Archive for the ‘Why plan’ Category

Pengaturan Keuangan Rumah Tangga

[Minggu ini blog ini akan menampilkan tulisan-tulisan istri saya, Murniati atau Anik, selamat membaca]

Peranan Suami Istri dalam keuangan rumah tangga

Dalam konteks perekonomian rumah tangga, tugas suami adalah bekerja mencari nafkah sedangkan istri selain menjadi guru utama bagi anak – anaknya, bertanggungjawab mengatur dan mengelola pengeluaran rumah tangga, seperti makanan, pakaian, perabot rumah tangga, dan lain-lainnya. Jadi fungsi istri di dalam perekonomian rumah tangga adalah seperti seorang manajer keuangan. Mengenai tugas masing-masing di dalam keluarga, Rasulullah saw bersabda

“… Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya …” (HR. Bukhari).

Ketika Rasulullah menikahkan putrinya Fatimah, beliau berkata kepada Ali r.a.,

“Engkau berkewajiban bekerja dan berusaha sedangkan dia berkewajiban mengurus rumah tangga”

“…Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya …”

juga dalam hadits lain:

“Apabila seorang istri menafkahkan makanan rumah tangga dengan tidak bermaksiat, maka dia mendapat pahala dari apa yang diusahakan, …” (HR. Thabrani)

Keadaan Keuangan Rumah Tangga

Sudah jelas bahwa tugas istri untuk mengatur atau memberikan saran atas keuangan rumah tangga baik dalam keadaan defisit atau pun surplus.

Jika dalam keadaan defisit, istri tentunya tahu biaya apa saja yang bisa dikurangi seperti mengurangi/menutup penggunaan kartu kredit, penghematan penggunaan listrik (a/c diganti dengan kipas angin), dispenser digantikan dengan masak dengan gas, makan diluar diganti dengan makan masakan sendiri, beli baju di butik diganti dengan mendaur ulang baju lama sehingga bisa tampak baru, dan cara lainnya yang tentunya disepakati oleh semua anggota keluarga.

Begitu juga jika dalam keadaan surplus, istri bisa menyarankan suami bahwa sisa pendapatan bulanan ditabungkan di bank A, di perusahaan asuransi B, di belikan reksadana di perusahaan C atau diinvestasikan di asset yang bisa memberikan passive income. Tentunya semua itu harus sesuai dengan tuntutan syariah dan aman ketika menginvestasikan surplus pendapatan tersebut seperti menginvestasikan di perusahaan yang jelas izin syariah dan operasional.

Rujukan investasi selayaknya didapat dari seorang financial planner namun dengan bekal membaca dan mengikuti kursus singkat, para suami istri dapat merancang pola investasi sendiri.

Bagaimana supaya keuangan keluarga bisa diberkahi oleh Allah?

Sebelum merancang keuangan keluarga, tentunya ada beberapa rambu yang harus diperhatikan yaitu bagaimana supaya keuangan keluarga kita bisa diberkahi oleh Allah S.W.T. Banyak sekali keluarga Muslim mengeluh, mengapa sudah bekerja keras selama 24 jam rezeki yang di dapat hanya itu itu saja, hanya cukup untuk sehari, seminggu atau sebulan. Banyak juga yang mengeluh bahwa walaupun pendapatannya lebih tinggi dari bulan sebelumnya tetapi tetap juga merasa kurang atau hutang tetap saja ada dan tidak bisa menyisihkan sedikitpun untuk ditabungkan atau digunakan untuk liburan keluarga.

Ada beberapa tips supaya keuangan keluarga kita bisa mendapatkan barokah yaitu dengan cara melakukan amal – amal soleh sebagai berikut:

1. Niat Mencari Rezeki

Pertama, marilah kita luruskan niat kita ketika bekerja, berdagang dan bertransaksi mumalah, bahwa semata – mata untuk mencari ridho Allah dan untuk beribadah kepadaNya. Jadi, tidak dipenuhi dengan target karena ketamakan dan ambisi duniawi semata.

