Ini Tips agar Keuangan Makin Sehat Setelah Lebaran

erreygerye.jpgOleh: Murniati Mukhlisin

Sebentar lagi kita akan merayakan Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 1437H. Bersyukurlah bagi yang menjalankan puasa di bulan Ramadhan kali ini yang berhasil memperbanyak amal soleh lebih banyak dari bulan – bulan sebelumnya.

Allah SWT menjanjikan ganjaran berlipat untuk amalan puasa karena amalan itu hanya untukNya (HR Bukhari No. 6938; Ahmad 8995; Ibnu Majah 1628).

Sesungguhnya, Allah SWT memberikan ganjaran satu kebaikan untuk sebuah niat baik dan 10 hingga 700n atau lebih untuk sebuah perbuatan baik (HR Ahmad No. 6898; Muslim No. 184; Tirmidzi No. 2999), ternyata di bulan Ramadhan, Allah SWT menjanjikan lebih banyak dari itu (HR Ahmad No. 9337).

Sungguh luar biasa, maka dari itu mari kita bermunajat supaya dapat dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan yang akan datang.

Tentu saja ganjaran amalan puasa yang berlimpah tadi menganjurkan kita untuk berusaha berbuat semaksimal mungkin, supaya latihan menahan nafsu, disiplin, prihatin, sabar, dan suka berbagi sebulan penuh ini akan senantiasa membekas di hari lebaran dan di hari–hari selanjutnya.

Untuk itu, mari kita cek hal–hal berikut ini:

1. Gaya walau hutang

Lebaran adalah ajang silaturrahim namun sering dijadikan ajang pamer rumah baru, mobil baru, perabot baru dengan cara berlebihan, berhutang atau memaksakan diri.

Adik saya, Kim Sui yang punya toko handphone di Tangerang menceritakan bahwa sebuah tradisi biasa bagi sebagian pekerja pabrik–pabrik sekitar Tangerang untuk membeli handphone baru dan motor kreditan baru untuk dibawa ketika mudik lebaran.

Sayangnya, barang – barang itu akan dibawa ke kampung halaman sebagai bahan pamer. Mungkin saja orangtua dan keluarga di kampung bangga, namun tentu saja mereka kecewa jika tahu bahwa beberapa minggu kemudian handphone baru itu akan dijual dan motor kreditan akan ditarik oleh dealer karena tidak mampu bayar bulanan.

Ternyata bukan gaya–gaya dengan niat pamer yang dianjurkan. Melainkan menjadikan rumah lebih nyaman untuk ditinggali, baju–baju yang lebih baik untuk dipakai.

Tentu saja tidak semua harus berurusan dengan hutang kalau memang tidak mampu dan juga tidak berlebihan walaupun mempunyai keuangan yang lebih dari cukup. Dengan bekal latihan sebulan puasa, mari pertahankan gaya hidup sederhana di mana saja level keuangan kita berada.

2. Baju Lebaran

Sangat miris melihat harga–harga baju di Jakarta dan di kota–kota besar lainnya. Kalau dibandingkan dengan harga baju-baju di Inggris misalnya, bisa lebih mahal atau kurang lebih sama. Bayangkan para keluarga yang tidak cerdik, akan terjebak membeli baju – baju mahal.

Latihan sebulan puasa tentu menjadikan kita makin prihatin. Ada trik–trik berikut yang mungkin bisa membantu, misalnya belanja di factory outlet, menjahit sendiri dan membeli saat diskon jauh hari sebelum lebaran.

3. Sikap mubadzir

Lebaran adalah saatnya memasak makanan khas dan menyajikan kue-kue terbaik untuk menyambut sanak–saudara, tetangga dan para kenalan.

Namun sering kali kita tidak memperhatikan makanan–makanan sisa. Kita masih bisa merasakan bagaimana ketika melatih prihatin selama bulan puasa. Tentu dengan modal itu, kita dapat memastikan makanan dan minuman yang disajikan tidak terbuang sia–sia.

Dari ketiga hal yang harus kita hindari, ada tiga tips yang bisa membantu keuangan kita makin baik setelah Lebaran Insya Allah, yaitu:

1. Sinergi

Mari jadikan ajang silaturrahim lebaran kali ini menjadi ajang bersinergi dengan menerapkan praktik–praktik bisnis syariah. Misalnya sinergi antara yang punya modal dengan yang menjalankan bisnis dengan sistem mudharabah, bisnis berbagi hasil dengan sistem musyarakah, sewa beli cara syariah dengan prinsip ijarah dll.

Dengan latihan prihatin selama bulan puasa, kita dapat melanjutkannya melalui ajang sinergi ini, misalnya dengan cara mengumpulkan dana dari keluarga yang mampu dan menyampaikan kepada yang memerlukan dengan prinsip qardhul hasan (pinjaman tanpa imbalan). Pastikan semua transaksi tercatat dengan baik.

2. Zakat, Infaq, Shadaqah, Waqf (ZISWAF)

Salah satu topik ngobrol saat Lebaran adalah bagaimana caranya supaya dapat memastikan ZISWAF dihitung dan disalurkan dengan baik.

Keluarga Ibu Wieke di Houston, Texas pernah berbagi pengalaman bahwa beliau dan keluarga besarnya biasa mengumpulkan zakat bersama dan kemudian menyalurkannya ke Indonesia.

Tentu saja ini hal yang baik untuk dicontoh.

3. Waris

Jadikan ajang lebaran kali ini supaya digunakan untuk saling mengingatkan seputar masalah hukum waris Islami (mawarits), baik yang lampau maupun yang akan datang.

