Berapa harus simpan, belanja, hutang?

Ada sebuah artikel menarik di About.com yang mungkin bermanfaat. Intinya memberikan gambaran tentang persentase atau jumlah yang paling aman untuk dibelanjakan, disimpan, atau diinvestasikan dari total pendapatan kita (joint atau dari kepala keluarga).

Namun saya tidak sepenuhnya sepakat dengan tulisan tersebut, karena ada beberapa hal prinsip yang saya rasa tidak sesuai bagi konteks keluarga Muslim/Indonesia. Pandangan saya dan modifikasi artikel diatas bisa dibaca dibawah ini: 

Tabungan. Secara rule of thumb, angka 10% dari pendapatan kotor dianggap sudah memadai, meskipun itu merupakan batas minimum. Dan harus diingat, 10% ini tidak termasuk jumlah yang dialokasikan untuk dana pensiun, emergency fund atau tabungan pendidikan; karena tabungan ini disiapkan untuk keperluan tertentu semisal renovasi rumah, modal usaha, liburan, atau peluang usaha yang tiba-tiba muncul, serta kebutuhan lainnya.

Sebagian penasihat keuangan menganjurkan tabungan pada kisaran (minimal) 20-30% dari gross salary, sebagai jumlah yang ideal. Ini terutama bagi pasangan muda yang kebutuhannya (needs; not wants) masih belum terlalu besar; sehingga dengan tabungan yang besar dan dimulai pada awal masa bekerja akan memberikan reward yang sangat besar nantinya. Dan tabungan merupakan awal yang baik untuk mengumpulkan dana bagi tujuan investasi di pasar modal atau properti misalnya.

Belanja. Kalau mau diturutkan keinginan dan hawa nafsu, maka berapapun nilai pendapatan tidak akan pernah cukup untuk keinginan berbelanja. Selalu saja ada alasan yang kuat untuk membeli; sale, pameran, ‘kan bayaran sekolah masih bulan depan’, bisa cicil 12 kali, ‘supaya nggak bolak-balik ke hypermarket’, ‘mumpung ke Tanah Abang – kan jarang-jarang’, dst.

Secara aturan ‘jempol’, belanja harus mempertimbangkan kewajiban lain terlebih dahulu. Misalnya cicilan/pelunasan hutang, baik cicilan bank (mobil, rumah) maupun hutang sama teman atau saudara; terus listrik, telepon, HP, internet, IPL, SPP sekolah, ngaji, dll. Dan secara common sense, tentu saja belanja harus bisa mencakupi semua kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan – itu urutan yang benar), dan memenuhi keperluan halal-thayyib atau mungkin 4 sehat-5 sempurna.

Secara kasarnya, keluarga dengan dua anak di Jakarta memerlukan sekitar Rp.2-3juta sebulan untuk belanja (grocery, toiletry, perawatan bayi, dll). Namun ini kembali lagi ke gaya hidup masing-masing; sesetengah keluarga memerlukan dua kali lipat dari jumlah itu.

Namun, secara konservatif, belanja per bulan sebaiknya tidak boleh melebihi 50% dari total income. Jika tidak, maka kewajiban lain seperti membayar cicilan, tabungan, investasi, atau keperluan emergency akan tidak bisa dipenuhi.

[Untuk tips mengatur belanja, akan dibahas tersendiri; lihat juga topik tentang budgeting]

Emergency fund. Tidak banyak orang yang secara sengaja dan sadar mengalokasikan dana rutin bagi keperluan tak terduga, meskipun hanya 3-5% dari income perbulan. Padahal setiap saat kita berhadapan dengan keadaan yang diluar dugaan; keluarga sakit dan harus ditolong, pulang kampung mendadak, kendaraan disenggol orang (sementara asuransi akan bayar kemudian), atau -nauzubillah, kita kehilangan sumber pendapatan utama keluarga.

Sebagai langkah jaga-jaga, ada baiknya disiapkan dana emergency yang sekurangnya bisa menutupi kebutuhan pokok keluarga selama 2-3 kedepan, sambil berusaha bangkit kembali.

Misalnya kalau belanja bulanan kita sebesar 3 juta per bulan, maka memiliki dana ‘taktis’ sebesar Rp.9-10 juta sudah memadai. Bagusnya lagi kalau dana ini disimpan dalam bentuk tabungan yang tidak terlalu mudah diakses (tidak ada ATM) tapi bila diperlukan bisa segera diambil.   

Hutang.  Jawaban paling sempurna adalah 0%. 

Namun kalau keadaan memang sangat mendesak, maka maksimal angka 36-40% bisa ditolerir dengan persyaratan yang panjang dan painful

Pertama, ini merupakan total dari keseluruhan liabilities keluarga, yang sudah termasuk cicilan rumah, mobil, kartu Dirham, atau kredit yang nggak jelas (dan harus dihindari) semacam Columbia, Courts Mammoth, etc.

Kedua, jumlah ini harus berkurang secara perlahan ke angka yang paling ideal (0%) – dengan target waktu yang realistis dan tidak terlalu lama.

Ketiga, sekiranya ada pendapatan diluar perencanaan (ie. bonus, promosi), minimal 50% dari pendapatan tambahan ini harus dialokasikan untuk melunasi/mengurangi nilai hutang.

Keempat, Anda harus mengorbankan pengeluaran tertiary (seperti hobby mobil remote control, koleksi tas bermerk, nonton, TV kabel, belanja di Amazon.com, dst.) selama periode ini.

Kelima, berjanji, bersumpah, berikrar, dan bersungguh-sunggug tidak akan beruhutang lagi. Kalau ini pesan sponsor istri saya yang panik melihat jumlah tagihan Dirham saya dari belanja buku di Amazon – yang katanya lebih besar dari belanja bulanan keluarga.    

Dana pensiun. Ini merupakan komponen yang selama ini dianggap tidak penting oleh pegawai negeri – karena pensiunnya ditanggung, pegawai BUMN atau perusahaan asing – yang perusahaannya mempunyai scheme pensiun, wiraswasta atau pekerja sektor informal – yang sulit untuk disiplin mengalokasikan dana bagi keperluan pensiun, atau malah kita yang kerja di perusahaan/instansi swasta tanpa fasilitas pensiun – karena kita anggap nggak mungkin.

Mitos-mitos ini harus dibuang jauh-jauh. Siapapun kita, dana pensiun merupakan keharusan mengingat pola peningkatan biaya hidup di Indonesia yang sangat tidak stabil/predictable dan angka inflasi yang masih tinggi dan labil.

Secara hitungan kasar, setelah pensiun kita sekurangnya harus memiliki pendapatan perbulan yang jumlahnya 75% dari nilai income sekarang.

Jumlah ini harus dipersiapkan dari sekarang dengan cara menyisihkan 5-10% dari pendapatan kotor selama kita bekerja (dimana dan apapun itu) sampai say umur kita 50-55 tahun.

Jadi dari semenjak itu, mulai dari usia kita 51 tahun misalnya – dan sekiranya Allah berikan umur panjang, setiap bulan kita tinggal menerima secara anuitas perbulannya dari pengelola dana pensiun anda. Atau bisa juga kita meminta dana dalam bentuk lump-sum; dana ini kemudian kita simpan kembali di tempat terpisah (bank, brankas, atau modal usaha) dan ketika perlu kita tinggal mengambilnya. 

Saya sendiri memiliki rekening pensiun di DPLK Muamalat dengan sisihan dana Rp.100,000 per bulan. Dan karena jumlahnya kecil, maka ketika umur saya (insya Allah) 55 tahun, saya akan mengambil dana pensiun dalam bentuk lump-sum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s