Early Entrepreneurship Education?

By Murniati Tamanni @ Mu Kim Ni

During his time, Muhammad SAW spent more time in business, about 25 years after he received the first revelation (wahy) from Allah, than of preaching Islam – or about 23 years of his prophetic time. His father died before he was born, and Muhammad was put under the care of his grandfather, head of the prestigious Hashim clan. His mother died when he was six, and his grandfather when he was eight, leaving him under the care of his uncle Abu Talib, the new head of the clan.

That condition forced little Muhammad to survive and learned how to earn a living. He assisted his uncle to trade from one town to another within and outside Arabian Penisula. He used to travel north ways to Syria and Palestine or to the south, all the way to Yemen. He was doing this until he met a wealthy widow Siti Khadijah and worked for her as a merchant.

I believe that the above living example carries a message and teaches us how to be a right practising Muslim. It implies a call to always wake up in the morning and spread all over places to seek rizq that Allah has promised. In Surah al-Jumu’ah, Verse 10, Allah commands;

And when the Prayer is finished, then may ye disperse through the land, and seek of the Bounty of Allah. and celebrate the Praises of Allah often (and without stint): that ye may prosper.

Despite this call, many of us have an anxiety about starting a business; what business to do, how to start and even how to overcome introversion when negotiating with other people in business. Too late at our current age? I don’t think so. If not for yourself, you can always teach your kids to learn early.

This article is trying to convince you how important inculcating entrepreneurship skill at tender age of childhood. It can become a hobby one day or can be an alternative pastime during financial crisis like this, where many companies streamed down their employees and turned many into joblessness.

Perhaps, in a better condition, this practice can provide side income to the family. Furthermore this is to teach our children how to respect their parents who work for paying their education and make sure the family live comfortably.

Children these days seem to be smarter in the sense that they are having more knowledge than previous generations. They are simply exposed to more things at a younger age and thus absorb seemingly more of the current world than children in previous generations might have (http://sevencastles.spaces.live.com).

Feeding them early entrepreneurship education is not a harmful thing, so every parent is not necessary to be worried about. It is very simple thing to start, minimum condition for this exercise is when the kids reach age of 7 or after they know how to read and count. The following steps may be helpful:

  • Start with cheap and simple things. Buy some stationery at Jalan Asemka, Jakarta or Pasar Grosir where many cheaper merchandise are sold for retailers, such as school stationery like pencils, erasers, rulers, writing books. Story books can be a good option too, those published by Syaamil Kid, GIP or other Islamic publications are available at Walisongo, Gramedia, Gunung Agung or other book store.  You may need basic working capital of Rp. 50.000,- Rp. 100.000,-
  • Buy PO, Invoice, DO and Cash Book for documentations, available at any bookstore.
  • Attach the merchandise with price labels and teach the kids the margin we set for each, say 20%.
  • Teach them how to offer their friends, just like the traders they meet in traditional market. They may not find such at Shopping Malls.
  • Tell them everything must be cash, credit sales may confuse them.
  • Tell them to record everything, right from stock, expenses and their friend customers.
  • If some or all are sold, count how much margin they have collected, return the money that parents have invested and put all profits in their piggy bank or in the saving book if they have.
  • Teach them how to donate some profits they have for the needy such as orphan.
  • Appreciate and encourage them to enjoy this exercise. Give applause,  big hugs, words of encouragement, Certificate of Success and try new business, change from stationeries to fish, binders, hair accessories, Yo-Yo or Mommy’s handmade cookies.

Have a try and share with us your experience. Salams.

Mengelola keuangan keluarga ~ review

Apa kata kawan-kawan sesama blogger tentang keuangan keluarga? Berikut beberapa cuplikan dari berbagai blog atau website:

Bapak Palgunadi T. Setiyawan

Pengusahan kawakan ini mengutip artikel yang dimuat oleh Harian Republika di websitenya:

Palgunadi yang juga Presiden Komisaris Hijrah Institute mengatakan, bagi keluarga muslim, sudah saatnya keuangan keluarga dikelola secara Islami. Sebab, dengan kebutuhan yang makin kompleks, dibutuhkan sebuah sistem yang mampu membentengi seorang muslim dari sifat-sifat yang kurang bermanfaat seperti pemborosan. “Dengan kebutuhan yang kompleks sementara pendapatan terbatas, maka pengaturan keuangan sangat penting guna menghindari hal-hal terburuk,” ujar Palgunadi.

