Spin-off bank syariah dan manfaatnya untuk keluarga Indonesia

ib

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc

Dosen Senior STEI Tazkia, Indonesia/Konsultan Sakinah Finance, UK

KOMPAS.com – Sebelum tahun 2023, semua unit usaha syariah milik bank konvensional harus melakukan pemisahan kepemilikan dari induknya, atau yang lebih dikenal dengan “spin-off” istilah singkat padat berasal dari bahasa Inggris.

Hal ini merupakan salah satu usaha untuk mempercepat pertumbuhan pangsa pasar bank syariah di tanah air.

Tentu saja suatu usaha pemerintah yang patut didukung karena seiring dengan usaha pemenuhan hak bagi mayoritas masyarakat muslim di Indonesia yang harus disediakan fasilitas keuangan yang sesuai dengan kepercayaanya.

Walau demikian, keberadaan bank syariah sejak awal pun sudah dinikmati oleh masyarakat non-Muslim sebagai alternatif mitra keluarga dan bisnis.

Apa itu spin-off?

Spin-off adalah proses pemisahan kepemilikan suatu usaha yang biasanya dilakukan karena beberapa faktor. Salah satunya adalah bisnis yang makin prospektif ke depannya.

Menurut UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, bank yang akan menjalankan proses spin off adalah ketika telah mencapai 50 persen dari total aset bank induknya atau telah beroperasi selama 15 tahun sejak berlakunya undang – undang.

Saat ini sudah ada 8 unit usaha syariah yang telah melakukan spin-off. Jika target 2023 tercapai, maka jumlah bank umum syariah di Indonesia akan berjumlah 34 bank! Atau mungkin lebih banyak lagi jika ada penambahan bank umum syariah yang baru.

Lihat saja geliat Bank Aceh yang saat ini sedang mengonversi seluruh unitnya menjadi syariah.

Berapa jumlah bank syariah saat ini?

Sejak berdirinya bank syariah pertama yaitu Bank Mualamat Indonesia 24 tahun yang lalu, jumlah bank syariah di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun.

Menurut laporan statistik perbankan syariah Otoritas Jasa Keuangan, hingga awal tahun 2016, jumlah bank umum syariah telah menjadi sebanyak 12 bank dengan jumlah kantor 1.970 kantor.

Adapun jumlah unit usaha syariah milik bank konvensional berjumlah 22 unit yang memiliki 312 kantor. Sementara jumlah bank pembiayaan rakyat syariah mencapai jumlah163 bank dengan sebaran di 433 kantor.

Belum lagi ditambah dengan jumlah koperasi syariah atau dikenal dengan BMT yang saat ini hampir mencapai 5,000 unit.

Sementara itu total aset seluruh bank syariah dan unit usaha syariah di awal tahun 2016 adalah sebesar Rp 287 triliun yang diperkirakan akan meningkat minimal menjadi sekitar Rp 348 triliun, atau secara optimis dapat meningkat menjadi Rp 425 triliun di akhir tahun 2016 nanti.

Unit usaha syariah Bank BRI adalah unit usaha syariah yang pertama kali melakukan spin-off pada tahun 2009. Adapun unit usaha syariah milik bank pembangunan daerah pertama kali yang memisahkan diri dari induknya adalah unit usaha syariah Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat pada tahun 2010.

Kedua bank syariah ini dibidani oleh Tazkia Consulting saat berpisah dengan induknya di mana penulis termasuk jadi salah satu anggota tim spin off pada waktu itu.

Apa manfaat spin-off untuk keluarga Indonesia?

Sebagai pemangku kepentingan (stakeholders), masyarakat atau nasabah tentu mendapatkan manfaat dari spin-off. Dengan semakin banyaknya bank syariah diharapkan akan terlihat kompetisi sehat di antara mereka.

Manfaatnya adalah kita akan menikmati pelayanan yang lebih baik, margin pembiayaan yang  rendah, kepastian produk dan jasa yang makin kental syariah.

Jika itu tercapai maka keberadaan bank syariah akan menjadi rahmat bagi keluarga Indonesia (rahmatan lil ’aalamiin, QS Al-Anbiya (21):107).

Menurut menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menunjukan bahwa Rasulullah SAW adalah rahmat bagi semesta alam, bagi siapa yang menerima rahmat ini dan mensyukurinya, berbahagialah di dunia dan akhirat.

Sebaliknya jika yang menolak dan mengingkari maka akan merugi di dunia dan akhirat. Salah satu ajaran Rasulullah SAW adalah memastikan semua urusan termasuk urusan keuangan (muamalah) harus sesuai syariah, semoga keberadaan bank syariah menjadi rahmat bagi keluarga Indonesia, bertahap namun pasti.

Tentu saja bank syariah tidak bisa berjuang sendiri. Kita sendiri harus terlibat di dalamnya, misalnya menjadi nasabah yang proaktif menyampaikan usulan yang bermanfaat untuk perkembangan bank syariah tersebut.

Untuk itu kita harus membekali diri kita dengan pemahaman yang cukup berkenaan dengan urusan muamalah dalam Islam, apa saja fatwa yang sudah dikeluarkan dan apa saja detail sumber hukum yang harus dirujuk.

Mari ikut memastikan terwujudnya nilai – nilai syariah di setiap aktifitas bank syariah. Karena namanya juga “syariah” harus tampil beda dengan bank konvensional.

Hal ini sudah sering diserukan di berbagai media, salah satunya telah diungkapkan di tulisan ilmiah Haniffa dan Hudaib, (2007), Asutay, (2012) dan Mukhlisin dan Hudaib, (2015) bahwa syariah jangan hanya sekedar label.

Syariah harus nampak baik di dalam maupun di luar “jilbabnya” dan harus mencapai semua tujuan – tujuan syariah (Maqasid Syariah). Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Dipublikasikan di Bisnis Keuangan, Kompas,Senin, 23 Mei 2016:

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/05/13/084518226/Spin-Off.Bank.Syariah.dan.Manfaatnya.untuk.Keluarga.Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s