Sakinah Finance Talk

Tujuh Prinsip Sakinah Finance Glasgow, Scotland, UK, 24 Desember 2016/25 Rabbiul Awwal 1438H

Advertisements

Tujuh Prinsip Keuangan Keluarga

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Colchester – Inggris13924814_10206963337141170_8504351101620758495_nApa biasanya yang kita lakukan ketika menghadapi masalah keuangan? Bagaimana mestinya menurut Islam?

Hampir tiap hari kita menghadapi berbagai masalah keuangan dalam keluarga. Ada masalah yang mudah diselesaikan, ada juga masalah keuangan yang berkepanjangan dan menyebabkan masalah lain timbul. Apa biasanya yang kita lakukan ketika menghadapi masalah keuangan? Berikut adalah berbagai pengalaman dari keluarga-keluarga yang tinggal di Indonesia dan di beberapa negara.

Nurizal Ismail, seorang peneliti ekonomi syariah yang tinggal di Jakarta, mengatakan bahwa kalau adalah masalah keuangan, sebelum menikah dan setelah menikah hingga saat ini, yang selalu diingat adalah sedekah dan shalat Witir.

Ingat sedekah dan Shalat Witir CLICK TO TWEET
Ada Nasution yang tinggal di Brisbane, Australia mengatakan bahwa jika menghadapi masalah keuangan biasanya mendiskusikannya dengan suami. Setelah itu meminta pendapat dari orangtua atau saudara. Yang paling utama adalah Ada selalu berkonsultasi dengan Allah SWT setiap waktu supaya dapat diberikan jalan keluar.

Elis yang sudah cukup lama tinggal di Derby, Inggris, mengatakan bahwa ketika sedang menghadapi masalah keuangan selalu memperbanyak istighfar, sholat Dhuha dan Tahajud.

Sementara Yayuk Catri, yang saat ini menemani suaminya yang sedang bertugas di sebuah perusahaan pesawat terbang di Madrid, Spanyol mempunyai beberapa tips ketika menghadapi masalah keuangan. Di antaranya adalah selalu menjaga sholat Dhuha dan menanamkan keyakinan bahwa harta adalah milik Allah SWT. Oleh karenanya, Yayuk dan keluarga selalu memastikan zakat dan sedekah.

Jaga shalat Dhuha, harta kita hanya titipan! CLICK TO TWEET
Azhari Wahid seorang dosen berwarganegara Malaysia yang tinggal di Seremban, mengatakan bahwa jika ada masalah keuangan yang menimpa keluarganya, yang pertama kali dicek adalah sedekah. Azhari percaya bahwa dengan mengeluarkan sedekah, tentunya banyak kebaikan akan datang kepada dirinya dan keluarga.

Kalau kita baca lagi, komentar – komentar di atas sesuai dengan apa yang diajarkan Islam selama ini, hanya saja mungkin sebagian kita belum sepenuhnya mempraktikkan.

Tujuh Prinsip
Untuk melengkapi, kali ini Sakinah Finance ingin berbagi beberapa prinsip dalam mengelola keuangan keluarga yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk “cek dan ricek”. Siapa tahu salah satu atau sebagian prinsip – prinsip berikut menjadi penyebab atas masalah keuangan keluarga kita selama ini.

Ada tujuh prinsip yaitu memasang niat, memastikan apa yang dihasilkan dan dibelanjakan adalah halal dan thayib (baik), mulai bekerja atau berbisnis di kala masih pagi, silaturrahim, membayar zakat-infaq-sedekah, taubat jika ada kesalahan dan terakhir selalu bersyukur dan tidak mengeluh.

1. Niat
Sesungguhnya setiap pekerjaan itu tergantung dari niatnya (hadits pertama dalam Hadits Arba’in Imam An-Nawawi). Begitulah Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap apa yang kita capai akan tergantung dengan niatnya, begitu juga perbuatan kita yang akan dipertanggungjawabkan di hari akhirat nanti. Maka dari itu penting sekali untuk memastikan niat kita dalam hidup hingga mati kelak hanya untuk Allah SWT (QS Al-An’am (6): 162), termasuk tentunya dalam hal niat mengelola keuangan keluarga kita.

2. Halal dan thayib
Apa yang kita dan keluarga hasilkan dan belanjakan sangat menentukan arah hidup kita, misalnya apakah semua yang kita harapkan akan diridhoi oleh Allah SWT. Tentu saja panduannya adalah halal dan thayib seperti yang diungkapkan di dalam QS Al-Baqarah (2): 168 (Untuk lebih rinci, baca Artikel Sakinah Finance: Mana Yang Halal dan Mana Yang Thayib?). Maka dari itu sangat penting untuk memastikan pendapatan gaji, hasil dagang atau uang yang dibawa ke rumah dan juga apa–apa yang dibelanjakan tidak ada unsur-unsur haram, riba, spekulasi, ketidakjelasan, serta membahayakan dan menzolimi diri sendiri dan orang lain.

Pastikan pendapatan kita halal, pun dengan belanjanya! CLICK TO TWEET
3. Mulai awal pagi
Memulai aktifitas hidup sepagi mungkin dapat mendapatkan keberkahan sebagaimana telah didoakan oleh Rasulullah SAW yang berbunyi: “Ya Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka.” (HR Ahmad No. 15007). Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa Shakhr Al-Ghamidi yang senantiasa memulai perdagangan di waktu pagi sehingga mendapatkan hartanya bertambah banyak sampai tidak tahu harus di mana meletakannya.