Semoga dengan sikap sabar yang makin baik selama bulan Ramadhan ini, segala sengketa dan kesalahpahaman dapat diatasi.

Demikian tips lebaran dari Sakinah Finance kali ini. Untuk memastikan amalan soleh semasa bulan Ramadhan terjaga, mari kita niat dan praktikan Puasa Syawal Enam dan puasa Senin – Kamis, dan jangan lupa untuk mendahulukan puasa ganti dan membayar

fidyah. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437H,

Mohon Maaf Lahir dan Bathin!

Diterbitkan di:

Ekonomi, Kompas

Advertisements

Pengelolaan Keuangan, Sebelum atau Sesudah Menikah?

keuangankeluarga

Dok: Majalah Kartini

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan, Sakinah Finance, Colchester – UK

Banyak para bujang gadis atau pasangan yang baru menikah menanggapi bahwa perlunya mengelola keuangan pasnya adalah setelah menikah. Lihat komentar di bawah:

Yangie dan Agung: ada amanah yang harus dikelola bersama, makanya penting sekali perencanaan keuangan setelah menikah.

Siska dan Heru: pengeluaran lebih banyak dari pendapatan sehingga perlu perencanaan serius.

Okky: ada penghasilan ganda jadi baru bisa ada yang dikelola.

Sheyka: ada transaksi pinjam meminjam atau saling memberi antara suami dan istri jadi perlu adanya perencanaan keuangan.

Tapi menurut Tiffany, setelah menikah dia pikir tidak perlu pengelolaan keuangan kan sudah ada suami, lain halnya ketika sebelum menikah, uang milik pribadi harus benar – benar diatur. Namun akhirnya dia akui bahwa pendekatannya kurang pas.

Ayu lain lagi, bagi dia, nikah atau ga nikah, perencanaan keuangan harus tetap dijalani kan sesuai fungsi uang yang 3S ujarnya, spending, saving, dan sharing.

Ehmmm….jadi  “baper” nih, jadi yang mana dong sebaiknya kita adopsi?

Mulailah seawal mungkin dengan niat ibadah

Mengelola keuangan (istilah ini lebih tepat dari merencanakan keuangan), tentu saja tidak lepas dari niat. Sesuai dengan niat kita dalam menjalankan kehidupan adalah tentunya untuk selalu beribadah kepada Allah SWT (lihat QS Adz-Dzariyat (51): 56), tentu termasuk juga ketika menjalankan aktifitas pengelolaan keuangan.

Sebagian anak – anak berusia tujuh tahun sudah bisa menerima latihan awal pengelolaan keuangan sehingga dia akan tumbuh lebih prihatin dalam pengelolaan keuangannya kelak. Di awal latihan, minimal anak – anak memahami makna uang yang ternyata adalah amanah Allah SWT yang harus dijaga bukan hanya dengan menyimpannya tetapi juga membelanjakannya. Hasilnya anak – anak akan lebih menghormati orangtuanya di kala senang dan susah karena menyadari bahwa uang tidak selamanya milik kita.

Untuk memastikan keuangan keluarga dapat dikelola dengan baik, anak – anak diberikan latihan bekerja dan berwirausaha ala Rasulullah SAW. Di situlah orangtua mempunyai kesempatan untuk mengajarkan transaksi – transaksi muamalah sesuai dengan syariah termasuk memahami zakat, infaq dan shodaqoh.

Namun jangan terlalu juga membebaskan anak – anak dengan uang dan harta. Maka dari itu perlu diperhatikan dan dikawal penggunaannya (tasarruf) oleh orangtua/wali sang anak karena mereka belum sempurna akalnya atau tidak mampu mengelola uang dan hartanya (lihat QS An-Nisa’ (4): 5 dan Tafsir Ibnu Katsir).

Tentukan hak dan kewajiban

Dalam QS An-Nisa (4): 34 jelas bahwa lelaki dalam rumah tangga adalah pemimpin (qawwam) keluarga sehingga dia yang wajib memberikan nafkah kepada istrinya dari sebagian hartanya.

Namun walau ada peran kepemimpinan (qawammah) laki – laki, semua mukmin baik lelaki maupun perempuan termasuk pasangan suami – istri wajib menjadi penolong (al-walayah) antara sesamanya (QS At-Taubah (9):71) dalam hal mengerjakan yang makruf, mencegah yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Pada akhirnya akan turun rahmat dari Allah SWT untuk mereka.

Dari makna qawwamah, maka kewajiban seorang anak laki – laki dewasa (baligh/mumayyiz) adalah mengatur keuangan untuk nafkah dirinya dan juga siapapun yang menjadi tanggung jawabnya, misalnya orangtua atau adik – adik yang belum bisa mandiri. Begitu juga kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada istrinya dari sebagian hartanya.

Namun, untuk keadaan tertentu dimana anak perempuan atau istri yang harus memberi nafkah, maka hal tersebut masuk dalam kategori menolong (al-walayah), dengan syarat qawwamah suami tetap terjaga. Baca artikel Sakinah Finance: Berapa Gajimu, Wahai (Pekerja) Kartini Rumah Tangga?, di Bisnis dan Keuangan, Kompas, 22 April yang lalu.

Tentunya penentuan hak dan kewajiban ini harus dikomunikasikan dan dimusyawarahkan dengan baik sehingga tidak menimbulkan rasa sombong, tidak ikhlas dan tidak amanah.

