Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin….

anak-kaya-dan-anak-miskin-2

Dok: bisnisaceh

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Colchester – Inggris

Layyina, putri kami, 16 tahun, belakangan sangat gusar dengan pembangunan di sekitar kawasan perumahan kami di Bogor, Indonesia. Beberapa waktu yang lalu Layyina menyusun surat untuk dikirimkan ke pengembang tempat kami tinggal. Berikut draftnya (nama-nama dalam surat tidak ditampilkan di sini:

Colchester, 2 October 2016
Dear Sir,
Your housing complex is where my family have lived for 11 years and as far as I could remember we used to have only one shopping mall in the area. But when I came back this summer there was a new lovely hospital and a less lovely second mall built. The most shocking of all was a massive construction site in the area, where apparently a new mall – 78,000 m2 – is going to be built (sigh!). It is absolutely frustrating because it’s said to be the 4th biggest mall in the greater Jakarta area, just next to the existing malls.

To me, this mall is nothing but unfair market competition because it will threaten the future of traditional traders in our place, just a mile away from the location of the site, because it would avert the market from buying local produce.

The owner of this mall is probably going to get richer, the shareholders of your company would be happy to get more money in their pockets, but the traditional traders will suffer even though their tiny businesses may alleviate poverty in the villages behind the complex. Not to mention the new (almost unnecessary) developments could reduce 30% green space that is required by the regulation.

To make matters worse, roughly every Sunday there is already traffic jam because of another attractions such as massive theme park, which affects the lane passing the hospital and the construction site. Now imagine when the new mall is built (2018) – how chaotic would that little world be? Not only any of these are sustainable in any means, the theme park stood right next to a shabby village, where most of traditional traders and less fortunate people live.

I understand how your housing complex is convenient place for leisure as it is so close to Jakarta, but does anybody care about the local people’s welfare anymore? Or maybe the less fortunate people not your concern anymore? Are we actually in the hands of outrageously rich people, like yourself?

And to be honest, with infamous Jakarta traffic, it could at the worst take you 3 hours to reach our place; so marketing at its best there bla-bla-bla Mall! There are of course solutions if you want to develop, but sustainably. You could renovate existing unsold houses into bespoke sustainable ones, or maybe not to develop in front of a filthy river that its sole function now is a sewer and a water source for the poor, because what your company doing by neglecting the problems is driving away their loyal residents and just blindly expanding.

In a way, being an Indonesian in the UK is hard because you think of how much better this country is doing. Maybe the Indonesian government should take care of their people rather than the rich, or themselves.

Thank you for reading my letter.

Best regards,

Layyina Tamanni

The rich is getting richer
Secara implisit, Layyina menyebutkan bahwa kelompok yang kaya sekarang makin kaya dan yang miskin makin miskin (paragraf kedua dan ketiga). Ehmmm, apa buktinya? Dari daftar 50 Orang Terkaya Indonesia Versi Majalah Forbes 2016, nilai kekayaan dari 50 orang terkaya di Indonesia di tahun ini adalah USD 99 miliar atau Rp 1.336 triliun, naik dari tahun lalu USD 92 miliar atau Rp 1.242 triliun. Menurut daftar tersebut, posisi pertama dari 50 orang itu diduduki oleh Keluarga Hartono keturunan Tionghoa, pemilik perusahan rokok Djarum dan pemegang saham terbesar Bank Central Asia, dengan jumlah kekayaan sebesar USD 17,1 miliar atau sekitar Rp 230 triliun. Jika ditelusuri 50 orang kaya ini, hanya beberapa orang saja merupakan putra asli bangsa.

Keturunan Tionghoa yang sukses umumnya pekerja keras dan hidup hemat CLICK TO TWEET
Namun jangan prejudis dahulu, para keturunan Tionghoa yang sukses dari segi kekayaan umumnya bekerja keras, bersungguh-sungguh dan hemat. Menurut profil Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono yang bernama asli Oei Hwie Tjhong dan Oei Hwie Siang ini, bisnis rokok Djarum yang diwariskan sang ayah hampir punah karena kebakaran pabrik. Namun berkat inovasi dan jaringan, mereka bisa meluaskan pemasaran rokok tersebut ke Amerika. Walau dengan kekayaan yang berlimpah, Hartono tetap mengajarkan anak-anaknya dengan kesederhanaan. Armand Hartono sang putra mahkota contohnya, tidak boros memakai AC dan tidak segan makan di kantin murah.