4. Silaturrahim
Dalam sebuah hadits terkenal dikatakan bahwa bagi yang ingin dibanyakkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah menyambung silaturrahim (muttafaqun ‘alaih). Satu kiat jitu tak perlu modal yang ternyata mendatangkan banyak manfaat. Tentu ada saja hubungan keluarga, sahabat atau tetangga yang terputus, maka mulailah menegur sapa kembali, memanjangkan maaf dan menebar senyum. Semoga dengan menjalin hubungan dan menyambung silaturrahim yang telah terputus akan membuka pintu rezeki dan memberikan solusi bagi keuangan keluarga kita.

Silaturahmi membuka pintu rezeki! CLICK TO TWEET
5. Zakat, infaq, sedekah
Dari beberapa pendapat di atas, sepertinya sedekah sudah menjadi amalan yang dipercaya dapat memperbaiki keadaan keuangan keluarga. Tentu saja sedekah bukan hanya dalam bentuk uang yang dapat diberikan, juga bukan hanya imbalan uang yang diharapkan. Sedekah juga bisa dalam berbentuk zikir, sholat Dhuha, ilmu, kebaikan, kalimat mulia, bahkan sekedar senyum. Balasan yang dijanjikan Allah SWT adalah berbentuk kebaikan bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak. Selain zakat yang sudah menjadi kewajiban (lihat QS Al-Muzzamil (73): 20 dan seterusnya), tantangan untuk mengeluarkan infaq dan sedekah adalah sangat luar biasa maka dari itu balasannya juga luar biasa, lihat QS Al-Baqarah (2): 261-274.

6. Taubat
“Setiap keturunan anak Adam melakukan kesalahan, dan sebaik–baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat” (HR At-Tarmidzi No. 2499). Maka dari itu berbuat kesalahan adalah sesuatu yang wajar namun tentunya sikap yang harus diambil adalah meminta maaf, ampunan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Ternyata taubat dapat membuka pintu rezeki seperti yang dijelaskan di dalam QS Hud (11): 52: “Dan (Hud berkata): Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.”

7. Syukur
Sebagian dari kita sangat mudah mengucap syukur kepada Allah SWT jika mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, umumnya kita mengucapkan “Alhamdulillah”. Namun tanpa disadari sebagian kita sangat mudah mengeluh ketika ditimpa kesusahan dan menjadi kikir ketika diberikan kebaikan (lihat QS Al-Ma’arij (70): 19-21. Ayat selanjutnya (ayat 22 dan 23) menegaskan bahwa sholat dapat mengatasi sifat–sifat buruk itu. Semoga kita senantiasa ditambahkan nikmat oleh Allah SWT karena tidak mengeluh dan ingkar sebaliknya selalu ikhlas bersyukur (QS Ibrahim (14): 7).

Makin bersyukur, bertambah nikmatNya! CLICK TO TWEET
Tujuh Prinsip ini tentunya harus dikemas dengan konsep itqan yaitu sebuah konsep dimana kita harus berusaha sebaik mungkin. Tentu saja Tujuh Prinsip tentu saja tidak cukup, bisa jadi delapan, sembilan dan sebagainya, seperti dalam bacaan lain yaitu buku “15 ways to increase your earnings” karangan Abu Ammaar Yasir Qadhi.

Dalam buku ini, Yasir Qadhi menganjurkan 15 cara untuk meningkatkan pendapatan yaitu senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, meminta maaf dan ampunan, berserah diri kepada Allah SWT, senantiasa beribadah kepada Allah SWT, bersyukur kepada Allah SWT, melaksanakan haji dan umrah, menjalin hubungan baik, membelanjakan harta di jalan Allah SWT, hijrah karena Allah SWT, menikah, mendukung mahasiswa dalam belajar ilmu ke-Islaman, berbuat baik kepada kaum miskin, jujur dalam bertransaksi, selalu ingat Hari Akhir, dan selalu berusaha mencapai tujuan. Semoga manfaat! Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Oleh: Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Konsultan Sakinah Finance, Colchester-Inggris

Read more:

MySharing

Republika

Suara Islam

Hidayatullah

Korupsi dari Kandungan Hingga ke Liang Lahat

korupsi-birokrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc (Konsultan Sakinah Finance, tinggal di Colchester, UK)

Menurut indeks hasil voting yang diadakan oleh Transparency International Tahun 2015, ranking Indonesia membaik sehingga menduduki peringkat 88 dibandingkan tahun lalu yaitu di peringkat ke 107. Voting yang berdasarkan pendapat pakar seluruh dunia ini menyimpulkan Denmark sebagai negara terbersih yang menduduki peringkat pertama dan Somalia di peringkat terakhir dari 168 negara yang dipelajari.

Angka indeks untuk Indonesia ini cukup menggembirakan namun tetap saja peringkat ke 88 adalah masih sangat tinggi. Menurut Transparency International, korupsi masih merajalela di kalangan pejabat dan politisi.

Walau Denmark menjadi negara paling bersih korupsinya namun menurut Transparency International masih tidak sempurna. Artinya ada juga kasus korupsi di negara tersebut. Kalau itu di tataran negara, bagaimana di tataran keluarga? Pernah dengar keluarga Indonesia bebas korupsi? Apakah kita termasuk keluarga bebas korupsi?

Korupsi di kelas kakap tentunya berasal dari kebiasaan mereka ketika masih di kelas teri, atau sebaliknya, korupsi di kelas kakap mempengaruhi kelas teri untuk mengikutinya. Bagaimanapun, pendidikan antikorupsi memang sudah selayaknya dibuat sejak bayi dalam kandungan untuk memastikan dia tidak menjadi anggota kelas teri maupun kelas kakap.

Bagaimana praktik korupsi dalam keluarga?
Menurut Fatwa MUI yang ditetapkan pada tanggal 29 Juli 2000, ada tiga istilah pemberian dan penerimaan sesuatu yang bertujuan melakukan hal yang tidak sesuai syariah (bathil), yaitu suap (risywah), korupsi (ghulul) dan hadiah yang dikategorikan HARAM.

Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi hajat seseorang dengan membujuk dalam bentuk hadiah, uang pelicin, pengambilan hak yang bukan miliknya. Mari kita cek bersama-sama apakah keluarga kita pernah dan biasa melakukan hal-hal di bawah ini?

1. Masa bayi dalam kandungan
– Pernah tidak kuat antri cek kandungan sehingga harus menyelipkan uang bawa meja untuk mendapatkan prioritas nomor awal?
– Pernah menyelipkan uang pelicin supaya Akte Kelahiran cepat keluar?

2. Melahirkan
– Pernah membayar biaya tidak resmi supaya dapat dinaikkan ke Ruang Bersalin Kelas 1?
– Pernah klaim biaya melahirkan yang kwitansinya sudah dinaikkan biayanya?

3. Masa kanak-kanak
– Pernah menyuap hakim atas sengketa hak asuh anak?
– Pernah memberi makan anak hasil uang korupsi?

4. Masuk sekolah
– Pernah kasih amplop ke Panitia Penerimaan Siswa Baru supaya dapat masuk ke sekolah unggulan dan favorit?
– Pernah bayar guru atau orang lain supaya nilai STTB dapat diubahsuaikan?

5. Masuk universitas
– Pernah membeli nilai dari dosen atau bagian akademik?
– Pernah membeli ijazah supaya dapat gelar sarjana?

6. Masa bekerja
– Pernah membayar tim seleksi kepegawaian supaya lolos seleksi PNS?
– Pernah menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi atau keluarga?

7. Berbisnis
– Pernah menyogok bagian pajak supaya nilai pajak berkurang atau nihil?
– Pernah menang tender penyediaan barang dengan uang suap?

8. Berumah tangga
– Pernah menyogok penghulu untuk urusan nikah atau cerai?
– Pernah mencuri uang suami atau istri untuk urusan yang tidak syariah?

9. Meninggal dunia
– Pernah meminta sertifikat kematian supaya cepat keluar dan sesuai dengan data yang diinginkan supaya dapat klaim asuransi?
– Pernah menyuap hakim supaya memenangkan sengketa waris?

Bagaimana? Jika kita pernah melakukan hal-hal tersebut di atas yang menjurus ke praktik korupsi dan suap baik secara langsung maupun tidak langsung, sebaiknya kita segera koreksi diri (muhasabah). Mari kita sesalkan, ucapkan istighfar dan bertaubat.

Jika masih dalam lingkaran korupsi, mari pasang niat bersih, segera tinggalkan, hijrah ke tempat yang lebih baik, inshaaAllah banyak jalan keluar yang lebih baik.

Pendapatan Halal dan Thayib
Dalam kajian Sakinah Finance, ada satu prinsip yang menjamin keadaan keluarga kita senantiasa sakinah dengan rezeki yang berkah yaitu memastikan pendapatan atau harta yang diterima dan dibelanjakan bukan berasal dari jalan dosa (bathil), lihat QS Al-Baqarah (2): 188.

Larangan memakan harta dari jalan yang bathil di dalam ayat tersebut tentunya mempunyai konsekuensi jika dilanggar. Tentu hidupnya tidak tenang dan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat, karena Rasulullah SAW sendiri melaknat bagi yang memberi suap dan menerima suap (HR Ahmad No. 6489; Abu Daud No. 3109; Tirmidzi No. 1256; Ibnu Majah No. 2304).

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanamkan 9 nilai antikorupsi, antara lain kejujuran, kepedulian, kemandirian, keadilan, tanggung jawab, kerjasama, sederhana, keberanian dan kedisiplinan. Bagi umat Islam, tentunya 9 nilai ini tidak asing lagi karena banyak disebut dalam Al-Qur’an dan selalu dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Mari kita pastikan bahwa walaupun satu rupiah uang atau nilai barang yang ada di rumah adalah halal dan thayib supaya mendatangkan kebahagiaan dalam rumah tangga, mendapatkan doa-doa terkabul dan memudahkan pertanggung-jawaban di yaumulhisab kelak. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Diterbitkan di:

Republika

MySharing

Islampos

Hidayatullah

Pengelolaan Keuangan, Sebelum atau Sesudah Menikah?

keuangankeluarga

Dok: Majalah Kartini

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan, Sakinah Finance, Colchester – UK

Banyak para bujang gadis atau pasangan yang baru menikah menanggapi bahwa perlunya mengelola keuangan pasnya adalah setelah menikah. Lihat komentar di bawah:

Yangie dan Agung: ada amanah yang harus dikelola bersama, makanya penting sekali perencanaan keuangan setelah menikah.

Siska dan Heru: pengeluaran lebih banyak dari pendapatan sehingga perlu perencanaan serius.

Okky: ada penghasilan ganda jadi baru bisa ada yang dikelola.

Sheyka: ada transaksi pinjam meminjam atau saling memberi antara suami dan istri jadi perlu adanya perencanaan keuangan.

Tapi menurut Tiffany, setelah menikah dia pikir tidak perlu pengelolaan keuangan kan sudah ada suami, lain halnya ketika sebelum menikah, uang milik pribadi harus benar – benar diatur. Namun akhirnya dia akui bahwa pendekatannya kurang pas.

Ayu lain lagi, bagi dia, nikah atau ga nikah, perencanaan keuangan harus tetap dijalani kan sesuai fungsi uang yang 3S ujarnya, spending, saving, dan sharing.

Ehmmm….jadi  “baper” nih, jadi yang mana dong sebaiknya kita adopsi?

