Archive for the ‘Tips’ Category

Menabung setiap pecahan Rp.20.000

Berbagai cara dilakukan orang untuk menabung; pake celengan, auto deduct dari salary, dalam bentuk emas dan sebagainya. Namun pernahkah Anda menabung setiap kepingan uang tertentu yang ‘lewat’ dalam kehidupan Anda – apakah itu pecahan Rp5.000, Rp.10.000? Kalau pernah maka Anda seharusnya bangga karena ada teman Anda yang berhasil menyimpan sebesar $12,000 (lebih kurang Rp.100 juta) selama tiga tahun!

Marie Franklin, seorang ibu di Boston melakukan cara yang sedikit radikal ini dengan menyimpan setiap pecahan $5 yang dia terima sejak tiga tahun yang lalu. Meskipun memerlukan kedisiplinan yang super tinggi, namun cara ini sangat menyenangkan dan cepat membuahkan hasil. Sampai sekarang total $12,000 yang sudah terkumpul disimpan oleh Marie dalam berbagai bentuk instrumen, terutama sekali deposito. Dan jumlah ini akan terus bertambah, karena Marie belum mau berhenti dari kebiasaannya atau lebih tepatnya, keranjingan dia atas uang pecahan $5.  

Selengkapnya bisa dibaca disini dan disini.

Terinspirasi, saya berniat menyimpan semua pecahan Rp.20.000 yang saya dapat mulai kemarin. Alhamdulillah sudah tiga lembar terkumpul. Mudah-mudahan setelah tiga tahun bisa menjadi Rp.100 juta. :)

Anda punya ide yang tidak kalah brilian dan fun?

Pesantren kilat untuk anak-anak?

Untuk liburan kali ini, ada baiknya mendaftarkan anak-anak untuk ikut Pesantren Kilat selama 2-3 hari. Jika anggaran terbatas, bisa menghubungi pihak DKM Mesjid di lingkungan anda untuk menyelenggarakannya.Para orangtua mungkin bisa berembuk bersama untuk mengatur acara ini dengan mengeluarkan dana yang sangat sedikit bahkan bisa gratis. Caranya adalah meminta kesediaan bagi yang punya Villa, transportasi, usaha catering untuk menyediakan fasilitas tersebut untuk anak- anak di lingkungan anda.

Atau pilihkan tempat yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal anda, sehingga biaya transportasi tidak akan terlalu mahal. Adapun motivator dapat dipilih dari pihak mesjid atau menghubungi mahasiswa yang sudah berpengalaman – yang mungkin tinggal di sekitar lingkungan anda – untuk mengatur program Pesantren Kilat ini.

Bagi yang mempunyai anggaran lebih, bisa menghubungi pihak ESQ untuk mendaftarkan anak-anak dalam Program ESQ for Teens. Bisa baca lebih detail di ESQ.

Saya berpendapat bahwa program Pesantren Kilat ini adalah salah satu ibadah kita sesuai dengan Firman Allah SWT:

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu” (Q. S. Adz-Zarriyat 56)
“Dan hendaklah takut kepada Allah dan rosul-Nya, orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap mereka, oleh karena itu hendaklah mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. Annisaa, 9)

Tentunya kita harus memastikan bahwa Pesantren Kilat ini diselenggarakan dengan tujuan sebagai berikut :

  1. Mengakrabkan anak-anak dengan lembaga pendidikan Islam
  2. Meningkatkan pemahaman anak-anak tentang Islam
  3. Membentuk sikap, tingkah laku dan budi pekerti yang Islami
  4. Membuka wawasan pemikiran anak-anak
  5. Menanamkan ruh Ibadah dalam seluruh aktivitas kehidupan
  6. Mengenalkan konsep kewirausahaan Islam (perlu motivator yang bisa juga menguasai hal ini)

Untuk liburan kali ini, anak kami Layyin (8 tahun, naik Kelas 3 tahun ini) sudah mengawali dengan Pesantren Kilat. Layyin pergi bersama 50 anak-anak lain dari Sentul City sebelum Sholat Jum’at di hari Jum’at yang lalu menuju sebuah Vila di Puncak, tidak jauh dari Ciawi.