Izzuddin Abdul Manaf

Ahli Ekonomi Islam muda dari SEBI ini memanage sebuah blog yang sangat lugas dan lengkap mengupas berbagai aspek dari Ekonomi Islam dan Muamalah. Diantara tulisan yang sangat beragam, tulisan tentang Zakat sangat informatif dan memberi pencerahan bagi pembaca yang ingin lebih mendalami tentang kewajiban Zakat.

“…Pendapat jalur tengah yang menurut penulis lebih maslahat yaitu mengeluarkan zakat dari bruto dengan mengacu pada pendapat tentang nishab yaitu pertanian siap saji atau nishab minimum Rp. 2.612.000 dengan asumsi harga beras Rp. 4.000,-. Atau pendapat dengan nishab emas dengan ditambahkan factor kebutuhan hidup standar PBS sehingga nilai nishabnya adalah Rp. 2.632.485 atau dibulatkan menjadi Rp. 2.633.000,-”

Ali Hozi

Praktisi perbankan syariah yang sangat aktif dalam diskursus Ekonomi Islam, baik melalui Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) maupun tulisan-tulisan. Salah satunya membahas pentingnya pengaturan keuangan keluarga.

“…Sebuah perencanaan keuangan baik pemasukan maupun pengeluaran yang bebas dari bunga yakni perencanaan keuangan yang lalulintas transaksi keuangannya memakai system perbankan syariah. Dengan memakai system perbankan syariah sebuah keluarga bisa membuat perencanaan keuangan yang lebih pasti dibandingkan dengan memakai system bunga.”

Kalau Anda punya link lain yang layak ditampilkan, silahkan mengisi kolom Komentar di bawah ini.

Menabung – Bank Syariah atau Konvensioal?

Jawabannya pasti yang Syariah dong!

Apa alasan yang menyebabkan pilihan Anda ke Syariah masih mengganjal? Saya fikir alasan-alasan nya tidak akan jauh dari beberapa aspek berikut:

  • Kenyamanan – Bank lain dekat dengan kantor, rumah, ATM nya banyak, gaji dari kantor, dst.
  • Fasilitas nya banyak – Internet banking, SMS, Phone, transfer, etc.
  • Ada undian berhadiah – apa iya?
  • Bunga (yang lumayan) – hmmm…masih ada? dengan inflasi Indonesia hampir 10%?
  • dll.

Kalau boleh saya sampaikan, hampir semua kelebihan yang menjadi penyebab Anda membuka tabungan di bank (konvensional) juga sudah tersedia di bank syariah. Nggak percaya?

Mari kita lihat fitur yang ditawarkan oleh hampir semua bank syariah:

  • ATM - Bank Muamalat bisa pakai ATM BCA secara bebas biaya; BSM co-sharing dengan ATM Mandiri; dan Unit Usaha Syariah BNI, BRI, Niaga, atau Danamon – ATM nya bisa memakai bank ATM induknya
  • Jaringan kantor – dengan peraturan BI yang membolehkan produk syariah ditawarkan di cabang non-syariah (office channeling), praktis jaringan palayanan produk perbankan syariah semakin luas (terlepas dari masih ada yang mempersoalkan ‘kesyariahan’ kebijakan ini)
  • Phone atau Internet Banking – saya sudah hampir dua tahun mempergunakan fasilitas ini dari Bank Muamalat dan BNI Syariah, dan Alhamdulillah selama ini tidak ada masalah yang berarti.
  • Fasilitas Belanja - semua ATM produk bank syariah sudah menawarkan fasilitas Debit (baik MasterCard, Visa Electron atau Debit BCA)

Namun, kalau yang diinginkan adalah undian berhadiah mobil atau rumah atau bunga, pasti nggak akan ada. Tapi apakah itu sebab Anda menabung?

Namun kalau memang hadiah yang menjadi motivasi Anda, setidaknya ada Bank Muamalat yang menawarkan hadiah Umroh untuk produk Shar-e nya. Saya sendiri kurang setuju dengan program hadiah ini, namun barangkali itulah realitas dan preferensi masyarakat kita sekarang. Dan bank mungkin tidak bisa memikirkan cara lain untuk mensiasati pasar yang masih belum sepenuhnya terdidik ini.