Mulailah seawal mungkin dengan niat ibadah

Mengelola keuangan (istilah ini lebih tepat dari merencanakan keuangan), tentu saja tidak lepas dari niat. Sesuai dengan niat kita dalam menjalankan kehidupan adalah tentunya untuk selalu beribadah kepada Allah SWT (lihat QS Adz-Dzariyat (51): 56), tentu termasuk juga ketika menjalankan aktifitas pengelolaan keuangan.

Sebagian anak – anak berusia tujuh tahun sudah bisa menerima latihan awal pengelolaan keuangan sehingga dia akan tumbuh lebih prihatin dalam pengelolaan keuangannya kelak. Di awal latihan, minimal anak – anak memahami makna uang yang ternyata adalah amanah Allah SWT yang harus dijaga bukan hanya dengan menyimpannya tetapi juga membelanjakannya. Hasilnya anak – anak akan lebih menghormati orangtuanya di kala senang dan susah karena menyadari bahwa uang tidak selamanya milik kita.

Untuk memastikan keuangan keluarga dapat dikelola dengan baik, anak – anak diberikan latihan bekerja dan berwirausaha ala Rasulullah SAW. Di situlah orangtua mempunyai kesempatan untuk mengajarkan transaksi – transaksi muamalah sesuai dengan syariah termasuk memahami zakat, infaq dan shodaqoh.

Namun jangan terlalu juga membebaskan anak – anak dengan uang dan harta. Maka dari itu perlu diperhatikan dan dikawal penggunaannya (tasarruf) oleh orangtua/wali sang anak karena mereka belum sempurna akalnya atau tidak mampu mengelola uang dan hartanya (lihat QS An-Nisa’ (4): 5 dan Tafsir Ibnu Katsir).

Tentukan hak dan kewajiban

Dalam QS An-Nisa (4): 34 jelas bahwa lelaki dalam rumah tangga adalah pemimpin (qawwam) keluarga sehingga dia yang wajib memberikan nafkah kepada istrinya dari sebagian hartanya.

Namun walau ada peran kepemimpinan (qawammah) laki – laki, semua mukmin baik lelaki maupun perempuan termasuk pasangan suami – istri wajib menjadi penolong (al-walayah) antara sesamanya (QS At-Taubah (9):71) dalam hal mengerjakan yang makruf, mencegah yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Pada akhirnya akan turun rahmat dari Allah SWT untuk mereka.

Dari makna qawwamah, maka kewajiban seorang anak laki – laki dewasa (baligh/mumayyiz) adalah mengatur keuangan untuk nafkah dirinya dan juga siapapun yang menjadi tanggung jawabnya, misalnya orangtua atau adik – adik yang belum bisa mandiri. Begitu juga kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada istrinya dari sebagian hartanya.

Namun, untuk keadaan tertentu dimana anak perempuan atau istri yang harus memberi nafkah, maka hal tersebut masuk dalam kategori menolong (al-walayah), dengan syarat qawwamah suami tetap terjaga. Baca artikel Sakinah Finance: Berapa Gajimu, Wahai (Pekerja) Kartini Rumah Tangga?, di Bisnis dan Keuangan, Kompas, 22 April yang lalu.

Tentunya penentuan hak dan kewajiban ini harus dikomunikasikan dan dimusyawarahkan dengan baik sehingga tidak menimbulkan rasa sombong, tidak ikhlas dan tidak amanah.

Jangan kaku, adaptasi dengan perubahan

Hal lain yang menjadi faktor naik turunnya semangat ketika menjalankan perencanaan keuangan adalah dalam menghadapi perubahan. Misalnya, perubahan dalam menjalankan kehidupan yang tadinya di Indonesia, kemudian harus tinggal sementara di Inggris karena tugas belajar. Perubahan yang tadinya mempunyai penghasilan yang lebih dari mencukupi kehidupan sehari – hari namun saat ini sedang menanggung hutang.

Tidak ada sebuah model pengelolaan keuangan keluarga yang standar yang dapat diterapkan oleh setiap keluarga. Dengan kata lain, selalu adaptasi dengan perubahan misalnya gaya hidup, cara baru pengaturan dan pemisahan tanggung jawab keuangan di rumah, pembuatan catatan pemasukan dan pengeluaran dan lain sebagainya. Apapun perubahan itu, selalu tekuni cara yang dianggap terbaik.

Pastikan konsisten

Konsistensi adalah salah faktor terberat dalam hal pengelolaan keuangan keluarga. Mengapa? Godaannya luar biasa yang lalu lalang dalam telinga kita, misalnya untuk apa mengelola yang sedikit ini, tambah pusing aja! Mengapa serius sekali mikirnya, toh Allah sudah atur semuanya, terima saja apa adanya!

Mengelola keuangan adalah sejalan dengan salah satu ayat Al-Qur’an tentang kisah Nabi Yusuf ketika menakwilkan mimpi Raja Mesir untuk mempersiapkan hidup di masa sulit ketika di masa senang (QS Yusuf (12): 43-49). Kita juga diajarkan manut dan konsisten dengan ajaran Rasulullah SAW, misalnya cara –cara menahan keinginan duniawi (baca nasihat Rasulullah SAW kepada Fatimah Az-Zahra ra putrinya dan Ali bin Abi Thalib ra menantunya untuk selalu berzikir kepada Allah SAW), juga dalam mengelola hutang (baca doa ajaran Rasulullah SAW untuk jauh dari lilitan hutang).

Pencapaian Target

Terakhir, kita hanya pandai merencanakan dan menginginkan agar target – target keuangan keluarga tercapai namun hanya Allah SWT yang menentukan. Jadi apapun hasilnya, mari bertawakal kepada Allah SWT dengan terus memohon agar senantiasa diberikan yang terbaik untuk kehidupan kita.

