Archive for June, 2008|Monthly archive page

Liburan 250 Rupiah?

Bagaimana dengan liburan Anda semua? Kita akan menginjak minggu ke-2 liburan panjang ini, masih bingung menentukan pilihan? Atau Anda masih belum mendapat izin cuti dari kantor? Mudah-mudahan Anda secepatnya bisa menemani buah hati Anda berlibur. 

Saya tertarik dengan survey yang diadakan oleh sebuah harian ibukota baru – baru ini. Koran ini mewancarai secara random 20 anak muda di jalan raya mengenai jumlah museum di Jakarta dan apakah mereka pernah mengunjunginya. Surprisingly, tidak ada satupun yang berhasil menjawab dengan tepat jumlah museum tersebut dan hanya sedikit sekali yang pernah mengunjunginya dan tahu dengan betul namanya.

Dan pada hari ini, di Harian Kompas ada sebuah artikel keluarga mengenai “Liburan 250 Rupiah”. Artikel ini mengajak kita yang prihatin dengan kenaikan BBM yang mengakibatkan naiknya harga kebutuhan pokok dan menurunkan purchasing power keluarga.

Nah, untuk mensiasati kesulitan ini, dan tetap bisa menikmati liburan artikel ini mengupas biaya masuk museum yang super murah. Seperti yang kita ketahui bahwa tiket masuk museum dan tempat bersejarah umumnya sangat murah. Di Museum Nasional Jakarta, misalnya, karcis masuknya hanya Rp. 750,- untuk umum dan Rp.250,- untuk pelajar.

Di samping prihatin dengan purchasing power yang semakin menurun, mengunjungi museum juga memberikan nilai baru bagi anak-anak. Kita seharusnya cukup prihatin dengan kecintaan anak-anak kita terhadap sejarah bangsa dan negara ini. Apakah museum hanya wajar dikunjungi oleh turis manca negara saja? Apakah Shopping Mall sudah menjadi pengganti Museum yang wajib dikunjungi oleh kita sekeluarga?

Siapa bilang Museum tidak asyik?

Sekolah anak kami, SDIT Fajar Hidayah baru-baru mengadakan kunjungan ke Museum Zoologi di samping Kebun Raya Bogor, dan Layyin adalah salah satu murid yang wajib pergi. Kami sedang mencari waktu yang tepat di liburan ini untuk sekeluarga pergi ke sana karena sepulangnya Layyin dari kunjungan tersebut, tak henti – hentinya dia mempromosikan dan menceritakan isi Museum kepada kami.

Dia masih tidak terima penjelasan saya ketika dia bertanya mengapa tidak boleh memotret jika berada di dalam museum. Karena tanpa foto, dia tidak bisa banyak bercerita. Maka dari itu, dia berkali – kali mengajak kami sekeluarga ke sana. Ehmmm, it’s already included in the budget this second week.

Selain itu, ada juga beberapa museum yang menawarkan pengalaman kreatif seperti Museum Tekstil di Jalan Aipda KS Tubun yang menawarkan kursus membatik. Ada biaya tambahan untuk itu, satu paket kursus membatik Rp. 200.000. Tapi untuk kursus singkat seperti saputangan, dikenakan biaya Rp. 35.000 untuk pengunjung lokal dan Rp. 75.000 untuk turis asing. Wah asyik juga kursus membatik, bisa jadi peluang usaha buat anak-anak di rumah.

Museum Fatahillah juga menarik untuk dikunjungi, ada 23.500 koleksi benda bersejarah disana. Antara lain ada meriam Si Jagur, pembatas ruang, patung Hermes, pedang eksekusi tahanan zaman VOC dan lukisan Gubernur Jenderal VOC Hindia Belanda dari 1602 hingga 1942. Asyik untuk keluarga yang punya anak-anak SMP, SMA apalagi anak laki-laki yang umumnya suka perang-perangan.

Untuk mengetahui alamat lengkap museum – museum di Jakarta, bisa dijumpai di www.budayajakarta.com.

Selain museum, ada ide yang tak kalah menarik yaitu mengunjungi mesjid-mesjid yang megah dan cantik diseputar Jabodetabek.