Jangan kaku, adaptasi dengan perubahan

Hal lain yang menjadi faktor naik turunnya semangat ketika menjalankan perencanaan keuangan adalah dalam menghadapi perubahan. Misalnya, perubahan dalam menjalankan kehidupan yang tadinya di Indonesia, kemudian harus tinggal sementara di Inggris karena tugas belajar. Perubahan yang tadinya mempunyai penghasilan yang lebih dari mencukupi kehidupan sehari – hari namun saat ini sedang menanggung hutang.

Tidak ada sebuah model pengelolaan keuangan keluarga yang standar yang dapat diterapkan oleh setiap keluarga. Dengan kata lain, selalu adaptasi dengan perubahan misalnya gaya hidup, cara baru pengaturan dan pemisahan tanggung jawab keuangan di rumah, pembuatan catatan pemasukan dan pengeluaran dan lain sebagainya. Apapun perubahan itu, selalu tekuni cara yang dianggap terbaik.

Pastikan konsisten

Konsistensi adalah salah faktor terberat dalam hal pengelolaan keuangan keluarga. Mengapa? Godaannya luar biasa yang lalu lalang dalam telinga kita, misalnya untuk apa mengelola yang sedikit ini, tambah pusing aja! Mengapa serius sekali mikirnya, toh Allah sudah atur semuanya, terima saja apa adanya!

Mengelola keuangan adalah sejalan dengan salah satu ayat Al-Qur’an tentang kisah Nabi Yusuf ketika menakwilkan mimpi Raja Mesir untuk mempersiapkan hidup di masa sulit ketika di masa senang (QS Yusuf (12): 43-49). Kita juga diajarkan manut dan konsisten dengan ajaran Rasulullah SAW, misalnya cara –cara menahan keinginan duniawi (baca nasihat Rasulullah SAW kepada Fatimah Az-Zahra ra putrinya dan Ali bin Abi Thalib ra menantunya untuk selalu berzikir kepada Allah SAW), juga dalam mengelola hutang (baca doa ajaran Rasulullah SAW untuk jauh dari lilitan hutang).

Pencapaian Target

Terakhir, kita hanya pandai merencanakan dan menginginkan agar target – target keuangan keluarga tercapai namun hanya Allah SWT yang menentukan. Jadi apapun hasilnya, mari bertawakal kepada Allah SWT dengan terus memohon agar senantiasa diberikan yang terbaik untuk kehidupan kita.

Mengutip taujih Ustaz Cecep Haji Solehudin yang berdomisili di Sydney, Australia, sesungguhnya target yang harus kita capai adalah seperti yang disabdakan Rasulullah SAW: Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya. (HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh Al-Albani). Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Artikel ini dipublikasikan di:

Republika: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/05/12/o71j3d336-mengelola-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah

MySharing: http://sakinah.mysharing.co/14759/pengelolaan-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah/

Islampos: https://www.islampos.com/pengelolaan-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah-275510/

Suara Islam: http://www.suara-islam.com/read/index/18160/Pengelolaan-Keuangan;-Sebelum-atau-Sesudah-Menikah-

Hidayatullah: http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2016/05/10/94536/pengelolaan-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah.html

Majalah Gontor

Mana yang Halal dan Mana yang Thayib?

halal-thayib

Dok: indriummistore.wordpress.com

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan Sakinah Finance, Colchester-Inggris

Saat ini edukasi tentang makanan halal makin gencar diadakan. Media sosial pun tidak ketinggalan. Ada satu situs Must Be Halal yang saat ini mempunyai 20 ribuan anggota, aktif membahas kehalalan produk di tanah air.

Salah satu narasumber media ini adalah seorang Auditor Lembaga Pengajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM), Majlis Ulama Indonesia – Yogyakarta, Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P., PhD. Konten dari LPPOM memang sangat diperlukan mengingat tugas dari LPPOM itu sendiri adalah mengkaji dan mengawasi makanan, minuman dan obat–obatan termasuk kosmetika yang beredar di Indonesia, apakah telah memenuhi syarat halal atau tidak.

Seperti yang telah dibahas di kolom Sakinah Finance pekan lalu sebelumnya yaitu Makanan dan Keuangan Keluarga, ada pesan khusus di ujung artikel itu, ternyata halal saja tidak cukup, thayyib juga perlu diperhatikan. Kita lihat apa itu thayyib (baik) hari ini.

Definisi halal dan thayyib

Dalam Surah Al-Baqarah (2): 168 dan Al-Maaidah (5): 88 disebutkan dua kata ‘halal’ dan ‘thayyib’. Di surah Al-Baqarah, makna ayat adalah dianjurkan bagi manusia untuk memakan apa–apa saja di muka bumi ini sepanjang halal dan thayyib.

Sedangkan di surah Al-Maaidah, ayat tersebut melarang manusia yang beriman untuk tidak terlalu membatasi dirinya dengan kehidupan di dunia. Manusia tetap dianjurkan untuk menikmati kehidupan layak yang dicontohkan Rasulullah SAW (menjadi sunah) salah satunya adalah makan apa saja sepanjang halal dan thayyib.

Ayat-ayat yang berkenaan dengan halal yaitu thayib tersebut ditafsirkan sebagai sehat, bergizi, bermanfaat untuk fisik dan akal manusia (Tafsir Ibnu Katsir).

Contoh halal dan thayyib

Dari segi makanan, makanan halal adalah semuanya kecuali yang dilarang yang dinyatakan di Al-Qur’an dan hadits. Contohnya adalah bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah (QS Al-Baqarah (2):173; QS Al-Maaidah (5):3).