Mengutip taujih Ustaz Cecep Haji Solehudin yang berdomisili di Sydney, Australia, sesungguhnya target yang harus kita capai adalah seperti yang disabdakan Rasulullah SAW: Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya. (HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh Al-Albani). Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Artikel ini dipublikasikan di:

Republika: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/05/12/o71j3d336-mengelola-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah

MySharing: http://sakinah.mysharing.co/14759/pengelolaan-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah/

Islampos: https://www.islampos.com/pengelolaan-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah-275510/

Suara Islam: http://www.suara-islam.com/read/index/18160/Pengelolaan-Keuangan;-Sebelum-atau-Sesudah-Menikah-

Hidayatullah: http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2016/05/10/94536/pengelolaan-keuangan-sebelum-atau-sesudah-menikah.html

Majalah Gontor

Makanan dan Keuangan Keluarga

0920595ThinkstockPhotos-472254768780x390

Dok: http://www.kompas.com

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Konsultan, Sakinah Finance, Colchester-UK

Kali ini Layyina, putri sulung kami menceritakan program televisi yang kerap ditontonnya, “Eat Well for Less” atau “Makan lebih baik dengan harga murah” yang ditayangkan oleh BBC, sebuah stasiun televisi di Inggris.

Program tv reality show ini ingin mengajak para keluarga untuk belanja sehat dan berhemat dalam berbelanja.

Menurut Layyina pesan yang didapat adalah kita sebaiknya tidak melihat merek barang ketika mengkonsumsi makanan dan minuman karena dapat menghemat ratusan poundsterling dalam satu bulan belanja (£100 kira-kira Rp 2juta).

Pelajaran lain yang dapat dipetik dari program ini juga, mahal tidak selalu sehat, jadi carilah makanan minuman sehat yang murah. Biaya hidup di Inggris yang termasuk salah satu termahal di dunia menjadikan program ini tontonan yang diminati terutama dari kalangan menengah ke bawah.

Bagaimana memilih yang sehat dan murah?

Memilih produk yang tidak popular bukan berarti mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. Pembeli seharusnya jeli dan cermat ketika membaca bahan-bahan yang terkandung di dalam produk dan tidak serta merta percaya kepada iklan di media.

Dengan keahlian berbelanja yang baik, pembeli akan berhasil berhemat dan pada saat yang bersamaan mendapatkan barang berkualitas baik.

Hal pertama yang perlu dijadikan kebiasaan bagi keluarga adalah makan masakan rumah dan mengurangi makanan siap saji.

Kedua, belanja di pasar tradisional karena lebih menjanjikan bahan makanan segar, sehat dan murah. Secara logika, pasar tradisional dapat menekan harga karena para penjual tidak perlu belanja iklan, membayar sewa mahal, dan mengemas baik produk jualannya.

Ketiga, membawa catatan belanja dan uang secukupnya untuk menghindari sifat shopaholic (hobi belanja).

Keempat, pandai merencanakan makanan yang bervariasi penuh gizi untuk konsumsi keluarga dan tamu.

Kelima, yang paling penting adalah memastikan makanan yang dikonsumsi senantiasa halal dan thayib (baik).

Satu hal yang paling utama bagi keluarga Muslim yang tinggal di Inggris adalah memastikan makanan dan minuman yang dibeli adalah halal ketika berbelanja. Bisa dibayangkan para pendatang yang baru ke negara ini akan kewalahan di hari-hari pertama mereka berbelanja.

Namun dibandingkan negara Eropa lainnya, pencantuman label halal dan sesuai untuk vegetarian/vegan lebih banyak ditemui di pasar tradisional, toko-toko dan pusat belanja di Inggris.

Di Italia dan Perancis misalnya, bagi pendatang yang hanya tahu berbahasa Inggris, membaca bahan-bahan makanan yang ada di luar kemasan adalah suatu hal yang tidak mudah karena bahasa yang digunakan adalah kebanyakannya bukan bahasa Inggris.

Bertanya kepada pegawai toko dan pembeli di sekitar kita pun tidak mudah karena bahasa Inggris yang jarang dipakai di sana. Kalaupun mereka tahu konsep halal, hanya terbatas tahu bahwa produk jualannya tidak mengandung babi.

Topik Halal

Topik pengajian makanan halal adalah salah satu topik kajian terlaris di kalangan masyarakat Muslim di Inggris termasuk di kalangan komunitas Muslim Indonesia yang tersebar hampir di seluruh kota di Inggris.

Bukan hanya Muslim, bahkan sebagian masyarakat non-Muslim mulai menyadari tentang banyak hikmah dibalik makanan yang diproses secara halal yang sejalan dengan keprihatinan mereka selama ini yaitu tentang animal rights, harus higenis, dan proses pemotongan yang tidak melalui pembiusan (stunned).

Dari bacaan di atas kita mungkin punya usulan kalau saja reality show tersebut dapat dikemas lebih baik lagi yang bukan saja sehat dan murah tetapi sehat, murah dan halal (Eat Halal and Well for Less) paling tidak untuk konsumsi masyarakat Muslim.

Sebagai umat Islam, kita dapati bahwa 1437 tahun yang lalu, Rasulullah SAW sudah menda’wahkan firman Allah dalam salah satu surah madaniyah, yaitu Surah Al-Baqarah (2): 168 yang artinya:”Wahai manusia! Makanlah yang halal (halalan) lagi baik (thayyiban) yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Menurut tafsir Ibnu Katsir, Allah SWT memerintahkan seluruh manusia agar memakan apa saja yang ada dimuka bumi, yaitu makanan yang halal, baik, dan bermanfaat bagi dirinya sendiri yang tidak membahayakan bagi tubuh dan akal pikirannya.

Halal di sini mencakup halal memperolehnya, seperti tidak dengan cara merampas dan mencuri, demikian juga tidak dengan melalui transaksi dagang yang haram atau cara yang haram dan tidak membantu perkara yang haram.