Mesjid Kubah Emas di Depok yang fenomenal layak dikunjungi, minimal shalat jamaah satu waktu disana akan menimbulkan kebanggaan kita sebagai Muslim. Kemudian Mesjid Istiqlal yang menjadi Mesjid Resmi Negara di Jakarta Pusat, Mesjid Jami’ Kampung Baru di Jalan Bandengan Selatan – yang konon katanya punya mimbar paling indah, Mesjid At-Tin di TMII yang mempunyai kenangan sendiri terhadap Ibu Negara Tien Soeharto (almarhumah), atau Mesjid Raya Pondok Indah di Pondok Indah.

Yang paling asyik adalah masuk mesjid ini tidak perlu bayar sama sekali tetapi jika lihat Kotak Amal, jangan pikir dua kali untuk memasukkan uang sedekah kita. Coba yuk…** – (Mu Kim Ni/Anik)

Pengaturan Keuangan Rumah Tangga

[Minggu ini blog ini akan menampilkan tulisan-tulisan istri saya, Murniati atau Anik, selamat membaca]

Peranan Suami Istri dalam keuangan rumah tangga

Dalam konteks perekonomian rumah tangga, tugas suami adalah bekerja mencari nafkah sedangkan istri selain menjadi guru utama bagi anak – anaknya, bertanggungjawab mengatur dan mengelola pengeluaran rumah tangga, seperti makanan, pakaian, perabot rumah tangga, dan lain-lainnya. Jadi fungsi istri di dalam perekonomian rumah tangga adalah seperti seorang manajer keuangan. Mengenai tugas masing-masing di dalam keluarga, Rasulullah saw bersabda

“… Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya …” (HR. Bukhari).

Ketika Rasulullah menikahkan putrinya Fatimah, beliau berkata kepada Ali r.a.,

“Engkau berkewajiban bekerja dan berusaha sedangkan dia berkewajiban mengurus rumah tangga”

“…Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya …”

juga dalam hadits lain:

“Apabila seorang istri menafkahkan makanan rumah tangga dengan tidak bermaksiat, maka dia mendapat pahala dari apa yang diusahakan, …” (HR. Thabrani)

Keadaan Keuangan Rumah Tangga

Sudah jelas bahwa tugas istri untuk mengatur atau memberikan saran atas keuangan rumah tangga baik dalam keadaan defisit atau pun surplus.

Jika dalam keadaan defisit, istri tentunya tahu biaya apa saja yang bisa dikurangi seperti mengurangi/menutup penggunaan kartu kredit, penghematan penggunaan listrik (a/c diganti dengan kipas angin), dispenser digantikan dengan masak dengan gas, makan diluar diganti dengan makan masakan sendiri, beli baju di butik diganti dengan mendaur ulang baju lama sehingga bisa tampak baru, dan cara lainnya yang tentunya disepakati oleh semua anggota keluarga.

Begitu juga jika dalam keadaan surplus, istri bisa menyarankan suami bahwa sisa pendapatan bulanan ditabungkan di bank A, di perusahaan asuransi B, di belikan reksadana di perusahaan C atau diinvestasikan di asset yang bisa memberikan passive income. Tentunya semua itu harus sesuai dengan tuntutan syariah dan aman ketika menginvestasikan surplus pendapatan tersebut seperti menginvestasikan di perusahaan yang jelas izin syariah dan operasional.

Rujukan investasi selayaknya didapat dari seorang financial planner namun dengan bekal membaca dan mengikuti kursus singkat, para suami istri dapat merancang pola investasi sendiri.

Bagaimana supaya keuangan keluarga bisa diberkahi oleh Allah?

Sebelum merancang keuangan keluarga, tentunya ada beberapa rambu yang harus diperhatikan yaitu bagaimana supaya keuangan keluarga kita bisa diberkahi oleh Allah S.W.T. Banyak sekali keluarga Muslim mengeluh, mengapa sudah bekerja keras selama 24 jam rezeki yang di dapat hanya itu itu saja, hanya cukup untuk sehari, seminggu atau sebulan. Banyak juga yang mengeluh bahwa walaupun pendapatannya lebih tinggi dari bulan sebelumnya tetapi tetap juga merasa kurang atau hutang tetap saja ada dan tidak bisa menyisihkan sedikitpun untuk ditabungkan atau digunakan untuk liburan keluarga.