Minuman keras (alkhomru) secara tegas juga dilarang (QS Al-Maaidah (5):90), dan segala makanan yang buruk (QS Al-Araf (7):157) termasuk al-khabaaits atau sesuatu yang menjijikan, berbahaya dan haram. Begitu juga hewan yang berkuku tajam dan bertaring (HR Muslim No. 1933), serta pemakan kotoran (jalallah) (HR Abu Daud No. 3785; Tirmidzi No.1823; dan Ibnu Majah: 3189).

Selanjutnya hidup dari rezeki yang thayyib disebutkan di QS Al-Baqarah (2):172 menjadi anjuran bagi orang yang beriman. Sedangkan contoh-contoh makanan yang thayyib atau bernutrisi tinggi dan memberikan dampak kesehatan banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an seperti hewan ternak beserta susunya, ikan segar, jagung, zaitun, kurma, anggur, madu, dan tumbuh–tumbuhan lainnya, termasuk jintan hitam yang disebutkan dalam sebuah hadits.

Walaupun umat Islam diperintahkan untuk memakan dari rezeki yang halal dan thayyib, tetap saja harus seimbang (hadits tentang cara makan Rasulullah SAW) dan tidak boleh berlebihan seperti yang tertera di dalam QS Taha (20):81 yang artinya: “Makanlah dari rezeki yang baik – baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampau batas…”

Panduan makanan thayyib

Semakin canggihnya teknologi, banyak makanan instan yang diproduksi seperti ayam broiler dan telurnya, susu kaleng, beras non-organik, ikan yang diawetkan, dan sayur–sayuran yang berpestisida tinggi, beras non-organik, buah–buahan yang dililin, makanan ber-MSG dan makanan instan lainnya.

Hal ini jauh beda dengan ayam kampung, ikan segar, susu segar, beras organik dan sayur – sayuran organik.

Seorang penulis, Michael Pollan dalam bukunya Food Rules menyatakan bahwa ada 10 petunjuk memilih makanan sehat:

1. Jangan makan apapun yang nenek moyang kita tidak mengakuinya sebagai makanan.

2. Makan tumbuh–tumbuhan terutama daun–daunan.

3. Makan makanan yang kelak akan basi.

4. Keluar dari supermarket secepat mungkin untuk menghindari makanan instan.

5. Bukan makanan jika dia datangnya lewat jendela mobil.

6. Bukan makanan jika disebut dengan nama yang sama di semua bahasa.

7. Makanlah hewan yang memakan makanan yang baik.

8. Makan junk-food asal buatan sendiri.

9. Jangan sarapan pagi dengan sereal yang dapat merubah warna susu.

10. Jangan remehkan ikan kecil yang berprotein tinggi.

Petunjuk dari Michael Pollan di atas sudah cukup baik yang dapat menambah pemahaman kita terhadap makanan yang halal dan thayyib menurut Al-Qur’an dan Hadits.

Murah atau mahal

Dari panduan di atas tentu saja para keluarga sangat peka dengan harga karena menyangkut soal anggaran keuangan keluarga. Sebenarnya tidak semua yang baik dan sehat itu mahal, misalnya memakan buah–buahan lokal seperti papaya, nenas, rambutan, mangga lebih baik dan murah dari apel yang dililin atau mangga dalam kemasan kaleng.

Namun tidak dipungkiri, sebagian besar makanan organik dipasang dengan harga tinggi karena waktu produksinya lebih lama dan memakai energi manusia lebih banyak.

Sebagai panduan keluarga, usahakan sebisanya untuk mengkonsumsi makanan halal dan thayyib dengan menggunakan anggaran yang ada. Jika tidak mampu, jangan kemudian terpaksa berhutang hanya ingin memastikan makanan yang dikonsumsi harus organik misalnya.

Jangan lupa niat dan doa, karena hanya Allah SWT jualah yang akan memastikan konsumsi keluarga kita senantiasa halal dan thayyib. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Artikel ini diterbitkan di: Bisnis Keuangan, Kompas

 

Gaya Hidup dan Pembubaziran

food-waste-pic-getty-images-245448043Dengan menjauhi sifat mubazir kita sudah bersyukur dan dengan banyak bersyukur insyaAllah keuangan keluarga kita makin sakinah dan berkah.

Dok: http://www.mirrow.co.uk

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Konsultan, Sakinah Finance, Colchester-UK

Tantangan terbesar di negara yang sudah maju seperti Inggris adalah tersedianya berbagai kebutuhan pangan dan sandang secara mudah, dan murah. Kemudahan ini menghasilkan banyak hal yang baik dan juga akibat buruk.

Salah satu efek buruknya adalah orang tidak lagi menghargai rezeki yang diterima (taken for granted). Boros dan mubazir menjadi realita sehari-hari, padahal mubazir adalah salah satu pintu masuknya godaan, dan malah pelakunya dicap sebagai saudara setan.

Seperti apakah saudara – saudaranya setan itu?
Ayat mubazir di QS Al-Isra (17): 26-27 yang sering kita dengarkan ini cukup menjadikan bulu roma merinding terutama ketika sampai kepada ayat yang berbunyi: “inna al-mubadziriina kaanuuu ikhwaana asy-syaathiin” (sesungguhnya pemboros – pemboros itu adalah saudara – saudara setan). Bayangkan saja dengan menyia-nyiakan apa yang kita miliki bisa disebut sebagai saudara – saudara setan.