Sedangkan thayyib, mencakup ada dua pemahaman yaitu yang dirasakan enak oleh indra dan jiwa, dan yang membuat baik jasmani, rohani, akal dan akhlak manusia.

Salah satu syarat supaya doa dikabulkan adalah dengan memastikan makanan yang masuk ke dalam tubuh kita adalah halal dan salah satu syarat supaya keluarga kita senantiasa sehat dan semangat untuk menyambut rezeki setiap hari adalah dengan memakan yang thayib (baik).

Ternyata halal saja tidak cukup untuk memastikan keadaan rumah tangga kita makin sehat, sejahtera dan berkah. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!\

Artikel ini diterbitkan di Bisnis Keuangan: www.kompas.com

Eat Halal and Well for Less

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc dan Layyina Tamanni

Sakinah Finance, Colchester, UK

eat1

Gregg dan Chris, pembawa acara Eat Well for Less
Foto: www.bbc.ac.uk

Kali ini Layyina kembali menceritakan program televisi yang kerap ditontonnya, “Eat Well for Less” atau “Makan lebih baik dengan harga murah” yang mulai ditayangkan oleh BBC di awal tahun 2015 ini. Program tv reality show ini ingin mengajak para keluarga untuk belanja sehat dan berhemat dalam berbelanja.
Pesan program

Menurut Layyina pesan yang didapat adalah kita sebaiknya tidak melihat merek barang ketika mengkonsumsi makanan dan minuman karena dapat menghemat ratusan pound dalam satu bulan belanja (£100 kira-kira Rp. 2juta). Pelajaran lain yang dapat dipetik  dari program ini juga mahal tidak semestinya sehat, jadi carilah makanan minuman sehat yang murah. Biaya hidup di Inggris yang termasuk salah satu termahal di dunia menjadikan program ini tontonan yang diminati terutama dari kalangan menengah ke bawah. Apalagi masalah kesehatan yang luar biasa menjadi tumpuan utama si negerinya Harry Porter ini.

Bagaimana memilih yang sehat dan murah

Memilih produk yang tidak popular bukan berarti tidak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. Pembeli seharusnya jeli dan cermat ketika membaca bahan-bahan yang terkandung di dalam produk dan tidak serta merta percaya kepada iklan di media. Dengan keahlian berbelanja yang baik, pembeli akan berhasil berhemat dan pada saat yang bersamaan mendapatkan barang berkualitas baik.

Hal pertama yang perlu dijadikan kebiasaan bagi keluarga adalah makan masakan rumah dan mengurangi makanan siap saji. Kedua, belanja di pasar tradisional karena lebih menjanjikan bahan makanan segar, sehat dan murah. Secara logika, pasar tradisional dapat menekan harga karena para penjual tidak perlu belanja iklan, membayar sewa mahal, dan mengemas baik produk jualannya. Ketiga, membawa catatan belanja dan uang secukupnya untuk menghindari sifat shopaholic (hobi belanja). Keempat, pandai merencanakan makanan yang bervariasi penuh gizi untuk konsumsi keluarga dan tamu.

Pola belanja masyarakat kita

Bagaimana dengan prilaku konsumsi masyarakat Indonesia? Sejauh mana merek atau brand mempengaruhi gaya belanja mereka? Ternyata para perusahaan besar berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi teratas berkenaan dengan Top of Market Share, Top of Mind Share dan Top of Commitment Share yang diadakan oleh Majalah SWA, majalah Marketing, Frontier Consulting Group dan lain – lain. Maka dari itu para perusahaan tidak merasa rugi jika harus belanja iklan ratusan juta yang terkadang melibatkan artis seksi hanya untuk merebut hati masyarakat supaya menjadikan produk mereka pilihan utama.

Eat halal dan thayib

Satu hal yang paling utama bagi keluarga Muslim di Inggris ketika berbelanja adalah memastikan makanan dan minuman yang dibeli adalah halal. Bisa dibayangkan para pendatang yang baru ke negara ini akan kewalahan di hari-hari pertama mereka berbelanja. Namun dibandingkan negara Eropa lainnya, pencantuman label halal lebih banyak ditemui di pasar tradisional, toko-toko dan pusat belanja di Inggris. Di Itali dan Perancis misalnya, bagi pendatang yang hanya tahu berbahasa Inggris, membaca bahan-bahan makanan yang ada di luar kemasan adalah suatu hal yang tidak mudah karena bahasa yang digunakan adalah kebanyakannya bukan bahasa Inggris. Untuk bertanya dengan pegawai toko dan pembeli di sekitar kita pun tidak mudah karena bahasa Inggris yang jarang dipakai di sana. Kalaupun mereka tahu konsep halal, hanya terbatas tahu bahwa produk jualannya tidak mengandung babi.

eat2Logo Halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Topik pengajian makanan halal adalah salah satu topik kajian terlaris di kalangan masyarakat Muslim di Inggris termasuk komunitas Muslim Indonesia di Glasgow, Skotlandia yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Pengajian KIBAR Glasgow,. Bukan hanya Muslim, bahkan sebagian masyarakat non-Muslim mulai menyadari tentang banyak hikmah dibalik makanan yang diproses secara halal yang sejalan dengan keprihatinan mereka selama ini yaitu tentang animal rights, harus higenis, dan proses pemotongan yang tidak melalui pembiusan (stunned).