Ada beberapa tips supaya keuangan keluarga kita bisa mendapatkan barokah yaitu dengan cara melakukan amal – amal soleh sebagai berikut:

1. Niat Mencari Rezeki

Pertama, marilah kita luruskan niat kita ketika bekerja, berdagang dan bertransaksi mumalah, bahwa semata – mata untuk mencari ridho Allah dan untuk beribadah kepadaNya. Jadi, tidak dipenuhi dengan target karena ketamakan dan ambisi duniawi semata.

Selain itu, dibinalah sifat qona’ah dan lapang dada dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hal itu merupakan kekayaan yang tidak ada bandingannya. Dengan jiwa yang dipenuhi dengan qona’ah, dan keridhaan dengan segala rizki yang Allah turunkan untuknya, maka keberkahan akan datang kepadanya. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengan rizki yang telah Ia berikan kepadanya. Barangsiapa yang ridha dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rizki tersebut untuknya. Dan barangsiapa yang tidak ridha (tidak puas), niscaya rizkinya tidak akan diberkahi” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani)

2. Bersyukur atas apa yang Allah sudah berikah kepada kita hari ini

Syukur yang biasa dilakukan oleh kebanyakan kita adalah sujud syukur atas penyelesaian atas suatu masalah berat, mendapatkan bonus yang tidak disangka – sangka atau hal – hal yang dapat dilihat dengan kasat mata. Padahal banyak sekali nikmat Allah yang kita dapati setiap hari, nikmat dapat melihat matahari pagi hari ini, nikmat bisa menghirup udara segar, nikmat bisa berkumpul dengan keluarga dan nikmat lain yang setiap hari Allah berikan tanpa diminta. Maka dari itu, biasakanlah mengucapkan hamdallah, berbagi dengan orang lain sebagai tanda syukur kita atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Sesungguhnya Allah berfirman:

“Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” [Ibrahim : 7]

Jadi supaya penghasilan yang kita dapat hari ini, minggu ini, bulan ini bisa bertambah (bukan hanya dari segi angka rupiahnya) tapi bertambah manfaatnya, bisa menabung, mengurangi hutang, hidup lebih nyaman, maka selalulah bersyukur. Sebaliknya, jika kita baca sejarah, sesungguhnya Allah Ya Rauf telah mengirim azab kepada kaum Saba’ yang telah mengingkari nikmat Allah seperti tertulis di dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan) : “Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugrahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsel (cemara) dan pohon bidara” (Saba : 15-16)

3. Keluarkan hak orang miskin dari harta kita dalam bentuk zakat, infaq, sodaqoh dan wakaf:

Telusuri semua harta dan pendapatan yang kita sudah dapatkan apakah sudah kita keluarkan zakatnya? JIka belum, mungkin itu salah satu penyebab mengapa kita tidak pernah merasakan cukup apa yang sudah kita dapatkan. Zakat wajib maupun sunnah (sedekah), merupakan salah satu amalan yang menjadi faktor yang dapat menyebabkan turunnya keberkahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (Al-Baqarah : 276)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian salah satunya berkata (berdo’a) : “Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yang berinfak”, sedangkan yang lain berdo’a :”Ya Allah, timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran” (Muttafaqun alaih)

4. Bertaubat Dari Segala Perbuatan Dosa

Sebagaimana perbuatan dosa menjadi salah satu penyebab terhalangnya rizki dari pelakunya, maka sebaliknya, taubat dan istighfar merupakan salah satu faktor yang dapat mendatangkan rizki dan keberkahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang Nabi Hud Alaihissallam bersama kaumnya.

“Dan (Hud berkata) : Hai kaumku, beristighfarlah kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan atasmu hujan yang sangat deras, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuta dosa” (Hud : 52)

Akibat kekufuran dan perbuatan dosa kaum ‘Ad -berdasarkan keterangan para ulama tafsir- mereka ditimpa kekeringan dan kemandulan, sehingga tidak seorang wanita pun yang bisa melahirkan anak. Keadaan ini berlangsung selama beberapa tahun lamanya. Oleh karena itu, Nabi Hud Alaihissallam memerintahkan mereka untuk bertaubat dan beristighfar. Sebab, dengan taubat dan istighfar itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan hujan, dan mengaruniai mereka anak keturunan.