Izinkan Layyin untuk berbagi sedikit pengalamannya kepada Anda semua, yang ditulis dalam Buku Diary-nya selama di Puncak dari hari Jum’at – Ahad yang lalu. Saya membacanya dan meminta izin untuk diketikkan di sini.

Tulisan Layyin di Hari Pertama:

Saya pergi ke puncak di Ciawi, seru lho! Banyak teman, ada Amel, Ka Ehan, Salsa, Ka April dan banyak lagi. Saya tidur bareng Amel. Seru Lho. Saya akan mendapat pengalaman baru. Alhamdulillah.

By Layyin.
NB: Amel adalah teman sekelasnya dan teman dekatnya setelah Velya.

Tulisan Layyin di Hari Kedua:

Pagi – pagi saya bercanda dengan teman – teman walau suasana dingin. Aku suka sekali karena banyak orang yang ikutan. Saya jogging dan ikut acara mentoring. Sesudah itu, saya makan nasi goreng, timun, sosis dan baso, tapi basonya cuma satu. Lalu saya mandi kemudian saya ikut lomba. Seru lho. Saya senang sekali.

By Layyin
NB: mentoring adalah salah satu sebutan acara ceramah singkat untuk peserta yang diadakan selepas sholat.

Tulisan Layyin di Hari Ketiga:

Saya berolahraga dan jalan-jalan. Sehabis itu saya makan. Lalu saya menggambar. Isi mentoring hari ini adalah mengenai peta Indonesia, dimanakah kita sekarang di sini. Ustaz Abdullah Hay mengingatkan semua anak-anak untuk tidak menyakiti hati kedua orangtua terutama Ibu. Allah akan memberikan hukuman kepada manusia yang melakukan hal tersebut yaitu ketika manusia itu meninggal, kepalanya akan berubah menjadi kepala seekor binatang ‘haram’ yaitu ‘babi’ dan kemudian ada seekor ular yang akan mengigitnya.

(Layyin menggambar dua orang, satu Ibu dan satu Ayah dan menjelaskan bahwa keluarga itu berarti Ayah + Mama + Aku + Adik – Adik. Terakhir dia menulis I love you Mom and Dad, I love you Mom and Dad, I love you Mom and Dad).

By Layyin
NB: Layyin menceritakan bahwa dia menangis ketika Ustaz bercerita mengenai anak-anak yang sering menyakiti hati orangtua tersebut. Layyin berkata bahwa dia rindu kepada Daddy dan Mommy saat itu dan ingin meminta maaf.

Demikianlah ringkasan Pesantren Kilat. Sudah mencoba? Mau mencoba? Ditunggu komentar anda.** (Mu Kim Ni)

Masih bingung mengisi liburan?

Apa kabar Anda semua di minggu ke-3 liburan sekolah ini? Mau liburan gratis ke luar negeri? Ke negeri antah berantah?

Ada satu ide yang insya Allah bisa memberikan manfaat untuk keluarga Anda dalam mengisi waktu liburan kali ini. Yang jelas, bisa dilakukan sambil bersenang-senang dengan anak-anak.

Mau tau caranya? Mari kita telusuri petunjuk di bawah ini:

  1. Pinjam laptop dari kantor atau syukur alhamdulillah kalau sudah ada Laptop atau PC di rumah
  2. Siapkan jaringan telepon untuk jaringan Telkomnet Instan atau syukur alhamdulillah kalau sudah ada jaringan WIFI di tetangga yang bisa masuk ke rumah kita.
  3. Siapkan cemilan, bisa french fries, nugget, pan cake dan teh manis atau sirup ros merah campur timun serut. Asyik dihidangkan di hari yang agak panas sekarang-sekarang ini.
  4. Buat pengumuman kepada anak-anak (umur balita – SD) -terutama yang jarang berkenalan dengan internet – agar siap sedia untuk pergi ‘melalang buana’ di negara mana saja mereka mau.
  5. Letakkan cemilan yang disebut di atas lengkap dengan tissue atau lap tangan.
  6. Sambungkan internet.
  7. Start Googling, www.google.com
  8. Jika punya anak lebih dari satu, beri kesempatan satu persatu kepada mereka untuk negara atau hewan apa yang mereka ingin lihat atau baca.
  9. Pilih ‘Gambar’ terletak nomor 2 sebelah kiri atas lembar Google.
  10. Mulailah melalang buana. Saya yakin pilihan pertama anak lelaki anda adalah Power Rangers, Raihan Rangers, Ultraman, Dinosourus, Turtle Ninja, Dolphin, Naruto (upss…yang satu ini sebaiknya dihindari karena tokohnya tidak begitu baik). Dan pilihan anak perempuan anda adalah Barbie, Fulla, Princess, Snow White, Mermaid dan putri – putri kerajaan lainnya.
  11. Setelah puas, ajaklah mereka dimana Pinokio pertama kali dilagendakan. Saya ingat tourist guide yang menemani rombongan kami ketika tiba di Firenze (Florence), Italy, menceritakan bahwa di kota itulah Pinokio mulai pertama kali dipopulerkan. Negara lain yang menarik bisa Australia, dimana Steve Irwin – Crocodile Hunter dari Australia Zoo, berenang bersama dengan ikan pari yang tiba-tiba menusuk dadanya. Hari itu merupakan hari terakhir bagi Steve bercengkrama dengan hewan-hewan buas yang senantiasa menghiasi program televisi di seluruh belahan dunia. Untuk detail mengenai Steve, baca di situs Wikipedia.
  12. Jika anak-anak anda ingin menggambar online, banyak situs-situs gratis yang menyediakan dan anak-anak kami sudah mencobanya, asyik loh. Coba ini Online Coloring Book.
  13. Jika anda mempunyai printer dan kertas A-4 (daur ulang juga boleh), bisa mencetak ‘Coloring Pictures’ yang jumlahnya ribuan dan anak-anak anda bisa pilih apa saja; tinggal click, copy-paste ke MS Word dan cetak. Siapkan crayon (bisa bekas yang anda bisa kumpulkan dari sudut-sudut buku dan meja belajar anak-anak) dan anda sudah bisa membuat perlombaan mewarnai, ajak teman-teman mereka se-RT. Ehm….minta mereka bayar untuk ganti biaya internet, kertas dan crayon juga ide bagus tuh.
  14. 4 Jam tidak terasa, tiba makan siang. Lanjutkan setelah Sholat Zuhr.

Bagi keluarga yang sudah mencoba, boleh sharing komentar anda di sini. Bagi yang belum, semoga ini menjadi alternatif pengisi liburan kali ini dan semoga bermanfaat. Ditunggu komentarnya.** (Mu Kim Ni)

Apakah yang sebenarnya diinginkan anak-anak?

Setiap liburan orang tua sibuk membuat berbagai rencana untuk mengisi liburan. Untuk anak-anak yang sudah remaja, mungkin mereka sudah bisa menentukan sendiri apa atau kemana menghabiskan liburan sekolahnya. Namun untuk anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar, keinginan mereka untuk berlibur ke suatu tempat masih sering dipengaruhi cerita teman, tontonan televisi atau kemauan orang tua – lebih tepatnya pilihan yang dianggap-disangka orang tua sebagai apa yang diinginkan anak-anaknya.

Sadar atau tidak, kita sering memaksakan keinginan atau persepsi kita tentang tujuan wisata, mainan yang disukai, atau barang-barang lain kepada anak-anak kita. Termasuk kepada anak-anak yang masih balita. Dan barangkali, keinginan mereka ketika sudah remaja atau dewasa sebenarnya merupakan hasil dari ‘pemaksaan’ kita yang terus-menerus tersebut.

Pengalaman saya sendiri, karena anak-anak saya masih relatif kecil - yang tertua baru akan naik kelas 3 SD, cukup memberikan pemahaman kepada saya tentang apa yang seharusnya kita berikan kepada anak-anak seusia mereka. Meskipun masing-masing keluarga memiliki tradisi dan kebiasaan yang berbeda, namun saya fikir apa yang saya alami dan rasakan bisa menjadi i’tibar bagi keluarga Indonesia lainnya. 

Mainan. Kedua anak saya sangat terobsesi dengan segala mainan yang bermotifkan Power Rangers – mereka hafal semua versinya; sementara anak sulung perempuan berubah-rubah antara Barbie, Strawberry atau Mermaid – intinya semua yang bernuansa pink. Biasanya setiap ke toko mainan mereka akan langsung ‘kalap’ dan bingung memilih apa yang akan dibeli. 