Selain itu, dibinalah sifat qona’ah dan lapang dada dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hal itu merupakan kekayaan yang tidak ada bandingannya. Dengan jiwa yang dipenuhi dengan qona’ah, dan keridhaan dengan segala rizki yang Allah turunkan untuknya, maka keberkahan akan datang kepadanya. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengan rizki yang telah Ia berikan kepadanya. Barangsiapa yang ridha dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rizki tersebut untuknya. Dan barangsiapa yang tidak ridha (tidak puas), niscaya rizkinya tidak akan diberkahi” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani)

2. Bersyukur atas apa yang Allah sudah berikah kepada kita hari ini

Syukur yang biasa dilakukan oleh kebanyakan kita adalah sujud syukur atas penyelesaian atas suatu masalah berat, mendapatkan bonus yang tidak disangka – sangka atau hal – hal yang dapat dilihat dengan kasat mata. Padahal banyak sekali nikmat Allah yang kita dapati setiap hari, nikmat dapat melihat matahari pagi hari ini, nikmat bisa menghirup udara segar, nikmat bisa berkumpul dengan keluarga dan nikmat lain yang setiap hari Allah berikan tanpa diminta. Maka dari itu, biasakanlah mengucapkan hamdallah, berbagi dengan orang lain sebagai tanda syukur kita atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Sesungguhnya Allah berfirman:

“Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” [Ibrahim : 7]

Jadi supaya penghasilan yang kita dapat hari ini, minggu ini, bulan ini bisa bertambah (bukan hanya dari segi angka rupiahnya) tapi bertambah manfaatnya, bisa menabung, mengurangi hutang, hidup lebih nyaman, maka selalulah bersyukur. Sebaliknya, jika kita baca sejarah, sesungguhnya Allah Ya Rauf telah mengirim azab kepada kaum Saba’ yang telah mengingkari nikmat Allah seperti tertulis di dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan) : “Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugrahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsel (cemara) dan pohon bidara” (Saba : 15-16)

3. Keluarkan hak orang miskin dari harta kita dalam bentuk zakat, infaq, sodaqoh dan wakaf:

Telusuri semua harta dan pendapatan yang kita sudah dapatkan apakah sudah kita keluarkan zakatnya? JIka belum, mungkin itu salah satu penyebab mengapa kita tidak pernah merasakan cukup apa yang sudah kita dapatkan. Zakat wajib maupun sunnah (sedekah), merupakan salah satu amalan yang menjadi faktor yang dapat menyebabkan turunnya keberkahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (Al-Baqarah : 276)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian salah satunya berkata (berdo’a) : “Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yang berinfak”, sedangkan yang lain berdo’a :”Ya Allah, timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran” (Muttafaqun alaih)

4. Bertaubat Dari Segala Perbuatan Dosa

Sebagaimana perbuatan dosa menjadi salah satu penyebab terhalangnya rizki dari pelakunya, maka sebaliknya, taubat dan istighfar merupakan salah satu faktor yang dapat mendatangkan rizki dan keberkahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang Nabi Hud Alaihissallam bersama kaumnya.

“Dan (Hud berkata) : Hai kaumku, beristighfarlah kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan atasmu hujan yang sangat deras, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuta dosa” (Hud : 52)

Akibat kekufuran dan perbuatan dosa kaum ‘Ad -berdasarkan keterangan para ulama tafsir- mereka ditimpa kekeringan dan kemandulan, sehingga tidak seorang wanita pun yang bisa melahirkan anak. Keadaan ini berlangsung selama beberapa tahun lamanya. Oleh karena itu, Nabi Hud Alaihissallam memerintahkan mereka untuk bertaubat dan beristighfar. Sebab, dengan taubat dan istighfar itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan hujan, dan mengaruniai mereka anak keturunan.

5. Menabung Tali Silaturahmi

Di antara amal shalih yang akan mendatangkan keberkahan dalam hidup, yaitu menyambung tali silaturrahim. Ini merupakan upaya menjalin hubungan baik dengan setiap orang yang akan terkait hubungan nasab dengan kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan (atau diberkahi) rizkinya, atau ditunda (dipanjangkan) umurnya, maka hendaknya ia bersilaturrahim” (Muttafaqun ‘alaih)

Yang dimaksud dengan ditunda ajalnya, ialah umurnya diberkahi, diberi taufiq untuk beramal shalih, mengisi waktunya dengan berbagai amalan yang berguna bagi kehidupannya di akhirat, dan ia terjaga dari menyia-nyiakan waktunya dalam hal yang tidak berguna. Atau menjadikan nama harumnya senantiasa dikenang orang. Atau benar-benar umurnya ditambah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

6. Mencari Rizki Dari Jalan Yang Halal

Merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya keberkahan harta, ialah memperolehnya dengan jalan yang halal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Janganlah kamu merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena sesunguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram” [HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibbanm dan Al-Hakim]

Salah satu yang mempengaruhi keberkahan ini ialah praktek riba. Perbuatan riba termasuk faktor yang dapat menghapus keberkahan.