 

Menurut Kitab Fii Zilalil Qur’an, mubazir dalam ayat ini ditujukan oleh Allah kepada orang – orang yang menyalurkan infaqnya untuk sesuatu yang tidak benar dan berlebihan (penafsiran Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas). Jika kita lihat makna berinfaq adalah suatu perbuatan baik namun ketika tidak disalurkan pada tempatnya menjadi sesuatu yang tidak baik. Bayangkan saja mengeluarkan harta dengan niat sedekah saja ada aturannya, harus pada porsinya. Lihat juga larangan sifat berlebih – lebihan ini di QS Al-An’am (6): 143 dan QS Al-A’raf (7): 31.

Ayat selanjutnya (ayat 29) juga menarik untuk diperhatikan yaitu Allah SWT memerintahkan untuk berlaku ekonomis dalam hal pengeluaran, berbuat segala sesuatu dengan keseimbangan, tidak terlalu pelit dan tidak terlalu boros.

Ada juga sebuah hadits dimana Rasulullah SAW melarang Sa’ad untuk boros berwudhu yang bahkan Rasulullah SAW melanjutkan untuk tidak juga boros walau berwudhu di sebuah sungai yang mengalir (HR Ahmad No. 7065). Ck…ck…ck…walau di sungai mengalirpun kita tidak sepantasnya berwudhu semena – mena.

Contoh mubazir
Contoh sifat mubazir yang dapat kita cermati dalam kehidupan sehari – hari adalah ketika membeli makanan, perabot rumah tangga dan pakaian. Karena alasan ‘kepuasan’ kita lupa untuk memperhitungkan manfaatnya. Akhirnya harta yang dikeluarkan hanya memberikan kesenangan sementara dan berakhir dengan sia – sia. Sesuai dengan rencana yang disebutkan di artikel Sakinah Finance pekan lalu (baca: Bank Makanan: Agar si Miskin Bisa Makan Hari ini) topik kali ini adalah Let’s declare war on waste. Ide tulisan ini adalah dari Layyina Tamanni putri kami dari berita – berita dan film dokumenter BBC, terutama “Hugh’s war on waste” yang dibaca dan ditontonnya. Topik acara ini sangat menarik jika dikaitkan dengan larangan mubazir di atas.

“Dunia ini kira-kira ada 25 persen sisa makanan yang tidak dimakan. Kalau sisa itu tidak terjadi, maka dunia tidak akan kelaparan, kita tidak perlu impor beras kalau semua makan dengan baik tanpa mubazir.”
Wapres Jusuf Kalla dalam pembukaan Pekan Lingkungan dan Kehutanan Indonesia 2015 di JCC Senayan, Kamis (18/6/2015)

Siapa dan apa saja?
Menurut pengamatan Hugs si pembawa acara, setiap orang yang belanja bahan makanan memiliki kecenderungan untuk membuang seperenam dari yang dibelinya. Hal ini adalah perbuatan sia-sia katanya. Ini hanya dari kelompok rumah tangga saja, yang menurut British Retail Consortium (BRC) selama tahun 2014 saja ada 15 juta ton makanan yang dibuang oleh lebih dari 60 juta penduduk Inggris.

Selain rumah tangga, ternyata yang paling banyak membuang makanan adalah produsen makanan, terutama petani yang menghancurkan 3 juta ton hasil panen serta pabrik makanan yang membuang sebanyak 3.9 juta ton, terutama karena makanan produksi mereka ditolak supermarket dengan alasan tidak sesuai standar (cosmetic standards). Akibatnya, sepertiga dari hasil pertanian dan makanan siap jual ini biasanya akan dibuang begitu saja, jauh sebelum masuk supermarket dan swalayan besar seperti Tesco atau Sainsbury.

Masa kadaluarsa yang terlalu ketat juga mengorbankan makanan yang tidak laku terjual di swalayan dan supermarket. Biasanya sebelum masa kadaluarsa, diskon ditawarkan kepada pembeli atau dijual khusus ke karyawan sedangkan sisanya akan dibagikan ke komunitas sosial. Langkah terakhir baru dibuang ke kotak sampah.

Dua organisasi nirlaba besar di Inggris seperti Skipchen Food Rescue dan FareShare setiap malam mendatangi kotak sampah di belakang swalayan, dan biasanya mereka selalu menemukan banyak bahan makanan yang masih layak dikonsumsi dibuang begitu saja. Setelah dikumpulkan dan diolah dengan baik, mereka membagikannya kepada yang membutuhkannya.

Selain makanan, pakaian adalah konsumsi rakyat Inggris yang paling banyak dibuang. Film dokumenter di atas menyebutkan bahwa bertumpuk-tumpuk baju layak pakai dibuang ke tong sampah secara massal, dan kalau dihitung tumpukan pakaian seberat tujuh ton hanya membutuhkan waktu 10 menit saja!

Keuangan Keluarga
Lantas apa hubungannya ayat mubazir ini dengan keuangan keluarga? Dalam QS Ibrahim (14): 7 kita kembali diingatkan jika kita bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmatNya, sebaliknya jika kita kufur nikmat maka azab Allah adalah sangat berat. Dengan menjauhi sifat mubazir kita sudah bersyukur dan dengan banyak bersyukur insyallah keuangan keluarga kita makin sakinah dan berkah.

Maka dari itu uswatun hasanah untuk menghindari sifar mubazir yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW patut kita teladani seperti makan sebelum lapar berhenti makan sebelum kenyang, makan penuh adab dengan menggunakan tiga jari bukan lima jari (tidak memenuhi mulut), dengan mengunyahnya berkali – kali dan bukan tergesa – gesa, makan dengan duduk bukan berdiri apalagi berlari – lari.