Begitu juga Murdaya Poo yang bernama asli Poo Tjie Gwan atau Poo Djie Thiong yang dikenal dengan gemar bekerja lewat tengah malam bahkan sering pulang lewat matahari terbit. Istrinya Sri Hartati Murdaya yang juga seorang pengusaha, sama-sama suka bekerja keras dan memiliki motivasi yang tinggi. Saat ini Murdaya berada di dalam daftar orang terkaya nomor sembilan dengan memiliki harta sebesar USD 2,1 miliar atau sekitar Rp 28,3 triliun.

Putra asli bangsa yang pertama dalam daftar tersebut adalah Chairul Tanjung, pemilik Bank Syariah Mega Indonesia dan Trans TV yang berada dalam urutan ke-enam turun dari urutan ke-empat ketika pada tahun 2015. Chairul pernah menjadi Mahasiswa Teladan Nasional ketika belajar di Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas Indonesia.

Namun bukan hanya berhasil dalam bidang akademik tetapi juga Chairul muda sangat serius menjalankan bisnis kecil – kecilan di kampus untuk membiaya kuliahnya. Jatuh bangun tidak sekali namun berkat kegigihannya saat ini Chairul memiliki harta kekayaan berjumlah USD 4,9 miliar atau sekitar Rp 66,1 triliun.

The poor is getting poorer
Di balik semakin bertambahnya kekayaan para konglomerat, ada jutaan derita kemiskinan dan kesenjangan terjadi. Bagi Layyina, keberadaan supermarket raksasa yang akan dibangun di dalam kompleks perumahaan kami telah mengambil secara sepihak dan kejam peluang bisnis para pedagang kecil di pasar tradisional tak jauh dari lokasi mal tersebut.

Selain itu, yang tidak kalah tragis adalah kehidupan masyarakat yang tinggal di kampung sekitar perumahan tersebut. Dulunya mereka adalah pemilik tanah yang kemudian secara halus dibujuk untuk melepas ladang dan tanah warisan turun-temurun.

Setelah menjadi mantan pemilik, para penduduk kampung tersebut sempat kaya mendadak untuk sementara. Uang hasil pembebasan tanah dipakai untuk jangka pendek misalnya pergi haji, bangun rumah dan beli kendaraan. Jarang terdengar mereka gunakan untuk modal bisnis atau investasi di pendidikan.

Seiring bertambahnya kekayaan para konglomerat, bertambah pula kemiskinan dan kesenjangan CLICK TO TWEET
Profesi yang digandrungi biasanya menjadi satpam, tukang ojeg, supir angkot, supir pribadi, pembantu rumah tangga dan pemulung. Mayoritas anak – anak mereka berhenti sekolah saat tamat SD atau SMP dan menikah saat berusia muda. Selama 11 tahun, pemandangan sebelum azan Shubuh tidak pernah berubah, para pemulung akan mampir ke rumah kami mengais kotak sampah, mencari kertas, kotak dan plastik yang bisa dijual sekitar Rp. 200 – Rp. 20,000 perkilo. Sedih?

Apa yang dapat kita pelajari?
Ada satu kata kunci di balik suksesnya nama-nama yang disebut tadi yaitu itqan (bersungguh – sungguh) yang menurut HR Imam Muslim No. 1955, HR At-Tabrani No. 897 dan HR Baihaqi No. 5312: innallaha azza wajalla yuhibbu idzaa ‘amila ahadukum ‘amalan an yutqinahu yang artinya: “Allah ʽazza wa jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan.” Namun tentunya sebagai pebisnis Islami, kerja bersungguh-sungguh itu harus didampingi dengan konsep pertanggung jawaban di Hari Perhitungan di mana semua umat manusia akan diadili walau amalannya sebesar biji sawi (QS Al-Anbiya (21): 47).