Syukurnya mereka paham kalau dibilang ‘expensive – mahal’, mereka akan beralih ke yang lain. Namun ketika disetujui mainan yang ditunjuk, selalu mereka nego untuk beli dua-tiga, atau menunjuk jenis mainan lain. Hampir setiap kali pulang dari toko mainan akan ada yang tidak puas, menangis, merengek-rengek minta mainan lagi.

Ini terus berulang-ulang terjadi. Tentu saja mereka menyimpan rasa tidak puas, dan kita juga sedikit merasa bersalah. Ujung-ujungnya tidak mengenakkan. Namun disisi lain, pengalaman berbelanja ini juga seolah-olah merupakan pelajaran membeli bagi mereka.

Secara tidak langsung kita mengajarkan mereka menjadi pembeli aktif dan konsumtif. Buku Born to Buy, karya Juliet Schor, merupakan referensi terbaik yang menelanjangi kebiasaan buruk orang tua dalam mengajarkan anak menjadi konsumtif. Saya akan mengupas buku ini di kesempatan lain.  

Menyadari hal ini, sekarang Anik dan saya coba merubah taktik. Sekarang kami yang selalu membeli mainan untuk anak-anak tanpa kehadiran mereka. Mainan yang kita pilih umumnya sesuai dengan kesukaan mereka, namun pelan-pelan kami coba perkenalkan jenis mainan baru.

Dengan cara ini, mereka ternyata tetap senang dan happy – tidak pernah nangis minta mainan lain, Malah mereka selalu penasaran ketika kami telpon dalam perjalanan pulang, dan memberitahukan kami membawa mereka mainan. Mereka selalu excited dan menanti dengan harap-harap cemas, dan langsung ketika kami pulang dan ‘histeris’ ketika menerima hadiah tersebut.

Keuntungannya ternyata sangat banyak;

  • kami bisa menentukan budget secara lebih tertib karena selalu bisa membeli mainan yang terjangkau dan dalam jangka waktu yang bisa diatur;
  • memperkenalkan mainan-mainan baru yang lebih mendidik, seperti baru-baru ini Layyin diperkenalkan dengan congklak;
  • kami juga semakin sering membeli berbagai macam buku (termasuk buku Power Rangers atau Barbie) sebagai pengganti mainan, sehingga semua anak-anak kami jadi suka sama buku dan cepat bisa membaca;
  • sekali-sekali saya usahakan membuat mainan sederhana bersama anak-anak, seperti mobil-mobilan atau layang-layang. Ini ternyata lebih mengasyikkan bagi mereka, dan saya rasa cara yang sangat mendidik dalam mengajarkan kreativitas sejak dini;
  • cara ini sangat murah dan kita selalu ada opsi untuk tidak membeli apapun – jika memang sedang tidak memungkinkan.

Liburan. Selama ini kami jarang sekali berlibur keluar kota. Paling banter ke Bandung atau Sukabumi beberapa kali, dan pernah juga ke Jogja sekali – itupun dalam rangka perkawinan adik ipar. Yang paling sering kami lakukan adalah pergi ke lokasi-lokasi wisata sekitar Jakarta, the usual suspects seperti TMII, Ancol atau Taman Safari.

Untuk tidak memberikan rasa bosan, kami biasanya mengusahakan ke tempat-tempat ini dengan di selang-seling; atau tidak mengunjungi semua wahana yang ada dalam satu kunjungan. Dan ini berhasil. Anak-anak kami selalu excited kemanapun kita pergi.

Namun apakah ini karena taktik itu, atau memang karena anak-anak sesungguhnya tidak mementingkan atraksi atau keindahan selama di lokasi wisata tersebut? Ataukah yang sebenarnya mereka nikmati adalah kebersamaan dengan orang tua, adik-adik, kakak atau saudara/teman-teman?!

Dugaan saya iya, anak-anak lebih enjoy dengan suasana liburan dibandingkan kualitas atraksi (yang menjadi perhatian kita orang tua). Apalagi anak-anak yang usianya masih balita. Mereka sama senangnya ketika melihat jerapah di taman safari, atau ketika hanya main pasir di pantai Ancol yang kotor itu.