Selain itu, patut juga kita membuat perencanan dengan menggunakan teknik “Just-In Time”, makanan dibeli ketika waktunya, makanan habis sebelum kadaluarsa dan jika bersisa bukan dibuang tapi didaur ulang. Jika sudah dilakukan dalam keluarga kita, mulai dari makanan, perabot rumah tangga dan pakaian, maka kebiasaan ini akan tersebar ke lingkungan sekitar dan pada akhirnya kita semua akan dapat menjauhi sifat mubazir ini. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Artikel ini diterbitkan di:

MySharing: http://sakinah.mysharing.co/14742/gaya-hidup-dan-pemubaziran/#ixzz44D8Zg3u6

Islampos

Republika

Hidayatullah

Suara Islam

 

Eat Halal and Well for Less

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc dan Layyina Tamanni

Sakinah Finance, Colchester, UK

eat1

Gregg dan Chris, pembawa acara Eat Well for Less
Foto: www.bbc.ac.uk

Kali ini Layyina kembali menceritakan program televisi yang kerap ditontonnya, “Eat Well for Less” atau “Makan lebih baik dengan harga murah” yang mulai ditayangkan oleh BBC di awal tahun 2015 ini. Program tv reality show ini ingin mengajak para keluarga untuk belanja sehat dan berhemat dalam berbelanja.
Pesan program

Menurut Layyina pesan yang didapat adalah kita sebaiknya tidak melihat merek barang ketika mengkonsumsi makanan dan minuman karena dapat menghemat ratusan pound dalam satu bulan belanja (£100 kira-kira Rp. 2juta). Pelajaran lain yang dapat dipetik  dari program ini juga mahal tidak semestinya sehat, jadi carilah makanan minuman sehat yang murah. Biaya hidup di Inggris yang termasuk salah satu termahal di dunia menjadikan program ini tontonan yang diminati terutama dari kalangan menengah ke bawah. Apalagi masalah kesehatan yang luar biasa menjadi tumpuan utama si negerinya Harry Porter ini.

Bagaimana memilih yang sehat dan murah

Memilih produk yang tidak popular bukan berarti tidak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. Pembeli seharusnya jeli dan cermat ketika membaca bahan-bahan yang terkandung di dalam produk dan tidak serta merta percaya kepada iklan di media. Dengan keahlian berbelanja yang baik, pembeli akan berhasil berhemat dan pada saat yang bersamaan mendapatkan barang berkualitas baik.

Hal pertama yang perlu dijadikan kebiasaan bagi keluarga adalah makan masakan rumah dan mengurangi makanan siap saji. Kedua, belanja di pasar tradisional karena lebih menjanjikan bahan makanan segar, sehat dan murah. Secara logika, pasar tradisional dapat menekan harga karena para penjual tidak perlu belanja iklan, membayar sewa mahal, dan mengemas baik produk jualannya. Ketiga, membawa catatan belanja dan uang secukupnya untuk menghindari sifat shopaholic (hobi belanja). Keempat, pandai merencanakan makanan yang bervariasi penuh gizi untuk konsumsi keluarga dan tamu.

Pola belanja masyarakat kita

Bagaimana dengan prilaku konsumsi masyarakat Indonesia? Sejauh mana merek atau brand mempengaruhi gaya belanja mereka? Ternyata para perusahaan besar berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi teratas berkenaan dengan Top of Market Share, Top of Mind Share dan Top of Commitment Share yang diadakan oleh Majalah SWA, majalah Marketing, Frontier Consulting Group dan lain – lain. Maka dari itu para perusahaan tidak merasa rugi jika harus belanja iklan ratusan juta yang terkadang melibatkan artis seksi hanya untuk merebut hati masyarakat supaya menjadikan produk mereka pilihan utama.

Eat halal dan thayib

Satu hal yang paling utama bagi keluarga Muslim di Inggris ketika berbelanja adalah memastikan makanan dan minuman yang dibeli adalah halal. Bisa dibayangkan para pendatang yang baru ke negara ini akan kewalahan di hari-hari pertama mereka berbelanja. Namun dibandingkan negara Eropa lainnya, pencantuman label halal lebih banyak ditemui di pasar tradisional, toko-toko dan pusat belanja di Inggris. Di Itali dan Perancis misalnya, bagi pendatang yang hanya tahu berbahasa Inggris, membaca bahan-bahan makanan yang ada di luar kemasan adalah suatu hal yang tidak mudah karena bahasa yang digunakan adalah kebanyakannya bukan bahasa Inggris. Untuk bertanya dengan pegawai toko dan pembeli di sekitar kita pun tidak mudah karena bahasa Inggris yang jarang dipakai di sana. Kalaupun mereka tahu konsep halal, hanya terbatas tahu bahwa produk jualannya tidak mengandung babi.

eat2Logo Halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Topik pengajian makanan halal adalah salah satu topik kajian terlaris di kalangan masyarakat Muslim di Inggris termasuk komunitas Muslim Indonesia di Glasgow, Skotlandia yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Pengajian KIBAR Glasgow,. Bukan hanya Muslim, bahkan sebagian masyarakat non-Muslim mulai menyadari tentang banyak hikmah dibalik makanan yang diproses secara halal yang sejalan dengan keprihatinan mereka selama ini yaitu tentang animal rights, harus higenis, dan proses pemotongan yang tidak melalui pembiusan (stunned).