Maka dari itu rambu-rambu bisnis harus senantiasa diperhatikan misalnya menghindari bisnis di bank ribawi, pabrik senjata, pabrik rokok, hotel, pabrik alkohol, dan bisnis haram atau syubhat lainnya. Di samping itu, ada hak orang lain yang harus dikeluarkan dari keuntungan bisnis, seperti zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Semoga pendirian Koperasi Syariah Dua Satu Dua yang baru-baru ini diumumkan akan menjalankan konsep itqan yang berorientasi akhirat.

Layyina juga menyinggung peranan pemerintah untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Tentu saja hal ini sesuai dengan Undang-Undang 1945 Pasal 33. Jauh sebelum 1945, Rasulullah SAW senantiasa memastikan praktik ekonomi yang berkeadilan yang harus ditaati oleh Muslim maupun Non-Muslim.

Monopoli sudah dikecam sejak jaman Nabi CLICK TO TWEET
Penguasan ekonomi untuk kepentingan suatu kelompok sudah dikecam sejak jaman Rasulullah SAW begitu juga di masa para sahabat. Misalnya Umar bin Khattab r.a. yang menegur keras ketika seseorang melakukan monopoli dan menetapkan harga seenaknya (Kitab Al-Bidayah Wan Nihayah).

Sebagai pemimpin, Rasulullah SAW dan para sahabat rajin berjalan di pasar – pasar juga senantiasa berkeliling memantau keadaan rakyatnya untuk memastikan kesejahteraan mereka. Diceritakan di dalam kitab tersebut bahwa bukan main berangnya Umar r.a. ketika Sa’ad menutup pintu istana supaya tidak mendengar keributan di pasar. Dibakarnya pintu istana itu. tepat jika Layyina mengatakan bahwa Maybe the Indonesian government should take care of their people rather than the rich, or themselves. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Read more:

MySharing

Republika

Suara Islam

Islampos

Promosi Keuangan Syariah di Canterbury, Inggris

murniatiemas-790x526

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Colchester – Inggris

Akuntansi dan Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) telah mengeluarkan standar syariah tentang investasi emas.

“Komoditas emas dan perak ini harus sesuai dengan jumlah fisiknya dan settlement harus diselesaikan dalam hari yang sama,” demikian ujar Konsultan Sakinah Finance Murniati Mukhlisin, dalam kuliah umum di Canterbury Christ Church University, Jumat 19 Desember 2016.

Murniati Mukhlisin mengemukakan adanya aturan syariah baru untuk investasi emas yang dapat diperdagangkan di papan bursa dunia.

Kuliah umum berjudul“Contemporary Issues in Islamic Finance and Accounting” itu diadakan pertama kali di kampus yang terletak di kota Canterbury, Kent, Inggris.

Dosen STEI Tazkia yang sedang bertugas di University of Essex, Inggris ini dalam paparannya mengatakan AAOIFI telah mengeluarkan Standar Syariah No. 57 tentang investasi Emas dan Pengawasan Perdagangan pada tanggal 19 November 2016 yang lalu.

Standar yang juga berlaku untuk perak tersebut digodok bersama – sama dengan World Gold Council yang diperkirakan akan meningkatkan permintaan dalam bentuk investasi ratusan ton emas.

Di tempat ini Murniati menjelaskan perkembangan keuangan syariah di Inggris yang merupakan Negara barat paling agresif dalam mengembangkan industry ini yang dibuktikan dengan meningkatnya jumlah bank syariah dan penerbitan sukuk negara yang berjumlah 200 juta poundsterling tahun 2014 yang lalu.

Para mahassiwa yang hadir nampak antusias berpartisipasi terutama ketika Ia menunjukan perbedaan antara pendekatan akuntasi dan audit untuk bank konvensional dan syariah. Terlebih lagi dalam bahasan agenda politik ekonomi dalam ranah akuntansi.

Sebagaimana diketahui, kampus yang berusia 50 tahun itu dikenal sebagai kampus misionaris yang di awal pendiriannya bertujuan untuk melahirkan guru – guru gereja.

Bersamaan dengan perjalanan waktu, kampus Cantebury membuka bidang disiplin lainnya termasuk jurusan bisnis.

