Bisnis Warteg: Bukan Dirazia tapi Dikelola

1600260012-fot01a025780x390

Oleh: Murniati Mukhlisin

Berita tentang bisnis warteg Bu Eni yang dirazia menuai simpati. Dalam dua hari terkumpul Rp 265 juta sumbangan dalam bentuk uang untuk membantu kelanjutan bisnisnya. Terlepas dari yang bersikap pro dan kontra, bagaimana kalau kita berlomba-lomba mengusulkan perbaikan?

War-Teg (baca: Warung Tegal)

Bisnis keluarga seperti ini luar biasa, dibuat semurah mungkin, mudah diakses terutama oleh kalangan mahasiswa, bisa memberi hutang bayar di akhir bulan, dan di kebanyakan tempat nampak bersih dan mengebul.

Penjualnya berpakaian sederhana tidak ada seragam khusus, kebanyakan orang daerah dengan logat khas kota Tegal.

Kabarnya para pebisnis warteg ini punya rumah mewah di kampung asalnya seperti di Sidapurna dan Sidakaton. Apapun, ini bukan urusan kita, itulah hasil kerja keras mereka selama ini.

Menyerupai bisnis musiman, bisnis warteg juga ada waktunya harus libur. Namun di benak pebisnis biasanya tertanam prinsip -prinsip seperti ini: Ehm…bukannya bisnis itu tidak boleh berhenti?

Jadilah pebisnis yang mampu menangkap peluang kapan saja, pelanggan yang tidak wajib puasa atau tidak puasa tetap harus dilayani, dan banyak lagi prinsip lainnya.

Biasanya prinsip-prinsip ini dianggap “wajib dilakoni” oleh para pemula atau pebisnis yang sedang mencari tambahan penghasilan untuk mengatasi masalah keuangan keluarganya.

Ternyata bukan hanya di bulan Ramadhan bisnis makanan kurang pembeli di waktu siang hari. Bagaimana ketika hari Lebaran tiba? Kebanyakan orang cenderung ingin makan ketupat dan kue dibanding makanan warteg.

Nasib pedagang warteg dialami juga oleh pedagang makanan lainnya seperti kue lebaran yang hanya laku di bulan Ramadhan dan Syawal, pedagang baju sekolah yang hanya laku keras di bulan Juni dan Juli.

Selaku anggota keluarga yang aktif dalam bisnis dagang makanan yang terkenal dengan “Pempek Fo Tjoe”, “Kopi Cap Ayam Jago” dan toko klontongan “Belinyu” di kota Baturaja, Sumatera Selatan, penulis menghadapi langsung bagaimana arus naik turunnya bisnis-bisnis ini.

Di negara empat musim, masalah bisnis musiman juga sangat terasa, misalnya pedagang es krim yang hanya laku sekitar 4 bulan dalam setahun yaitu hanya di musim panas.

Belum lagi peputaran penjualan baju musim panas, gugur, dingin dan semi yang silih berganti model dan level kenyamanan.

Tentunya, untuk tetap eksis, bisnis musiman di atas memerlukan pengelolaan yang cermat dan bijak.

Nabi Muhammad SAW, utusan Allah yang menjadi uswatun hasanah kita selaku umat Islam ini ternyata terkenal sebagai pedagang yang ahli.

Dicantumkan di dalam buku “The Super Leader Super Manager”, lebih kurang 28 tahun sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW berprofesi sebagai pedagang yang pernah menjelajahi pasar-pasar di Yaman, Suriah, Busra, Irak, Yordania, Bahrain dan sekitar jazirah Arab lainnya.

Dengan kecerdikannya berdagang, Nabi Muhammad SAW berhasil memenuhi kebutuhan pembeli yang berlainan dari satu kota ke kota yang lain.

Misalnya beliau aktif berdagang di saat musim haji di pasar Ukaz dan Djuz Majaz, kemudian di musim lainnya aktif mengurus perdagangan grosir di kota Mekkah.

Dalam aktivitas perdagangan inilah, nabi berhasil mengenalkan hakikat bisnis Islami sebenarnya yang secara berangsur-angsur menghapuskan praktik riba di masa itu.

Ditemukan akad-akad Islami seperti perwakilan (wakalah), kemitraan (mudharabah dan musyarakah), jual-beli (murabahah), sewa-menyewa (ijarah) yang saat ini kita dapati dalam praktik bisnis syariah.

Di samping itu beliau senantiasa menunjukan sifat-sifat jujur (siddiq), amanah, menyampaikan kebaikan (baligh) namun tetap dengan kecerdasan yang luar biasa (fathonah).

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Rasulullah SAW sudah mengajarkan kita bagaimana mengurus bisnis musiman, menangani pelanggan dengan berbagai tabiat dengan tetap mengedepankan sifat-sifat terpuji.

Kiat-kiat sukses

Tentu saja kita dapat mengambil uswah dari pengalaman dagang Rasulullah SAW dan membawanya dalam praktik dagang kita saat ini. Paling tidak ada 7 kiat sukses:

1. Memilih mitra bisnis yang dapat dipercaya dan mempunyai visi misi yang sama.

2. Memahami perputaran bisnis musiman dan geliat pesaing bisnis.

3. Mengatur cashflow saat musim laris dan musim sepi.

4. Mencari alternatif bisnis sampingan untuk menutupi bisnis utama yang sepi di kala tertentu. Dalam kasus ini saat bisnis warteg sepi di bulan Ramadhan, penjual dapat menyulap warung menjadi toko penjual barang persiapan lebaran seperti parcel lebaran, kue lebaran, pembuatan lontong dan ketupat, dan lain sebagainya.

5. Siapkan alat promosi yang disesuaikan dengan bisnis musiman.

6. Tetap mempertahankan hubungan baik dengan pelanggan yang bukan hanya loyal membeli makanan warteg tetapi juga membeli barang jualan lainnya.

7. Melatih pekerja supaya biasa menghadapi perubahan dalam bisnis, bukan hanya ahli memasak sayur warteg tetapi juga bisa masak kue dan berkreasi.

Yang paling penting adalah bisnis apapun yang dilakukan, hendaknya para pelaku bisnis tidak berorientasi kepada keuntungan semata.

Setelah berusaha, para pebisnis seharusnya senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan supaya Allah SWT menambahkan lagi nikmat tersebut (QS Ibrahim (14):7) juga ridha atas pembagian kepadanya sehingga Allah SWT akan memberkahi rezeki tersebut (HR Ahmad).

Pemerintah seharusnya lebih serius mengelola bisnis UKM yang merupakan salah satu pola bisnis paling cocok untuk menaikan taraf hidup masyarakat Indonesia.

Dengan adanya program pemberdayaan dan pelatihan berkala, bisnis warteg atau bisnis musiman apapun akan tetap berkelangsungan. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Diterbitkan di:

Ekonomi, Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s