5. Menabung Tali Silaturahmi

Di antara amal shalih yang akan mendatangkan keberkahan dalam hidup, yaitu menyambung tali silaturrahim. Ini merupakan upaya menjalin hubungan baik dengan setiap orang yang akan terkait hubungan nasab dengan kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan (atau diberkahi) rizkinya, atau ditunda (dipanjangkan) umurnya, maka hendaknya ia bersilaturrahim” (Muttafaqun ‘alaih)

Yang dimaksud dengan ditunda ajalnya, ialah umurnya diberkahi, diberi taufiq untuk beramal shalih, mengisi waktunya dengan berbagai amalan yang berguna bagi kehidupannya di akhirat, dan ia terjaga dari menyia-nyiakan waktunya dalam hal yang tidak berguna. Atau menjadikan nama harumnya senantiasa dikenang orang. Atau benar-benar umurnya ditambah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

6. Mencari Rizki Dari Jalan Yang Halal

Merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya keberkahan harta, ialah memperolehnya dengan jalan yang halal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Janganlah kamu merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena sesunguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram” [HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibbanm dan Al-Hakim]

Salah satu yang mempengaruhi keberkahan ini ialah praktek riba. Perbuatan riba termasuk faktor yang dapat menghapus keberkahan.

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (Al-Baqarah : 276)

Begitu pula dengan meminta-minta (mengemis) dalam mencari rizki, termasuk perbuatan yang diharamkan dan tidak mengandung keberkahan. Dalam salah satu hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan sebagian dampak hilangnya keberkahan dari orang yang meminta-minta.

“Tidaklah seseorang terus-menerus meminta-minta kepada orang lain, hingga kelak akan datang pada hari Kiamat, dalam keadaan tidak ada secuil daging pun melekat di wajahnya” (Muttafaqun alaih)

6. Bekerja Saat Waktu Pagi.

Di antara jalan untuk meraih keberkahan dari Allah, ialah menanamkan semangat untuk hidup sehat dan produktif, serta menyingkirkan sifat malas sejauh-jaunya. Caranya, senantiasa memanfaatkan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hal-hal yang berguna dan mendatangkan kemaslahatan bagi hidup kita.

Termasuk waktu yang paling baik untuk memulai bekerja dan mencari rizki, ialah waktu pagi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanjatkan do’a keberkahan.

“Ya Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka” [HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Hikmah dikhususkannya waktu pagi dengan doa keberkahan, lantaran waktu pagi merupakan waktu dimulainya berbagai aktifitas manusia. Saat itu pula, seseorang merasakan semangat usai beristirahat di malam hari. Oleh karenanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan keberkahan pada waktu pagi ini agar seluruh umatnya memperoleh bagian dari doa tersebut.

Contoh lain dari keberkahan waktu pagi, ialah sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Shakhr Al-Ghamidi Radhiyallahu ‘anhu. Yaitu perawi hadits ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Shakhr bekerja sebagai pedagang. Usai mendengarkan hadits ini, ia pun menerapkannya. Tidaklah ia mengirimkan barang dagangannya kecuali di pagi hari. Dan benarlah, keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat ia peroleh. Diriwayatkan, perniagaannya berhasil dan hartanya melimpah ruah. Dan berdasarkan hadits ini pula, sebagian ulama menyatakan, tidur pada pagi hari hukumnya makruh.

Shadaqah dan happiness

Apa persamaan antara Ustadz Yusuf Mansur dengan Michael Norton, seorang Professor dari Universitas Harvard?

Jawabannya mungkin tidak ada. Namun ada satu pandangan kedua orang ini yang mempunyai kesamaan. Kalau Ustadz YM sangat giat menghidupkan kecintaan kita dalam berbagi dan bershodaqah, yang menurut beliau membawa begitu banyak ‘mukjizat’, misalnya seperti dimuat dalam Wisata Hati, maka Professor Norton secara ilmiah menemukan bahwa orang akan lebih bahagia ketika memberi sesuatu/uang kepada orang lain.

Hal ini dituangkan oleh Norton dalam jurnal ilmiah Science terbitan 21 Maret 2008, sebagaimana dikutip dari jurnal online Harvard Business School bertajuk Spending on Happiness.

“giving other people even as little as $5 can lead to increased well-being for the giver”.