Kota Canterbury terkenal sebagai kota turis bersejarah dengan adanya tiga lokasi yang termasuk di dalam Situs Warisan Dunia UNESCO yaitu Katedral Canterbury, Biara St Augustine, dan Gereja St Martin. Bahkan Katedral Caterbury yang didirikan sekitar abad ke-10 itu merupakan katedral dari Uskup Agung Canterbury, pemimpin Gereja Inggris dan symbol pimpinan dunia untuk komunitas Kristen Anglikan.

Dimuat di:

Hidayatullah

MySharing

Republika

Tujuh Prinsip Keuangan Keluarga

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Colchester – Inggris13924814_10206963337141170_8504351101620758495_nApa biasanya yang kita lakukan ketika menghadapi masalah keuangan? Bagaimana mestinya menurut Islam?

Hampir tiap hari kita menghadapi berbagai masalah keuangan dalam keluarga. Ada masalah yang mudah diselesaikan, ada juga masalah keuangan yang berkepanjangan dan menyebabkan masalah lain timbul. Apa biasanya yang kita lakukan ketika menghadapi masalah keuangan? Berikut adalah berbagai pengalaman dari keluarga-keluarga yang tinggal di Indonesia dan di beberapa negara.

Nurizal Ismail, seorang peneliti ekonomi syariah yang tinggal di Jakarta, mengatakan bahwa kalau adalah masalah keuangan, sebelum menikah dan setelah menikah hingga saat ini, yang selalu diingat adalah sedekah dan shalat Witir.

Ingat sedekah dan Shalat Witir CLICK TO TWEET
Ada Nasution yang tinggal di Brisbane, Australia mengatakan bahwa jika menghadapi masalah keuangan biasanya mendiskusikannya dengan suami. Setelah itu meminta pendapat dari orangtua atau saudara. Yang paling utama adalah Ada selalu berkonsultasi dengan Allah SWT setiap waktu supaya dapat diberikan jalan keluar.

Elis yang sudah cukup lama tinggal di Derby, Inggris, mengatakan bahwa ketika sedang menghadapi masalah keuangan selalu memperbanyak istighfar, sholat Dhuha dan Tahajud.

Sementara Yayuk Catri, yang saat ini menemani suaminya yang sedang bertugas di sebuah perusahaan pesawat terbang di Madrid, Spanyol mempunyai beberapa tips ketika menghadapi masalah keuangan. Di antaranya adalah selalu menjaga sholat Dhuha dan menanamkan keyakinan bahwa harta adalah milik Allah SWT. Oleh karenanya, Yayuk dan keluarga selalu memastikan zakat dan sedekah.

Jaga shalat Dhuha, harta kita hanya titipan! CLICK TO TWEET
Azhari Wahid seorang dosen berwarganegara Malaysia yang tinggal di Seremban, mengatakan bahwa jika ada masalah keuangan yang menimpa keluarganya, yang pertama kali dicek adalah sedekah. Azhari percaya bahwa dengan mengeluarkan sedekah, tentunya banyak kebaikan akan datang kepada dirinya dan keluarga.

Kalau kita baca lagi, komentar – komentar di atas sesuai dengan apa yang diajarkan Islam selama ini, hanya saja mungkin sebagian kita belum sepenuhnya mempraktikkan.

Tujuh Prinsip
Untuk melengkapi, kali ini Sakinah Finance ingin berbagi beberapa prinsip dalam mengelola keuangan keluarga yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk “cek dan ricek”. Siapa tahu salah satu atau sebagian prinsip – prinsip berikut menjadi penyebab atas masalah keuangan keluarga kita selama ini.

Ada tujuh prinsip yaitu memasang niat, memastikan apa yang dihasilkan dan dibelanjakan adalah halal dan thayib (baik), mulai bekerja atau berbisnis di kala masih pagi, silaturrahim, membayar zakat-infaq-sedekah, taubat jika ada kesalahan dan terakhir selalu bersyukur dan tidak mengeluh.

1. Niat
Sesungguhnya setiap pekerjaan itu tergantung dari niatnya (hadits pertama dalam Hadits Arba’in Imam An-Nawawi). Begitulah Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap apa yang kita capai akan tergantung dengan niatnya, begitu juga perbuatan kita yang akan dipertanggungjawabkan di hari akhirat nanti. Maka dari itu penting sekali untuk memastikan niat kita dalam hidup hingga mati kelak hanya untuk Allah SWT (QS Al-An’am (6): 162), termasuk tentunya dalam hal niat mengelola keuangan keluarga kita.

