Pusing dengan biaya sekolah anak?

Pusing dengan Biaya Sekolah Anak?

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Bogor – Indonesia
Kompas.com – 15/03/2017, 08:00 WIB
Ilustrasi dana pendidikan(Thinkstockphotos.com)

KOMPAS.com – Banyak orangtua yang mengeluh ketika mulai tahun ajaran baru. Banyak orang tua yang ingin anak-anaknya masuk ke sekolah terbaik.

Selama ini, Pemerintah sudah menyiapkan fasilitas sekolah negeri yang tidak perlu membuat orangtua pusing. Namun sayangnya, tidak banyak sekolah–sekolah negeri yang mampu bersaing dari segi kualitas yang ditawarkan oleh sekolah swasta.

Saat ini kualitas pendidikan yang diinginkan orangtua adalah kurikulum bertaraf internasional, berafiliasi internasional, kemampuan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Arab, penyediaan ruang laboratorium, bermacam ragam fasilitas olah raga.

Bagi keluarga muslim, ingin pendidikan dengan karakter islami. Tentu saja sekolah yang mampu menyediakan pendidikan berkualitas seperti itu akan dengan terpaksa mengenakan biaya sekolah yang cukup tinggi.

Misalnya untuk Tahun Ajaran Baru 2017/2018, uang pangkal yang dikenakan bagi siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu bisa mencapai antara Rp 10 juta-Rp 30 juta dengan biaya SPP bulanan sekitar Rp 1,5 juta–Rp 2,5 juta per bulan. Itu baru biaya SD. Untuk level SMP dan SMA biayanya bisa lebih besar sekitar 30 persen.

Untuk pondok pesantren modern dengan fasilitas baik, biasanya menerima siswa saat tingkat SMP (Tsanawiyyah) dan SMA (Aliyah), mengenakan SPP bulanan sekitar Rp 1,5 juta–Rp 2,5 juta, termasuk biaya tempat tinggal dan makan di asrama.

Animo keluarga

Walau demikian, peminat sekolah Islam Terpadu memang luar biasa, bahkan terkadang harus antri dan banyak siswa yang terpaksa ditolak jika tidak lulus tes masuk.

Dari satu sisi, hal ini menunjukkan bahwa animo masyarakat kelas menengah ke atas untuk sekolah bermuatan agama makin tinggi. Mereka ingin anak–anaknya mengenyam pendidikan sekolah yang bermutu dan pada saat bersamaan mampu membekali mereka dengan nilai – nilai Islami.

Dalam era globalisasi dan finansialisasi sekarang, pilihan tersebut menjadi tepat, supaya dapat menyelaraskan pendidikan di rumah dan di sekolah melalui pemuatan ilmu aqidah, syariah dan akhlaq.

Hal ini sangat relevan dengan seruan Allah SWT di QS At-Tahrim (66): 6, supaya kita menjaga diri kita dan keluarga dari siksa api neraka kelak.

Namun bagi keluarga yang berada di dalam golongan ekonomi kelas bawah, masuk ke sekolah yang bermutu lengkap dengan pendidikan Islami menjadi suatu kendala. Padahal umumnya keluarga muda yang ingin menerapkan pendidikan Islami untuk anak – anaknya adalah biasanya belum mampu membayar uang pangkal dan uang SPP bulanan di sekolah sejenis itu.

Solusi syariah

Kali ini Sakinah Finance akan berbagi beberapa tips yang semoga bisa digunakan untuk mengatasi kesulitan dalam urusan biaya sekolah anak–anak.

Pertama, buat kesepakatan antara suami dan istri ketika sebelum/baru menikah tentang perencanaan pendidikan anak – anak. Salah satunya adalah menyisihkan pendapatan untuk investasi pendidikan masa depan sejak anak lahir.

Kedua, pelajari produk–produk keuangan syariah seperti di asuransi syariah, bank syariah, reksadana syariah dan pasar modal syariah.

Ketiga, buat simulasi produk–produk investasi tersebut, seperti ada beberapa perusahaan asuransi syariah di tanah air yang menyiapkan simulasi online atau bertanya kepada kaunter pelayanan dan staf pemasaran.

Tujuannya adalah untuk mengenal produk asuransi syariah yang sudah banyak tersedia di tanah air, kemudian pilih yang paling nyaman.