Nah, barangkali ini bisa menjadi pertimbangan bagi Anda sekalian dalam menentukan kegiatan atau tempat tujuan liburan mana dalam masa jeda sekolah tahun ini. Saya fikir tidak ada salahnya mencari alternatif liburan yang lebih murah, mendidik, atau memberi suasana dan pengalaman baru bagi anak-anak kita.

Mengunjungi panti asuhan, main sawah di sekitar Sukabumi, menghabiskan waktu bersama membersihkan-mengecat kembali rumah, atau sekedar membuat mainan sederhana dari kulit jeruk-kardus bekas susu-dan lain-lain, dan sekelurga memainkannya, mungkin kebih berkesan.

Bagaimana dengan anak-anak Anda? Apakah mereka juga lebih enjoy dengan suasana atau pilihan wahana? Saya tunggu pandangan dan pengalaman Anda sekeluarga dalam menghabiskan liburan panjang ini.*** 

Liburan menyenangkan dan hemat

Musim libur sekolah sudah tiba, berbagai kegiatan dilakukan oleh keluarga untuk merayakan kebersamaan selama anak-anak libur dari semua kegiatan di sekolah.

Salah satu aktivitas liburan yang paling umum dilakukan adalah jalan-jalan ke tempat wisata, ke luar kota atau luar negeri. Untuk masyarakat ibukota, Bali, Manado, Bandung, Puncak, Solo atau Jogja merupakan daerah tujuan liburan favorit. Sementara masyarakat daerah lain mungkin punya tempat favorit tersendiri.

Namun dengan semua euphoria liburan ini, apakah kita kemudian larut dalam sensasi pengeluaran atau belanja yang berlebihan; ataukah terjebak dalam kondisi liburan yang cenderung membuat anggaran membengkak?! Godaan untuk mencoba tempat-tempat baru, membeli suvenir, atau - mumpung di Bali – jadi harus ke restoran Rusia yang baru dibuka, atau harus memborong Joger.

Ada nggak sih liburan di tempat eksotik tapi tetap murah?

Jawabannya adalah ‘ada’. Dan semestinya memang selalu ada jalan untuk tetap enjoy dan berlibur tanpa mengorbankan atau menghabiskan biaya yg besar.

Buku baru karya Marina Silvia K berjudul “Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dollar-Melalui Jalur Pertemanan” , mungkin bisa memberikan inspirasi tentang liburan yang menyenangkan tapi dengan biaya yang unbelievable. Saya berkesempatan mendengarkan interview Marina dengan Delta FM dalam perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta ke Bogor, dan ingin segera memiliki buku unik ini. Dalam kesempatan lain, saya akan coba bahas dan kupas tips-tips yang ada dalam buku Marina tersebut.

Namun untuk mengisi liburan sekolah tahun ini, Anda sekeluarga mungkin tidak akan ke Eropa selama 6 bulan. Barangkali Anda sudah atau sedang merencanakan acara liburan di dalam negeri, didalam kota atau rencana-rencana lain. Apalagi tahun ini merupakan tahun Visit Indonesia Year. Nah untuk Anda, ada beberapa saran dan pengalaman yang mungkin bisa berguna dalam memanfaatkan liburan panjang ini.

Pertama - Rencanakan liburan Anda minimal sebulan sebelumnya.

Berlibur haruslah ketempat dan dalam waktu yang sudah direncanakan minimal sebulan sebelumnya – artinya sudah ketahuan penginapannya, alat transportasi yang akan dipakai disana, dan tiket berangkat-pulangnya sudah ditangan. Ini untuk destinasi dalam negeri, untuk ke luar negeri, perencanaan 6 bulan dimuka sangat disarankan. Malah untuk ke Eropa atau Amerika, setahun sebelumnya sudah harus direncanakan dengan matang.

Namun, jika Anda belum membuat rencana apapun atau Anda masih akan merencanakan liburan untuk seminggu-dua minggu kedepan, maka lebih baik liburan (keluar kota) diurungkan saja. 

