Apakah yang sebenarnya diinginkan anak-anak?

Setiap liburan orang tua sibuk membuat berbagai rencana untuk mengisi liburan. Untuk anak-anak yang sudah remaja, mungkin mereka sudah bisa menentukan sendiri apa atau kemana menghabiskan liburan sekolahnya. Namun untuk anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar, keinginan mereka untuk berlibur ke suatu tempat masih sering dipengaruhi cerita teman, tontonan televisi atau kemauan orang tua – lebih tepatnya pilihan yang dianggap-disangka orang tua sebagai apa yang diinginkan anak-anaknya.

Sadar atau tidak, kita sering memaksakan keinginan atau persepsi kita tentang tujuan wisata, mainan yang disukai, atau barang-barang lain kepada anak-anak kita. Termasuk kepada anak-anak yang masih balita. Dan barangkali, keinginan mereka ketika sudah remaja atau dewasa sebenarnya merupakan hasil dari ‘pemaksaan’ kita yang terus-menerus tersebut.

Pengalaman saya sendiri, karena anak-anak saya masih relatif kecil – yang tertua baru akan naik kelas 3 SD, cukup memberikan pemahaman kepada saya tentang apa yang seharusnya kita berikan kepada anak-anak seusia mereka. Meskipun masing-masing keluarga memiliki tradisi dan kebiasaan yang berbeda, namun saya fikir apa yang saya alami dan rasakan bisa menjadi i’tibar bagi keluarga Indonesia lainnya. 

Mainan. Kedua anak saya sangat terobsesi dengan segala mainan yang bermotifkan Power Rangers – mereka hafal semua versinya; sementara anak sulung perempuan berubah-rubah antara Barbie, Strawberry atau Mermaid – intinya semua yang bernuansa pink. Biasanya setiap ke toko mainan mereka akan langsung ‘kalap’ dan bingung memilih apa yang akan dibeli. 

Syukurnya mereka paham kalau dibilang ‘expensive – mahal’, mereka akan beralih ke yang lain. Namun ketika disetujui mainan yang ditunjuk, selalu mereka nego untuk beli dua-tiga, atau menunjuk jenis mainan lain. Hampir setiap kali pulang dari toko mainan akan ada yang tidak puas, menangis, merengek-rengek minta mainan lagi.

Ini terus berulang-ulang terjadi. Tentu saja mereka menyimpan rasa tidak puas, dan kita juga sedikit merasa bersalah. Ujung-ujungnya tidak mengenakkan. Namun disisi lain, pengalaman berbelanja ini juga seolah-olah merupakan pelajaran membeli bagi mereka.

Secara tidak langsung kita mengajarkan mereka menjadi pembeli aktif dan konsumtif. Buku Born to Buy, karya Juliet Schor, merupakan referensi terbaik yang menelanjangi kebiasaan buruk orang tua dalam mengajarkan anak menjadi konsumtif. Saya akan mengupas buku ini di kesempatan lain.  

Menyadari hal ini, sekarang Anik dan saya coba merubah taktik. Sekarang kami yang selalu membeli mainan untuk anak-anak tanpa kehadiran mereka. Mainan yang kita pilih umumnya sesuai dengan kesukaan mereka, namun pelan-pelan kami coba perkenalkan jenis mainan baru.

Dengan cara ini, mereka ternyata tetap senang dan happy – tidak pernah nangis minta mainan lain, Malah mereka selalu penasaran ketika kami telpon dalam perjalanan pulang, dan memberitahukan kami membawa mereka mainan. Mereka selalu excited dan menanti dengan harap-harap cemas, dan langsung ketika kami pulang dan ‘histeris’ ketika menerima hadiah tersebut.

Keuntungannya ternyata sangat banyak;

  • kami bisa menentukan budget secara lebih tertib karena selalu bisa membeli mainan yang terjangkau dan dalam jangka waktu yang bisa diatur;
  • memperkenalkan mainan-mainan baru yang lebih mendidik, seperti baru-baru ini Layyin diperkenalkan dengan congklak;
  • kami juga semakin sering membeli berbagai macam buku (termasuk buku Power Rangers atau Barbie) sebagai pengganti mainan, sehingga semua anak-anak kami jadi suka sama buku dan cepat bisa membaca;
  • sekali-sekali saya usahakan membuat mainan sederhana bersama anak-anak, seperti mobil-mobilan atau layang-layang. Ini ternyata lebih mengasyikkan bagi mereka, dan saya rasa cara yang sangat mendidik dalam mengajarkan kreativitas sejak dini;
  • cara ini sangat murah dan kita selalu ada opsi untuk tidak membeli apapun – jika memang sedang tidak memungkinkan.

Liburan. Selama ini kami jarang sekali berlibur keluar kota. Paling banter ke Bandung atau Sukabumi beberapa kali, dan pernah juga ke Jogja sekali – itupun dalam rangka perkawinan adik ipar. Yang paling sering kami lakukan adalah pergi ke lokasi-lokasi wisata sekitar Jakarta, the usual suspects seperti TMII, Ancol atau Taman Safari.

Untuk tidak memberikan rasa bosan, kami biasanya mengusahakan ke tempat-tempat ini dengan di selang-seling; atau tidak mengunjungi semua wahana yang ada dalam satu kunjungan. Dan ini berhasil. Anak-anak kami selalu excited kemanapun kita pergi.

Namun apakah ini karena taktik itu, atau memang karena anak-anak sesungguhnya tidak mementingkan atraksi atau keindahan selama di lokasi wisata tersebut? Ataukah yang sebenarnya mereka nikmati adalah kebersamaan dengan orang tua, adik-adik, kakak atau saudara/teman-teman?!

Dugaan saya iya, anak-anak lebih enjoy dengan suasana liburan dibandingkan kualitas atraksi (yang menjadi perhatian kita orang tua). Apalagi anak-anak yang usianya masih balita. Mereka sama senangnya ketika melihat jerapah di taman safari, atau ketika hanya main pasir di pantai Ancol yang kotor itu.

Nah, barangkali ini bisa menjadi pertimbangan bagi Anda sekalian dalam menentukan kegiatan atau tempat tujuan liburan mana dalam masa jeda sekolah tahun ini. Saya fikir tidak ada salahnya mencari alternatif liburan yang lebih murah, mendidik, atau memberi suasana dan pengalaman baru bagi anak-anak kita.

Mengunjungi panti asuhan, main sawah di sekitar Sukabumi, menghabiskan waktu bersama membersihkan-mengecat kembali rumah, atau sekedar membuat mainan sederhana dari kulit jeruk-kardus bekas susu-dan lain-lain, dan sekelurga memainkannya, mungkin kebih berkesan.

Bagaimana dengan anak-anak Anda? Apakah mereka juga lebih enjoy dengan suasana atau pilihan wahana? Saya tunggu pandangan dan pengalaman Anda sekeluarga dalam menghabiskan liburan panjang ini.*** 

One thought on “Apakah yang sebenarnya diinginkan anak-anak?

  1. Saya sih lebih demokratis, jadi kalau anak-anak
    maunya ke suatu tempat, sepanjang sanggup, ya
    dituruti saja. Kan perlu menanamkan semangat
    demokratis dari kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s