Dari bacaan di atas kita mungkin punya usulan kalau saja reality show tersebut dapat dikemas lebih baik lagi yang bukan saja sehat dan murah tetapi sehat, murah dan halal (Eat Halal and Well for Less) paling tidak untuk konsumsi masyarakat Muslim. Sebagai umat Islam, kita dapati bahwa 1437 tahun yang lalu, Rasulullah SAW sudah menda’wahkan firman Allah dalam salah satu surah madaniyah, yaitu Surah Al-Baqarah (2): 168 yang artinya:”Wahai manusia! Makanlah yang halal (halalan) lagi baik (thayyiban) yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Menurut tafsir Ibnu Katsir, Allah swt memerintahkan seluruh manusia agar memakan apa saja yang ada dimuka bumi, yaitu makanan yang halal, baik, dan bermanfaat bagi dirinya sendiri yang tidak membahayakan bagi tubuh dan akal pikirannya. Halal di sini mencakup halal memperolehnya, seperti tidak dengan cara merampas dan mencuri, demikian juga tidak dengan melalui transaksi dagang yang haram atau cara yang haram dan tidak membantu perkara yang haram. Sedangkan thayyib, mengutip tulisan di Majalah Gontor, 27 Agustus 2014 ada dua pemahaman yaitu menurut al-Isfahani, adalah sesuatu yang dirasakan enak oleh indra dan jiwa, atau segala sesuatu selain yang menyakitkan dan menjijikkan. Yang kedua adalah dari Ibnu Taimiyah yang menerangkan dalam kitab Majmu’ Fatawa bahwa thayyib adalah yang membuat baik jasmani, rohani, akal dan akhlak manusia. Kalau sekedar halal saja tidak cukup, perlukah MUI menerbitkan logo “Halal & Thayyib”? Wallahu a’lam bis-shawaab.

Ditayangkan di:

MySharing

Republika

Islampos

Suara Islam

Asma’ul Husna dan Keuangan Keluarga

Gambar: www.qurancoaching.com

Gambar: http://www.qurancoaching.com

Fadzkuruunii adzkurkum…Maka ingatlah kepadaKu maka Aku pun akan ingat kepadamu…” (Al-Baqarah (2): 152)

Begitulah salah satu seruan Allah supaya kita senantiasa ingat  kepadaNya. Ayat ini dibahas panjang lebar di dalam kitab tafsir Ibnu Katsir. Beliau menyebutkan bahwa Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, katanya, Rasulullah bersabda: “Allah SWT telah berfirman, ‘Hai anak Adam, jika kamu mengingat-Ku dalam dirimu, niscaya Aku akan mengingatmu dalam diri-Ku. Dan jika kamu mengingat-Ku di tengah kumpulan (manusia), niscaya Aku akan mengingatmu di tengah kumpulan para malaikat (di tengah kumpulan yang lebih baik). Jika kamu mendekat kepada-Ku satu jengkal, niscaya Aku akan mendekat kepadamu satu hasta. Dan jika kamu mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadamu satu depa. Dan jika kamu mendatangi-Ku dengan berjalan kaki, niscaya Aku akan mendatangimu dengan berlari.’” (HR Bukhari).

Ekonomi Indonesia, Ekonomi Keluarga Kita

Dengan segala permasalahan ekonomi yang kita hadapi sekarang seperti inflasi barang dan jasa yang sangat kerap kita hadapi, kerugian ekonomi pasca bencana atau kerusakan bumi seperti kasus asap baru-baru ini menjadikan sebagian dari kita putus asa dengan segala ikhtiar yang telah ditempuh. Baca saja berita CNN tentang kerugian akibat kebakaran hutan yang menurut KADIN Riau mencapai Rp.20 triliun atau menurut versi Center for International Forestry Research (CIFOR) kemungkinan bisa hingga Rp.200 triliun setelah ditambah dengan kerugian yang dialami oleh Malaysia dan Singapura, belum lagi jika ditambah kerugiaan dari Filipina yang kabarnya asap sudah tiba di sana.

Kerugian yang timbul adalah mulai dari pembatalan pesawat, kurangnya sinar matahari untuk pertanian, turunnya omset penjualan barang dan penyedian jasa karena kurangnya mobilitas, dan lain sebagainya. Sudah tentu semua ini menganggu pemasukan pendapatan sebagian keluarga. Lantas bagaimana solusinya?

Solusi Keuangan

Dalam mengelola keadaan defisit di saat keadaan seperti ini salah satunya adalah jika dapat mengencangkan ikat pinggang dengan mengurangi pengeluaran kebutuhan sekunder, mencari bahan subtitusi lebih murah untuk menutupi kebutuhan primer dan mengurangi makan di luar atau jalan-jalan keluarga. Tahap keduanya adalah mencari solusi pendapatan baru dan yakin bahwa Allah yang menetapkan rezeki bagi setiap mahluk jadi jangan pernah putus asa.

Tentu saja di sisi lain ada sebagian keluarga yang menikmati pendapatan yang lebih baik dari keadaan ekonomi yang disebut di atas, seperti penjual oksigen dalam tabung dan obat-obatan, masker penutup hidung dan air bersih, namun tetaplah hidup prihatin serta senantiasa berbagi dengan sesama. Apapun keadaannya, semuanya tidak kekal, maka dari itu baik dalam keadaan senang maupun susah, jangan pernah berhenti bersyukur dan berdoa supaya Allah Ya Akhir memberikan akhir hidup kita dalam keadaan terbaik dan akan masuk ke Surga Firdaus.

Dahsyatnya Doa

Banyak di antara kita melupakan dasyatnya dampak doa yang kita panjatkan kepada Allah untuk merubah nasib dan keadaan yang kita hadapi. Termasuk “Gerakan Nasional Revolusi Mental” yang sedang dicanangkan oleh pemerintah saat ini, harusnya juga menyentuh “bagaimana merevolusi cara kita berdoa”. “Percuma membangun Fisik tanpa membangun Pola Pikir  Masyarakat” kata Ir. H. Joko Widodo, Presiden RI.