Dari bacaan di atas kita mungkin punya usulan kalau saja reality show tersebut dapat dikemas lebih baik lagi yang bukan saja sehat dan murah tetapi sehat, murah dan halal (Eat Halal and Well for Less) paling tidak untuk konsumsi masyarakat Muslim. Sebagai umat Islam, kita dapati bahwa 1437 tahun yang lalu, Rasulullah SAW sudah menda’wahkan firman Allah dalam salah satu surah madaniyah, yaitu Surah Al-Baqarah (2): 168 yang artinya:”Wahai manusia! Makanlah yang halal (halalan) lagi baik (thayyiban) yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Menurut tafsir Ibnu Katsir, Allah swt memerintahkan seluruh manusia agar memakan apa saja yang ada dimuka bumi, yaitu makanan yang halal, baik, dan bermanfaat bagi dirinya sendiri yang tidak membahayakan bagi tubuh dan akal pikirannya. Halal di sini mencakup halal memperolehnya, seperti tidak dengan cara merampas dan mencuri, demikian juga tidak dengan melalui transaksi dagang yang haram atau cara yang haram dan tidak membantu perkara yang haram. Sedangkan thayyib, mengutip tulisan di Majalah Gontor, 27 Agustus 2014 ada dua pemahaman yaitu menurut al-Isfahani, adalah sesuatu yang dirasakan enak oleh indra dan jiwa, atau segala sesuatu selain yang menyakitkan dan menjijikkan. Yang kedua adalah dari Ibnu Taimiyah yang menerangkan dalam kitab Majmu’ Fatawa bahwa thayyib adalah yang membuat baik jasmani, rohani, akal dan akhlak manusia. Kalau sekedar halal saja tidak cukup, perlukah MUI menerbitkan logo “Halal & Thayyib”? Wallahu a’lam bis-shawaab.

Ditayangkan di:

MySharing

Republika

Islampos

Suara Islam

Don’t let the boxing day box you :)

Image

Hampir semua kalangan umur, baik tua maupun muda mengenal istilah Boxing day di negara Ratu Elizabeth ini yang merupakan even tahunan yang ditunggu – tunggu. Sudah tentu merupakan ‘hari belanja nasional’ bagi sebagian warga Indonesia yang tinggal di UK, atau mungkin juga di banyak Negara lain untuk even sejenis. Boxng day jatuh pada tanggal 26 Desember ketika hampir semua pusat belanja dan butik-butik ternama menggelar sale besar-besaran. Di toko-toko merek terkenal, antrian terlihat panjang bahkan dari beberapa jam sebelum toko dibuka, yang biasanya juga dibuka lebih awal dari biasanya. Pusat belanja seperti Oxford street di London, atau pusat-pusat kota lainnya penuh dengan manusia, baik yang memang dalam rangka berhemat, sekedar menghabiskan uang, atau iseng ingin melihat gelagat para pembeli yang mengerumuni mal.

Bagi kelaurga yang sedang menjalani praktik perencana keuangan keluarga syariah, boxing day merupakan even belanja yang harus disikapi dengan hati-hati. Tidak masalah kalau hari tersebut dijadikan even tahunan berbelanja, namun harus dipastikan bahwa keputusan apa yang dibeli tidak muncul secara tiba – tiba. Seringkali belanja tanpa rencana akan memaksa kita menggunakan kartu kredit yang ada atau menggunakan dana yang lebih besar, karena merasa diuntungkan ketika melihat diskon sampai 50%, atau malah 70%. Padahal banyak juga toko/butik yang menjual secara diskon item sudah tidak trend lagi, atau cuci gudang pasca natalan. Jadi bukanlah suatu hal yang harus dikejar – kejar, karena hal itu juga biasa dilakukan di hari – hari selain boxing day. Pembeli juga harus “smart” karena barang yang dijual dengan diskon besar – besaran itu tidak semuanya berkualitas baik.

Cash flow keluarga juga harus diwaspadai dengan banyak even belanja yang menggoda mata ini karena cash flow adalah satu bagian yang terpenting dalam perencanaan keuangan. Walau aset keluarga dinilai cukup tinggi namun jika cash flow seret sering mengacaukan anggaran dan tentunya menganggu kelancaran belanja kebutuhan primer yang tidak bisa ditunda – tunda. Seringkali musim sale seperti ini menyebabkan minat untuk membeli semakin menggebu – gebu (impulsive shopping), karena melihat antrian yang panjang atau barang yang diimpikan sedang di-diskon habis – habisan. NEXT atau Selfridges, dua diantara pusat belanja yang sangat digemari di UK bahkan membatasi jumlah pembeli dalam satu waktu, dan para calon pembeli rela antri berjam-jam untuk bisa membeli paling awal di toko tersebut.

Pembaca mungkin masih ingat salah satu seri Mr. Bean, yang begitu cerdiknya dia tutupi onggokan barang di depan toko dengan selimut seolah – olah dia yang sedang tidur menunggu toko untuk dibuka. Ketika toko sudah mau dibuka, Mr. Bean dengan bergegas menuju ke barisan pertama sehingga dia menjadi pembeli yang pertama kali masuk ke toko hari itu. Namun akhirnya Mr. Bean tidak mendapatkan barang yang dia perlukan. Artinya banyak sekali kita menjadi “latah” karena melihat gelagat orang lain sehingga dengan kelatahan kita, uang bisa habis dengan percuma. Fenomena latah ini cukup menarik sebenarnya, karena semua toko yang melakukan sale pada boxing day, juga melakukan hal yang sama secara online. Orang cukup memilih di website toko tersebut dan membayar secara online. Biasanya dalam waktu kurang dari tiga hari barang sudah sampai, atau malah next day delivery. Namun, masih tetap saja belanja bergerombolan pada Boxing day menjadi even yang ditunggu-tunggu. Untuk warga Glasgow, entahlah apakah cuaca cukup bersahabat pada hari itu, karena sudah sepekan ini angin kencang disertai hujan yang tiba – tiba mewarnai awal musim dingin kali ini.