Keempat, jangan ikut–ikutan teman atau percaya dengan agen yang menawarkan tanpa tahu badan hukum lembaga, jenis akad, risiko dan seluk beluk produk.

Kelima, usahakan untuk membuat perencanan investasi jangka panjang ini di lebih dari satu tempat, misalnya satu di asuransi syariah, satu lagi di pasar modal

Keenam, ingat bahwa rencana ini adalah untuk kepentingan anak – anak sekolah kelak yaitu saat ketika dibutuhkan untuk masuk TK, SD, SMP, SMA dan universitas sehingga harus masuk dalam perencanaan. Misalnya melalui standing instruction untuk pembayaran rutinnya dan adanya klausa yang jelas untuk tidak mudah menarik dana yang ada.

Ketujuh, buat perencanaan awal seperti mempelajari jenis sekolah yang akan dituju dan perkiraan biaya dalam masa tiga atau lima tahun lagi.

Kedelapan, masukkan perencanaan pendidikan ini dalam daftar impian keluarga sehingga dapat dievaluasi dari tahun ke tahun.

Kesembilan, perkirakan jarak rumah dan sekolah agar tidak terlalu jauh sehingga tidak menambah beban biaya di kemudian hari, seperti biaya transportasi.

Kesepuluh, senantiasa mendoakan anak – anak kita supaya diberikan kemudahan dalam upayanya mencari ilmu. Orangtua hanya bisa merencanakan, hanya Allah SWT yang menentukan.

Penulis memiliki tiga anak, dan sejak bayi atau kurang lebih sekitar 16 tahun ini kami sudah mengikuti program dana pendidikan syariah. Kami tidak terlalu pusing ketika saatnya mereka masuk TK, SD, SMP, SMA dan bahkan universitas.

Dalam berbagai kesempatan, diharapkan orangtua aktif menyampaikan masalah biaya pendidikan sekolah bermutu kepada pemerintah supaya ada intervensi, misalnya pemberian subsidi ke sekolah unggulan, sehingga biaya sekolah jenis ini dapat mudah dijangkau. Pengawasan juga diperlukan supaya jangan sampai sekolah dijadikan ajang bisnis.

Saat ini sudah ada model sekolah yang bermutu tetapi tidak “mahal” bahkan gratis. Seperti Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia yang merupakan sekolah binaan Kementerian Agama RI.

Sekolah yang berorientasi kepada ilmu pengetahuan dan iman dan taqwa itu diprakasai oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1996. Diharapkan ke depannya, makin banyak sekolah berkualitas seperti ini yang dibantu dengan subsidi pemerintah sehingga biaya pendidikan tidak lagi menjadi hal yang memusingkan.

Kesimpulannya adalah orangtua diharapkan untuk membuat perencanaan sedini mungkin untuk investasi pendidikan anak berorientasi syariah dan pemerintah memastikan pendidikan yang lebih bermutu dari waktu ke waktu sehingga akan lahir generasi mumpuni yang akan membawa Indonesia makin bermartabat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/03/15/080000526/pusing.dengan.biaya.sekolah.anak.

Pengelolaan Keuangan, Sebelum atau Sesudah Menikah?

keuangankeluarga

Dok: Majalah Kartini

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan, Sakinah Finance, Colchester – UK

Banyak para bujang gadis atau pasangan yang baru menikah menanggapi bahwa perlunya mengelola keuangan pasnya adalah setelah menikah. Lihat komentar di bawah:

Yangie dan Agung: ada amanah yang harus dikelola bersama, makanya penting sekali perencanaan keuangan setelah menikah.

Siska dan Heru: pengeluaran lebih banyak dari pendapatan sehingga perlu perencanaan serius.

Okky: ada penghasilan ganda jadi baru bisa ada yang dikelola.

Sheyka: ada transaksi pinjam meminjam atau saling memberi antara suami dan istri jadi perlu adanya perencanaan keuangan.

Tapi menurut Tiffany, setelah menikah dia pikir tidak perlu pengelolaan keuangan kan sudah ada suami, lain halnya ketika sebelum menikah, uang milik pribadi harus benar – benar diatur. Namun akhirnya dia akui bahwa pendekatannya kurang pas.

Ayu lain lagi, bagi dia, nikah atau ga nikah, perencanaan keuangan harus tetap dijalani kan sesuai fungsi uang yang 3S ujarnya, spending, saving, dan sharing.