Ada apa ini? Kenapa sekolah bisnis ternama membahas riset tentang sesuatu yang sangat tidak ‘materiil’ seperti ini? Apa Harvard sudah kehabisan bahan penelitian? Jawabannya kira-kira:

  • How much money people earn is less important for their happiness than how they choose to spend it.
  • Although people believe that having money leads to happiness, new research suggests they are happier if at least some of the money is given to others.
  • Companies might want to think creatively about how to encourage employees to spend their bonuses. Likewise, organizations could look at alternate ways to participate in charitable giving.   

Bagaimana pendapat Anda? Kalau saya bilang ini merupakan bukti bahwa altruism atau sifat pemurah itu memang akan membawa kebahagiaan. Dan ini bukan saja sekedar nilai moral yang dilakukan atas dasar iman, tetapi juga secara ilmiah mulai bisa dikuak kebenarannya.

Apakah yang sebenarnya diinginkan anak-anak?

Setiap liburan orang tua sibuk membuat berbagai rencana untuk mengisi liburan. Untuk anak-anak yang sudah remaja, mungkin mereka sudah bisa menentukan sendiri apa atau kemana menghabiskan liburan sekolahnya. Namun untuk anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar, keinginan mereka untuk berlibur ke suatu tempat masih sering dipengaruhi cerita teman, tontonan televisi atau kemauan orang tua – lebih tepatnya pilihan yang dianggap-disangka orang tua sebagai apa yang diinginkan anak-anaknya.

Sadar atau tidak, kita sering memaksakan keinginan atau persepsi kita tentang tujuan wisata, mainan yang disukai, atau barang-barang lain kepada anak-anak kita. Termasuk kepada anak-anak yang masih balita. Dan barangkali, keinginan mereka ketika sudah remaja atau dewasa sebenarnya merupakan hasil dari ‘pemaksaan’ kita yang terus-menerus tersebut.

Pengalaman saya sendiri, karena anak-anak saya masih relatif kecil - yang tertua baru akan naik kelas 3 SD, cukup memberikan pemahaman kepada saya tentang apa yang seharusnya kita berikan kepada anak-anak seusia mereka. Meskipun masing-masing keluarga memiliki tradisi dan kebiasaan yang berbeda, namun saya fikir apa yang saya alami dan rasakan bisa menjadi i’tibar bagi keluarga Indonesia lainnya. 

Mainan. Kedua anak saya sangat terobsesi dengan segala mainan yang bermotifkan Power Rangers – mereka hafal semua versinya; sementara anak sulung perempuan berubah-rubah antara Barbie, Strawberry atau Mermaid – intinya semua yang bernuansa pink. Biasanya setiap ke toko mainan mereka akan langsung ‘kalap’ dan bingung memilih apa yang akan dibeli. 

Syukurnya mereka paham kalau dibilang ‘expensive – mahal’, mereka akan beralih ke yang lain. Namun ketika disetujui mainan yang ditunjuk, selalu mereka nego untuk beli dua-tiga, atau menunjuk jenis mainan lain. Hampir setiap kali pulang dari toko mainan akan ada yang tidak puas, menangis, merengek-rengek minta mainan lagi.

Ini terus berulang-ulang terjadi. Tentu saja mereka menyimpan rasa tidak puas, dan kita juga sedikit merasa bersalah. Ujung-ujungnya tidak mengenakkan. Namun disisi lain, pengalaman berbelanja ini juga seolah-olah merupakan pelajaran membeli bagi mereka.

Secara tidak langsung kita mengajarkan mereka menjadi pembeli aktif dan konsumtif. Buku Born to Buy, karya Juliet Schor, merupakan referensi terbaik yang menelanjangi kebiasaan buruk orang tua dalam mengajarkan anak menjadi konsumtif. Saya akan mengupas buku ini di kesempatan lain.  

Menyadari hal ini, sekarang Anik dan saya coba merubah taktik. Sekarang kami yang selalu membeli mainan untuk anak-anak tanpa kehadiran mereka. Mainan yang kita pilih umumnya sesuai dengan kesukaan mereka, namun pelan-pelan kami coba perkenalkan jenis mainan baru.

Dengan cara ini, mereka ternyata tetap senang dan happy – tidak pernah nangis minta mainan lain, Malah mereka selalu penasaran ketika kami telpon dalam perjalanan pulang, dan memberitahukan kami membawa mereka mainan. Mereka selalu excited dan menanti dengan harap-harap cemas, dan langsung ketika kami pulang dan ‘histeris’ ketika menerima hadiah tersebut.

