Membayar zakat

Kapan saya harus bayar zakat? Berapa banyak yang harus saya keluarkan? Kepada siapa harus saya salurkan? Apakah mereka amanah dan zakat saya sampai kepada yang berhak?

Ini merupakan beberapa pertanyaan yang masih sering ditanyakan oleh keluarga muda Muslim. Selain itu, juga pertanyaan seputar apa itu zakat, kenapa saya harus bayar zakat – kan sudah bayar pajak, dan sejenisnya. Untuk yang terakhir, saya yakin sudah bukan merupakan persoalan bagi pembaca Sakina Finance. Kalau untuk sekedar mengulang kaji, bisa cek disini untuk Zakat 101.

Namun, pertanyaan-pertanyaan ini menyiratkan masih banyaknya pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan dalam hal sosialisasi tentang rukun Islam ke-4 ini. Apalagi dengan masih adanya perdebatan tentang amandemen UU Zakat 1999, yang oleh sebagian Lembaga Amil Zakat dianggap sebagai langkah mundur. Namun, kita berharap perdebatan ini akan membawa kebaikan kepada semua.

Kembali ke pertanyaan diatas. Sesungguhnya dari banyak literatur tentang zakat, jawaban sederhana dan singkat dari semua persoalan diatas – dengan asumsi kewajiban zakat kita adalah zakat harta (maal), sebagai orang ‘gajian’, adalah sebagai berikut:

Waktu membayar dan jumlah yang harus dibayar. Zakat dibayar sekiranya a) harta kita sudah terkumpul selama satu tahun penuh (haul) dan b) kadar harta yang terkumpul tersebut juga sudah masuk kualifikasi (atau nisab).

Secara sederhana, apabilah kita sudah genap bekerja selama setahun dan akumulasi harta/income bersih kita sudah sampai (atau melebihi) Rp.17.000.000, maka sudah wajib membayar zakat pada tahun tersebut sebesar minimal Rp.425.000.

Hitungan ini dengan asumsi:

  • Nisab = 85 gram emas murni
  • Harga per gram Rp.200,000
  • Kadar zakat 2,5% dari harta terkumpul (saldo pendapatan setahun)
  • Nisab > Jadi 85 gr x Rp.200,000 = Rp.17,000,000
  • Zakat > 2,5% x Rp.17,000,000 = Rp.425,000

Untuk harta tetap, baik bergerak atau tidak bergerak, seperti perhiasan, rumah, mobil, deposito, dan reksadana; apabila kepemilikannya juga sudah sampai setahun, maka metode hitungnya juga sama yaitu 2,5% dari nilai bersih harta tersebut. Namun perlu dicatat ada perbedaan kadar zakat untuk harta yang lain, seperti hewan ternak, hasil pertanian atau harta temuan. Ini akan dibahas dalam posting berikutnya.

Secara sederhana, ini adalah metode yang wajibnya. Ada juga sebagian ulama yang menganjurkan pembayaran zakat bukan diambil dari saldo (gaji – pengeluaran kebutuhan pokok), tapi dari gaji kotor. Artinya kalau gaji kita setahun minimal Rp.17,000,000 atau sebulan Rp.1,420,000, maka sudah wajib zakat. Jumlah yang harus dibayar adalah Rp.35,500 pertahun.

Ini lebih baik dan afdhal.

Kemudian, waktu pembayaran juga bisa dilakukan secara bulanan atau sekaligus, sepanjang rukun dan syaratnya terpenuhi (haul, nishab, dst.). 

Membayar sendiri atau melalui Amil. Saya cenderung kepada pembayaran melalui amil, terutama yang memang resmi dan dikenal integritasnya. Selain memudahkan kita, juga karena ada aspek ‘skala ekonomi’ dari pembayaran zakat melalui amil. Kalau kita bayar sendiri, maka dampaknya hanya terhadap si mustahiq tersebut dan cenderung penggunaannya sangat terbatas (konsumsi misalnya). Sementara kalau melalui amil, jangkauan zakat kita bisa sampai ke saudara kita di pedalaman terjauh, yang barangkali lebih dan sangat membutuhkan. Fakir miskin dan muallaf di daerah terpencil, seperti di Papua atau NTT, selama ini hanya bisa dijangkau oleh Amil yang berkemampuan.

Selain itu, beberapa lembaga keuangan juga menyediakan fasilitas pembayaran zakat yang mudah dan praktis. Saya sendiri misalnya menggunakan fasilitas Tabungan BNI Syariah untuk pembayaran zakat. Selain bisa dilakukan melalui ATM, juga bisa mobile atau internet banking, dan kita bisa memilih LAZ yang kita inginkan; Baznas, DD, PKPU, Daarut Tauhid, dan beberapa yang lainnya. Bank Muamalat juga menyediakan fasilitas auto debit, namun hanya untuk LAZ Baitul Mal Muamalat.

Untuk integritas dan amanah-tidaknya LAZ atau BAZ ini, saya fikir track record dan kiprah mereka sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Baik melalui laporan berkala mereka, laporan audit tahunan, maupun dengan aksi real mereka dilapangan, sudah bisa memberikan gambaran layak tidaknya kita mempercayakan zakat kita kepada mereka.

Insya Allah, dalam posting berikutnya, kita punya banyak kesempatan untuk lebih menggali perihal zakat ini. Saya juga akan mengundang para pakar untuk posting disini, atau interview dengan pakar tentang zakat. Sementara itu, untuk Anda yang ingin mengetahui lebih jauh tentang mekanisme Zakat, bisa lihat disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s