Ini barangkali saran paling tidak mengenakkan, tapi sangat realistis. Selain harga tiket-tiket yang sudah diluar jangkauan akal sehat, Anda juga akan kesulitan mencari penginapan selama ditempat liburan. Bal, Bandung, Jogja dan tempat-tempat lain pasti sedang mengalami peak season habis-habisan, dimana semua harga tiba-tiba menjadi sangat mahal.

Kedua – Liburan dalam kota lebih murah dan tidak kalah menyenangkan

Di dalam kota sendiri sangat banyak tempat-tempat yang bisa Anda kunjungi dengan keluarga. Bagi warga Jabodetabek, masih ada Mekarsari, Taman Mini, Ancol, Cibubur, Ragunan, atau mungkin sekitar Puncak seperti Ciawi, Kebun Raya, Sukabumi, dan seterusnya. Untuk warga Surabaya, Taman Safari, Malang atau Batu masih dalam jangkauan meskipun sudah sedikit di luar kota.

Mengunjungi tempat-tempat ini mempunyai banyak kelebihan dan juga kekurangannya. Selain lebih murah, juga banyak alternatif yang bisa dipilih sesuai dengan selera dan anggaran yang tersedia. Namun disisi lain, tempat-tempat ini mungkin sudah pernah dikunjungi sebelumnya, sehingga bisa membosankan bagi Anda dan anak-anak.

Nah untuk mensiasatinya, dan untuk tetap bisa menikmati liburan dalam kota, ada beberapa tips yang mungkin bisa dipakai.

  • Ajaklah anak-anak dan seluruh anggota keluarga lainnya memilih bersama-sama jenis aktivitas dan tempat liburan yang ingin dituju. Ini untuk menimbulkan rasa keakraban dan fun juga.
  • Carilah suasana baru di tempat yang pernah dikunjungi. Kalau selama ini Anda ke puncak hanya tinggal di villa, sekarang cobalah tinggal di kawasan perkampungan dan ajak anak-anak melakukan aktivitas di sawah atau empang. Untuk itu mungkin Anda harus cepat kenal dengan warga di situ dan bisa segera membaur.
  • Untuk suasana desa tapi harus membayar, ada beberapa tempat yang bisa dicoba. Diantaranya adalah Kebun Wisata Pasirmukti di Citeureup; Kampung Wisata Cinangneng, Ciampea, Bogor (setelah Kampus IPB Darmaga); atau Desa Gumati di Sentul (Selatan).
  • Kegiatan liburan yang dilakukan sekolah atau organisasi sosial seperti outbond, pesantren kilat atau bakti sosial membantu keluarga miskin dan anak yatim, mungkin juga perlu dicoba. Anak saya akan mengikuti pesantren kilat selama empat hari selama liburan, dan dia sangat excited dengan kegiatan ini. Selain karena hal ini baru baginya, juga beberapa teman baiknya juga akan ikut.

Ketiga – Menyambung silaturrahim juga bisa menjadi aktivitas liburan yang bermanfaat.

Mengunjungi keluarga, sahabat atau kenalan lama sepanjang liburan juga mengasikkan. Apalagi kita yang tinggal di Jakarta (dan sekitarnya) yang setiap hari selalu disibukkan dengan pekerjaan, sekarang mungkin waktu yang tepat untuk mengunjungi mereka sekaligus memperkenalkan anak-anak dengan saudara-saudaranya, atau teman-teman baru dari anak-anak kenalan kita.

Saya sendiri, kalau dihitung-hitung, mempunyai belasan keluarga dekat yang selama ini tidak pernah atau sudah lama tidak dikunjungi, padahal sama-sama tinggal di Jabodetabek. Belum lagi kawan lama, sahabat karib atau kawan-kawan kantor yang rumahnya belum pernah dikunjungi. Saya yakin ini kesempatan yang bagus untuk kembali menjalin hubungan kekeluargaan yang lama terputus. Selain dianjurkan dan lebih hemat, memperbanyak silaturrahim juga membuka pintu-pintu rezeki yang baru.

Bagaimana dengan Anda? Apa yang akan Anda dan keluarga lakukan selama liburan panjang ini? Saya tunggu sharing Anda di kolom ‘comments’ dibawah.  

Next Page »