2. Halal dan thayib
Apa yang kita dan keluarga hasilkan dan belanjakan sangat menentukan arah hidup kita, misalnya apakah semua yang kita harapkan akan diridhoi oleh Allah SWT. Tentu saja panduannya adalah halal dan thayib seperti yang diungkapkan di dalam QS Al-Baqarah (2): 168 (Untuk lebih rinci, baca Artikel Sakinah Finance: Mana Yang Halal dan Mana Yang Thayib?). Maka dari itu sangat penting untuk memastikan pendapatan gaji, hasil dagang atau uang yang dibawa ke rumah dan juga apa–apa yang dibelanjakan tidak ada unsur-unsur haram, riba, spekulasi, ketidakjelasan, serta membahayakan dan menzolimi diri sendiri dan orang lain.

Pastikan pendapatan kita halal, pun dengan belanjanya! CLICK TO TWEET
3. Mulai awal pagi
Memulai aktifitas hidup sepagi mungkin dapat mendapatkan keberkahan sebagaimana telah didoakan oleh Rasulullah SAW yang berbunyi: “Ya Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka.” (HR Ahmad No. 15007). Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa Shakhr Al-Ghamidi yang senantiasa memulai perdagangan di waktu pagi sehingga mendapatkan hartanya bertambah banyak sampai tidak tahu harus di mana meletakannya.

4. Silaturrahim
Dalam sebuah hadits terkenal dikatakan bahwa bagi yang ingin dibanyakkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah menyambung silaturrahim (muttafaqun ‘alaih). Satu kiat jitu tak perlu modal yang ternyata mendatangkan banyak manfaat. Tentu ada saja hubungan keluarga, sahabat atau tetangga yang terputus, maka mulailah menegur sapa kembali, memanjangkan maaf dan menebar senyum. Semoga dengan menjalin hubungan dan menyambung silaturrahim yang telah terputus akan membuka pintu rezeki dan memberikan solusi bagi keuangan keluarga kita.

Silaturahmi membuka pintu rezeki! CLICK TO TWEET
5. Zakat, infaq, sedekah
Dari beberapa pendapat di atas, sepertinya sedekah sudah menjadi amalan yang dipercaya dapat memperbaiki keadaan keuangan keluarga. Tentu saja sedekah bukan hanya dalam bentuk uang yang dapat diberikan, juga bukan hanya imbalan uang yang diharapkan. Sedekah juga bisa dalam berbentuk zikir, sholat Dhuha, ilmu, kebaikan, kalimat mulia, bahkan sekedar senyum. Balasan yang dijanjikan Allah SWT adalah berbentuk kebaikan bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak. Selain zakat yang sudah menjadi kewajiban (lihat QS Al-Muzzamil (73): 20 dan seterusnya), tantangan untuk mengeluarkan infaq dan sedekah adalah sangat luar biasa maka dari itu balasannya juga luar biasa, lihat QS Al-Baqarah (2): 261-274.

6. Taubat
“Setiap keturunan anak Adam melakukan kesalahan, dan sebaik–baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat” (HR At-Tarmidzi No. 2499). Maka dari itu berbuat kesalahan adalah sesuatu yang wajar namun tentunya sikap yang harus diambil adalah meminta maaf, ampunan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Ternyata taubat dapat membuka pintu rezeki seperti yang dijelaskan di dalam QS Hud (11): 52: “Dan (Hud berkata): Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.”

7. Syukur
Sebagian dari kita sangat mudah mengucap syukur kepada Allah SWT jika mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, umumnya kita mengucapkan “Alhamdulillah”. Namun tanpa disadari sebagian kita sangat mudah mengeluh ketika ditimpa kesusahan dan menjadi kikir ketika diberikan kebaikan (lihat QS Al-Ma’arij (70): 19-21. Ayat selanjutnya (ayat 22 dan 23) menegaskan bahwa sholat dapat mengatasi sifat–sifat buruk itu. Semoga kita senantiasa ditambahkan nikmat oleh Allah SWT karena tidak mengeluh dan ingkar sebaliknya selalu ikhlas bersyukur (QS Ibrahim (14): 7).