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (Al-Baqarah : 276)

Begitu pula dengan meminta-minta (mengemis) dalam mencari rizki, termasuk perbuatan yang diharamkan dan tidak mengandung keberkahan. Dalam salah satu hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan sebagian dampak hilangnya keberkahan dari orang yang meminta-minta.

“Tidaklah seseorang terus-menerus meminta-minta kepada orang lain, hingga kelak akan datang pada hari Kiamat, dalam keadaan tidak ada secuil daging pun melekat di wajahnya” (Muttafaqun alaih)

6. Bekerja Saat Waktu Pagi.

Di antara jalan untuk meraih keberkahan dari Allah, ialah menanamkan semangat untuk hidup sehat dan produktif, serta menyingkirkan sifat malas sejauh-jaunya. Caranya, senantiasa memanfaatkan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hal-hal yang berguna dan mendatangkan kemaslahatan bagi hidup kita.

Termasuk waktu yang paling baik untuk memulai bekerja dan mencari rizki, ialah waktu pagi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanjatkan do’a keberkahan.

“Ya Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka” [HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Hikmah dikhususkannya waktu pagi dengan doa keberkahan, lantaran waktu pagi merupakan waktu dimulainya berbagai aktifitas manusia. Saat itu pula, seseorang merasakan semangat usai beristirahat di malam hari. Oleh karenanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan keberkahan pada waktu pagi ini agar seluruh umatnya memperoleh bagian dari doa tersebut.

Contoh lain dari keberkahan waktu pagi, ialah sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Shakhr Al-Ghamidi Radhiyallahu ‘anhu. Yaitu perawi hadits ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Shakhr bekerja sebagai pedagang. Usai mendengarkan hadits ini, ia pun menerapkannya. Tidaklah ia mengirimkan barang dagangannya kecuali di pagi hari. Dan benarlah, keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat ia peroleh. Diriwayatkan, perniagaannya berhasil dan hartanya melimpah ruah. Dan berdasarkan hadits ini pula, sebagian ulama menyatakan, tidur pada pagi hari hukumnya makruh.

Kenapa merencanakan keuangan? ~ bag.2

Dalam menjawab pertanyaan mengapa keluarga harus mempunyai perencanaan keuangan yang solid, ada dimensi syariah yang belum sempat disampaikan dalam tulisan terdahulu, yaitu maqashid as-syariah. Secara bahasa ‘maqashid syariah’ diartikan sebagai maksud atau objektif dari ada dan diberlakukannya hukum Islam (syariah). Pembahasaan tentang maqashid lebih lengkap bisa dilihat disini.

Maqashid syariah mempuinyai lima dimensi, atau maksud;
- melindungi Agama
- melindungi jiwa atau kehidupan
- melindungi keturunan
- melindungi harta
- melindungi akal (ilmu pengetahuan)

Dari sini jelas bahwa Islam, melalui penerapan hukum-hukum Allah menjamin keberlangsungan ummat Islam khususnya dan ummat manusia pada umumnya. Yaitu melalui proteksi terhadap elemen-elemen penting dalam hidup dan kehidupan; nyawa, harta benda, akal-fikiran, keturunan dan Agama itu sendiri.

Kelima aspek diatas merupakan pilar kesinambungan kehidupan dan penghidupan manusia dan kemanusiaan (humanity). Agama perlu dilindungi, supaya hidup tidak menjadi belantara tanpa peradaban; akal dan ilmu pengetahuan perlu dikembangkan bukan dikebiri, sehingga manusia tidak menjadi atau serupa dengan binatang; harta juga perlu dilindungi, supaya manusia tidak terjerumus dalam kenistaan dan hilang iman; keturunan harus dilindungi dan dikembangkan, supaya ummat manusia tidak punah; dan nyawa, apakah jadinya dunia ini sekiranya nyawa manusia tidak dihargai dan dilindungi.