Keuntungannya ternyata sangat banyak;

  • kami bisa menentukan budget secara lebih tertib karena selalu bisa membeli mainan yang terjangkau dan dalam jangka waktu yang bisa diatur;
  • memperkenalkan mainan-mainan baru yang lebih mendidik, seperti baru-baru ini Layyin diperkenalkan dengan congklak;
  • kami juga semakin sering membeli berbagai macam buku (termasuk buku Power Rangers atau Barbie) sebagai pengganti mainan, sehingga semua anak-anak kami jadi suka sama buku dan cepat bisa membaca;
  • sekali-sekali saya usahakan membuat mainan sederhana bersama anak-anak, seperti mobil-mobilan atau layang-layang. Ini ternyata lebih mengasyikkan bagi mereka, dan saya rasa cara yang sangat mendidik dalam mengajarkan kreativitas sejak dini;
  • cara ini sangat murah dan kita selalu ada opsi untuk tidak membeli apapun – jika memang sedang tidak memungkinkan.

Liburan. Selama ini kami jarang sekali berlibur keluar kota. Paling banter ke Bandung atau Sukabumi beberapa kali, dan pernah juga ke Jogja sekali – itupun dalam rangka perkawinan adik ipar. Yang paling sering kami lakukan adalah pergi ke lokasi-lokasi wisata sekitar Jakarta, the usual suspects seperti TMII, Ancol atau Taman Safari.

Untuk tidak memberikan rasa bosan, kami biasanya mengusahakan ke tempat-tempat ini dengan di selang-seling; atau tidak mengunjungi semua wahana yang ada dalam satu kunjungan. Dan ini berhasil. Anak-anak kami selalu excited kemanapun kita pergi.

Namun apakah ini karena taktik itu, atau memang karena anak-anak sesungguhnya tidak mementingkan atraksi atau keindahan selama di lokasi wisata tersebut? Ataukah yang sebenarnya mereka nikmati adalah kebersamaan dengan orang tua, adik-adik, kakak atau saudara/teman-teman?!

Dugaan saya iya, anak-anak lebih enjoy dengan suasana liburan dibandingkan kualitas atraksi (yang menjadi perhatian kita orang tua). Apalagi anak-anak yang usianya masih balita. Mereka sama senangnya ketika melihat jerapah di taman safari, atau ketika hanya main pasir di pantai Ancol yang kotor itu.

Nah, barangkali ini bisa menjadi pertimbangan bagi Anda sekalian dalam menentukan kegiatan atau tempat tujuan liburan mana dalam masa jeda sekolah tahun ini. Saya fikir tidak ada salahnya mencari alternatif liburan yang lebih murah, mendidik, atau memberi suasana dan pengalaman baru bagi anak-anak kita.

Mengunjungi panti asuhan, main sawah di sekitar Sukabumi, menghabiskan waktu bersama membersihkan-mengecat kembali rumah, atau sekedar membuat mainan sederhana dari kulit jeruk-kardus bekas susu-dan lain-lain, dan sekelurga memainkannya, mungkin kebih berkesan.

Bagaimana dengan anak-anak Anda? Apakah mereka juga lebih enjoy dengan suasana atau pilihan wahana? Saya tunggu pandangan dan pengalaman Anda sekeluarga dalam menghabiskan liburan panjang ini.*** 

Audit dan laporan keuangan keluarga ~ 1

Apanya yang diaudit ya?! Jawabannya ya lebih kurang sama dengan audit perusahaan oleh audit firm atau kantor akuntan publik. Tentu saja item yang diaudit tidak sebanyak audit perusahaan, dan mungkin juga prosesnya tidak sampai berminggu-minggu, sehari dua mungkin cukup.

Kalau perusahaan diperiksa semua laporan keuangan dan akuntasinya, yang bisa berupa arus kas, laba rugi serta neraca, keuangan rumah tangga lebih sederhana. Tujuan utamanya adalah untuk menentukan apakah perusahaan atau rumah tangga mempunyai kemampuan untuk terus melanjutkan operasionalnya (going concern). Artinya, apakah rumah tangga kita mempunyai kondisi keuangan yang fit dan memadai untuk terus bertahan dan berkembang secara finansial.