Ehmmm….jadi  “baper” nih, jadi yang mana dong sebaiknya kita adopsi?

Mulailah seawal mungkin dengan niat ibadah

Mengelola keuangan (istilah ini lebih tepat dari merencanakan keuangan), tentu saja tidak lepas dari niat. Sesuai dengan niat kita dalam menjalankan kehidupan adalah tentunya untuk selalu beribadah kepada Allah SWT (lihat QS Adz-Dzariyat (51): 56), tentu termasuk juga ketika menjalankan aktifitas pengelolaan keuangan.

Sebagian anak – anak berusia tujuh tahun sudah bisa menerima latihan awal pengelolaan keuangan sehingga dia akan tumbuh lebih prihatin dalam pengelolaan keuangannya kelak. Di awal latihan, minimal anak – anak memahami makna uang yang ternyata adalah amanah Allah SWT yang harus dijaga bukan hanya dengan menyimpannya tetapi juga membelanjakannya. Hasilnya anak – anak akan lebih menghormati orangtuanya di kala senang dan susah karena menyadari bahwa uang tidak selamanya milik kita.

Untuk memastikan keuangan keluarga dapat dikelola dengan baik, anak – anak diberikan latihan bekerja dan berwirausaha ala Rasulullah SAW. Di situlah orangtua mempunyai kesempatan untuk mengajarkan transaksi – transaksi muamalah sesuai dengan syariah termasuk memahami zakat, infaq dan shodaqoh.

Namun jangan terlalu juga membebaskan anak – anak dengan uang dan harta. Maka dari itu perlu diperhatikan dan dikawal penggunaannya (tasarruf) oleh orangtua/wali sang anak karena mereka belum sempurna akalnya atau tidak mampu mengelola uang dan hartanya (lihat QS An-Nisa’ (4): 5 dan Tafsir Ibnu Katsir).

Tentukan hak dan kewajiban

Dalam QS An-Nisa (4): 34 jelas bahwa lelaki dalam rumah tangga adalah pemimpin (qawwam) keluarga sehingga dia yang wajib memberikan nafkah kepada istrinya dari sebagian hartanya.

Namun walau ada peran kepemimpinan (qawammah) laki – laki, semua mukmin baik lelaki maupun perempuan termasuk pasangan suami – istri wajib menjadi penolong (al-walayah) antara sesamanya (QS At-Taubah (9):71) dalam hal mengerjakan yang makruf, mencegah yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Pada akhirnya akan turun rahmat dari Allah SWT untuk mereka.

Dari makna qawwamah, maka kewajiban seorang anak laki – laki dewasa (baligh/mumayyiz) adalah mengatur keuangan untuk nafkah dirinya dan juga siapapun yang menjadi tanggung jawabnya, misalnya orangtua atau adik – adik yang belum bisa mandiri. Begitu juga kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada istrinya dari sebagian hartanya.

Namun, untuk keadaan tertentu dimana anak perempuan atau istri yang harus memberi nafkah, maka hal tersebut masuk dalam kategori menolong (al-walayah), dengan syarat qawwamah suami tetap terjaga. Baca artikel Sakinah Finance: Berapa Gajimu, Wahai (Pekerja) Kartini Rumah Tangga?, di Bisnis dan Keuangan, Kompas, 22 April yang lalu.

Tentunya penentuan hak dan kewajiban ini harus dikomunikasikan dan dimusyawarahkan dengan baik sehingga tidak menimbulkan rasa sombong, tidak ikhlas dan tidak amanah.

Jangan kaku, adaptasi dengan perubahan

Hal lain yang menjadi faktor naik turunnya semangat ketika menjalankan perencanaan keuangan adalah dalam menghadapi perubahan. Misalnya, perubahan dalam menjalankan kehidupan yang tadinya di Indonesia, kemudian harus tinggal sementara di Inggris karena tugas belajar. Perubahan yang tadinya mempunyai penghasilan yang lebih dari mencukupi kehidupan sehari – hari namun saat ini sedang menanggung hutang.