Jadi, salah satu upaya untuk melindungi harta adalah dengan merencanakan seluruh aspek keuangan keuarga. Mungkin proteksi disini bukan dari aksi pencurian atau perampokan, tetapi dari kehilangan nilai dan penyalahgunaan – misalnya perilaku konsumtif, mubazir & berlebih-lebihan, atau mis-management, yang pada akhirnya menyebabkan hilangnya harta yang sudah dimiliki. 

Maka perencanaan keuangan sesungguhnye merupakan implikasi dan aplikasi dari upaya kita dalam menerapkan nilai syariah (hukum Allah) ini. Kalau dalam perencanaan keuangan konvensional, fokus utama lebih kepada manajemen hutang dan akumulasi kekayaan, maka kita seharusnya bisa berbeda.

Ketika pengelolaan keuangan (dalam Islam) dilihat dari aspek maqashid dan dengan penyusunan prioritas sesuai kategori dharuriyyat, hajiyyat dan tahsiniyyat, maka dimensinya akan berubah total. Dan ini akan menjadi tema utama Sakina Finance dalam mengupas aspek family financial planning ini. 

Hal ini akan dibahas dalam bagian-bagian lain blog ini, termasuk pembahasan mengenai Financial Planning Model berbasiskan maqashid

Berapa harus simpan, belanja, hutang?

Ada sebuah artikel menarik di About.com yang mungkin bermanfaat. Intinya memberikan gambaran tentang persentase atau jumlah yang paling aman untuk dibelanjakan, disimpan, atau diinvestasikan dari total pendapatan kita (joint atau dari kepala keluarga).

Namun saya tidak sepenuhnya sepakat dengan tulisan tersebut, karena ada beberapa hal prinsip yang saya rasa tidak sesuai bagi konteks keluarga Muslim/Indonesia. Pandangan saya dan modifikasi artikel diatas bisa dibaca dibawah ini: 

Tabungan. Secara rule of thumb, angka 10% dari pendapatan kotor dianggap sudah memadai, meskipun itu merupakan batas minimum. Dan harus diingat, 10% ini tidak termasuk jumlah yang dialokasikan untuk dana pensiun, emergency fund atau tabungan pendidikan; karena tabungan ini disiapkan untuk keperluan tertentu semisal renovasi rumah, modal usaha, liburan, atau peluang usaha yang tiba-tiba muncul, serta kebutuhan lainnya.

Sebagian penasihat keuangan menganjurkan tabungan pada kisaran (minimal) 20-30% dari gross salary, sebagai jumlah yang ideal. Ini terutama bagi pasangan muda yang kebutuhannya (needs; not wants) masih belum terlalu besar; sehingga dengan tabungan yang besar dan dimulai pada awal masa bekerja akan memberikan reward yang sangat besar nantinya. Dan tabungan merupakan awal yang baik untuk mengumpulkan dana bagi tujuan investasi di pasar modal atau properti misalnya.

Belanja. Kalau mau diturutkan keinginan dan hawa nafsu, maka berapapun nilai pendapatan tidak akan pernah cukup untuk keinginan berbelanja. Selalu saja ada alasan yang kuat untuk membeli; sale, pameran, ‘kan bayaran sekolah masih bulan depan’, bisa cicil 12 kali, ’supaya nggak bolak-balik ke hypermarket’, ‘mumpung ke Tanah Abang – kan jarang-jarang’, dst.

Secara aturan ‘jempol’, belanja harus mempertimbangkan kewajiban lain terlebih dahulu. Misalnya cicilan/pelunasan hutang, baik cicilan bank (mobil, rumah) maupun hutang sama teman atau saudara; terus listrik, telepon, HP, internet, IPL, SPP sekolah, ngaji, dll. Dan secara common sense, tentu saja belanja harus bisa mencakupi semua kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan – itu urutan yang benar), dan memenuhi keperluan halal-thayyib atau mungkin 4 sehat-5 sempurna.

