Keluarga yang rajin mencatat keuangan: istimewakah?

farm recors

Gambaran perbedaan keluarga petani yang rajin mencatat keuangan dan tidak (disadur dari presentasi Prof. Steven Walker, 31 Mei 2013)

Mencatat hal – hal rutin pemasukan dan pengeluaran keuangan sepertinya sangat menyebalkan apalagi mengumpulkan struk – struk belanja yang terkadang cepat buram tintanya. Komentar teman – teman sangat beragam ketika tahu kami mengumpulkan karcis tol, struk belanja dan kwitansi serta mencatatnya setiap hari. “Eh, lihat tu Ci Ani, itu karcis tol juga disimpan, buat apaan?” komentar seorang teman. Dalam folder khusus, karcis dan kawan – kawannya bertengger dan dipisahkan perbulan. Begitu selama 14 tahun folder – folder itu bertumpuk dari waktu ke waktu, tersimpan rapi dalam kardus – kardus yang ditulis: FAMILY FINANCE. Hanya folder – folder 3 tahun terakhir saja yang disimpan di dekat meja kerja di rumah supaya dapat mudah diakses jika diperlukan. “Ck…ck…ck… mau diapakan karcis – karcis dan kwitansi ini?” tanya seorang kawan. Satu demi satu pertanyaan dijawab tapi tidak tahu apakah penanya mendapatkan ide dan motivasinya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan…..” (Al-Baqarah: 282, Terjemahan Depag RI)

Urusan catat mencatat sangat dianjurkan seperti yang tertera di dalam Surat Al-Baqarah Ayat 282. Ayat yang terpanjang di dalam surat urutan ke-2 dalam Al-Qur’an ini memiliki makna penting. Intinya lebih menekankan kepada orang yang berhutang seperti yang dijelaskan di dalam Tafsir Depag RI, yaitu Allah memerintahkan orang – orang yang beriman agar melaksanakan ketentuan – ketentuan Allah setiap melakukan perjanjian yang tidak tunai, yaitu dengan melengkapi alat – alat bukti (yang tertulis dan/atau adanya saksi) sehingga dapat dijadikan dasar untuk menyelesaikan perselisihan yang mungkin timnbul di kemudian hari. Namun jika kita pahami lagi ayat ini, sesungguhnya mengingatkan kita juga akan pentingnya pencatatan karena ada manfaat lain juga dan perselisihan itu bukan hanya karena yang selalu sifatnya hutang. Tetapi juga perselisihan yang seperti kita sering jumpai dalam keluarga adalah perselisihan antara suami dan istri, contohnya suami mempertanyakan istrinya kenapa uang belanja begitu cepat habis, ke mana saja uang gaji dibelanjakan, berapa yang diberikan ke orangtua atau saudara sang istri dan sebagainya.

Dari sisi pengelolaan keuangan keluarga Muslim, pencatatan dan penyimpanan bukti belanja seperti yang dibahas di atas berfungsi untuk:

  1. Mencocokkan dengan pendapatan dan pengeluaran yang direncanakan dan dapat dipergunakan sebagai bahan diskusi antara suami dan istri beserta anggota keluarga;
  2. Sebagai dasar perhitungan zakat setiap tahunnya supaya jangan sampai kurang jumlah zakat yang wajib dibayar;
  3. Membandingkan harga – harga dari satu supermarket ke supermarket yang lain;
  4. Melihat kembali harga dan tempat di mana barang yang kita beli jika ada yang ingin memproses garansi barang serta menunjukannya sebagai barang bukti;
  5. Memberikan informasi kepada saudara/teman yang membutuhkan jika ingin membeli barang yang sama/sejenis;
  6. Menunjukannya sebagai barang bukti pembelian untuk klaim di kantor/organisasi jika suatu saat diperbolehkan/disuruh untuk diklaim.

Dalam sebuah seminar baru – baru ini di University of Glasgow, saya terkagum – kagum ketika Prof. Steven Walker, seorang accounting historian dari Cardiff University, Inggris yang membentangkan papernya tentang dampak pencatatan keuangan di 750 ribu petani di Amerika Serikat yang masuk dalam program rehabilitasi keuangan paska Perang Dunia I. Wajah warga Amerika pada saat itu sangat memelas karena kemiskinan yang berlarut-larut. Selama program pemberian modal usaha itu berlangsung, para petani (termasuk anggota istri dan anak-anaknya) diajarkan para petugas bagaimana mencatat keuangan dengan baik dari mulai berapa hasil panen yang dijual, berapa keuntungan, untuk apa saja dibelanjakan (makan, baju, buku) hingga berapa sumbangan untuk gereja diberikan. Setelah program berakhir, didapati para petani dan keluarganya berhasil memperbaiki taraf hidupnya. Dalam pengukuran kesuksesan program itu didapati kesimpulan bahwa salah satu faktor keberhasilan dikarenakan rajinnya membuat pencatatan dan perencanaan keuangan. Allahuakbar!

Bagi pembaca yang belum mempraktekannya, siap untuk mencoba? Jika ingin melihat bagaimana memulai pencatatannya, bisa lihat di posting kami sebelumnya, salah satunya di Bagaimana Mengatur Tabungan Dengan Baik.

Wallahu’alam bissawaf.
Murniati
Glasgow, Musim Semi 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s