Tidak ada sebuah model pengelolaan keuangan keluarga yang standar yang dapat diterapkan oleh setiap keluarga. Dengan kata lain, selalu adaptasi dengan perubahan misalnya gaya hidup, cara baru pengaturan dan pemisahan tanggung jawab keuangan di rumah, pembuatan catatan pemasukan dan pengeluaran dan lain sebagainya. Apapun perubahan itu, selalu tekuni cara yang dianggap terbaik.

Pastikan konsisten

Konsistensi adalah salah faktor terberat dalam hal pengelolaan keuangan keluarga. Mengapa? Godaannya luar biasa yang lalu lalang dalam telinga kita, misalnya untuk apa mengelola yang sedikit ini, tambah pusing aja! Mengapa serius sekali mikirnya, toh Allah sudah atur semuanya, terima saja apa adanya!

Mengelola keuangan adalah sejalan dengan salah satu ayat Al-Qur’an tentang kisah Nabi Yusuf ketika menakwilkan mimpi Raja Mesir untuk mempersiapkan hidup di masa sulit ketika di masa senang (QS Yusuf (12): 43-49). Kita juga diajarkan manut dan konsisten dengan ajaran Rasulullah SAW, misalnya cara –cara menahan keinginan duniawi (baca nasihat Rasulullah SAW kepada Fatimah Az-Zahra ra putrinya dan Ali bin Abi Thalib ra menantunya untuk selalu berzikir kepada Allah SAW), juga dalam mengelola hutang (baca doa ajaran Rasulullah SAW untuk jauh dari lilitan hutang).

Pencapaian Target

Terakhir, kita hanya pandai merencanakan dan menginginkan agar target – target keuangan keluarga tercapai namun hanya Allah SWT yang menentukan. Jadi apapun hasilnya, mari bertawakal kepada Allah SWT dengan terus memohon agar senantiasa diberikan yang terbaik untuk kehidupan kita.

Mengutip taujih Ustaz Cecep Haji Solehudin yang berdomisili di Sydney, Australia, sesungguhnya target yang harus kita capai adalah seperti yang disabdakan Rasulullah SAW: Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya. (HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh Al-Albani). Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Artikel ini dipublikasikan di:

Republika: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/05/12/o71j3d336-mengelola-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah

MySharing: http://sakinah.mysharing.co/14759/pengelolaan-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah/

Islampos: https://www.islampos.com/pengelolaan-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah-275510/

Suara Islam: http://www.suara-islam.com/read/index/18160/Pengelolaan-Keuangan;-Sebelum-atau-Sesudah-Menikah-

Hidayatullah: http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2016/05/10/94536/pengelolaan-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah.html

Majalah Gontor

Window Shopping: Belajar dan Inspirasi Bisnis Tanpa Belanja

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Sakinah Finance, Colchester, UK

window-shopping-new-yorkWindow Shopping; Sudah dikenal sejak dahulu kala. Foto: old-photos.blogspot.com

Banyak yang tidak menyangka window shopping (baca: melihat-lihat melalui etalase mal) terkadang banyak manfaatnya. Selain menjadi salah satu ajang hiburan bagi keluarga, window shopping juga dapat memberikan inspirasi bagi anak-anak dan kita sekeluarga.

Dalam Sirah Nabawi, sering kita dengar kisah Rasulullah SAW dengan keluarganya,yang menjadi dimensi uswatun hasanah bagi kita semua. Ternyata dari segala kesibukan Nabi sebagai pemimpin umat Islam saat itu di mana Nabi harus mengatur peperangan, kehidupan masyarakat dalam berniaga, masalah penegakan hukum, serta waktu untuk berdakwah, Beliau tetap menyisihkan waktunya untuk keluarga.

Click 2 Tweet: Window shopping, apa manfaatnya bagi keuangan keluarga?
12234924_1013527518711604_5725425456304964166_n
Kegiatan window shopping keluarga kami. Foto: Koleksi Pribadi

Beliau kerap mengajak Aisyah istrinya pergi rihlah dan bercanda gurau. Apabila Fatimah, putri bungsunya datang ke rumah sang ayah, ayahnya selalu menyambutnya dengan menciumnya dan duduk bersamanya. Beliau menggendong Umamah cucunya ketika sholat dan mengajak cucu-cucunya Hasan dan Husein bermain. Kita bisa bayangkan bagaimana Rasulullah SAW menjalankan manajemen waktunya maka dari itu sudah layak bagi kita yang sesibuk apapun untuk dapat meluangkan waktu untuk keluarga.