Untuk bisa menentukan status sehat tidaknya kondisi keuangan keluarga ini, kita harus memulainya dengan memeriksa laporan keuangan tentunya. Berbeda dengan perusahaan, laporan keuangan rumah tangga cukup berisi laporan neraca (net worth) dan income statement berupa laporan pendapatan dan pengeluaran.

Nah, berhubung kedua hal ini (audit dan membuat laporan) sangat berkaitan dan juga relatif bisa dikerjakan hampir berbarengan – asalkan datanya lengkap, maka kita akan membahas dua hal ini sebagai satu seri tulisan.

Laporan keuangan keluarga

Laporan keuangan terdiri dari balance sheet dan income statement, dan untuk kesempatan kali ini kita akan melihat format neraca keuangan keluarga.

Neraca adalah potret kondisi kekayaan dan kewajiban rumah tangga pada akhir suatu periode tertentu, misalnya akhir tahun kalender. Sebagaimana neraca perusahaan, neraca rumah tangga juga harus berimbang (balance) antara asset dan liabilities-nya. Namun komponennya sedikit berbeda;

Kekayaan
Jumlah
Cash – Giro
2.000.000
Cash – Simpanan
2.000.000
Deposito
30.000.000
Saham, Reksadana, ORI, dll.
-
Asuransi Jiwa (cash balance)
23.000.000
Harta bergerak (kenderaan, perhiasan, dll)
100.000.000
Dana Pensiun
5.000.000
Properti – rumah (harga pasar)
200.000.000
Lain-lain – barang antik
500.000.000
Total Asset
862.000.000
   
Liabilities
Jumlah
Hutang lancar (Credit cards)
20.000.000
Hutang jangka pendek (<1 thn)
-
Pajang terhutang
5.000.000
Hutang jangka panjang (>5 thn; KPR, mobil)
300.000.000
Lain-lain
 
Total Liabilities
325.000.000
   
Net Worth
537.000.000,-

Dari laporan diatas, jelas bahwa pemilik Neraca bersangkutan memiliki kekayaan (net worth) yang cukup besar, karena a) aset yang dia miliki cukup besar dan b) hutangnya sangat kecil dibandingkan total kekayaannya.

Ini tentu idaman semua keluarga. Namun tidak sedikit juga rumah tangga yang neraca nya masih balance dengan hutang yang membengkak – alias net worth nya minus. Mungkin ada juga yang benar-benar imbang, yaitu sama antara jumlah kekayaan dengan kewajiban.

Salah satu manfaat dari mempunyai neraca keuangan sendiri ini adalah kemudahan dalam mengisi SPT setiap tahunnya. Dan ketika kita punya neraca satu tahun, ini bisa dijadikan template untuk tahun-tahun berikutnya, sehingga ketika datang bulan Maret, kita dengan cepat bisa menentukan kewajiban pajak kita kepada negara. Yang sulit adalah memulainya.

Disamping itu, yang lebih penting lagi, neraca bisa menjadi basis bagi Anda dalam menghitung jumlah zakat maal yang harus dibayar. Dari tabel diatas, jelas orang tersebut – fiktif tentunya, sudah wajib zakat; dan berdasarkan net worth-nya, kewajiban zakatnya lebih kurang Rp. 13,425,000 per tahun. Angka ini diperoleh dari perhitungan 2,5% dari nilai net worth.

Namun harus diperhatikan, untuk perhiasan atau harta yang sifatnya idle, seperti emas atau barang antik, sebagian ulama mengharuskan pembayaran zakat yang lebih besar (5-10%).

Kegunaan lain dari neraca adalah sebagai alat kontrol bagi kita dalam menentukan kemampuan going concern kita untuk tahun-tahun berikutnya. Neraca yang defisit (net worth nya minus) menyiratkan perlunya pemangkasan kewajiban, mengurangi hutang dan langkah-langkah penghematan lainnya.

Disisi lain, defisit juga bisa ditutupi dengan meningkatkan aset (mencari pendapatan tambahan) atau konversi aset tetap menjadi cash – guna membayar hutang-hutang yang ada. Dan seterusnya.

Sementara, kalau neraca kita sehat seperti contoh diatas, langkah lanjutnya lebih kepada memanfaatkan kelebihan tersebut untuk keperluan ibadah (haji, perbanyak infaq), membuka usaha, dan sebagainya.

Next Page »