Akhirnya, apapun pilihan belanja kita yang terpenting adalah masih dalam jangkauan kemampuan keuangan. Kalau memang sudah merencanakan belanja jauh-jauh hari, sesungguhnya Boxing day dapat menjadi hari dimana keperluan sekunder keluarga bisa dibeli, karena memang kebanyakan item yang di diskon adalah fashion, households items, elektronik dan consumer goods lainnya. Apapun keputusan dan pilihan belanja kita, yang penting tidak berlebihan dan melewati batas anggaran untuk keperluan tersebut. Kuncinya adalah bagaimana hidup di lingkungan yang demikian konsumtifnya dengan perencanaan dan kedisipinan dengan pola belanja yang senantiasa menggunakan prinsip Maqasid Syariah. Pola yang dimaksud adalah apapun yang diterima dan dibelanjakan harus memenuhi tujuan untuk melindungi lima hal; akal, jiwa, agama, keturunan, dan harta.

Salam Sakinah!

Murniati Mukhlisin dan Luqyan Tamanni

Cashier, who bothers?

I have been wanting to write this long a go but it just happened now. Enjoy your reading!

Please put your hands up if you belong to a type of people who pay attention to Cash Register Display when the Cashier is counting your shopping items. If you are belong to “Don’t Care” or “Cashier Must Be Right” group then you should probably need to change now.

At first, my husband didn’t bother just like you perhaps, but after he saw several incidents where I caught the cashier with wrong counting then he is now becoming more particular. Here are some of the ‘incidents’ that I have encountered.

Cashier at Mydin, Jalan Masjid India, Kuala Lumpur counted “Minyak Gamat” twice when I purchased it at the store. In other occasion, I also found the cashier at Carrefour Seri Petaling, Selangor, Malaysia charged me with wrong price label.

There are some items at stores must be registered at a specific counter when we purchase, after that the counter lady issues an invoice that we need to bring it to the cashier for payment. After paying, we bring the receipt and return to the counter and exchange it with the item we purchase. At this type of store, I caught the counter lady at Macro, Jakarta totaled the items I purchased wrongly which I realized when I handed it over to the cashier. I saw on the display pop up the total amount of items I purchased, then I felt something wrong with it because I knew how much it’s supposed to be, let say Rp. 100,000 (I forgot the exact amount) but it turned up to be Rp. 200,000. The cashier then called the counter lady to correct it, that’s it! no sorry, nothing and she had no answer when I asked what happened if I didn’t know or if the customers didn’t know, where the money balance would go? Instead of giving me an explanation, she raised her eyebrow.

Here again in the UK, I found several incidents, and I will just show you the most recent one.

As you can notice from the picture, the price of a pack of Daisyhill Eggs is £2.29. I purchased two packs then they are supposed to be £4.58 in total. The moment the cashier entered the amount, I realized there was something wrong with the total but I just kept quite and waited till he printed the receipt. Gotcha! As you can see from the receipt that I underlined with red ink, the total was not £4.58 but £4.98! I spoke to the cashier politely “Excuse me, the egg price is £2.29, you can see the price label.” I expected him to nod, said sorry, returned £0.40 and case closed! But, it’s not what I wanted, and he replied: “No, the price is increased to £2.49 now.” Oooo, no way brother (my heart screaming), I counter-argued with him and said: “Hello…your price label shows £2.29 on both packs, you can’t simply say £2.49 now, it’s not halal!” I was told that the shop is belong to a Muslim and I have been nearly six months shopping at this shop so I know the shop keepers and cashiers are Muslims, that’s why I said IT’S NOT HALAL. He returned to me with frowning face the £0.40 (equals to Rp. 600), no sorry nothing and I just walked away.

My daughter was with me witnessing it from the beginning and she said as we walked away: “Come on Mommy, it’s just 40p”!  I said to her: “No darling, 40p sounds small but in the eyes of Allah, small is counted and if it is not halal, we must pity him and the shop because we don’t help them from eating haram things” She mumbled and said “ehmm…okay”

This becomes things to ponder and let’s recall Surah Al-zalzalah 6-8:

99:6

That Day, the people will depart separated [into categories] to be shown [the result of] their deeds.

99:7

So whoever does an atom’s weight of good will see it,

99:8

And whoever does an atom’s weight of evil will see it.

The verses remind us to appreciate even small  good deeds that we do as it is counted by Allah, vice versa, we must also take precaution on small sins we do as it is also accumulated. In one hadith quoted from Tafsir Ibn Kathir, Imam Ahmad recorded from Abdullah bin Masud that the Messenger of Allah said:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتْى يُهْلِكْنَه

Beware of the sins that are belittled. For verily, they are gathered in a man until they destroy him.

To have a blessing in our business we must adhere the rulings of Shari’ah and the price label is actually a part of the pillars that constitutes the completeness of the contract. It is also a promise that must be fulfilled and whatever we promise to customers must be satisfied. Finally, this is clearly stated in Al-Maidah Verse 1: “O you who have believed, fulfill [all] contracts.”

May this article give manfaah. Wallahu’alam bissawaf.

Your sister in Islam,

Murniati @ Mu Kim Ni