Manfaat window shopping
Dalam ulasan Sakinah Finance kali ini, ada salah satu bentuk acara keluarga yang mungkin bisa diterapkan di keluarga pembaca yaitu window shopping. Paling tidak ada tiga manfaat dari window shopping yaitu ajang hiburan murah, sumber inspirasi, dan bahan ajar madrasah di rumah.

Motivasi, syarat dan adab window shopping
Motivasi kita untuk pergi ke pasar utamanya adalah mengikuti sunah para rasul bukan hanya Rasulullah SAW tetapi juga rasul – rasul sebelumnya yang pergi ke pasar – pasar untuk mencari nafkah dan berdagang (QS lAl-Furqan (25):20). Dalam kegiatan window shopping ini tentu saja motivasi lainnya adalah dalam rangka menjadikan keluarga bahagia yang cinta ilmu.

Selanjutnya, dalam ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu pertama niatkan dari rumah bahwa tidak ada barang-barang yang akan dibeli karena kwatir akan terciptanya impulse shopping, dimana yang tadinya tidak mau membeli tetapi ketika melihat banyak orang yang membeli kita akan ikut-ikutan.

Jika dalam keluarga ada yang shopaholic (suka belanja) sebaiknya jangan diajak karena yang tadinya tidak ada rencana belanja sang shopaholic akan jadi berbelanja berlebih-lebihan. Untuk menjadikannya hiburan, kegiatan window shopping baiknya dibuat di pusat perbelanjaan yang tidak kerap didatangi misalnya pusat perabotan rumah tangga, grosir kain atau tas sepatu.

Click 2 Tweet: “Seperti Rasulullah, sesibuk apapun, dapat meluangkan waktu untuk keluarga.”
Setelah niat dan persiapan, tentu saja sebaiknya kita mengikuti adab masuk pasar yaitu membaca doa yang dianjurkan Rasulullah SAW seperti dalam hadith:” Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku walahulhamdu, yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khoiir, wa huwa ‘ala kulli syai’in qodiir, siapa yang membaca doa di atas ketika masuk pasar, maka Allah akan menuliskan baginya satu juta kebaikan, menghapuskan darinya satu juta kesalahan, dan meninggikannya satu juta derajat” (HR. Tirmidzi No. 3428, Ibn Majah No. 2235, hadith hasan).

Arti doa: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan, bagiNya segala pujian. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tanganNya semua kebaikan. Dan Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Mengapa masuk pasar /pusat perbelanjaan perlu berdoa dan dijanjikan pahala? Dalam hadith lain, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa: “Tempat yang paling baik adalah masjid. Sedangkan tempat yang paling buruk adalah pasar”. (HR Ibnu Hibban No 1599). Maka dari itu doa dan zikir akan menghindarkan kita dari lupa diri dan kalap ketika melihat barang – barang serta senantiasa sabar serta ingat Allah ketika bertransaksi di pasar.

Kedua, rencanakan untuk belanja makanan ringan atau acara makan siang di luar untuk anak-anak sebagai daya tarik. Ketiga, memberikan tugas bagi anak-anak untuk menulis apa yang dianggap menarik dan rencanakan untuk menjadikannya bahan diskusi di madrasah di rumah, untuk jadi ajang kuis berhadiah dengan anak-anak tetangga atau dijadikan ide tulisan pendek.

Ayo praktik!
Pengalaman ini sudah sering kami praktikkan ketika anak-anak masih kecil yang ketika itu kami ajak ke pusat kain kiloan di Bogor atau pusat perabotan internasional dengan inisial “IK” ketika kami tinggal di Kuala Lumpur dan berlanjut ketika kami sekarang ini di Inggris.

Hasil dari jalan-jalan tadi akhirnya dapat memberikan ide bisnis bagi anak-anak seperti bisnis menjahit bahan sprei kiloan menjadi sprei, bantal dan selimut serta popok bayi. Juga dapat memberikan ide kreatifitas dengan mulai membayangkan produk-produk di toko perabot yang dikunjungi sampai dapat mengukir cita-cita mengikuti jejak para desainer perabot yang dilihat.