Makin bersyukur, bertambah nikmatNya! CLICK TO TWEET
Tujuh Prinsip ini tentunya harus dikemas dengan konsep itqan yaitu sebuah konsep dimana kita harus berusaha sebaik mungkin. Tentu saja Tujuh Prinsip tentu saja tidak cukup, bisa jadi delapan, sembilan dan sebagainya, seperti dalam bacaan lain yaitu buku “15 ways to increase your earnings” karangan Abu Ammaar Yasir Qadhi.

Dalam buku ini, Yasir Qadhi menganjurkan 15 cara untuk meningkatkan pendapatan yaitu senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, meminta maaf dan ampunan, berserah diri kepada Allah SWT, senantiasa beribadah kepada Allah SWT, bersyukur kepada Allah SWT, melaksanakan haji dan umrah, menjalin hubungan baik, membelanjakan harta di jalan Allah SWT, hijrah karena Allah SWT, menikah, mendukung mahasiswa dalam belajar ilmu ke-Islaman, berbuat baik kepada kaum miskin, jujur dalam bertransaksi, selalu ingat Hari Akhir, dan selalu berusaha mencapai tujuan. Semoga manfaat! Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Oleh: Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Konsultan Sakinah Finance, Colchester-Inggris

Read more:

MySharing

Republika

Suara Islam

Hidayatullah

Apakah Indonesia Masih Dijajah?

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Sakinah Finance, Colchester – Inggris

KOMPAS.com – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa kondisiekonomi Indonesia sekarang mirip pada masa penjajahan Belanda dahulu. (Baca: Kepala Bappenas: Kondisi Ekonomi Indonesia Sekarang Mirip Saat Dijajah Belanda)

colonial_masters.jpg

Sumber Gambar: Historiata

Masyarakat awam tentu saja bertanya–tanya, apa benar dan bagaimana cara dijajahnya? Sepertinya tidak mungkin, karena perekonomian Indonesia nampak makin baik dari tahun ke tahun, misalnya dari segi pendapatan keluarga.

Berapa pendapatan keluarga Indonesia?

Sebut saja Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang menurut Badan Pusat Statistik adalah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu negara dalam suatu periode tertentu baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan.

Atas dasar harga berlaku PDB per kapita per tahun adalah Rp 6,8 juta pada tahun 2000 naik menjadi Rp 12.5 juta pada tahun 2005, kemudian menjadi Rp 27 juta pada tahun 2010 dan Rp 36,5 juta.

Peningkatan PDB per kapita itu bisa kita lihat dari kemampuan keluarga Indonesia dalam memenuhi kebutuhannya seperti ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahun dan teknologi.

Dari segi ekonomi kita bisa melihat kehidupan keluarga terutama di perkotaan yang makin modern, tinggal di rumah yang lebih dari layak, dibalut dengan perhiasan teknologi dan mode terkini serta gaya hidup kelas atas lainnya, sehingga kita mengatakan bahwa mereka sejahtera.

Tapi ternyata di balik itu, persoalan keluarga terjerat hutang makin tinggi dari waktu ke waktu, salah satu puncaknya adalah penggunaan kartu kredit yang tidak terkontrol baik.

Hingga akhir tahun 2015, data Bank Indonesia menunjukan adanya 16,81 juta keping kartu kredit beredar dengan pemakaian rata–rata Rp 767 miliar per hari.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menerima 1.030 pengaduan sepanjang tahun 2015 yang lalu, yang jika diurut lima besar pengaduan adalah sebagai berikut: perbankan dengan dominasi kartu kredit 176 kasus (17 persen); perumahan 160 kasus (16 persen); telekomunikasi 83 kasus (8 persen); belanja online 77 kasus (7 persen); dan leasing 66 kasus (6 persen).

Apakah model kesejateraan seperti ini yang kita inginkan? Bagaimana dengan fakta bahwa Indonesia adalah negara kaya sumber daya alamnya? Yang seharusnya dapat menyumbangkan kesejahteraan buat rakyatnya tanpa rakyatnya harus mendapatkannya dengan berutang.

