutupi dengan meningkatkan aset (mencari pendapatan tambahan) atau konversi aset tetap menjadi cash – guna membayar hutang-hutang yang ada. Dan seterusnya.

Sementara, kalau neraca kita sehat seperti contoh diatas, langkah lanjutnya lebih kepada memanfaatkan kelebihan tersebut untuk keperluan ibadah (haji, perbanyak infaq), membuka usaha, dan sebagainya.

Advertisements

Memulai penyusunan budget

Membuat budget rumah tangga itu mudah. Yang sulit adalah disiplin dalam mematuhi dan melaksanakan apa yang sudah dianggarkan dan disepakati bersama.

Prinsip pertama dalam menyusun budget adalah partisipasi semua pihak dalam keluarga, baik secara aktif maupun pasif (misalnya balita). Ini penting untuk mengakomodir semua kebutuhan dan menciptakan rasa memiliki. Untuk anak-anak, kegiatan penyusunan budget akan merupakan exercise yang (seharusnya) menyenangkan, mendidik, menyampaikan aspirasi, serta menjadi ajang latihan pengelolaan keuangan dari usia dini.

Kedua, budget sebaiknya dilakukan secara berkala dan lazimnya setahun sekali. Namun setiap tiga atau enam bulan sekali, budget yang telah disusun harus dimonitor dan dibandingkan dengan pengeluaran aktual. Sekiranya ada pengeluaran yang menyimpang atau melebihi anggaran, maka harus segera diambil tindakan pencegahan. Namun, kalau pengeluaran lebih sedikit, maka segera disisihkan jumlah yang lebih ke dalam bentuk simpanan.

Ketiga, mulailah dengan menghitung jumlah pendapatan yang akan diterima. Syarat utama dalam menghitung pendapatan adalah harus konservatif. Tidak boleh menganggarkan pendapatan yang tidak realistis, apalagi dari sumber yang tidak jelas atau belum pasti. Misalnya pembayaran piutang oleh teman, bonus, gaji ke-13, dst. Selain itu, perlu juga disepakati apakah hanya pendapatan suami yang dihitung atau kedua-duanya. Sesungguhnya hal ini merupakan hal paling prinsipil dalam mengatur keuangan keluarga; ketika suami istri sepakat untuk mengelola keuangan secara bersama, maka semua pendapatan dan pengeluaran harus diperhitungkan bersama-sama.

Ketiga, susunlah anggaran belanja secara komprehensif (tidak ada item yang tinggal) dan susun sesuai dengan prioritas. Kalau perlu susunlah sesuai dengan skala prioritas tersebut; misalnya primer, sekunder atau tersier. Dalam istilah Agama, skalanya adalah dharuriyyat, hajiyyat, tahsiniyyat. Perbedaan antara kedua skala ini cukup besar sebenarnya, misalnya antara primer dan dharuriyyat. Primer mungkin hanya bersifat utama saja (primary), sementara dharuriyyat (diadopsi oleh bahasa Indonesia sebagai darurat) bisa diartikan ‘apa saja yang tanpa itu kita akan binasa’.

Penyusunan dengan skala ini penting untuk menentukan mana yang benar-benar perlu dan mana yang bisa dikurangi atau dihilangkan, sekiranya budget kita defisit.

Keempat, anggaran belanja harus menampung unsur-unsur penting dalam hidup kita, seperti zakat- infaq-shadaqah, savings, leisure, emergency, impian-impian bersama (naik haji, liburan ke Turki) dan hal lain yang mungkin sangat spesifik tapi sangat penting bagi Anda.

Kelima, enjoy dan buatkan kegiatan ini semenyenangkan mungkin. Kalau perlu buat kompetisi diantara sesama anggota keluarga, misalnya siapa yang sangat taat dengan budget, yang paling besar over run-nya, dan seterusnya.

Terakhir, disiplin, disipilin dan disiplin dalam pengeluaran. Karena hanya ini senjata Anda dalam memastikan tertib anggaran dan dalam mencapai impian hidup keluarga.