Click 2 Tweet: “Window shopping bagus untuk cari ide kreatif bagi pengusaha, apa yang bisa kita produksi dan jual?”
Terakhir, manfaatnya adalah untuk bahan ajar madrasah/pengajian keluarga di rumah misalnya tentang bahan-bahan kulit hewan seperti kulit babi yang dimanfaatkan untuk kursi sofa, bagaimana perlakuannya? Juga tentang harga-harga yang dilihat apakah perlu membeli perabot dengan harga puluhan juta sedangkan masih banyak prioritas yang harus didahulukan.

Lantas bagaimana dengan kualitas yang harus dibayar dengan harga tinggi, apakah perlu juga diperhatikan? Permasalahan segudang di atas dapat dijadikan bahan diskusi madrasah di rumah dan dapat dihubungkan langsung dengan tujuan-tujuan syariah atau yang disebut Maqasid Shariah yang sudah banyak ditulis di buku – buku Islami dan pernah juga ditulis sebelumnya di buku Sakinah Finance serta dibawakan dalam pelatihan-pelatihan Sakinah Finance. Ehmm, window shopping, menarik bukan?

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc adalah Penulis Buku dan Konsultan Sakinah Finance, Colchester, UK

Tulisan sudah dipublikasikan di:

MySharing: http://sakinah.mysharing.co/14682/window-shopping-belajar-dan-inspirasi-bisnis-tanpa-belanja/#ixzz3sp8MwKkX

Islampos

Suara Islam

Buku catatan pengeluaran anak

Salah satu kebiasaan kami adalah mencatat setiap pengeluaran harian dan bulanan. Hal ini juga dilakukan oleh anak kami yang sulung, yang sekarang duduk di bangku SMP kelas 1, terutama ketika tinggal di Leicester tahun lalu. Setiap minggu dia menerima uang saku sebesar £10 – £15 untuk ongkos bis dan terkadang makan siang di kantin, ketika tidak sempat membawa bekal dari rumah. Berikut catatan yang ada dalam buku kas Layyina.

Buku kasnya cukup yang murah saja, yang penting praktis dibawa dan mudah digunakan.

DSC_9842

Buku kas £0.69 yang sudah lusuh

Kolomnya memadai; ada ‘Reason’ atau pengeluaran, ‘The money before’ atau saldo awal, dan ‘the total’ atau saldo akhir. Layyin membuat sendiri istilah yang mudah dia pahami.

DSC_9845

Jurnal halaman pertama

Setelah beberapa lama, buku kas pun akan kelihatan penuh.

Cashbook1

Buku kas yang mulai penuh

 

Buku kas ini sangat besar manfaatnya bagi kami. Pertama anak-anak bisa belajar mencatat setiap uang yang dibelanjakannya, sebagai alat untuk mengelola budget yang baik. Selain itu, dan yang paling penting, mereka belajar bertanggungjawab (accountability) atas penggunaan uang yang mereka terima.***

 

Children and Consumerism

Kidzania

I sit in front of a city square by the Main Square Cafe, having a cup of tea. I am surrounded by customers of all ages, enjoying their life on a bright saturday morning. Occasionally, police or fire sirens broke the day passing by a busy junction, but everything is in control. No body is in a panic mood. On my right is a busy department store, selling all branded items, and not far from it is a saloon, burger kiosk, fitness center; and prominent of all is a Metropolitan Theater. Just facing the cafe I sit in.

The square is strikingly clean, green and full of life. Even the trash bins are clearly marked for different types of rubbish; recyclable or otherwise. Marvelous, I repeatedly say to myself. There is even a chair for shoe shining on one corner of the square.

On the other end of the square is a bank, photo studio, dental clinic, ice cream shop, and a mini mart. All are busy as any in other metropolitans. The traffic is efficient, well managed, and – surprisingly, all cars are electically powered. Truly green and clean!

Strangely so, this IS in the middle of Jakarta. Impossible.

But, yes it is possible. Especially when most of its citizens, business operators, firemen, police force, dentist, researcher, shop assistants, journalist, and even radio dj-s are kids. Yes, kids of all ages.

Folks, BIG welcome to Kidzania city state; an ultra modern, prosperous and efficient country.

It is actually an in-door theme park that provides kids an experience how to run the world, err…a city. Kids are the ruler of the city and takes control of everything. Adults are suppose to stay off their businesses. Because the city has its own mayor, parliament, police force, labs, etc.