Secara kasarnya, keluarga dengan dua anak di Jakarta memerlukan sekitar Rp.2-3juta sebulan untuk belanja (grocery, toiletry, perawatan bayi, dll). Namun ini kembali lagi ke gaya hidup masing-masing; sesetengah keluarga memerlukan dua kali lipat dari jumlah itu.

Namun, secara konservatif, belanja per bulan sebaiknya tidak boleh melebihi 50% dari total income. Jika tidak, maka kewajiban lain seperti membayar cicilan, tabungan, investasi, atau keperluan emergency akan tidak bisa dipenuhi.

[Untuk tips mengatur belanja, akan dibahas tersendiri; lihat juga topik tentang budgeting]

Emergency fund. Tidak banyak orang yang secara sengaja dan sadar mengalokasikan dana rutin bagi keperluan tak terduga, meskipun hanya 3-5% dari income perbulan. Padahal setiap saat kita berhadapan dengan keadaan yang diluar dugaan; keluarga sakit dan harus ditolong, pulang kampung mendadak, kendaraan disenggol orang (sementara asuransi akan bayar kemudian), atau -nauzubillah, kita kehilangan sumber pendapatan utama keluarga.

Sebagai langkah jaga-jaga, ada baiknya disiapkan dana emergency yang sekurangnya bisa menutupi kebutuhan pokok keluarga selama 2-3 kedepan, sambil berusaha bangkit kembali.

Misalnya kalau belanja bulanan kita sebesar 3 juta per bulan, maka memiliki dana ‘taktis’ sebesar Rp.9-10 juta sudah memadai. Bagusnya lagi kalau dana ini disimpan dalam bentuk tabungan yang tidak terlalu mudah diakses (tidak ada ATM) tapi bila diperlukan bisa segera diambil.   

Hutang.  Jawaban paling sempurna adalah 0%. 

Namun kalau keadaan memang sangat mendesak, maka maksimal angka 36-40% bisa ditolerir dengan persyaratan yang panjang dan painful

Pertama, ini merupakan total dari keseluruhan liabilities keluarga, yang sudah termasuk cicilan rumah, mobil, kartu Dirham, atau kredit yang nggak jelas (dan harus dihindari) semacam Columbia, Courts Mammoth, etc.

Kedua, jumlah ini harus berkurang secara perlahan ke angka yang paling ideal (0%) – dengan target waktu yang realistis dan tidak terlalu lama.

Ketiga, sekiranya ada pendapatan diluar perencanaan (ie. bonus, promosi), minimal 50% dari pendapatan tambahan ini harus dialokasikan untuk melunasi/mengurangi nilai hutang.

Keempat, Anda harus mengorbankan pengeluaran tertiary (seperti hobby mobil remote control, koleksi tas bermerk, nonton, TV kabel, belanja di Amazon.com, dst.) selama periode ini.

Kelima, berjanji, bersumpah, berikrar, dan bersungguh-sunggug tidak akan beruhutang lagi. Kalau ini pesan sponsor istri saya yang panik melihat jumlah tagihan Dirham saya dari belanja buku di Amazon – yang katanya lebih besar dari belanja bulanan keluarga.    

Dana pensiun. Ini merupakan komponen yang selama ini dianggap tidak penting oleh pegawai negeri – karena pensiunnya ditanggung, pegawai BUMN atau perusahaan asing – yang perusahaannya mempunyai scheme pensiun, wiraswasta atau pekerja sektor informal – yang sulit untuk disiplin mengalokasikan dana bagi keperluan pensiun, atau malah kita yang kerja di perusahaan/instansi swasta tanpa fasilitas pensiun – karena kita anggap nggak mungkin.

Mitos-mitos ini harus dibuang jauh-jauh. Siapapun kita, dana pensiun merupakan keharusan mengingat pola peningkatan biaya hidup di Indonesia yang sangat tidak stabil/predictable dan angka inflasi yang masih tinggi dan labil.

Secara hitungan kasar, setelah pensiun kita sekurangnya harus memiliki pendapatan perbulan yang jumlahnya 75% dari nilai income sekarang.

Jumlah ini harus dipersiapkan dari sekarang dengan cara menyisihkan 5-10% dari pendapatan kotor selama kita bekerja (dimana dan apapun itu) sampai say umur kita 50-55 tahun.

