Don’t let the boxing day box you :)

Image

Hampir semua kalangan umur, baik tua maupun muda mengenal istilah Boxing day di negara Ratu Elizabeth ini yang merupakan even tahunan yang ditunggu – tunggu. Sudah tentu merupakan ‘hari belanja nasional’ bagi sebagian warga Indonesia yang tinggal di UK, atau mungkin juga di banyak Negara lain untuk even sejenis. Boxng day jatuh pada tanggal 26 Desember ketika hampir semua pusat belanja dan butik-butik ternama menggelar sale besar-besaran. Di toko-toko merek terkenal, antrian terlihat panjang bahkan dari beberapa jam sebelum toko dibuka, yang biasanya juga dibuka lebih awal dari biasanya. Pusat belanja seperti Oxford street di London, atau pusat-pusat kota lainnya penuh dengan manusia, baik yang memang dalam rangka berhemat, sekedar menghabiskan uang, atau iseng ingin melihat gelagat para pembeli yang mengerumuni mal.

Bagi kelaurga yang sedang menjalani praktik perencana keuangan keluarga syariah, boxing day merupakan even belanja yang harus disikapi dengan hati-hati. Tidak masalah kalau hari tersebut dijadikan even tahunan berbelanja, namun harus dipastikan bahwa keputusan apa yang dibeli tidak muncul secara tiba – tiba. Seringkali belanja tanpa rencana akan memaksa kita menggunakan kartu kredit yang ada atau menggunakan dana yang lebih besar, karena merasa diuntungkan ketika melihat diskon sampai 50%, atau malah 70%. Padahal banyak juga toko/butik yang menjual secara diskon item sudah tidak trend lagi, atau cuci gudang pasca natalan. Jadi bukanlah suatu hal yang harus dikejar – kejar, karena hal itu juga biasa dilakukan di hari – hari selain boxing day. Pembeli juga harus “smart” karena barang yang dijual dengan diskon besar – besaran itu tidak semuanya berkualitas baik.

Cash flow keluarga juga harus diwaspadai dengan banyak even belanja yang menggoda mata ini karena cash flow adalah satu bagian yang terpenting dalam perencanaan keuangan. Walau aset keluarga dinilai cukup tinggi namun jika cash flow seret sering mengacaukan anggaran dan tentunya menganggu kelancaran belanja kebutuhan primer yang tidak bisa ditunda – tunda. Seringkali musim sale seperti ini menyebabkan minat untuk membeli semakin menggebu – gebu (impulsive shopping), karena melihat antrian yang panjang atau barang yang diimpikan sedang di-diskon habis – habisan. NEXT atau Selfridges, dua diantara pusat belanja yang sangat digemari di UK bahkan membatasi jumlah pembeli dalam satu waktu, dan para calon pembeli rela antri berjam-jam untuk bisa membeli paling awal di toko tersebut.

Pembaca mungkin masih ingat salah satu seri Mr. Bean, yang begitu cerdiknya dia tutupi onggokan barang di depan toko dengan selimut seolah – olah dia yang sedang tidur menunggu toko untuk dibuka. Ketika toko sudah mau dibuka, Mr. Bean dengan bergegas menuju ke barisan pertama sehingga dia menjadi pembeli yang pertama kali masuk ke toko hari itu. Namun akhirnya Mr. Bean tidak mendapatkan barang yang dia perlukan. Artinya banyak sekali kita menjadi “latah” karena melihat gelagat orang lain sehingga dengan kelatahan kita, uang bisa habis dengan percuma. Fenomena latah ini cukup menarik sebenarnya, karena semua toko yang melakukan sale pada boxing day, juga melakukan hal yang sama secara online. Orang cukup memilih di website toko tersebut dan membayar secara online. Biasanya dalam waktu kurang dari tiga hari barang sudah sampai, atau malah next day delivery. Namun, masih tetap saja belanja bergerombolan pada Boxing day menjadi even yang ditunggu-tunggu. Untuk warga Glasgow, entahlah apakah cuaca cukup bersahabat pada hari itu, karena sudah sepekan ini angin kencang disertai hujan yang tiba – tiba mewarnai awal musim dingin kali ini.

Akhirnya, apapun pilihan belanja kita yang terpenting adalah masih dalam jangkauan kemampuan keuangan. Kalau memang sudah merencanakan belanja jauh-jauh hari, sesungguhnya Boxing day dapat menjadi hari dimana keperluan sekunder keluarga bisa dibeli, karena memang kebanyakan item yang di diskon adalah fashion, households items, elektronik dan consumer goods lainnya. Apapun keputusan dan pilihan belanja kita, yang penting tidak berlebihan dan melewati batas anggaran untuk keperluan tersebut. Kuncinya adalah bagaimana hidup di lingkungan yang demikian konsumtifnya dengan perencanaan dan kedisipinan dengan pola belanja yang senantiasa menggunakan prinsip Maqasid Syariah. Pola yang dimaksud adalah apapun yang diterima dan dibelanjakan harus memenuhi tujuan untuk melindungi lima hal; akal, jiwa, agama, keturunan, dan harta.

Salam Sakinah!

Murniati Mukhlisin dan Luqyan Tamanni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s