Untuk return bagi hasil atau hibah-nya, rata-rata semua produk simpanan bank syariah sudah cukup kompetitif dengan bunga konvensional. Namun saya yakin tidak banyak sebenarnya nasabah yang mengharapkan imbalan dari tabungannya. Dalam perbankan modern, tabungan lebih sebagai alat pembayaran dan transaksi yang nyaman serta mudah. Dan ini semua tersedia di produk-produk perbankan syariah.

Jadi segera ke bank yang ada logo IB (Islamic Banking) ini:

 

Anda punya pandangan lain?

Menabung setiap pecahan Rp.20.000

Berbagai cara dilakukan orang untuk menabung; pake celengan, auto deduct dari salary, dalam bentuk emas dan sebagainya. Namun pernahkah Anda menabung setiap kepingan uang tertentu yang ‘lewat’ dalam kehidupan Anda – apakah itu pecahan Rp5.000, Rp.10.000? Kalau pernah maka Anda seharusnya bangga karena ada teman Anda yang berhasil menyimpan sebesar $12,000 (lebih kurang Rp.100 juta) selama tiga tahun!

Marie Franklin, seorang ibu di Boston melakukan cara yang sedikit radikal ini dengan menyimpan setiap pecahan $5 yang dia terima sejak tiga tahun yang lalu. Meskipun memerlukan kedisiplinan yang super tinggi, namun cara ini sangat menyenangkan dan cepat membuahkan hasil. Sampai sekarang total $12,000 yang sudah terkumpul disimpan oleh Marie dalam berbagai bentuk instrumen, terutama sekali deposito. Dan jumlah ini akan terus bertambah, karena Marie belum mau berhenti dari kebiasaannya atau lebih tepatnya, keranjingan dia atas uang pecahan $5.  

Selengkapnya bisa dibaca disini dan disini.

Terinspirasi, saya berniat menyimpan semua pecahan Rp.20.000 yang saya dapat mulai kemarin. Alhamdulillah sudah tiga lembar terkumpul. Mudah-mudahan setelah tiga tahun bisa menjadi Rp.100 juta. :)

Anda punya ide yang tidak kalah brilian dan fun?

Pesantren Wirausaha pengisi liburan

Ketika sedang melanglang dunia maya, saya terdampar di portal bisnis Islami Niriah.com, terutama kolom/blog-nya Mas Jamil Azzaini. Beliau adalah salah satu pendiri Dompet Dhuafa dan penulis buku Kubik Leadership (yang belum tamat-tamat saya baca).

Salah satu seri tulisannya yang membuat saya kagum adalah artikel yang memberi memotivasi pembaca untuk menjadi wirausaha, supaya bisa hidup mandiri dan kaya. Dan ini bukan sekedar nasihat kosong; karena ada saran konkrit yang disodorkan oleh beliau. Salah satunya adalah nyantri di pesantren wirausaha binaannya di Klaten, Jawa Tengah.

Pesantren wirausaha ini persisnya diberi nama Pesantren Wirausaha Abdurrahman bin Auf (Perwira AbA), dan beralamat di:

Desa Bulan, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah PO.Box 35 Delanggu 57471,Telp. 0271-7060430 ~ HP 0813-29384549

Salah satu aktivitas di pesantren ini yang sangat ‘revolusioner’, minimal bagi saya, adalah memagangkan santri-santrinya – yang kebanyakannya berasal dari keluarga kurang mampu, di lingkungan orang kaya. Selama magang, para santri diharapkan bisa mengenal lebih dekat kebiasaan dan cara hidup orang-orang kaya (pengusaha). Syukur-syukur bisa ketularan kemampuan finansialnya.

“Untuk mengikis mental miskin, Perwira AbA melakukan berbagai terapi dan cara. Salah satunya, para santri harus tinggal di komunitas orang kaya selama kurang lebih dua bulan. Setelah dibekali dengan berbagai ilmu, attitude, dan keterampilan, para santri wajib hidup dan berinteraksi dengan komunitas orang kaya sekaligus belajar bisnis dan menyadap ilmu dari mereka”.

Detail artikelnya bisa baca disini.

Kegiatan ini barangkali bisa menjadi salah satu alternatif bagi mengisi liburan sekolah tahun ini, terutama bagi remaja dan mahasiswa.

Next Page »