Jadi dari semenjak itu, mulai dari usia kita 51 tahun misalnya – dan sekiranya Allah berikan umur panjang, setiap bulan kita tinggal menerima secara anuitas perbulannya dari pengelola dana pensiun anda. Atau bisa juga kita meminta dana dalam bentuk lump-sum; dana ini kemudian kita simpan kembali di tempat terpisah (bank, brankas, atau modal usaha) dan ketika perlu kita tinggal mengambilnya. 

Saya sendiri memiliki rekening pensiun di DPLK Muamalat dengan sisihan dana Rp.100,000 per bulan. Dan karena jumlahnya kecil, maka ketika umur saya (insya Allah) 55 tahun, saya akan mengambil dana pensiun dalam bentuk lump-sum.

Kenapa merencanakan keuangan?

[Satu] Karena hidup kita memang harus direncanakan. Bukankah ‘golongan orang yang sedikit tapi ter-organize dengan baik akan mampu mengalahkan mereka yang banyak tapi kacau-balau?’

Bukankah juga Rasul menganjurkan kita untuk membuat perancangan, perencanaan, pengorganisasian, strategi dan manajemen dalam semua hal. Meskipun kita tidak kemudian mengatakan Baginda merupakan pakar ‘perencana keuangan’ – yang dalam definisi sekarang kebanyakannya merupakan euphemisasi dari agen asuransi, namun kalau menilik perjalanan Baginda sepanjang hidupnya, kita akan terkagum.

Buku terbaru Syafii Antonio, Super Leader, Super Manager mengupas secara lugas dan panjang-lebar tentang perjalanan karir Rasulullah sebagaia leader dan manager . Buku ini menapaki perjalanan Rasulullah dari beliau sebagai manager-leader rumah tangga sampai pemerintahan; mulai dari periode beliau masih intern, eksekutif muda, sampai ketika beliau menjadi CEO untuk perusahaannya dan keluarga. 

[Dua] Karena setiap keluarga mempunyai impian dan cita-cita. Impian itu bisa berupa memiliki rumah sendiri, memenuhi kebutuhan hidup yang layak, menyekolahkan anak sampai universitas-S3 atau naik haji. Bisa juga didorong keinginan yang kuat untuk bisa membayar zakat, berqurban, ber-aqiqah, sedikit liburan dan sebagainya.

Secara tradisional dan turun temurun, orang menempuh berbagai cara untuk menggapai impian tersebut. Ada yang menjual ternak, menjual hasil pertanian atau perkebunan, menjual tanah, perhiasan, bantuan orang tua, atau melalui warisan. Bisa juga dengan cara ikut undian berhadiah, berharap dari Gebyar Tahapan, ikut MLM, menjadi agen asuransi dengan bonus liburan ke Istambul, dan sebagainya. Banyak dan beragam – tak ada matinya.

Meskipun cara-cara ini cukup berhasil bagi sebagian orang, namun situasi sekarang serta perkembangan zaman memerlukan cara dan strategi baru dalam mewujudkan impian tersebut. Cara yang lebih realistis dan sustainable.

[Tiga] Wabah dunia modern dimana orang sudah terbiasa dengan hutang – dan karenanya sangat rentan terjebak ke dalam jeratannya. Hutang merupakan musuh dan antitesa dari perencanaan keuangan yang sesungguhnya. Dengan perencanaan yang teratur, disiplin dan sedikit pengorbanan kita bisa menghindar dari wabah ini – dan terus terang ini sangat berat, terutama dengan kartu kredit/debit atau Dirham yang selalu dalam jangkauan.

[Empat] Dalam salah satu doa matsurat, yang selalu dibaca dan berbarengan dengan permohonan untuk jauh dari iman yang lemah, adalah minta dijauhkan dari jeratan hutang (dayn). Dan ini berarti hutang akan selalu mengintai dan kita memerlukan doa, ikhtiar untuk menghindarinya.

[Lima] Anda tahu-lah alasan lainnya tentang pentingnya perencanaan keuangan keluarga. Dan itu barangkali merupakan modal yang cukup bagi kita menggalang kerjasama dan menyusun langkah bersama dalam mewujudkan keluarga yang sakinah, sehat jasmani, rohani dan finansial-nya.