Far from being just a fun place for kids, this is a very serious undertaking. Kidzania is a very smart marketing display cum experience park, where kids rule adults. They work, play, see opera, take cabs or bus commuting, hang out, catch thieves, go to court, fly aeroplanes, or race the fast cars.

And, all the places here are fully sponsored by real brands, real product, real bank, taxi; except for the currency, for now.

Kids, in their tender age, experience working, living the adult life, and most of all shopping! Brands in all manifestation are visible everywhere, and the concept is very effective indeed. Kids from 3-13 years old are experiencing advertising and consumption and brand awareness at its core. Imagine, if at any given day some 1,400 kids (divided into two groups), growing up remembering and associating certain services and product to a certain brand. Its revolutionary.

This is ‘the real’ marketing. Ironically, it is also a blunt display of interactive education on consumerism.*** (old post, 2010)

Early Entrepreneurship Education?

By Murniati Tamanni @ Mu Kim Ni

During his time, Muhammad SAW spent more time in business, about 25 years after he received the first revelation (wahy) from Allah, than of preaching Islam – or about 23 years of his prophetic time. His father died before he was born, and Muhammad was put under the care of his grandfather, head of the prestigious Hashim clan. His mother died when he was six, and his grandfather when he was eight, leaving him under the care of his uncle Abu Talib, the new head of the clan.

That condition forced little Muhammad to survive and learned how to earn a living. He assisted his uncle to trade from one town to another within and outside Arabian Penisula. He used to travel north ways to Syria and Palestine or to the south, all the way to Yemen. He was doing this until he met a wealthy widow Siti Khadijah and worked for her as a merchant.

I believe that the above living example carries a message and teaches us how to be a right practising Muslim. It implies a call to always wake up in the morning and spread all over places to seek rizq that Allah has promised. In Surah al-Jumu’ah, Verse 10, Allah commands;

And when the Prayer is finished, then may ye disperse through the land, and seek of the Bounty of Allah. and celebrate the Praises of Allah often (and without stint): that ye may prosper.

Despite this call, many of us have an anxiety about starting a business; what business to do, how to start and even how to overcome introversion when negotiating with other people in business. Too late at our current age? I don’t think so. If not for yourself, you can always teach your kids to learn early.

This article is trying to convince you how important inculcating entrepreneurship skill at tender age of childhood. It can become a hobby one day or can be an alternative pastime during financial crisis like this, where many companies streamed down their employees and turned many into joblessness.

Perhaps, in a better condition, this practice can provide side income to the family. Furthermore this is to teach our children how to respect their parents who work for paying their education and make sure the family live comfortably.

Children these days seem to be smarter in the sense that they are having more knowledge than previous generations. They are simply exposed to more things at a younger age and thus absorb seemingly more of the current world than children in previous generations might have (http://sevencastles.spaces.live.com).

Feeding them early entrepreneurship education is not a harmful thing, so every parent is not necessary to be worried about. It is very simple thing to start, minimum condition for this exercise is when the kids reach age of 7 or after they know how to read and count. The following steps may be helpful:

  • Start with cheap and simple things. Buy some stationery at Jalan Asemka, Jakarta or Pasar Grosir where many cheaper merchandise are sold for retailers, such as school stationery like pencils, erasers, rulers, writing books. Story books can be a good option too, those published by Syaamil Kid, GIP or other Islamic publications are available at Walisongo, Gramedia, Gunung Agung or other book store.  You may need basic working capital of Rp. 50.000,- Rp. 100.000,-
  • Buy PO, Invoice, DO and Cash Book for documentations, available at any bookstore.
  • Attach the merchandise with price labels and teach the kids the margin we set for each, say 20%.
  • Teach them how to offer their friends, just like the traders they meet in traditional market. They may not find such at Shopping Malls.
  • Tell them everything must be cash, credit sales may confuse them.
  • Tell them to record everything, right from stock, expenses and their friend customers.
  • If some or all are sold, count how much margin they have collected, return the money that parents have invested and put all profits in their piggy bank or in the saving book if they have.
  • Teach them how to donate some profits they have for the needy such as orphan.
  • Appreciate and encourage them to enjoy this exercise. Give applause,  big hugs, words of encouragement, Certificate of Success and try new business, change from stationeries to fish, binders, hair accessories, Yo-Yo or Mommy’s handmade cookies.

Have a try and share with us your experience. Salams.