Ikhtiar pembangunan fisik termasuk juga ikhtiar membangun keluarga dan mengelola keuangannya yang baik seharusnya didampangi dengan doa, dan doa yang baik adalah doa yang mengikuti syarat kabul dan adabnya. Barulah kemudian kita berharap bahwa doa kita akan diijabah, tanpa penghalang.

Saya tergelitik menyampaikan tulisan ini karena sering mendengar sebagian kita yang mengeluh “kenapa ya masalah asap ini tidak segera usai?”, “kenapa ya ekonomi Indonesia tidak bisa lebih cepat tumbuhnya?”, “kapan Indonesia akan bebas dari hutang?”, “kapan ya masyarakat kita bersih korupsi?” dan akhirnya “kenapa ya uang yang kubawa ke rumah selalunya tidak pernah cukup?”, atau “bagaimana supaya Allah membukakan lagi pintu-pintu rezeki bagi keluarga kita?”.

Namun sayangnya, kita lupa dahsyatnya doa, juga syarat dan adab berdoa sering tidak kita perhatikan seperti misalnya memastikan setiap yang dimakan dan diminum adalah halal, menghadap kiblat, tidak tergesa-gesa serta memuji Allah dengan nama-namaNya yang terbaik (Asma’ul Husna).

Menggunakan beberapa nama-nama Allah yang disesuaikan dengan keinginan berdoa terkesan sederhana namun hal ini dapat memberikan dampak yang luar biasa. Seperti dalam Al-‘Araf (7): 180 dimana Allah menganjurkan kita untuk menggunakan Asma’ul Husna dalam doa:

“Hanya milik Allah Asma’ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu…”

Disamping itu ada sebuah hadith Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud adalah sebagai berikut: “Apabila kalian berdoa, hendaknya dia mulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalaam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya.”

Semoga anjuran dari Al-Quran an hadith ini akan memberikan semangat bagi kita untuk mengenal Allah (ma’rifatullah) melalui nama-namanya yang berjumlah 99 ini.

Contoh doa dengan Asma’ul Husna

Banyak dari kita yang paham, sering mendengar kajian atau hafal Asma’ul Husna, tapi malas menggunakannya dalam doa. Padahal doa kita terdengar sangat sejuk ketika menggunakannya seperti: Ya Allah Ya Qaadir, hentikanlah bencana kebakaran hutan di Riau dan hutan-hutan lainnya, Ya Allah Ya A’liyy, Ya Syakuur, Ya Hamiid naikkanlah martabat Indonesia, jadikan bangsa ini bangsa yang banyak bersyukur lagi terpuji, Ya Allah Ya Haadi, tunjukanlah kami jalan yang Engkau ridhoi, Ya Allah Ya Razzaq, bukakanlah pintu-pintu rezeki bagi keluarga kami, Ya Allah Ya Mujiib, kabulkan doa kami.

Tips memahami dan menghafal 99 Asma’ul Husna 

Walau kita sibuk dengan bisnis, pekerjaan atau studi, sempatkanlah membaca buku-buku tentang Asma’ul Husna, membaca ayat-ayat Al-Qur’an beserta artinya yang menggunakan asma-asma di dalamnya. Sangat bagus jika dapat meluangkan waktu untuk mendengar kajian Asma’ul Husna di majlis atau online seperti yang sudah diselenggarakan oleh pengajian di Glasgow dan Pengajian Derby-Leicestershire-Nottingham di Inggris dan tentunya ada juga di kota – kota lainnya.

Bagi yang di Jakarta dan sekitarnya, dapat datang ke kajian rutin mengenai Asma’ul Husna seperti yang sudah didedikasikan oleh Andalusia Islamic Centre, Sentul City, Bogor, pada hari ahad kedua setiap bulan dimulai jam 7:30 pagi. Informasi yang didapati dari Imam Besar Masjid Andalusia bahwa jamaah yang hadir rata-rata bisa sebanyak seribu orang dewasa dan anak-anak termasuk mahasiswa dan mahasiswi STEI Tazkia atau bisa hingga 3.000 orang jika dipadukan acara-acara khusus seperti perayaan 1 Muharram, Maulid Nabi, dan lain sebagainya.

Kajian yang diberi nama “Sukses, Kaya, Bahagia dengan Asma’ul Husna dan Teladan Rasulullah SAW” ini dibawakan oleh Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, Pimpinan Tazkia Group yang kerap didampingi oleh pembicara internal Tazkia, pembicara tamu baik pakar atau ulama asal Indonesia maupun mancanegara. Kajian yang sudah berlangsung lebih dari 4 tahun ini bulan depan, Ahad, 8 November 2015 akan membahas  asma yang ke-56 yaitu “Al-Hamiid” yang artinya “Yang Maha Terpuji” yang dapat dijumpai diantaranya di dalam  QS Huud (11):73, QS Al-Hajj (22):24, QS Luqmaan (31):12 dan QS Faathir (35):15.

Adapun tehnik menghafal cepat Asma’ul Husna dapat dipelajari melalui kursus sehari dengan tehnik menggunakan otak kanan yang banyak disediakan oleh majlis-majlis kajian di Indonesia. Jika berhasil menghafal, tentunya akan mempermudah kita dengan cepat menggunakan asma-asma yang terkait dengan doa yang kita panjatkan. Wallahu’alam. 

Masih mengeluh? Masih malas berdoa? Tentu saja tidak lagi, bukan?

Tulisan dapat dijumpai di media di bawah ini:
MySharing: http://bit.ly/1Sb87Dy
Islampos: https://www.islampos.com/asmaul-husna-dan-keuangan-keluarga-225171/
Suara Islam: http://m.suara-islam.com/mobile/detail/15971/Asmaul-Husna-dan-Keuangan-Keluarga  Republika: http://m.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/15/11/02/nx5mpi336-asmaul-husna-dan-keuangan-keluarga