Lawan kata kesejahteraan

Di sisi lain, kita melihat ketimpangan kesejahteraan pada keluarga Indonesia. Menurut BPS per Agustus 2016, pertumbungan ekonomi Indonesia saat ini adalah 5,2 persen, angka pengangguran terbuka 5,61 persen serta angkat kemiskinan 10,86 persen atau 28 juta orang.

Jika melihat angka kemiskinan versi Bank Dunia, ternyata ada 40 persen atau sekitar 100 juta rakyat Indonesia yang sebenarnya sangat rentan untuk jatuh miskin jika pendapatan dipatok 1,9 dollar AS per hari atau 87 dolar per bulan (lebih tinggi dari tolak ukur BPS yaitu 22,6 dollar AS per bulan).

Faktor penyulut kenaikan angka kemiskinan salah satunya adalah kenaikan harga BBM dan imbas dari perlambatan ekonomi yang menekan indikator kesejahteraan di sektor riil.

Sangat ironi jika melihat fakta ini, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam seperti bahan bakar minyak tapi tidak bisa mengendalikan harga minyak.

Siapakah yang “menjajah”?

Jadi tepat sekali apa yang dikatakan oleh Bambang bahwa sumber daya alam Indonesia selama ini tidak sepenuhnya dinikmati oleh Indonesia. Bahkan ujung – ujungnya para keluarga Indonesia menggunakan barang jadi yang awalnya adalah barang mentah dari tanah sendiri.

Sebut saja minyak, tambang, gas, emas dan perak; Indonesia hanya pandai menggali dan mengeluarkan dari perut bumi tetapi tidak pandai atau dihambat untuk membuatnya menjadi barang jadi.

Pada akhirnya, aktifitas ekonomi ini dinikmati oleh pihak – pihak asing, seolah – olah kita masih berada di zaman penjajahan Belanda. Tentu saja kita sudah berada di alam kemerdekaan, sudah kita lalui jaman penjajahan (koloniaslime) namun sekarang telah beralih menjadi jaman penjajahan dalam bentuk lain (imperialisme).

Seperti yang dikatakan oleh Joe Painter dari Universitas Durham dan Alex Jeffrey dari Universitas Cambridge di dalam bukunya, Political Geography ,

“Although imperialism and colonialism focus on the suppression of an other, if colonialism refers to the process of a country taking physical control of another, imperialism refers to the political and monetary dominance, either formally or informally.”

Kebijakan ekonomi yang keliru adalah salah satu sebab yang memberikan peluang bagi pihak asing untuk leluasa membeli dan menggunakan sumber daya alam Indonesia.

Menurut Didin Damanhuri dalam tulisannya di Harian Republika 1 Oktober 2015, hingga akhir ini, ada sekitar 112 undang undang yang kurang sesuai denganUUD 1945, yang banyak berpihak kepada keuntungan pihak – pihak asing.

Sikap keluarga Indonesia?

Al-Quran menerangkan bahwa segala yang ada di langit dan di bumi (di dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa bentuknya adalah bintang – bintang, gunung – gunung, lautan, sungai – sungai, dan semua yang dapat dimanfaatkan) adalah milik Allah SWT sebagai rahmat kepada kita semua.

“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS. Al-Jaatsiyah (45): 13].

Ternyata Allah SWT menuntut adanya kaum yang berfikir yaitu para intelektual selaku pemimpin (khalifah) di muka bumi yang paham akan adanya tanda – tanda, tahu bagaimana menggunakan sebaik-baiknya semua milik Allah tersebut karena semuanya hanya dititipkan sementara (amanah) dan sebagai ujian yang kelak akan dipertanggung-jawabkan.

Di ayat yang lain, para kaum berfikir ini juga dituntut untuk menggunakan semua nikmat Allah SWT dengan berlaku adil, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebijakan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS An-Nahl (16): 90).

Kesimpulannya adalah mari pastikan setiap anggota keluarga kita menjadi bagian kaum yang berfikir. Kaum yang berperan sebagai khalifah di muka bumi ini sehingga dapat menggunakan segala rahmat Allah SWT pada tempatnya, senantiasa berlaku adil atas sesama, belajar dari kejadian – kejadian masa lampau untuk dijadikan pelajaran serta menegakkan kebenaran dan memerangi kemungkaran. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Diterbitkan di: Kompas, 29 November 2016